
Mona memberanikan dirinya untuk membuka kain penutup itu. Dia menariknya perlahan, dan terlihatlah wajah tua yang biasanya selalu menggodanya, kini pucat bak tak ada darah sedikitpun di sana.
Mona mundur selangkah, melihat pria yang begitu berarti baginya kini telah terpejam dan tak akan pernah terbangun lagi.
Wanita itu berusaha untuk tetap tenang di dalam sana, dan membendung sekuat hati air matanya agar tak kembali tumpah seperti sebelumnya.
"Mona," panggil Arthur lirih, sambil menyentuh kedua pundak Mona dari belakang.
"Aku tak apa," ucap Mona menepis pelan tangan yang menyentuhnya.
Wanita tersebut kembali menghela nafas panjang, dan memantapkan hatinya untuk kembali mendekati pria yang telah terbujur kaku itu.
Mona mencoba mengulurkan tangannya, untuk menyentuh tubuh Joshua yang telah dingin. Meski ragu, namun rasa inginnya untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Joshua begitu besar.
Dia mulai menyentuh kening Joshua. Terasa begitu dingin di kulit. Tak ada lagi kehangatan yang tersisa sedikitpun dari pria tua itu.
Hati Mona begitu sakit. Dadanya terasa sesak hingga rasanya ingin meledak. Lingkar matanya memerah, dan genangan mulai terlihat di pelupuk matanya.
Dia memejamkan mata untuk membendung aliran yang hampir tercipta itu. Helaan nafasnya terdengar bergetar dan berat.
"Apa kau semarah itu padaku, Josh? Sampai-sampai kau meninggalkan aku dengan cara semenyakitkan ini?" ucapnya sambil mengusap puncak rambut pria tua yang tetap diam itu.
"Mona, Joshua sangat menyayangi mu. Aku sangat tau akan hal itu," ucap Arthur dari belakang Mona.
"Ya, aku tau itu. Dan kau pun pasti tau kalau aku sangat menyayangimu, Josh. Tapi, kenapa sepulang dari Negara K, kau justru menjauhiku. Harusnya kau tau, tadi aku hanya sedang merajuk padamu."
"Kenapa kau tak mau untuk membujukku? Kenapa kau justru menuruti perkataanku untuk pergi jauh dan membawa mobilku, yang membuatmu berakhir seperti ini?" sahut Mona, yang berbicara pada Joshua.
Linangan air matanya tak bisa lagi ia tahan. Hatinya begitu pedih, sangat pedih. Tangannya mengepal, menahan sakit yang ia rasakan. Tubuhnya bergetar karena isaknya yang kembali terdengar.
"Dia terpaksa melakukannya, Mona." Arthur memutuskan untuk menceritakan hal yang ia ketahui kepada Mona.
Mona tertegun mendengar perkataan Arthur itu.
"Apa maksud Anda?" tanya Mona sambil menoleh ke samping, tanpa menatap langsung ke arah Arthur.
"Dia menghubungiku dan meminta untuk mencegahmu mengendarai mobil itu. Namun sayangnya, aku sedang sangat sibuk, dan baru sempat membuka pesannya, kemungkinan saat dia sedang dalam perjalanan menemuimu."
"Aku mencoba menghubungimu beberapa kali, namun kau tak juga mengangkatnya. Saat Aku melihat mobilmu melaju dengan kencang menerobos lampu merah, hingga sebuah truk menabraknya dengan keras, saat itulah panggilanku kau terima? Dari sana lah aku tau, jika di dalam mobil itu bukanlah kau, melainkan Tuan Chou, yang pasti telah lebih dulu menemuimu," tutur Arthur.
Mona seketika merosot, dan berjongkok di bawah ranjang jenazah itu. Ia menangis sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Penuturan Arthur benar-benar sangat memukulnya. Rasa egoisnya, telah merenggut nyawa pria yang telah mencurahkan segala perhatian kepadanya.
"Maafkan aku... Maafkan akuโฆ," ucap Mona berulang-ulang.
Arthur yang melihat itu pun tak kuasa membiarkan Mona menangis sendiri. Ia lalu mendekat, dan merengkuh pundak ringkih wanita tersebut.
"Ini bukan salahmu. Percayalah, Joshua pasti bahagia bisa menyelamatkanmu," ucap Arthur membuat Mona semakin menjerit histeris.
Wanita itu duduk bersimpuh di lantai, dan menyandarkan punggungnya pada dada bidang Arthur. Tangisnya terdengar begitu pilu, membuat Arthur pun turut hanyut dalam kesedihan si ratu esnya.
...๐๐๐๐๐...
Beberapa waktu setelah kembali dari rumah sakit, di apartemen The Royal Blossom,
Arthur terpaksa menyeret wanita itu agar mau pulang ke rumah, dan mengistirahatkan tubuhnya.
"LEPAS! AKU MASIH INGIN MENEMANINYA DI SANA!" pekik Mona saat pria itu memanggulnya di pundak, memasuki lift untuk naik dan menuju ke apartemen wanita tersebut.
Sesampainya di dalam apartemen Mona, Arthur membawanya masuk ke dalam kamar. Ia menurunkan wanita itu di atas tempat tidur, namun Mona segera bangkit dan berlari ke arah pintu.
Arthur menariknya dan membawanya kembali ke atas tempat tidur. Wanita itu terhempas ke atas kasur dan Arthur segera mengungkungnya.
"Lepas. Aku mau di sana," ucap Mona sambil memukuli pundak Arthur.
"Aku akan terus seperti ini jika kau tak mau tenang juga, Mona. Aku tak akan membiarkan kau ngerusak nama baik Joshua dan mempermalukan dirimu sendiri di sana." Arthur dengan kuat membentengi wanita itu dengan tubuhnya, agar Mona tak bisa pergi ke mana-mana.
"Breng*sek! Aku hanya ingin menemani Joshua untuk terakhir kalinya. Apa kau tak mengerti juga, hah?" bentak Mona tepat di depan wajah Arthur.
"Sebagai apa? Sebagai apa kau menemaninya di sana, hah?" sahut Arthur tak kalah keras, membuat Mona bungkam seketika.
Wanita itu memalingkan wajahnya dari pria yang masih berada di atasnya. Air matanya kembali mengalir dari sudut mata.
Arthur membuang nafas kasar, melihat Mona yang kembali menangis. Rasanya, ia ingin sekali membuat wanita itu amnesia, agar tak lagi mengingat kejadian yang menimpa Joshua.
"Ingat, Mona. Kau bukan siapa-siapa Tuan Chou. Bukan saudara, bukan juga anak. Kau itu hanya seorang wanita malam yang dibelinya," ucap Arthur dengan nada yang melembut, namun begitu menusuk hati.
Mona memejamkan matanya mendengar perkataan pria itu. Dia sadar dan mengakui sepenuhnya hal tersebut.
"Di sana sudah ada istri sah yang menemaninya. Aku pun yakin, Tuan Chou tak ingin kau mempermalukan dirimu sendiri dengan terus berada di sana, dan membuat semua orang tau akan hubungan mu dengan dia,"
"Tenangkan dirimu, kuatkan mentalmu, jernihkan pikiranmu. Doakan saja dia agar damai di sana. Hiduplah dengan baik, agar dia bisa tenang meninggalkan mu di sini," ucap Arthur sembari mengusap puncak rambut Mona.
Wanita itu tak lagi berontak. Dia menangis dalam diamnya, sambil punggung tangan kanannya menutup bibir.
Arthur pun turun dan berbaring di sampingnya. Namun, Mona memalingkan tubuhnya dan membelakangi Arthur, sehingga pria itu bisa dengan leluasa mendekap Mona dari belakang.
Dengan lembut, Arthur terus menemani Mona yang masih terguncang atas kejadian mengejutkan itu.
Mona terus menangis dalam pelukan Arthur, hingga ia kelelahan dan kembali tertidur. Arthur terus menemaninya, dan terus mendekap erat wanita esnya yang tengah rapuh itu.
Lama menemani Mona, Arthur pun ikut tertidur dengan posisi yang sama. Ia terus mendekap Mona, dan menjaganya agar tetap berada di sana.
Beberapa saat kemudian, ia terbangun karena mendengar Mona merintih dalam tidurnya. Pria itu pun kembali mengusap-usap kepala Mona dengan lembut, agar wanita itu kembali tenang dalam tidurnya.
"Istirahatlah. Besok jika kau siap, aku akan ajak kau ke pemakaman," ucapnya sambil mengecup puncak kepala Mona.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih