DESIRE

DESIRE
Bab 11



Mona dan Lisa adalah orang yang sama. Kehidupan masa lalunya sangatlah berat. Ia hanya tinggal dengan sang Ibu, meski pun dia memiliki anggota keluarga lain, yaitu kakak laki-laki dan juga Ayah.


Namun, kedua orang itu bak benalu di hidup Lisa dan ibunya dulu.


Hubungan Lisa dan sang kakak tiri tidak lah baik. Kakaknya itu kerap kali selalu merampas uang hasil mencuci ibu Lisa.


"Akhirnya aku mendapatkannya. Ini milikku sekarang," ucapnya sembari menghitung lembar demi lembar upah keringat ibu tirinya.


Lisa pun bangkit berdiri. Dia mencoba meraih uang yang tengah dipegang oleh kakaknya. Namun, pemuda itu menaikkan kedua tangannya agar tak terjangkau oleh sang adik.


"Kembalikan uangnya, Kak," pekik Lisa kecil sambil terus mendorong-dorong tubuh kakaknya, dan meraih-raih ke atas.


"MINGGIR!" sang kakak mendorong dengan keras tubuh kecil adiknya itu hingga ia terjungkal ke belakang, dengan lutut dan siku yang terluka.


Namun, Lisa tak urung untuk terus merebut kembali hasil keringat sang ibu. Ia sangat tau apa yang akan terjadi jika uang itu sampai lenyap.


Dia dan ibunya akan kembali tak mendapat makan malam, karena tak ada uang untuk membeli beras dan lauk sekedarnya.


Bahkan, tak jarang ia hanya mendapat lauk rumput laut kering dan acar lobak, sekedar untuk memberi rasa pada nasi yang hambar.


Para tetangga tak ada yang mau berbelas kasihan kepada keluarga mereka. Semua orang menghindari Lisa dan juga ibunya, karena gosip yang telah terlanjur beredar mengenai masa lalu sang ibu, yang entah siapa yang telah menyebarkannya dan sejak kapan.


Semua mata seolah memandang keluarganya dengan tatapan jijik.


Lisa kecil kembali menghadang jalan kakaknya, yang semakin jauh berjalan meninggalkannya.


"Kembali uang Ibu, Kak," pekik Lisa yang lagi-lagi berusaha meraih uang, yang masih sibuk dihitung lembar demi lembarnya oleh sang kakak tiri.


"Berisik! Diam kau," ucapnya sembari menghempaskan Lisa begitu saja, hingga gadis kecil itu limbung dan terjatuh dengan pergelangan kaki yang sempat tertekuk.


Lisa hendak bangkit, namun ia merasa nyeri di bagian pergelangan kakinya. Sepertinya dia terkilir.


Gadis malang itu ingin mengejar kakaknya, namun rasa sakit membuatnya tak bisa berlari mengejar pemuda kejam tersebut yang semakin jauh meninggalkannya, hingga menghilang di persimpangan jalan.


Lisa pun lalu terduduk lemas, melihat uangnya telah hilang bersama kepergian sang kakak tiri.


"Ibu," gumamnya lirih.


Tanpa sadar, air matanya luruh. Namun, Lisa kecil segara menyekanya kasar dengan punggung tangan, dan mencoba untuk berdiri.


Dengan langkah tertatih menahan sakit, ia kembali ketempat semula, di mana barang bawaannya masih berantakan tergeletak di sana.


Dengan langkah gontai, ia pun membawa bungkusan besar itu menuju rumah, di mana sang ibu telah menunggunya pulang, dan berharap membawa uang upah dari hasil keringatnya.


Saat sudah berada di ambang pintu, kakinya seakan terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam, hingga sang ibu menyadari kepulangannya, dan segera menghampiri anak perempuan malang itu.


"Lisa, kamu sudah pulang? Kenapa tidak langsung masuk?" tanya sang ibu.


Lisa hanya tertunduk diam. Dia tak berani melihat wajah sang ibu yang pasti akan kecewa padanya.


"Lisa, kamu kenapa?" tanya sang ibu dengan suara yang lembut.


Wanita itu meraup kedua pipi anak gadisnya, dan menengadahkan wajah Lisa, hingga kedua mata bening itu pun menatap sang ibu dengan berkaca-kaca.


Sang ibu pun mengernyitkan kedua alisnya, melihat ekspresi Lisa yang sangat berbeda dari ketika dia pergi siang tadi.


"Ada apa, Nak?" tanya sang ibu lagi dengan suara yang begitu lembut.


"Kakak…,"


"Kakak mengambil uang kita, Bu. Bagaimana ini? Maafkan aku... maafkan aku, Bu," tangis Lisa pecah.


Ia menghambur memeluk sang ibu, yang juga dibuat lemas oleh penuturan sang putri.


Ya tuhan, kenapa dia berbuat seperti itu. Dia sudah benar-benar keterlaluan, gumamnya dalam hati, sambil mengelus-elus puncak rambut anak gadisnya.


"Sudah … sudah … tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salahmu, Nak. Kita bisa cari lagi uangnya besok bukan," ucap sang ibu mencoba menenangkan.


"Tapi malam ini, bagaimana kita akan makan?" tanya Lisa yang masih menangis di dalam dekapan sang ibu.


"Kita makan mi instan saja. Bagaimana? Kebetulan kita masih memiliki sisa satu bungkus di dapur," ujar sang ibu.


Lisa pun menghentikan tangisnya. Ketakuatannya bukanlah mendapat amukan dari sang ibu, yang ia takutkan adalah ia dan ibunya akan kelaparan.


Keesokan harinya, seperti hari-hari sebelumnya, Lisa kecil berangkat sekolah pagi-pagi sebelum teman sebayanya mulai berdatangan.


Dia tak ingin bertemu dengan mereka, karena hanya akan menjadi bahan rundungan serta sasaran caci maki saja.


Tak jarang, ia dilempari menggunakan batu kerikil, dengan serbuan kata-kata ejekan yang mereka ucapkan.


Lisa tak pernah menangis sedikit pun, meski mereka sudah sangat keterlaluan. Sesungguhnya, ia bahkan tak peduli jika harus selalu mendapatkan hal semacam itu.


Namun, ia tak ingin membuat ibunya khawatir karena dirinya pulang dengan tubuh yang penuh dengan luka lebam, bahkan sampai ada bagian tubuh yang berdarah.


Pernah suatu ketika, Lisa pulang dengan baju penuh lumpur dan kotoran, akibat dilempari oleh anak-anak lain.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya sang ibu penuh emosi.


"A... Anak Nyonya Lung." Lisa kecil ketakutan melihat ibunya marah, walaupun dia tak sedang memarahi gadis kecil tersebut.


Saat itu lah sang ibu mengamuk, dengan mendatangi anak tetangga yang telah melakukan hal tadi pada putrinya.


Bukannya meminta maaf, Ibu Lisa justru mendapat cacian dan hinaan. Bahkan, tetangga yang lain tak ada yang bersedia membantu, malah justru semakin memojokkan sang ibu, seolah dia adalah wanita paling kotor yang menjadi aib di lingkungan tempat tinggalnya.


Sejak menyaksikan kejadian itu, Lisa kecil berusaha keras agar tidak sampai terlibat lagi dengan anak-anak lain.


Entah sudah berapa lama, predikat anak pelacur melekat pada dirinya. Dan karena hal itu, Lisa kecil menjadi terkucil, bahkan tak jarang ia dijadikan sasaran perundungan teman-teman sebayanya.


Satu-satunya cara agar ia terhindar dari perundungan adalah, dengan berangkat paling awal, dan pulang paling awal juga, atau pulang terlambat dengan memutar jalan, agar tidak sampai bertemu dengan mereka.


Lisa termasuk anak yang kuat. Ia sangat jarang menangis, bahkan mungkin tidak pernah.


Kecuali satu, yaitu ketika ada hal yang menyangkut ibunya, barulah Lisa akan menangis. Jika tidak, sekali pun ia terluka parah, wajahnya akan tetap terlihat datar dan dingin.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih