DESIRE

DESIRE
Bab 78



"Aku tau, selama ini aku tak pernah memperjelas hubungan kita. Namun, tunggulah sebentar lagi, hingga aku bisa mewujudkan mimpiku, dan kita bisa bersama selamanya. Aku akan menjadikanmu istriku," ucap Arthur.


Mona terbelalak. Dia tak percaya jika Arthur baru saja mengatakan hal semanis itu. Namun, entah kenapa dia justru semakin sedih. Air mata kembali luruh di pipinya.


Arthur yang melihat hal itu pun, membawa Mona masuk ke dalam pelukannya. Dia mengira jika wanita itu terharu dengan kata-katanya barusan.


Mona terus diam, namun air mata tak bisa lagi ia bendung.


Si*l! Kenapa aku mendadak jadi cengeng begini? batin Mona.


Wanita itu seakan kehilangan kebekuan hatinya, dan menjadi semakin sensitif dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya dan Arthur.


Dia pun tak mengerti, dan seakan tak mengenal dirinya sendiri.


Arthur mengusap lembut surai hitam Mona yang bergelombang, dan sesekali mengecup kening Mona. Sedangkan wanita itu, tak membalas pelukan Arthur sama sekali. Dia hanya merem*s ujung jas yang sedang di pakai Arthur, sambil menahan isaknya.


"Kau adalah masa depanku, Mona. Jadi, jangan pernah sekalipun kau memanggap rendah dirimu sendiri," ucap Arthur.


Pria itu mengurai pelukannya dan kembali memandang wajah cantik yang selalu berhasil menggodanya. Ia pun kembali menyeka buliran bening yang menetes di wajah cantik itu.


"Jangan menangis lagi, mengerti," lanjutnya.


Mona pun mengulas senyum tipis ke arah Arthur.


Pria itu pun kembali mendaratkan ci*man mesra di bibir Mona. Kali ini, wanita itu membalasnya, dan mengalungkan kedua lengan di leher pria itu.


Mona terdorong ke belakang hingga membentur dinding. Arthur menghimpit tubuh Mona di antara tembok dan dirinya.


"Eeehhhmmmm…,"


Ci*man mereka semakin dalam dan liar. Tangan Arthur semakin liar menelusup masuk ke dalam kemeja Mona, yang ditarik hingga ujungnya keluar dari rok.


Ia meraba perut wanita itu, dan naik hingga mencapai pucak ranum milik Mona yang begitu menggoda.


"Eeehhhhmmmm…,"


Suara leng*han yang begitu indah di telinga Arthur, membuat hasr*tnya semakin terbakar.


Namun, Mona segera tersadar dan menghalangi tangan pria itu agar tak menjelajah semakin jauh. Ia pun mendorong tubuh Arthur, dan mencoba melepas pagutannya.


"Ehm… kenapa, Sayang?" ucap Arthur dengan mata yang telah berkabut.


"Jangan di sini, Kak. Ini masih di restoran. Kalau ada yang masuk bagaimana?" ujar Mona.


Arthur tersenyum, dan membelai wajah cantik si ratu esnya.


"Maaf yah. Aku terlalu bersemangat," sahut Arthur yang mencoba menahan gairahnya yang sudah naik.


Mona pun hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


"Kita ke kantorku. Aku ingin kamu lihat bagaimana aku bekerja," ucap Arthur.


"Ehm… lain kali saja ya, Kak. Hari ini aku mau istirahat di rumah saja. Tidak apa kan?" tolak Mona.


Arthur terdiam. Raut wajahnya jelas terlihat muram.


Mona yang mengerti pun, mencoba membujuknya. Dia kembali melingkarkan lengannya di leher pria itu, dan bergelayut manja di sana, dengan kepala yang menempel di dada Arthur.


"Lain kali. Aku janji lain kali akan ikut Kakak ke sana, hem," ucap Mona.


Arthur pun membalas perlakuan Mona dengan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu.


"Ehm… tapi janji jangan mengatakan hal seperti tadi lagi, karena aku secepatnya akan melamarmu, dan kita akan segera menikah." Arthur memeluk erat wanitanya itu, seakan tak ingin melepaskannya barang sekejap saja.


Jangan pernah menjanjikan sesuatu yang sulit padaku, Kak. Karena aku tak akan mau menunggu hal yang tak pasti, batin Mona.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Setelah acara makan siang itu, Arthur mengantar Mona kembali ke apartemen, sedangkan dia pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Dia terus melamun di balkon apartemennya hingga menjelang petang.


Udara mulai terasa dingin, dan Mona pun masuk ke dalam. Ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Mona berendam di dalam bath tube, dan kembali melamun di dalam sana, hingga sesuatu mengusik lamuannya.


Tiba-tiba, suara dering ponselnya terdengar, menandakan sebuah panggilan masuk.


Mona pun beranjak dari dalam bath tube, dan membilas tubuhnya di bawah guyuran shower. Setelah selesai, ia ke luar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuh, untuk mengambil ponsel miliknya yang sejak siang tadi berada di dalam tas.


Telepon sempat berhenti, tetapi kembali berdering. Dia melihat sekilas nama di layar itu, dan segera menggeser tombol berwarna hijau ke kanan.


"Halo," sapanya.


Mona nampak tengah mendengarkan perkataan orang di seberang telepon.


"Bantuan apa?" tanya Mona.


Kembali dia mendengarkan jawaban dari seberang.


"Oke, kau tenanglah? Sekarang kau di mana?" tanya Mona yang terlihat panik.


Dia terus mendengarkan semuanya dengan seksama, sambil sesekali manggut-manggut.


"Apa kau serius pergi ke tempat seperti itu, hah? Lalu apa kau sudah masuk ke dalam? Kenapa kau gak mengatakan padaku jika sedang membutuhkan uang, hah? Bukankah aku bisa meminjamkannya adamu," tanya Mona yang mulai panik.


Mona terlihat berjalan mondar mandir tak tenang.


"Ya sudah. Sebaiknya sekarang kau keluar," ucap Mona.


Dia nampak memegangi keningnya, dan mencoba berpikir sesuatu.


"Oke, aku ke sana sekarang. Kua tunggu aku. Kirimi aku nomer kamar mu," seru Mona.


Kemudian, dia pun menutup panggilannya.


"Duh, baterai ku low lagi. Kalau ku tinggal, bagaimana nanti kalau Kakak mencariku? Ah sudah lah, ku bawa saja. Semoga tidak habis baterai lebih dulu," gumamnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Mona segera memakai pakaian serba panjang, untuk melindungi dirinya dari angin malam yang cukup dingin, terlebih tempat yang aka dia datangi cukup berbahaya jika berpakaian seperti biasanya.


Dia bergegas pergi menemui temannya. Wanita itu bahkan tak sempat mengeringkan rambutnya yang masih basah, sangkin terburu-burunya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Heaven Valley,


Tampak seorang wanita telah selesai melakukan panggilan. Dia kemudian melakukan panggilan lain dari ponselnya.


"Dia sekarang sedang menuju ke sana. Jadi, sesuai janji mu, operasi ibuku malam ini juga," ucapnya.


Dia pun langsung mengakhiri panggilan itu. Wanita tersebut terlihat tersenyum licik, sambil mengetuk-ngetukkan ponsel di dagunya.


"Sorry, Mona. Malam ini riwayat mu akan selesai," ucapnya.


Dia tak menyadari, jika ada sepasang mata yang terus memperhatikannya sedari tadi, dan mendengar jelas semua yang telah dia ucapkan di telepon.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih