DESIRE

DESIRE
Bab 117



Ema terus memperhatikan Arthur yang terlihat begitu khawatir dengan kondisi Mona.


Arthur nampak mengusap lembut kening Mona dan menyingkirkan anak rambut yang ada di sana. Tiba-tiba, Arthur menoleh ke arah Ema, dan membuat ladies itu terperanjat mendapat tatapan tajam dari pimpinan PS group itu.


"Siapa kau? Dan kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Arthur menginterogasi.


"Woho… santai, Tuan. Aku bisa jelaskan! Si kucing kampung… eh … si Mona yang telepon aku dan minta aku untuk ke mari menemaninya," jawab Ema yang mencoba menghilangkan gugupnya di depan Arthur.


"Memang kau siapa?" tanya Arthur.


"Aku? Kenalkan, aku Ema. Teman kerjanya Mona," sahut Ema sambil mengulurkan tangannya ke arah Arthur.


Namun, Arthur tak meraih uluran tangan itu, dan hanya memandangnya datar.


"Teman kerja di tempat Madame Queen?" tanya Arthur lagi.


Ema tersenyum kecut dan menarik kembali ukauran tangannya.


"Iya," jawab Ema ketus.


"Kamu bukan yang namanya Shasa itu kan?" cecar Arthur.


"Shasa? Bukan lah! Aku berbeda dengan dia. Lagipula, aku sudah bilang tadi kalau namaku Ema. Bagaimana sih," keluh Ema yang kesal disamakan dengan Sisi.


"Oke, kamu tunggu di sini. Aku masih perlu denger penjelasan dari mu, kenapa Mona bisa sampai begini," seru Arthur.


Pria itu kemudian menggendong Mona dan membawanya menuju ke lantai atas. Dia meletakkan tubuh wanita yang tengah mengandung anaknya itu ke atas tempat tidur dengan perlahan.


Arthur pun menarik selimut dan menutupi tubuh wanitanya hingga ke dada. Dia pun megecup singkat kening Mona dan mengusap pelipisnya dengan lembut.


"Aku sudah pulang. Sekarang istirahatlah," ucap Arthur lirih.


Dia pun kembali turun dan bergabung dengan Ema. Arthur duduk di atas karpet dan bersandar di sofa, sama seperti apa yang dilakukan Ema.


Pria itu menengadahkan kepala dan bertumpu pada sofa yang ada di belakangnya, sembari memejamkan mata.


"Ceritakan apa yang terjadi, sampai dia jadi seperti itu?" ucap Arthur.


"Aku tidak tau, Tuan. Yang jelas tadinya dia baik-baik saja, sampai ada yang datang dan mencari seseorang," ungkap Ema.


Arthur membuka matanya, dengan masih menumpukan kepala di sofa.


"Ada yang datang? Siapa?" tanya Arthur.


"Ya mana ku tau. Orangnya saja aneh sekali. Siang-siang panas begini pakai jaket hitam. Tampan memang, cuma dari tampangnya seperti orang tidak baik, sangar." Ema bergidik saat mengingat kembali sosok pria yang ia temui di depan pintu.


"Jaket hitam?" tanya Arthur lagi.


"Iya. Tadinya ku kira dia kurir makanan, eh taunya mencari orang," sahut Ema yang kesal.


"Cari orang? Siapa yang dia cari?" tanya Arthur sambil menegakkan duduknya, dan menoleh ke arah Ema.


Pria itu seolah tengah menunggu jawaban dari wanita di sampingnya.


"Ehm… kalau tidak salah… siapa tadi ya… Li … Li … Lisa … iya, Lisa. Orang itu cari Lisa," tutur Ema.


Arthur seketika membulatkan matanya saat mendengar ada orang yang mencari Mona dengan nama kecilnya, Lisa.


Pasti orang itu. Mona pasti ketakutan karena orang itu bisa sampai di tempat ini, batin Arthur.


Tangannya tampak mengepal dan merasa geram atas semua teror yang dialami oleh wanitanya. Yang lebih membuatnya marah adalah, pelakunya adalah orang terdekat Mona.


"Apa dia sempat melihat Mona? Atau Mona sempat melihat orang aneh itu?" tanya Arthur.


Ema melihat jika pria di sampingnya terlihat begitu marah, saat dia mengucapkan nama 'Lisa' tadi.


"Tidak. Mereka tidak saling bertemu. Aku yang menemui di depan pintu, tapi langsung kututup saat ku tau dia salah alamat," sahut Ema yang merasa ngeri dengan tatapan tsajam Arthur saat marah.


Benar juga. Wanita ini tidak tau nama kecil Mona, batin Arthur.


Kepalan tangannya berangsur-angsur terlepas, dan dia kembali menyandarkan punggungnya di sofa.


"Ehm… ya, begitulah. Karena dia yang tanya, jadi aku jawab. Apa itu salah, Tuan?" tanya Ema.


"Tidak. Kau tidak salah." Arthur terlihat menunduk dan menumpukan keningnya pada kedua kautut.


"Aku justru berterimakasih karena ada kau di sini," lanjut pria tersebut.


Ema tak paham maksud dari perkataan Arthur, namun sekilas ia bisa menebak jika ada hal buruk yang sedang mengintai Mona saat ini.


Matahari sudah bergulir ke sisi barat, dan Ema yang merasa tugasnya sudah selesai pun pamit undur diri.


"Datanglah lagi kemari saat aku tidak ada. Aku sangat menghargai kesediaanmu untuk menjaga Mona," ucap Arthur.


"Aku akan pertimbangkan jika ini menguntungkan," ucap Ema sambil mengemas barang-barangnya.


"Baiklah. Aku akan bayar kau satu juta sehari. Tapi tolong pastikan Mona aman dan tak ada yang mengganggunya," ucap Arthur.


Waw… sehari sejuta hanya menemani si kucing kampung saja. Lumayan lah. tidak lelah juga, batin Ema yang bersorak kegirangan.


"Ehem… Oke. Aku akan pikirkan dulu. Selamat tinggal, Tuan. Permisi," pamit Ema.


Arthur pun mengantar wanita itu hingga keluar apartemen, dan memastikan jika pintu kembali tertutup dengan rapat.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Malam hari, Arthur masih terus menemani Mona yang tertidur dari sejak siang. Pria itu berbaring di samping si ratu es, sambil menopangkan kepalanya pada kepalan tangan.


"Mau sampai kapan kamu tidur, Mona. Ini sudah lewat waktu makan malam," gumam Arthur.


Tangannya terulur dan mengusap lembut surai hitam wanitnya. Dia pun sesekali mengecup pelipis Mona yang sedikit ditumbuhi anak rambut.


"Ehm…," Mona mengerang lirih dan menggeliat.


Wanita itu nampak mengerjap-kerjapkan mata dan mencoba untuk membukanya.


"Selamat malam, ratu es ku, Mommy-nya lil baby," sapa Arthur yang masih memandangi wajah bantal Mona.


"Ehm… Kak. Kamu sudah pulang?" tanya Mona tersenyum.


"Ehm… dari tadi siang," sahut Arthur.


"Oh…," sahut Mona sambil meregangkan otot tanganya ke atas.


Tiba-tiba, Mona berhenti meregang, dan matanya membola. Dia pun seketika memeluk Arthur dengan erat dan kembali gemetaran.


"Kak…," panggil Mona.


"Ssssttt … Sssttt … sudah tidak apa-apa. Ada aku di sini. Kamu tidak usah takut lagi ya," ucap Arthur yang seolah tau apa yang membuat Mona tiba-tiba memeluknya dan ketakutan seperti itu.


"Dia… dia datang, Kak. Dia ke sini. Aku … aku sudah tidak bisa sembunyi lagi," ucap Mona.


"Tenang. Kamu tidak sendirian, Mona. Ada aku. Percayalah kalau aku akan selalu menjagamu, dari siapa pun yang berusaha menyakitimu dan anak kita," tutur Arthur.


Mona pun semakin mengeratkan pelukannya pada pria itu. Dan terdengar kembali isakan lirih dari mulutnya.


Kurang ajar. Aku harus secepatnya bertindak. Aku tidak mau Mona terus-terusan seperti ini. Aku tidak akan biarkan siapa pun menyakiti dia baik fisik maupun mentalnya, batin Arthur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih