DESIRE

DESIRE
Bab 67



Tepat saat itu, seseorang menerobos masuk, dengan menendang salah seorang penjaga yang tengah berjaga di depan pintu kamar, hingga terpental masuk ke dalam ruangan itu, dan mengagetkan pria yang tengah menelan*jangi Lisa.


Orang itu mengepalkan tangannya dan terlihat begitu emosi kala melihat gadis yang berada di atas ranjang dalam keadaan setengah telan*jang, dengan baju seragam yang telah terbuka semua kancing-kancingnya, dan memampangkan kain pembebat buah dadanya. Sedangkan roknya sudah terangkat ke atas dan memperlihatkan kain segitiga penutup bagian intim gadis itu.


"Baji*ngan!" pekiknya yang kemudian menyerang pria yang berada di atas tubuh Lisa yang masih tergolek lemas.


Pukulan membabi buta pun tak bisa dihindari oleh pria tersebut, karena orang tadi terus memukulinya tanpa ampun.


"Kurang ajar. Brengsek. Beraninya kau menyentuh gadisku," makinya sambil terus melayangkan pukulan demi pukulan ke arah pria yang telah babak belur tersebut.


Ya, orang tengah memukul itu tak lain adalah Arthur. Sebuah kebetulan, saat itu Lisa dibawa ke tempat di mana Arthur berada.


Para pria bertubuh besar itu membawanya ke sebuah kamar di dalam klub malam yang saat itu dikunjungi oleh Arthur.


Pria itu tak sengaja berpapasan dengan Lisa yang diseret menuju ke sebuah lorong, di mana terdapat banyak kamar-kamar layaknya yang ada di Heaven valley, saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi.


Arthur pun mengikuti mereka dan beruntungnya, Lisa belum sempat dijamah oleh pria yang membelinya.


Puas memukuli laki-laki asing itu hingga babak belur, Arthur mencoba menghubungi William untuk membereskan semua kekacauan yang ia perbuat, dan membawa Lisa ke rumah sakit untuk menghilangkan efek obat yang ada di tubuhnya.


Arthur sedih melihat Lisa kecilnya yang tergolek lemas, dengan pakaian yang hampir terlepas seluruhnya. Dia pun mendekat dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.


Dia berjalan keluar saat para penjaga keamanan datang dan memintanya untuk segera ke ruangan sang pemilik klub.


Arthur menoleh sejenak ke belakang, melihat Lisa yang masih terlihat tak berdaya.


"Bawa pergi orang-orang ini dulu, agar mereka tak menyentuh anak kecil itu lagi. Setelah itu, baru aku akan ikut kalian," ucap Arthur kepada para penjaga keamanan klub.


Mereka pun memerintahkan anggotanya, untuk membawa pergi orang-orang tersebut. Setelah melihat kondisi sudah aman, Arthur pun menutup pintu kamar dan meninggalkan Lisa seorang diri di sana, hingga William datang.


Arthur dibawa ke ruangan pemilik klub, dan bernegosiasi perihal ganti rugi dari kekacauan yang telah ia perbuat.


Cukup lama dia berada di sana, hingga William pun menyusulnya ke tempat itu.


"Will, kenapa kau malah di sini? Siapa yang menjaga kamar itu?" tanya Arthur kepada sang asisten saat William memasuki rungan pemilik klub.


"Maaf, Tuan. Tapi saat saya datang tadi, di kamar itu sudah tidak ada siapa-siapa," tutur William.


"APA?!" pekik Arthur yang merasa kecewa karena kembali kehilangan Lisa kecilnya.


FLASHBACK END...


...🍂🍂🍂🍂🍂...


"Jadi, benar Kakak yang sudah menolong ku?" tanya Lisa yang duduk sambil bersandar di bahu kekar Arthur, dengan jemari keduanya yang saling bertaut.


"Hem… memang aku orangnya," sahut Arthur sambil mengusap-usap punggung tangan Lisa.


"Aku memang sempat ingat, kalau ada keributan di sana. Tapi benar-benar tidak ingat apa-apa setelah pria itu mau membuka bajuku," tutur Lisa.


"Yah, wajar saja… karena kau dalam pengaruh obat. Kau sangat beruntung waktu itu, Mona. Malam itu hujan turun sangat deras bukan? Hal itu lah yang membuat efek obat itu tidak bekerja, karena aku yakin kau pasti pulang kehujanan, yang otomatis mendinginkan tubuhmu," papar Arthur.


"Apa itu bukan obat perangsang? Ku dengar, obat itu tak ada penawar lain selain org*sme ekstrim," sahut Mona.


"Begitu rupanya… Yah, kau benar. aku sangat beruntung saat itu, tapi keberuntunganku hanya sampai di situ saja, karena saat aku sampai di rumah sakit, ibuku sudah tak ada," ungkap Lisa.


Arthur menjauhkan sedikit kepalanya, dan mencoba melihat wajah Mona saat itu.


Mona yang mengerti bahasa tubuh Arthur pun menegakkan posisi duduknya, dan menatap wajah pria di sampingnya.


"Benar, Kak. Malam itu juga ibuku meninggal, dan pagi harinya, aku dikeluarkan dari sekolah," tutur Lisa.


"Kenapa… Bagaimana ibumu bisa meninggal, Mona?" tanya Arthur.


"Penyakitnya sudah terlalu parah. Ibu selalu saja beralasan ketika aku memintanya untuk pergi berobat. Yah, walaupun aku tau, itu semua semata-mata karena keterbatasan ekonomi kami, Kak."


"Maka dari itu, Ibu sama sekali tak mau diajak untuk pergi ke rumah sakit. Baru setelah beliau muntah darah siang itu, Ibu dengan terpaksa mau ku ajak ke rumah sakit. Namun, sayangnya itu sudah sangat terlambat," tutur Mona dengan matanya yang terlihat sendu.


Arthur menyentuh pipi wanita itu, dan mengusapnya dengan lembut.


"Lalu, kenapa kau sampai dikeluarkan dari sekolah? Apa karena masalah biaya juga?" tanya Arthur menduga-duga.


Lisa menggeleng. Wajahnya terus tertunduk, dengan genggaman di tangan Arthur yang semakin erat.


"Di saat aku sedang berduka karena kehilangan Ibu, pihak sekolah menghubungi ku agar hari itu juga aku datang ke sekolah. Mereka mengatakan bahwa ada hal penting yang harus di sampaikan."


"Saat aku sampai di sekolah, aku melihat teman-teman memandangku dengan tatapan aneh. Mereka terlihat tengah mencibir dan memandang jijik ke arahku. Awalnya aku tak tau kenapa, hingga tiba di ruang kepala sekolah barulah aku tau alasannya," tutur Mona.


"Apa alasannya?" tanya Arthur yang terus memandangi wanitanya itu.


"Entah dari mana, foto-fotoku yang tengah berlari keluar dari klub itu dengan baju yang sudah rusak, tersebar di seluruh sekolahan. Atas alasan itulah, pihak sekolah mencabut beasiswa dan mengeluarkan ku, atas kelakuan buruk yang mencoreng nama baik sekolah," ungkap Lisa.


Mona mengangkat wajahnya, dan memandang wajah pria itu dengan tatapan yang begitu sedih.


"Sejak saat itulah, aku merasa jika ada seseorang yang terus saja membuat hidupku susah, hingga saat ini, dan entah apa alasan dari semua itu," lanjut Mona.


Arthur tertegun mendengar pengakuan Mona saat itu. Tak disangka sama sekali jika selama jauh darinya, telah banyak hal buruk yang menimpa Lisa kecilnya itu.


Arthur segera memeluk wanitanya. Hatinya terasa sakit mendengar penuturan Mona, akan masa lalunya yang sangat sulit.


.


.


.


.


Novelnya sepi sekali yah, tapi othor berterimakasih buat yang sudah mau mampir dan baca karya ku 😭


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih