
Seminggu sudah sejak kunjungan Mona ke tempat Luzy. Morning sickness tak begitu terasa, bahkan n*fsu makannya semakin meningkat. Namun ada satu hal yang membuat Arthur kerepotan, yaitu perasaan Mona yang semakin hari semakin sensitif, apa lagi jika menyangkut tentang Arthur.
Setiap kali dipeluk pria itu, Mona akan sulit dilepaskan. Bak lem super yang melekat erat, Mona seakan tak mau terpisah dari Arthur. Pimpinan PS group itu pun sampai bingung jika sikap Mona yang seperti itu sudah muncul.
Di suatu pagi, Arthur yang tengah bersiap pergi ke kantor, bermaksud memberikan pelukan selamat pagi kepada Mona.
"Ehm… wangi sekali Mommy-nya lil baby," ucap Arthur sembari memeluk wanitanya dari belakang, dan mengecup pelipis Mona.
Wanita itu pun kemudian menoleh, dan memeluk prianya dengan erat. Aroma tubuh Arthur yang begitu khas, perpaduan antara musk dan juga mint yang menciptkan kesan maskulin, dan membuat wanita hamil itu merasa nyaman berlama-lama di dekatnya.
"Ehm… Daddy-nya lil baby tampan sekali. Mau berangkat yah?" tanya Mona yang masih betah berlama-lama di dalam pelukan Arthur.
"Ehm… aku mau ke kantor dulu. Kamu baik-baik di rumah," ucap Arthur sambil mengurai pelukannya.
"Ehm… nanti dulu. Aku masih ingin dipeluk." Mona terus mengeratkan pelukannya.
Arthur pun membiarkannya sebentar lagi. Namun ternyata bukan sebentar, melainkan cukup lama hingga kaki pria itu pun terasa letih berdiri menopang wanitanya yang terus berada di dalam pelukannya.
"Mona, sudah siang. Aku ada rapat penting dengan para dewan direksi," ucap Arthur.
"Ehm… Kak, bagaimana kalau aku ikut kamu saja ke kantor," pinta Mona sambil mendongak menatap wajah prianya.
"Jangan hari ini yah. Aku pasti akan lama rapatnya. Nanti kamu bosan. Besok-besok lagi saja yah," tolak Arthur dengan lembut.
Namun, Mona tiba-tiba menunduk. Bahunya terlihat berguncang. Arthur pun mengurai pelukannya dan menangkup kedua pipi wanita itu.
"Lho… kenapa kamu nangis?" tanya Arthur yang heran dengan sikap Mona yang akhir-akhir ini sering sekali tiba-tiba berubah melankolis.
"Kakak sudah tidak sayang aku lagi kan, Jadi tidak mengijinkan aku ikut ke kantor. Hik… hik…," ucap Mona ditengah isaknya.
Hah… bukannya dia sendiri yang menolak untuk ikut ke kantor waktu itu? Kenapa sekarang malah dia yang maksa untuk ikut sih? batin Arthur bertanya-tanya.
"Ehm… bu… bukan begitu, Sayang. Maksudku bukan tidak boleh, tapi kan hari ini aku sibuk sekali. Lain kali saja kamu ikutnya yah," bujuk Arthur.
Namun, Mona seketika menepis kedua tangan besar pria itu dari wajahnya.
"Tidak mau! Pokonya Kakak sudah tak sayang aku lagi," gerutu Mona sambil berbalik dan berjalan menuju ke arah balkon.
Arthur menghela nafas panjang, dan mengekori wanita hamil itu. Mona nampak duduk di kursi yang ada di sana dan membuang muka, sedangkan Arthur duduk berlutut di hadapan wanitanya.
"Mommy-nya lil baby, jangan marah ya. Kan besok masih bisa ikut. Jangan hari ini. Aku takut kamu bosan menunggu aku lama-lama," bujuk Arthur dengan lembut sambil meraih tangan wanita cantik itu.
"Masa bod*! Pokoknya aku kesal dengan Kakak!" keluh Mona yang tetap tak mau mengalah.
"Hah… lalu aku harus bagaimana? kamu memangnya mau menunggu aku seharian di sana?" ujar Arthur yang sedikit kesal dengan Mona.
"Ya kan aku masih bisa keliling untuk lihat-lihat perusahaan kamu," sahut Mona sambil mengerucutkan bibirnya.
Hih… benar-benar menggemaskan. Tapi kenapa dia jadi seperti ini sih. Membuat ku pusing saja, batin Arthur yang gemas dengan Mona.
"Ya sudah… baiklah! Kamu boleh ikut, tapi janji jangan ngambek kalau menunggu l aku terlalu lama yah." Arthur akhirnya menuruti kemauan calon ibu muda itu.
"Benarkah, Kak?" seru Mona dengan mata berbinar.
"Iya. Kamu siap-siaplah. Aku sudah hampir telat," ucap Arthur.
Mona pun seketika membungkuk mendekat ke wajah Arthur dan mengecup singkat pipi pria itu.
"Thank's, Kakak!" ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
"Eh… jangan lompat-lompat begitu. Ingat kandunganmu, Mona!" seru Arthur dari arah balkon.
"Iya, Kak!" sahut Mona yang sudah melesat masuk ke walk in closet.
Tak lama kemudian, Mona muncul dengan mengenakan blouse berwarna soft mocca berbahan satin, dilengkapi dengan aksen tali di lehernya.
Dipadukan dengan rok hitam selutut, dan tambahan heels berwarna senada, membuat tampilan Mona terkesan begitu formal namun tetap terlihat seksi dan cantik.
"Aku sudah siap, Kak," ucap Mona saat turun ke bawah menghampiri Arthur yang sudah menunggunya di sana.
"Wah… kenapa kamu cantik sekali sih. Aku jadi takut mengajakmu ke kantor," goda Arthur yang berjalan menghampiri Mona.
"Tuh kan begitu lagi! Menyebalkan," gerutu Mona yang mulai cemberut lagi.
Arthur meraih pinggang Mona, dan mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu.
Mona memukul kecil dada Arthur.
"Nakal! Sudah ah, katanya hampir telat. Ayok berangkat!" ajak Mona.
Arthur pun hanya terkekeh melihat wanitanya itu tersipu malu karena perkataannya.
Mereka keluar dari apartemen, dan bersama-sama turun ke parkiran.
Tanpa mereka sadari, seseorang nampak mengintai unit mereka sedari tadi, dan kini dia terlihat meninggalkan tempatnya dan masuk ke dalam pintu keluar darurat, setelah melihat Mona dan Arthur pergi.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di kantor, Mona dan Arthur telah berada di ruang kantornya. Sepanjang jalan menuju ruangannya, banyak karyawan yang memandang ke arah kedua orang itu.
Banyak di antara mereka yang berbisik dan bertanya-tanya siapa sosok cantik yang ada di samping big boss mereka.
Namun seperti biasa, Mona selalu acuh dan tak mempedulikan semua omongan orang atas dirinya. Saat ini, dia hanya ingin terus berada di sisi prianya, ayah dari anak yang tengah ia kandung.
"Kamu mau minum apa?" tanya Arthur yang berjalan menuju ke kursi kerjanya.
Sedangkan Mona, wanita itu duduk di sofa yang ada di seberang meja kerja Arthur.
"Ehm… nanti aku pesan delivery order saja deh. Belum pengin," ucap Mona yang memandang ke sekeliling ruang kerja pria itu.
"Oke." Arthur menatap tumpukan berkas yang ada di hadapannya.
Tak berselang lama, William masuk ke dalam ruangan, dan memberitahukan atasannya untuk segera bersiap-siap.
"Maaf, Tuan. Rapat akan segera berlangsung. Anda diminta untuk segera datang ke tempat rapat," ucap William.
"Oke, lima menit lagi, Will," sahut Arthur.
"Baik, Tuan." William pun kembali meninggalkan Arthur dan Mona berdua di dalam ruangan.
Wanita cantik itu nampak berjalan menghampiri Arthur yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Kak, aku boleh keliling-keliling untuk lihat-lihat gedung ini tidak? Sepertinya tadi di sebelah sana ada taman," pinta Mona yang sudah berdiri di belakang Arthur sambil memijat pelan pundak prianya.
"Ehm… boleh. Perlu aku minta seseorang untuk menemanimu?" tawar Arthur.
"Tidak usah. Aku bisa sendiri, Kak," sahut Mona.
"Ya audah. Aku rapat dulu yah. Kalau perlu apa-apa, di depan ada sekretarisku yang lain. Minta tolong dia saja yah," pesan Arthur.
"Iya, Kak. Semangat rapatnya," ucap Mona.
"Cuma itu?" tanya Arthur yang memutar kursinya hingga menghadap ke arah Mona. Dia meraih pinggul wanitanya dan membuat si ratu es terdorong ke depan hingga menimpa Arthur yang masih duduk.
Mona tersenyum, dan dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Arthur. Ia memiringkan kepalanya, dan seketika menautkan bibirnya ke bibir pria di hadapannya.
Mereka pun saling mem*gut dan mel*mat bibir masing-masing. Lidah Arthur menerobos masuk dan mengundang Mona untuk ikut membelitnya.
"Ehm…," l*nguhan lirih terdengan saat tangan Arthur mulai turun dan merem*s bokong sintal wanita itu.
Ciuman mereka pun memanas. Namun, Mona menghentikan semuanya, dan memundurkan badannya.
"Sudah waktunya rapat. Aku akan tanya ke Dokter Stella, apa kamu sudah bisa menengok lil baby apa belum, oke?" ucap Mona sambil mengusap sisa lipstik yang menempel di bibir Arthur.
"Oke. Aku akan bersabar demi kamu… (Arthur menoel hidung Mona)… dan lil baby," ucapnya yang kemudian mengusap lembut perut rata Mona.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih