
"Ingat kan sekarang?" tanya Valeria tersenyum mengejek.
"Kenapa kamu tega melakukan itu pada ku? Apa salahku sama kamu? Aku ingat betul, saat itu aku sama sekali belum mengenal Joshua. Lalu apa alasanmu melakukan semua ini?" cecar Mona.
Wanita yang sedari tadi terlihat tenang, kini mulai meronta. Dia terlihat menghentak-hentakkan kakinya sekuat tenaga, dan menckba meregangkan ikatan di tangan dan badannya.
Valeria kembali membungkukkan badannya dan membuat wajahnya sejajar dengan Mona yang menatap tajam ke arah janda itu.
"Kau mau tau kenapa? Semua ini salah ibumu!" sahut Valeria penih penekanan.
Mona mengernyitkan kedua alisnya.
Ibu? tanyanya dalam hati.
"Apa urusanmu dengan mendiang ibuku? Siapa kamu sebenarnya?" tanya Mona yang semakin tak tenang, apa lagi jika ibunya sudah dibawa-bawa dalam hal ini.
Valeria menegakkan kembali badannya, dan melipat kedua lengannya di depan dada.
"Sebenarnya, kau bisa menanyakannya langsung pada ibumu di akherat, karena sebentar lagi kamu pun akan menyusulnya. Tapi, aku akan sedikit berbelas kasihan padamu, agar kau tau apa yang sudah si j*lang itu lakukann hingga aku berbuat seperti ini!" pekik Valeria di akhir kalimatnya.
Valeria nampak menengadahkan tangan kanannya ke samping, seolah tengah meminta sesuatu. Tak lama kemudian, seorang pria berpakaian serba hitam, menyerahkan sebuah pistol berjenis FN 57.
Mona seketika bergidik melihat senjata yang kini berada di tangan wanita itu. Dia mencoba memundurkan diri, namun sandaran kursi membuatnya tersudut di tempat.
Valeria memainkan senjata itu dengan tangannya seolah menerawang ke dalam benda mematikan tersebut.
"Kau tau, dulu ada seorang pria yang sangat aku cintai. Dia sangat tampan. Joshua? Hah, dia hanya pecundang yang tak bisa berbuat apapun. Aku sangat menginginkan pria itu, hingga aku rela melakukan apapun demi dirinya, termasuk bertingkah bodoh di hadapan keluarga besarnya demi menarik simpati mereka,"
"Tapi apa? Ibumu, si j*lang Luzy itu tiba-tiba muncul, dan membuat semua usaha ku menjadi sia-sia. Pria itu … tak pernah sekali pun melihatku, karena di matanya hanya ada Lusy, j*lang si*lan itu!" teriak Valeria tepat di depan wajah Mona.
Si ratu es sampai menutup rapat matanya karena jeritan wanita di hadapannya itu. Skraya kembali tenang. Dia menyibakkan rambutnya yang semlat menutupi sebagian wajahnya, dan menarik nafas dalam.
"Kau tau, ibumu dulu juga seorang pelacur. Hahahaha … dan aku berhasil membuatmu menjadi sama murahannya seperti dia. Hahahaha …," hina Valeria.
Mona sangat terkejut mendengar semua hal itu. Matanya mulai memerah menahan amarah yang ada di dalam dadanya.
"Aku adalah orang yang menghasut warga agar membenci kalian berdua. Menyebarkan semua kabar masa lalu ibumu itu kepada orang-orang miskin itu. Dan diluar dugaan, mereka melakukannya tanpa dipaksa. Dengan senang hati mereka menghina dan mengucilkan kalian. Hahahahaha … lucu sekali bukan hukum sosial itu," lanjut Valeria yang terus terbahak menertawakan nasib Mona dan ibunya yang begitu berat.
Jadi, semua ini ulahnya? Hidup kami seperti di neraka, semua ini ulahnya? Tapi kenapa? batin Mona.
Gengan mulai timbul di pelupuk matanya. Mona sama sekali tak menyangka, jika semua kemalangan, hinaan, caci maki yang ditujukan kelada dirinya dan mendiang sang ibu, adalah ulah dari Valeria.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan itu pada ibuku!" pekik Mona yang sudah tak bisa mengendalikan diri lagi.
Sikap tenangnya tadi hilang sudah. Hatinya begitu sakit mengingat semua perjuangan ibunya dulu, yang banting tulang menghiduli dirinya seorang diri, di tengah desakan warga yang terus mencoba mengusir mereka dari rumah.
Bagaiman ibunya dulu dihina dan di benci semua tetangga, hingga rasanya dada Mona ingin meledak karena terlalu sesak mengingat akan masa itu.
Ibu … ibu … batinnya.
Air mata kini luruh seketika saat dirinya mengenang lagi betapa sang ibu melindunginya di tengah kesusahan yang mereka alami.
Tatapannya begitu dingin. Hawa membunuh seakan semakin terasa keluar dari diri wanita itu. Mona sampai meremang melihat tatapan Valeria.
Janda Joshua itu melangkah maju, dan mendekat sambil mengusap-usap senjata yang ia pegang saag ini.
"Kamu tau, kenapa sampai mati Luzy tidak memberitahukan di mana ayahmu? Hah! Karena aku sudah membunuhnya! Aku … sudah membunuh pria yang kucintai itu karena ibumu. Karena kamu yang saat itu ada di dalam kandungan si j*lang si*lan itu!" ungkap Valeria.
"Kalau saja dia memilihku, semuanya tak akan seperti ini. Tapi, begitu ibumu hamil, dia dan keluarganya lebih memilih kalian ketimbang aku. Aku tak bisa terima, dan aku menembaknya dengan pistol ini, hingga dia jatuh ke jurang dan mati," lanjut Valeria.
Mona tak bisa lagi berucap. Bibirnya kelu. Rasa sesak di dada membuatnya susah benafas.
Ibu … ibu … hanya itu yang dia ucapkan bahkan dalam hatinya.
"Tapi rupanya, kalian masih bisa bertahan hidup meski dalam kemiskinan. Akhirnya, aku pun menargetkanmu. Aku ingin tau, sehancur apa Luzy jika sampai anaknya menjadi pelacur sepertinya. Aku yakin, dia pasti akan nangis darah."
"Aku pun bertemu dengan Jeffrey, yang adalah seorang pencudi. Hutangnya banyal di mana-mana, dan satu hal yang membuatku tertarik, dia ada hubungannya dengan kalian berdua. Jadi, aku menggunakannya agar bisa menjerumuskanmu ke dalam lembah pelacuran."
"Tapi sayangnya, seorang pengacau datang dan menyelamatkanmu. Namun, aku tak terlalu rugi, karena saat itu juga, Luzy mati karena terlambat mendapatkan pertolongan medis. Hahahahaha … hebatkan aku," ucapnya.
"Br*ngsek! Ayah dan ibuku tidak salah! Mereka hanya saling cinta. Kenapa kamu tega melakukan semua itu kepada kami!" pekik Mona.
Dia semakin histeris mendengar semua kenyataan yang sangat pahit itu.
"Ssstt … kau jangan berteriak dulu. Ini belum semua. Jadi, dengarkan baik-baik, oke," seru Valeria.
Mona semakin geram mendengar nada bicara Valeria yang sangat membuatnya muak. Namun, senjata api yang digesek-gesekkan dipipinya, membuat Mona diam seketika.
"Setelah satu tahun, aku mendapat kabar kalau kamu masih bisa hidup dengan baik di temoat asing, dan seolah tak pernah terjadi apa-apa. Aku kesal setengah mati. Kenapa kamu Tidak depresi saja sih? aku pun menculikmu dari tempat kerja, dan membawamu ke sebuah tempat."
"Akhirnya, malam itu, aku bisa membuatmu masuk ke dalam dunia malam. Yah, meski aku kecolongan, ternyata yang mendapatkan virgin-mu adalah suamiku sendiri, sampai dia rela memberikan segalanya, bahkan nyawanya kepadamu."
"Kalian berdua sudah membuatku membunuh pria-priaku," pungkasnya.
"Ja … jadi maksudmu, kamu penyebab kecelakaan Joshua?" tanya Mkra terbata.
"Yah, dan sekarang adalah giliran mu!" ucap Valeria sambil menodongkan pistol ke arah Depan, tepat di wajah Mona.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih