
Kembali ke saat setelah Joshua pulang dari Negara K bersama Mona.
Di sebuah tempat, tepatnya sebuah mansion mewah di pinggiran kota.
Tampak seorang wanita tengah duduk di sofa ruang tamu, sambil menikmati secangkir teh hijau. Jemarinya lincah membuka halaman demi halaman majalah fashion yang ada di pangkuannya.
Tak berselang lama, seseorang datang dan langsung menghampirinya.
"Apa maksudmu dengan mengirim penguntit untuk mengawasi ku?" tanya pria itu yang tak lain adalah Joshua.
"Suamiku, kenapa kau begitu pulang langsung marah-marah?" jawab istri Joshua, Valeria Chou, dengan santai sambil terus membolak balikan halaman majalah itu.
"Apa yang terjadi dengan mu? Bukankah selama ini, kita tidak pernah mengganggu urusan satu sama lain. Kenapa sekarang kau memulai sesuatu yang tak masuk akal seperti ini?" cecar Joshua dengan penuh emosi.
Wanita bernama Valeria itu pun, lalu menutup majalah yang tengah ia baca, dan meletakkannya di atas meja.
Dia lalu bangkit berdiri, dan berhadapan langsung dengan sang suami, sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Aku melakukan ini semua, semata-mata karena peduli dengan hubungan pernikahan kita, Joshua sayang." Valeria tersenyum angkuh dengan kepala yang miring ke kiri.
"Cih! Peduli katamu? Siapa yang memulai hubungan tidak sehat ini, dan terus mempertahankannya hingga puluhan tahun, hah?" maki Joshua.
Valeria mendekat, dan mengurai kedua lengannya. Ia meletakkan sebelah telapak tangannya di dada sang suami.
Joshua memandang tangan itu dan merasa heran dengan sikap tiba-tiba sang istri.
"Aku akui, aku tak bisa hidup tanpa pria-pria penghibur itu. Tapi, aku hanya bermain-main saja dengan mereka dan tidak pernah sekali pun memakai perasaan. Aku hanya melihatmu seorang, Josh." Valeria menempelkan kepalanya di dada sang suami.
Namun, Joshua segera merengkuh pundak sang istri, dan menjauhkan wanita itu dari dirinya.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?" cecar Joshua dengan penuh penekanan.
Valeria berbalik, dan kembali berjalan menuju sofa, dan duduk di sana.
Wanita itu lalu mengambil sesuatu dari balik bantal sofa yang ada di belakangnya, dan melempar benda tersebut ke atas meja.
"Maksudku adalah itu," ucapnya sambil menunjuk sebuah map coklat besar, yang terlihat penuh dengan sesuatu yang berada di dalamnya.
"Apa itu?" tanya Joshua menatap tajam sang istri.
"Buka... dan lihat saja sendiri," seru Valeria.
Joshua pun berjalan mendekat, dan menatap terus sang istri, lalu mengambil amplop coklat yang berada di atas meja.
Ia mulai mengurai lilitan talinya, dan mengambil isinya. Benar saja, di dalamnya terdapat banyak sekali foto-foto, dan beberapa lembar dokumen.
Joshua mengeluarkan sebagian isinya, dan matanya seketika membola melihat apa yang tengah ia pegang saat ini.
"Apa-apaan semua ini?" ucap Joshua, sambil melempar foto-foto dirinya dan juga Mona di berbagai tempat dan acara, kembali ke atas meja.
"Dan ini... Maksudnya apa dengan surat wasiat ini? Kau berharap aku cepat mati, hah?" bentak Joshua sambil memegang setumpuk berkas yang berasal dari amplop coklat tersebut.
Valeria menyeringai, dan menatap tajam ke arah suaminya.
"Itu bukti kalau kau berselingkuh dari ku. Kau hanya bermain dengan ****** itu saja selama ini, dan menganggapnya lebih dari sekedar wanita bayaran. Bukankah itu namanya selingkuh?" ujar Valeria dengan pemikiran gilanya.
"No… No…," Valeria membolak balikkan jari telunjuknya, pertanda tak setuju dengan ucapan sang suami.
"Kita berdua jelas berbeda. Aku hanya menganggap mereka semua sekedar hiburan. Sedangkan kau... kau mulai bermain perasaan dengan ja*lang itu." Valeria bangkit dan menatap nyalang sang suami, sambil menunjuk-nunjuk tepat di wajah pria itu.
"Kau hanya bermain dengan satu wanita saja, seolah kau ingin menunjukkan betapa cintanya dirimu dengan si ja*lang si*alan itu," bentak Valeria dengan suara tinggi.
"Kau gila, Vall! Gila! Sejak awal, kau sendiri yang meminta untuk tidak mengurusi urusan masing-masing. Aku turuti itu, dan mengesampingkan perasaan ku sebagai seorang suami yang tak pernah diinginkan oleh istrinya. Tapi, kenapa sekarang kau tiba-tiba seolah menjadi istri yang posesif?" bentak Joshua tak kalah emosi.
"PENGACARA MU, TUAN YU," sahut Valeria dengan pekikan.
Joshua memundurkan wajahnya dan mengernyitkan kedua alisnya. Dia nampak berpikir apa maksud dari perkataan sang istri.
"Aku sudah tau, kalau kau dan pengacara mu itu telah menyusun sebuah surat kuasa, untuk melimpahkan lima persen saham perusahaan kepada si ja*lang itu bukan?" teriak Valeria.
Joshua diam. Kini dia paham maksud sang istri bersikap seperti itu padanya. Semua hanya karena harta, dan bukan murni kecemburuan dari seorang istri.
"Heh… hahahaha… hahahaha…," tawa Joshua tiba-tiba menggelegar, memecah suasana rumah yang sempat memanas karena perdebatan kedua orang itu.
Namun, tawa itu justru terdengar begitu getir, dan terselip kesedihan di dalamnya.
Bahkan, sampai sekarang pun aku tak pernah ada di hatimu, batin Joshua nyeri.
"Hentikan tawamu, Josh. Ini sama sekali tidak lucu," pekik Valeria di tengah gelak tawa Joshua.
"Kau lucu, Vall. Kau sangat lucu… hahahaha… kau bahkan tak pernah menganggap aku suami mu, tapi jika menyangkut soal harta, kau langsung bereaksi dengan cepat. Kau lucu sekali, Istriku… benar-benar lucu sekali… hahaha…." Joshua pun berbalik dan pergi meninggalkan Valeria yang masih kesal sendirian di ruang tamu.
"Ku*rang ajar. Kenapa sampai mati pun, Eliza selalu saja menganggu hidupku? Dulu kau sudah dengan lancang merebut milikku, dan sekarang anakmu? Kali ini, aku harus memberinya pelajaran yang lebih berat dari sebelumnya. Kita lihat Eliza, sampai kapan putrimu bisa bernasib mujur," ucap Valeria dengan wajah memerah menahan amarahnya.
Sementara Valeria masih dengan kemarahannya di ruang tamu, Joshua kini telah berada di dalam kamarnya.
Ia nampak tengah menghubungi seseorang, dengan telpon pintarnya.
"Bisakah dipercepat? Aku semakin merasa tidak tenang," ucapnya.
"Baiklah. Malam ini juga aku akan terbang ke sana," ucap orang di seberang.
"Terimakasih. Aku sudah siapkan tempat tinggal yang tepat untuk mu. Ku harap kau suka... dan sekali lagi terimakasih, Tuan Peterson," ucap Joshua.
.
.
.
.
Mohon maaf kalau Othor updatenya nggak tentu waktu, intinya mah diusahakan sehari update 3x entah itu pagi, siang, sore, malem atau malem banget 🤭
intinya mah ada aja update tiap harinya😅
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih yang sudah meluangkan waktunya menekan like, kasih gift atau juga vote.
sering-sering yah, biar Othor semangat😁