
Setelah menceritakan semua hal itu kepada Madame Queen, Joshua pun kembali menuang wine ke dalam gelasnya yang telah kosong.
"Tapi, apa kau tak memikirkan perasaan Mona, yang harus kembali bertemu dengan orang yang sudah melukainya dulu?" tanya Madame Queen.
Joshua meneguk minumannya, dan kembali menghela nafas.
"Bagaimana pun juga, mereka lah yang Mona butuhkan. Dia akan lebih bahagia jika bersama mereka," ucap Joshua.
"Bukankah masih ada kau, aku dan semua yang ada di sini? Dia baik-baik saja selama ini bersama kita, bukan," ujar Madame Queen.
"Aku dengar, kemarin Mona mabuk dan marah-marah kepada pria itu. Bahkan, hingga dia sadar pun , dia masih marah-marah juga. Apa kau pernah melihat Mona melakukan hal itu selama empat tahun ini, Meel?" tanya Joshua.
Madame Queen tak menjawab. Dia mengingat kembali semua yang telah dilewati Mona selama ia berada di bawah tanggung jawabnya, sebagai seorang ladies di Heaven valley.
Tak pernah sekali pun, Mona menunjukkan ekspresi yang sesungguhnya kepada siapapun. Tak ada seorang pun yang pernah melihat bagaimana Mona marah, menangis, kecewa, atau tertawa lepas.
Elliott yang terbilang sangat dekat dengan Mona pun, bahkan terkejut melihat wanita itu yang mabuk dan menceracau tak jelas, sambil terus memaki-maki Arthur.
"Kau benar. Selama ini, kita hanya orang asing baginya," ucap Madame Queen dengan senyum getir.
"Di samping itu, usiaku pun sudah tak muda lagi. Kau sangat sering mengingatkan ku soal itu. Sudah saatnya dia mencari pendukung selanjutnya," ucap Joshua.
"Jadi, kau benar-benar akan melepaskan Mona, mulai dari sekarang?" tanya Madame Queen.
"Meski berat, aku harus melakukannya. Aku sudah mengatakannya pada mu bukan. Valeria sudah mulai aneh lagi. Dia mulai menguntit ku, dengan mengirim seorang mata-mata ke mana pun aku pergi. Aku tidak mau jika Mona mengalami nasib yang sama Julian dulu. Kau pasti ingat dia bukan?" ucap Joshua.
Mendengar nama Julian disebut, seketika Madame Queen teringat akan sahabatnya.
"Eliza," gumamnya lirih, dengan tatapan sendu.
"Apa kau tau kabar sahabat mu itu?" tanya Joshua.
"Siapa? Eliza?" tanya Madame Queen.
"Iya, kekasih Julian itu. Apa kau tau kabar darinya?" tanya Joshua.
"Tidak. Terakhir kali aku tau dia sedang hamil, saat pergi dari sini. Jika anak itu lahir, mungkin dia akan berusia sekitar dua pulih empat tahun, seusia dengan Mona." Madame Queen kembali menyesap minumannya.
"Semoga mereka baik-baik saja. Jujur, sampai saat ini, aku masih mencari keberadaan mereka namun tak kunjung ku temukan. Mereka seperti menghilang di telan bumi. Aku sempat hampir mendapatkan informasi, namun seperti ada yang menutupi keberadaan mereka hingga tak terendus oleh orang-orang ku," ucap Joshua.
"Kau benar. Malang sekali nasib Eliza. Dia sangat mencintai Julian, tapi istrimu Valeria, dengan tega melakukan kejahatan itu, dan bahkan bisa bebas sampai sekarang," ujar Madame Queen.
"Itulah yang ku takutkan. Aku tidak mau jika Mona mengalami hal yang sama seperti apa yang di alami julian dulu. Jadi ku mohon, mengertilah, dan awasi saja mereka untuk ku," pinta Joshua.
"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan," ucap Madame Queen.
Setelah perbincangan itu selesai, Joshua pun pergi dari ruang kerja Madame Queen, dan berjalan menuju ke salah satu kamar di lorong cinta Heaven valley.
Selama ini, dia memilih untuk beristirahat di sana ketika hari gelap, dan akan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali.
Joshua sengaja menghindari Valeria, karena dia sudah sangat jengah melihat sang istri yang terus saja mengoceh soal keputusannya memberikan saham kepada Mona.
Joshua membuka semua pakaiannya, dan hanya menyisakan celana boxer kegemarannya, yang selalu ia pakai saat tidur. Ia menyalakan kembali ponsel yang terhubung dengan Mona, lalu meninggalkannya di atas nakas.
Tubuh tua itu, kini terbaring seorang diri di kamar yang ia pesan. Semenjak mengenal Mona, dia sama sekali tak pernah menyentuh wanita manapun lagi selain ratu es itu.
Dia menyempatkan melihat pesan yang masuk ke ponselnya selama di non aktifkan. Ada beberapa panggilan dan pesan chat dari Mona. Ia pun membukanya satu persatu.
Tawanya meledak kala membaca pesan terakhir yang dikirimkan Mona siang tadi.
[Kalau kau tak bisa memberiku uang itu, sebaiknya aku jual saja mobil dari mu. Jika sampai nanti malam kau tak menjawabnya, maka besok pagi, akan ku bawa mobil itu ke tempat jual beli mobil mewah.]
"Hahaha… Dasar wanita licik. Maafkan aku, Tuan Peterson. Sepertinya, wanitaku sangat pintar. Aku tak bisa menjamin dia akan tetap bersama mu. Hahahahaha … hahahaha…," ucap Joshua di tengah tawanya yang menggema
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Di tempat lain, tepatnya apartemen the royal blossom.
Dia menghubungkan kabel hair dryer ke stop kontak, dan menyalakan mesin pengering rambut itu.
Arthur yang memang belum tidur, memandangi punggung Mona yang tampak sangat mulus dan menggiurkan.
"Apa Anda bisa ambilkan saya pakaian dari apartemen sebelah, Tuan?" tanya Mona.
Arthur memiringkan posisi tidurnya menghadap ke arah Mona, sambil menyangga kepalanya dengan sebelah tangan.
"Ah… sepertinya aku sangat malas. Aku lelah sekali setelah menghukum mu tadi, Nona. Bisa besok saja ku ambilkan?" kilah Arthur beralasan.
Mona menghentikan tangannya sejenak, dan menatap kesal ke arah pantulan Arthur di cermin.
Menyebalkan, batin Mona, sambil kembali mengeringkan rambutnya.
"Tidurlah di sini untuk malam ini. Besok akan aku ambilkan pakaian untukmu," ucap Arthur sambil kembali telentang, dan menaruh kedua tangannya sebagai bantal.
"Baiklah, kalau begitu saya akan pinjam salah satu pakaian Anda," seru Mona yang melanjutkan urusan dengan rambut basahnya.
Kemudian, dia bangkit berdiri dan berjalan menuju walk in closet milik Arthur.
Arthur tak peduli soal itu, dan terus berbaring santai, sambil menunggu Mona kembali.
Tak menunggu lama, Mona keluar dari dalam sana, dengan hanya mengenakan sebuah kemeja polos berwarna putih milik Arthur, yang sangat besar ketika dipakai oleh Mona.
Tak ada lagi yang dipakai wanita itu selain kemeja tersebut, karena cela*na dalamnya, telah rusak oleh ulah Arthur.
Arthur yang melihat itu pun, mendadak mematung. Dia menelan salivanya dengan susah payah, kala menatap Mona yang begitu seksi berjalan ke arahnya.
Teripang daratnya mendadak kembali bangun, dan serasa ingin segera menerkam kembali si ratu es itu, dan mencumbuinya lagi dan lagi.
"Saya pinjam ini, apa Anda keberatan, Tuan?" tanya Mona yang berdiri di samping tempat tidur.
Arthur pun tersadar dari pikiran kotornya, dan membuang muka agar tak melihat ke arah Mona.
"Yah, silakan saja. Terserah kau," sahut Arthur gugup.
Mona pun lalu naik ke atas tempat tidur, namun Arthur justru menggeser posisinya menjauh. Wanita tersebut mengerutkan kedua alisnya melihat hal aneh itu.
Kenapa dia? batin Mona.
Wanita itu pun lalu membuka selimut dan masuk ke dalamnya. Saat itu, tanpa sengaja ia melibat monster teripang Arthur telah kembali bangun. Mona pun memutar bola matanya dan menghela nafas panjang.
"Hei, kenapa kau mengintip?" gerutu Arthur sambil memegangi miliknya dari luar selimut.
"Aneh," gumam Mona.
Mona tak peduli dan langsung berbaring membelakangi Arthur yang terus memegangi selimutnya.
"Tidurlah yang nyenyak, Tuan. Supaya teripang monstermu juga ikut tidur. Selamat malam," ucap Mona yang membuat Arthur malu dan langsung menutupi miliknya dengan kedua tangan.
Si*l! Kenapa kau langsung bangun sendiri, hanya gara-gara melihat dia yang berpakaian seperti itu, hah, batin Arthur yang merutuki dirinya sendiri.
Arthur pun akhirnya memaksa tidur membelakangi Mona, menekan has*ratnya yang sudah bangun sejak tadi, membuat ia tersiksa sepanjang malam.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih