DESIRE

DESIRE
Bab 70



Mona yang baru saja keluar dari mall dan berjalan hendak menuju ke jalan untuk mencari taksi, tiba-tiba ditabrak dari belakang oleh seseorang.


"Maaf," seru orang itu.


Mona berjongkok dan memunguti tasnya, dibantu oleh orang tadi.


"Ini belanjaan Anda… No… na…," ucap orang tersebut.


Nampak seorang pria tinggi, berpenampilan casual dengan kaus hitam berlengan sesiku dan celana jeans navi, menatap kearah Mona dengan terkesima.


"Thanks," sahut Mona dengan tersenyum ke arah pria tersebut.


Mona buru-buru mengambil tas belanjaannya dari tangan pria tadi.


"Ehm… sepertinya kita pernah ketemu," ucap pria asing itu.


"Maaf, tapi saya tidak mengenal Anda. sepertinya Anda salah orang. Permisi," jawab Mona dengan sopan sambil melangkah hendak pergi.


Wanita itu sangat paham dengan konsekuensinya bekerja sebagai wanita malam, yang bertemu banyak pria dan melakukan hubungan satu malam dengan mereka.


Mungkin saja, pria itu salah satu dari mereka yang Mona tak bisa mengingatnya satu-satu. Mona pun lebih memilih untuk berpura-pura tidak mengenal, demi menjaga privasi masing-masing di luaran.


"Tunggu," cegah pria itu sambil meraih pundak Mona.


Mona pun menoleh dan kembali tersenyum ramah.


"Ya?" tanya Mona.


"Ehm… perkenalkan, namaku Gerald." Pria itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri kepada Mona.


Mona diam saja sambil mengangkat kedua tangannya yang penuh dengan barang belanjaannya.


"Oh….hahaha… maaf, aku lupa tanganmu penuh dengan barang-barang," seru pria bernama Gerald itu.


Gerald menarik tangan dan mengusap rambut depannya, untuk menutupi rasa malu karena uluran tangannya tak disambut oleh Mona.


Mona pun ikut tertawa bersama pria asing tersebut.


"Aku Mona," kata Mona memperkenalkan diri.


"Ehm… Nona Mona, apa kau sedang buru-buru? aku…," ucap Gerald.


"Kak! Kak Luzy!" teriak Mona yang memotong begitu saja perkataan Gerald.


Wanita itu kemudian berlari melewati Gerald, dan menghampiri seorang wanita yang nampak tengah berjalan bersama seorang pria yang sedang menggendong seorang gadis kecil.


Gerald hanya mematung melihat Mona yang pergi begitu saja, bahkan tanpa mendengarkan ajakannya.


"Hah… kenapa aku langsung tertarik dengan wanita itu? Tapi dia memang seperti tidak asing. Tapi ketemu di mana? Ah… sudahlah," gumam Gerald yang kemudian berlalu dari sana.


Disamping itu, Mona yang menghampiri wanita bernama Luzy, seketika menjatuhkan semua belanjaannya dan merentangkan tangan memeluk wanita itu.


"Monaaaaa!" seru Luzy yang membalas pelukan Mona.


"Kakak, aku kangen," ucap Mona yang masih memeluk Luzy.


Pelukan mereka pun terurai. Mona melihat pria dan gadis kecil di samping Luzy.


"Ini?" tanya Mona.


"Kenalkan. Ini suami ku, dan ini keponakan mu… beri salam pada Bibi, Sayang," jawab Luzy sambil menyeru kepada sang putri untuk memberi salam kepada Mona.


"Halo, Bibi. Namaku Joy," sapa si gadis kecil.


"Hai, Joy. Nama Bibi, Mona," sahut Mona yang mengusap lembut puncak rambut Joy.


"Halo, Kakak ipar," sapa Mona kepada suami Luzy.


"Hai, Mona," sahut suami Luzy.


"Sayang, aku dan Joy pergi main dulu. Kau bisa menyusul kami nanti," seru pria itu kepada sang istri.


"Oke. Nanti aku menyusul. Joy ikut papa dulu. Mama masih ingin bersama Bibi Mona dulu," ucap Luzy kepada sang suami dan anaknya.


"Oke, Mama," sahut Joy.


Pria itu pun lalu membawa Joy pergi meninggalkan Mona dan Luzy berdua.


"Ayo kita bicara di caffe," ajak Luzy.


"Oke, aku yang traktir." Mona mengangkat kembali belanjaannya di bantu oleh Luzy.


Keduanya pun lalu berjalan masuk kembali ke dalam pusat perbelanjaan tersebut, dengan Mona yang menggelayut di lengan Luzy dengan manja.


"Kak, bagaimana kabarmu?" tanya Mona saat dia dan Luzy telah berada di sebuah caffe yang terletak di dalam mall.


"Aku baik, Mona. Kau sendiri? Oh, benar. Aku turut berduka atas meninggalnya Joshua," ucap Luzy sambil menepuk-nepuk punggung tangan Mona.


"Syukurlah. Kau memang terlihat begitu bahagia sekarang. Apa ada hal baik yang terjadi padamu, hem?" tanya Luzy.


"Tidak ada yang spesial. Sama saja seperti biasa, Kak," jawab Mona.


Seorang pelayan datang mendekati mereka berdua dan mengeluarkan buku menu.


"Permisi. Silakan, mau pesan apa?" ucapnya.


Mona dan Luzy lalu melihat-lihat isi di daftar menu.


"Aku makaroni schotel, sama es cappucino saja. Kakak kau pesan apa?" ucap Mona pada si pelayan dan bertanya kepada Luzy.


"Ehm… samakan saja," sahutnya yang kemudian melipat buku menu.


"Baik. Dua makaroni schotel dan dua es cappucino. Ada lagi?" seru Si pelayan.


"Cukup. Itu saja," kata Mona.


"Baik. Tunggu sebentar." pelayan itu pun lalu pergi meninggalkan mereka berdua lagi.


"Oh iya, Kak. Kakak ipar kelihatannya baik sama padamu dan Joy. Kakak pasti bahagia bisa hidup dengan pria seperti dia," ucap Mona.


"Yah begitulah. Meski awalnya tidak mudah, dan sulit sekali mendapat restu dari orang tuanya karena pekerjaanku dulu, tapi seiring berjalannya waktu, kita bisa lalui semua itu bersama-sama."


"Aku beruntung sekali bisa bertemu pria sebaik dia," tutur Luzy dengan mata yang tampak berbinar kala menceritakan perjuangan dirinya dan sang suami.


"Sesulit itu kah penerimaan orang tentang latar belakang kita, Kak?" taya Mona yang terdengar sendu.


"Mona, apa kau sudah ada rencana untuk menikah?" tanya Luzy balik.


"Eh… tidak… tentu saja tidak. Hehehe…," jawab Mona kikuk.


Saat itu, pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah meletakkan semuanya di meja, dia pun kembali pergi.


Luzy masih terus melihat raut wajah Mona yang dinilainya aneh, dan tak biasa. Walau sudah tak bertemu lama, tapi Luzy sangat mengenal bagaiman sikap Mona, karena dialah orang yang membantu Mona bangkit setelah kejadian malam itu dengan Joshua


"Apa sudah ada pria yang kau cintai?" tanya Luzy lagi yang semakin penasaran dengan ekspresi Mona, yang tiba-tiba terlihat sedih dan kecewa saat dirinya menjelaskan perjuangan cintanya dengan sang suami.


"Ehm… aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Yang ku tau, dia pria yang baik, untuk sekarang aku bisa bilang begitu. Tapi, aku belum berani bermain perasaan di sini. Bukannya dalam profesi kita, hal itu sangat dilarang," tutur Mona yang memainkan ujung sedotan di dalam gelasnya.


"Mona. Kita ini hanya manusia biasa. Meskipun kita dilarang menggunakan perasaan, tapi saat cinta hadir, memang kita bisa apa?"


"Tidak ada salahnya jatuh cinta. Kalau memang dia pria yang baik, kenapa tidak?" ujar Luzy melihat juniornya tengah terlihat gundah itu.


"Tapi, aku belum siap sakit hati, Kak," ucapnya yang balik menatap Luzy dengan tatapan yang terlihat muram.


"Mona. Kita membahas cinta. Kenapa tiba-tiba menjadi sakit hati?" kata Luzy.


"Bukankah cinta itu dekat dengan luka, sakit hati? Kalau kita mencintai, berarti kita siap disakiti. Bukankah seperti itu?" ucap Mona.


"Mona. Kamu lihat aku bukan. Bagaimana aku dulu jatuh cinta pada kakak iparmu? Bagaimana aku berusaha keluar dari tempat Mommy, dan bagaimana akhirnya kami bisa bersama-sama? Kau tau semuanya bukan?"


"Terkadang, yang orang sebut cinta tidak ada logika, itu memang benar adanya. Meskipun terasa sakit, namun jika kita lakukan demi orang yang kita cintai, akan terasa setimpal. Kau akan tau sendiri nanti jika sudah tiba saatnya," tutur Luzy kepada Mona.


"Yah... mungkin nanti," ucapnya dengan pandangan menerawang.


Siapa aku dan siapa dia? Hal itulah yang membuatku ragu, Kak. Jarak kami sangat jauh... jauh berbeda, batin Mona.


Terdengar helaan nafas berat dari wanita cantik itu.


Setelah selesai melepas rindu dengan sang senior, Mona pun kini mengantarkan Luzy untuk menemui suami dan anaknya di area bermain.


"Kakak ipar, aku kembalikan lagi Kak Luzy padamu," ucap Mona kepada suami temannya itu.


Pria itu hanya tersenyum ramah ke arah Mona.


"Oh iya, Mona. Aku dan suamiku sekarang membuka kedai kopi kecil-kecilan. Kapan-kapan kau mampir lah. Ini alamatnya," ucap Luzy sambil menyerahkan selembar kartu nama kepada Mona.


"Oke, Kak. Nanti aku mampir ke sana. Kalau begitu aku pulang dulu… Bye, Joy. Bibi pulang dulu, oke," ucap Mona kepada pasangan tersebut dan anak kecil yang berada di gendongan sang ayah.


"Hati-hati, Bibi Mona. Papay," sahut Joy sambil melambaikan tangannya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih