DESIRE

DESIRE
Bab 17



Sejak kejadian tempo hari, dimana Jessy dengan teganya memutus tali pertemanan di antara mereka, Lisa tak lagi datang berkunjung ke rumah besar itu, bahkan hanya untuk sekedar menyapa tukang kebun yang sudah sangat baik kepadanya.


Gadis yang beberapa tahun belakangan ini terlihat lebih ceria, kini kembali berwajah suram, dingin dan datar.


Ibu Lisa sudah bisa menebak apa yang tengah terjadi pada sang putri. Namun, beliau tidak sekali pun bertanya ada apa atau kenapa, karena dia sudah tau betul perilaku orang-orang kaya itu seperti apa.


Itu lah sebabnya, dia merasa khawatir ketika mengetahui, jika putrinya tengah dekat dan berteman dengan seseorang dari golongan kelas atas.


Benar bukan dugaan Ibu. Kau hanya akan terluka, dan luka mu saat ini akan lebih parah dari sebelumnya. Lihatlah dirimu saat ini, Nak. Kamu benar-benar seperti bongkahan es, bahkan saat bersama Ibu sekalipun, batin Ibu Lisa.


Lisa memang kembali kepada sikapnya yang dulu, namun kali ini tidak hanya kembali, tapi melebihinya.


Dia cenderung lebih pendiam dan dingin. Lisa yang biasanya masih senang melihat anak-anak lain bermain, kini dia justru mengacuhkan keberadaan mereka.


Tatapannya tajam, namun ekspresi wajahnya begitu datar. Ibu Lisa sangat khawatir dengan kondisi sang putri. Hal itu sudah terjadi selama hampir dua minggu, dan selama itu pun, Lisa selalu menyendiri di dalam bilik yang ia sebut sebagai kamarnya.


Hingga suatu sore, Lisa tiba-tiba terlihat tengah memasukkan benda-benda yang pernah ia dapatkan dari rumah Jessy, ke dalam sebuah kantung plastik berukuran besar.


Teddy bear pertamanya pun turut ia masukkan ke dalamnya, lalu mengikatnya dengan sebuah simpul.


Waktu terlihat telah senja kala itu, dan Lisa bergegas untuk menuju rumah besar, yang telah memberikan warna lain pada hari-harinya selama kurun waktu tiga tahu terakhir.


Dia membawa semua barang-barang yang ada di kantong tadi, dan akan mengembalikan semuanya ke sana.


Lisa berjalan kaki menuju ke rumah besar itu, dengan perasaan yang begitu kacau. Jauh di dalam hatinya, dia masih sangat menginginkan agar bisa kembali dekat dengan Jessy serta keluarganya yang sudah sangat baik padanya.


Namun sepertinya, temannya itu sudah tak menginginkan dirinya sebagai teman lagi, sehingga dia berpikir tak ada lagi gunanya dia dekat dengan orang-orang di rumah tersebut.


Dia berjalan dengan begitu lambat, dengan semua pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.


Meski wajahnya tanpa ekspresi dan dingin, namun sejujurnya ia sangat merindukan kehangatan yang ia dapatkan dari setiap penghuni rumah mewah itu.


Dia berjalan cukup lama, hingga gelap pun telah menyelimuti seluruh cakrawala, dan hanya menyisakan cahaya dari lampu-lampu yang berasal dari rumah-rumah dan juga penerangan jalan.


Jarak antara blok terakhir dengan rumah Jessy cukup jauh. Hal itu dikarenakan, keluarga Jessy membeli sebidang tanah yang terletak di samping hunian itu, dan membangun sebuah rumah mewah yang nampak menjadi satu dengan area perumahan tersebut.


Rumah Jessy sebenarnya bukan merupakan bagian dari area itu, melainkan sebuah rumah milik individu yang tersembunyi di ujung jalan yang sama.


Saat di tengah jalan yang sudah masuk kawasan rumah Jessy, ia melihat sebuah mobil melaju kencang, dengan kaca belakang yang sedikit terbuka, membuat gadi kecil itu bisa melihat, jika ada Arthur di dalam sana sedang meronta dan berteriak.


"LEPASKAN!"


Di susul kemudian, sebuah mobil lain yang melaju tak kalah kencangnya dari belakang, dan mengejar mobil yang tadi, hingga terdengar benturan di persimpangan jalan.


BRAK!


Lisa menoleh, dan bergegas berlari ke arah sana. Ia menjatuhkan semua barang-barang yang ia bawa begitu saja di pinggir jalan hingga berserakan.


Ia berlari, hingga langkahnya terhenti ketika menyaksikan dua mobil yang sudah saling bertumbukkan, dengan penyok di banyak bagian.


Lisa semakin terperanjat, kala melihat sebuah adegan dimana Arthur, kakak dari temannya, tengah di rangkul dari belakang oleh seorang pria yang mengenakan penutup kepala, dan sebuah pisau mengkilap yang berada tepat di depan leher pemuda itu.


Sedangkan di seberangnya, seorang pria yang mengenakan jaket kulit hitam, tengah mengarahkan senjata apinya ke arah si pria bertopeng tersebut.


"Letakkan pistol mu, atau leher anak ini akan ku potong!" perintah si pria bertopeng.


"Lepaskan aku!" Arthur meronta meminta dilepaskan, namun sang pria bertopeng justru membentaknya dengan keras.


"DIAM!"


Laki-laki di seberang masih menodongkan senjatanya, namun lagi-lagi teriakan dari pria bertopeng yang menyuruhnya membuang senjata api itu, kembali terdengar.


Lisa bingung harus berbuat apa. Kakinya kaku dan tak bisa digerakkan. Dia hanya mampu melihat dengan menutup rapat mulutnya dengan kedua tangan.


Satu goresan kecil pisau, membuat Arthur meringis merasakan perih di lehernya. Hal itu membuat laki-laki yang tengah berdiri di seberangnya, menurunkan senjata Api.


"Lemparkan kemari. Ayo lemparkan!" perintah pria bertopeng lagi.


Tanpa disuruh dua kali, laki-laki berjaket kulit hitam di seberang pun, melempar pistol yang sedari tadi ia pegang ke hadapan pria bertopeng.


Saat itu, Arthur merasakan rangkulan lengan pria di belakangnya terasa mengendur, dan membuatnya memikirkan sesuatu.


Dia menarik nafas dalam, dan lalu membuka mulutnya lebar-lebar.


"AAAARRRGHHHHHH!"


Arthur menggigit kuat-kuat tangan pria itu, hingga pisau yang ia pegang terjatuh dan rangkulannya terurai.


Pada saat itulah, Arthur segera berlari menjauh dari pria tersebut, dan menuju tempat di mana Lisa tengah berdiri mematung.


Si pria bertopeng segera meraih pisaunya yang sempat terjatuh, dan berlari menyusul Arthur.


Sedangkan laki-laki berjaket kulit di sebarang, segera berlari ke arah pistolnya di tendang.


Arthur tak menyadari keberadaan Lisa di sana, karena dia hanya fokus berlari menjauh. Namun saat sudah semakin dekat, dia bisa melihat kehadiran gadis yang beberapa waktu belakangan sudah tak bisa ia temui lagi.


Entah kenapa, Arthur merasa begitu senang melihat gadis itu. Matanya berbinar kala melihat kehadiran Lisa di sana.


Senyumnya mengembang, dan tangannya terulur hendak membawanya turut berlari menjauh dari tempat berbahaya itu.


Namun, Ekspresi Lisa justru sebaliknya. Matanya membulat, dan dia menggelengkan kepalanya cepat.


Dia dengan tiba-tiba meraih tangan Arthur yang terulur ke arahnya, namun bukannya berlari, Lisa justru menarik Arthur hingga berputar dan bertukar posisi dengannya.


CRAASSSS!


"Eng...," Lisa merasakan bagian belakangnya telah tertusuk senjata tajam.


Rupanya, ia melihat jika pria bertopeng itu hampir menyusul Arthur. Dengan gerakan cepat, dia membalik tubuh pemuda tersebut, dan menjadikan dirinya sebagai tameng.


Mata Arthur membulat, tubuhnya kaku, kala menyaksikan gadis itu ditusuk tepat di depan matanya, untuk melindungi dirinya dari si pria bertopeng.


Saat mengetahui jika dia salah sasaran, si pria bertopeng lalu dengan serampangan menarik kembali pisau yang telah tertancap di punggung Lisa, kemudian menyingkirkan gadis yang telah terluka parah itu dari hadapannya, dan mengayunkan kembali pisaunya.


DOOOR!


Tepat disaat itu, sebuah tembakan secara tepat mengenai bahu kanan si pria bertopeng, yang membuatnya menjatuhkan senjata tajam yang hampir menghunus tubuh Arthur.


DOOOR!


Sepersekian detik kemudian, kembali terdengar bunyi tembakan, yang mengenai kaki kiri pria bertopeng, yang membuatnya ambruk seketika dan mengerang kesakitan.


Arthur masih diam mematung di tempat, sampai suara lirih Lisa membuyarkan pikirannya.


"Kak... to โ€ฆ long...,"


Arthur menoleh ke arah di mana Lisa terjatuh, dengan luka di punggung yang terlihat dengan jelas menganga, dan darah mengucur deras dari sana.


Tangan gadis itu terulur ke arahnya, seolah meminta bantuan kepada Arthur. Pemuda itu masih diam, namun tatapannya memandang ke arah Lisa dengan raut wajah yang kebingungan.


Dia terlihat gemetar, namun diam bergeming di tempat, dan hanya melihat gadis malang itu kesakitan


Hingga Lisa sudah tak bisa bertahan lagi, dan akhirnya tak sadarkan diri dengan tubuh yang telah bersimbah darah.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih