DESIRE

DESIRE
Bab 88



Setelah Arthur selesai berganti pakaian, Dia pun mengambil benda lain dari dalam tas belanjaan yang ternyata adalah sebuah sweater rajut dengan kancing depan.


Dia berjalan ke arah Mona, dan memakaikan benda tersetersebut pada wanita itu.


"Sudah direncanakan ternyata," goda Mona yang melihat kesiapan Arthur untuk mengajaknya jalan-jalan keluar.


Arthur hanya tersenyum, dan terus merapikan baju hangat itu di tubuh Mona.


"Tadinya aku ingin mengajak mu jalan-jalan besok. Tapi sepertinya sudah ada yang kebosanan di dalam sini," sindir Arthur yang dibalas senyuman oleh Mona.


Dia kemudian berjalan keluar dan tak lama kemudian masuk kembali sambil mendorong sebuah kursi roda.


Arthur mengangkat tubuh Mona dan mendudukkannya di atas kursi roda tersebut. Tak lupa juga ia mengambil sebuah selimut dan menggunakannya untuk menutupi kaki Mona agar tidak kedinginan.


"Sudah siap?" tanya Arthur.


"Ehm… let's go!" seru Mona yang terlihat sangat bersemangat.


Arthur tersenyum melihat tingkah Mona yang kegirangan layaknya anak kecil yang diberi mainan. Dia dengan begitu hati-hati mendorong kursi roda yang sedang diduduki oleh wanitanya.


Namun, kesenangan Mona terhenti saat tiba di depan kantin rumah sakit.


"Yah… Sudah tutup, Kak. Lihat... gelap semua. kita terlalu malam ke sininya," keluh Mona saat mendapati cafetaria rumah sakit telah tutup.


"Ehm, kau benar. Sepertinya kita memang terlambat. Bagaimana sekarang? Balik ke kamar lagi saja ya? Biar nanti aku minta William untuk membawakan makanan dari luar," saran Arthur.


"Yah… kenapa masuk lagi?" rengek Mona.


"Lalu kita harus ke mana? Taman? Di luar dingin sekali. Nanti kau bisa ambah sakit?" bujuk Arthur.


Mona diam. Dia hanya menunjukkan ekspresi kesal di wajahnya.


"Hem… kita ke taman atas dekat lift saja. Bagaimana?" bujuk Arthur.


"Baiklah. Dari pada tidak sama sekali," sahut Mona tak puas.


Mereka pun kembali menuju ke lantai VVIP, di mana ada sebuah taman kecil yang terletak di antara balkon kamar rawat di lantai tersebut.


Kini, keduanya sudah sampai di sana. Arthur merapikan selimut yang menutupi kaki Mona agar menjaga wanita itu tetap hangat.


"Ehm… akhirnya bisa keluar juga. Pengap sekali di dalam terus," ungkap Mona seraya menghirup udara malam.


Ia menoleh, dan melihat Arthur nampak menatap ke depan, tetapi pandangannya terlihat kosong.


Ada apa? Ah benar… dia pasti sudah membaca hasil visum ku bukan. Kenapa dia tak bilang apapun padaku? Apa jangan-jangan, dia sudah tau tapi tak mau membahas masalah itu? batin Mona menerka-nerka.


Nampak jelas raut kecewa di wajah cantik Mona, saat otaknya memikirkan kemungkinan menyakitkan itu.


Mona tertunduk, dan tanpa ia sadari, tangannya mengusap perut yang tertutupi oleh selimut. Ada rasa sesak di dalam dadanya jika harus memikirkan nasib anak yang kini tengah ia kandung.


"Mona," panggil Arthur yang menyadarkannya dari lamunan.


"Ehm… iya, Kak. Kenapa?" tanya Mona yang terkaget dengan panggilan prianya.


"Kamu yang kenapa? Tadi senang sekali bisa keluar, sekarang kenapa malah tertunduk seperti itu?" Arthur berjalan ke depan Mona, dan berjongkok di hadapan wanita tersebut.


Dia meraih kedua tangan Mona yang masih berada dia atas perutnya.


"Kamu sedang memikirkan apa, hem?" tanya Arthur.


"Ehm… Kak, aku lihat hasil visumku tadi siang. Kakak pasti juga sudah membaca bukan?" tanya Mona sedikit ragu.


"Belum. Aku belum sempet membaca. Memang kenapa?" tanya Arthur.


"Bohong," sahut Mona ketus.


"Serius aku memang belum baca. Ada apa, hem? Aku semalam hanya mendengarkan penjelasan dokter. Setelah itu aku taruh di atas meja depan sofa. Memang kenapa?" papar Arthur.


"Terus, aap yang dokter katakan?" tanya Mona lagi yang masih terdengar ketus.


"Ya, dokter hanya mengatakan bahwa kondisi mu baik-baik aja. Semuanya aman dan kau tak sempet diapa-apakan oleh mereka. Sudah hanya itu?" jawab Arthur.


"Memang ada apa dengan hasil visum mu? Aku penasaran. Sebentar ku ambil dulu biar ku baca di sini," ucap Arthur yang hendak berdiri.


Namun, Mona buru-buru mencegah pria itu pergi.


"Tidak usah, Kak. Biar besok saja," ucap Mona melembut.


Arthur kembali berjongkok, dan menatap lekat-lekat kedua manik hitam Mona.


"Jujur pada ku, ada apa sampai kau ngotot sekali tadi?" tanya Arthur.


"Ehm… aku… aku hanya… hanya kaget saja," ucap Mona.


Pria itu masih menatap Mona dengan kedua alis yang berkerut. Dia seolah tak puas dengan jawaban dari wanitanya, hingga Mona dibuat gelagapan.


"Kaget?" tanya Arthur dengan suara beratnya.


"I… iya hanya kaget. Ternyata aku… aku… aku hampir telanjang. Kenapa Kakak tak bilang padaku soal itu?" jawab Mona yang terdengar begitu gugup.


"Oh… itu. Untuk apa dibahas lagi. Yang terpenting sekarang, kamu sudah tak apa-apa lagi, Mona. Lupakan yah," ucap Arthur.


Mona hanya mengangguk. Namun, dia masih penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Arthur hingga membuatnya sempat melamun tadi.


Tak berselang lama, William datang membawakan makan malam untuk bos dan juga si kupu-kupu malam kekasih bosnya. Sebelum pergi, Arthur meminta asistennya untuk membawa hasil visum Mona ke kantor polisi, guna melengkapi berkas perkara yang telah diajukan Arthur atas tindak percobaan pemerkosaan Mona tempo hari.


Arthur dan Mona pun makan bersama di dalam kamar rawat wanita itu. Karena lelah dan terlalu penat memikirkan masalah pembangunan departemen store-nya di benua eropa, Arthur pun memilih untuk beristirahat dan tidur di sofa.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Tiga hari kemudian, Mona sudah diperbolehkan untuk pulang. Arthur yang sedari tiga hari yang lalu terlihat begitu kelelahan setiap sepulang dari kantor, dan cenderung melamun. Bahkan kini dia tak menjemput Mona di rumah sakit.


"Selamat siang, Nona Mona. Tuan Peterson meminta saya untuk menjemput Anda pulang," sapa William yang sudah berada di dalam kamar rawat Mona.


"Di mana bosmu? Kenapa bukan dia yang datang, Will?" tanya Mona yang merasa kecewa karena ketidak hadiran Arthur.


"Maaf, Nona. Tuan Peterson sedang sangat sibuk. Mari saya bawakan barang-barangnya," ucap Will sambil meraih tas dan beberapa barang lain milik Mona.


Dia pun lalu keluar diikuti oleh Mona yang berjalan tak jauh di belakang sang asisten.


Sesampainya di dalam mobil, Mona memilih duduk di kursi belakang, sedangkan William yang menjadi supirnya.


Di tengah perjalanan, Mona yang merasa penasaran dengan sikap Arthur yang akhir-akhir ini sering melamun, akhirnya mencoba mencari tahu lewat asisten prianya itu.


"Ehm… Will. Apa beberapa hari ini ada masalah serius di kantor? Aku sering melihat pria itu melamun terus belakangan ini," ucap Mona.


"Oh… itu. Ada sedikit kendala dalam pembangunan cabang department store kami yang baru. Sudah sekitar satu minggu, sang arsitek yang semula dipilih oleh Tuan, belum juga mau menandatangi perjanjian kerja sama dengan perusahaan kami. Jadi, Tuan sedang mencoba mencari alternatif pilihan lain," papar William.


"Ehm… memang siapa arsitek yang menangani pembangunan ini dari awal?" tanya Mona penasaran.


"Belum menangani, Nona. Baru akan. Namun, Tuan sangat menyukai design-nya. Semuanya benar-benar detail dan sangat terancang sesuai dengan kodisi sekitar tempat pembangunan," jelas William.


"Oke… jadi, siapa si jenius itu?" tanya Mona.


"Namanya Gerald Lee. Dia seorang arsitek muda yang sudah banyak merancang gedung-gedung milik perusahaan besar di dunia," tutur William.


"Gerald Lee?" gumam Mona seolah mengingat nama yang terdengar tak asing baginya itu.


Tunggu… Gerald? batin Mona yang seketika terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh William.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih