DESIRE

DESIRE
Bab 123



"Perkenalkan, saya Ricard Moris. Pengacara Tuan Joshua Chou," ucap pria itu.


Arthur nampak terkejut dengan kedatangan tamu yang sama sekali tak disangka.


Pengacara Joshua? Mau apa dia kemari? batin Arthur.


"Tuan Peterson? Apa Nona Mona masih tinggal di sebelah?" tanya Moris lagi karena pria di hadapannya tak kunjung memberinya jawaban.


"Oh… maaf, Tuan Moris. Tapi, bisa kah saya melihat kartu tanda pengenal Anda? Hanya untuk berjaga-jaga saja," ucap Arthur.


Pria itu tak ingin lagi kecolongan seperti sebelumnya, dan membiarkan peneror masuk dengan mudah ke dalam tempat tinggalnya, apa lagi mengancam keselamatan Mona.


Moris nampak membuka tasnya, dan mengambil sesuatu dari sana.


"Ini ID card, passport, dan SIM saya. Silakan bisa Anda periksa sendiri," ucap Moris sembari menyerahkan semua dokumen pribadinya kepada Arthur.


Pimpinan PS group itu pun menerimanya dan melihat satu persatu dokumen tersebut.


Semuanya sesuai. Tidak ada yang aneh dari orang ini, batin Arthur.


"Baiklah. Saya kembalikan lagi," ucap Arthur yang menyerahkan kembali semua dokumen tersebut.


"Jadi bagaimana Tuan Peterson? Apa saya bisa bertemu dengan Nona Mona?" tanya Moris kemudian


"Unit itu masih milik Mona. Namun, dia sudah tak tinggal lagi di sana. Wanita itu ada di sini. Dia tinggal bersama denganku," jawab Arthur.


"Bisa saya bertemu dengannya?" ujar Moris.


"Masuklah," sahut Arthur.


Pria itu pun menyingkir dari depan pintu dan memberi jalan kepada tamunya untuk masuk. Mona melihat kehadiran orang asing lagi di tempat tinggalnya dan membuat wanita itu beranjak dari duduknya.


"Tuan Moris, silakan duduk di sini," seru Arthur mempersilakan tamunya duduk di ruang tamu.


Dia berjalan menghampiri Mona yang berdiri dengan tatapan penuh tanya ke arah Arthur.


"Kak, itu siapa?" tanya Mona seketika saat Arthur telah berdiri di hadapannya.


"Dia Tuan Moris, pengacara Josh. Dia bilang, dia ingin bertemu denganmu," tutur Arthur sambil mengusap belakang kepala Mona.


"Menemuiku? Untuk apa?" tanya Mona.


"Aku juga tak tau. Sebaiknya, kamu temui dia. Aku akan ambilkan minum dulu untuknya," seru Arthur.


Mona menahan lengan Arthur, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Arthur seakan mengerti arti tatapan Mona itu, dan mengusap puncak kepala wanitanya dengan lembut.


"Baiklah. Kamu tunggu di sini, dan kita akan menemuinya bersama-sama," seru Arthur kemudian.


Pria itu kemudian berjalan menuju dapur dan mengambil jus buah segar kemasan yang ada di sana. Setelah menuangnya ke dalam gelas, Arthur pun berjalan ke arah Mona, dan mengsajak wanita itu untuk menemui sang pengacara.


"Tuan Moris. Ini Mona," ucap Arthur sambil meletakkan minuman di atas meja.


"Duduklah di sini," ucap Arthur kepada wanitanya.


Mona nampak ragu untuk duduk, namun Arthur terus berada di sisinya untuk menjaga wanitanya.


"Selamat siang, Nona Mona. Perkenalkan, saya Ricard Moris. Pengacar Tuan Joshua Chou," ucap Moris.


"Ha… halo, Tuan Moris. Saya Mona. Ada apa Anda mencari saya?" tanya Mona ragu-ragu.


"Saya datang mencari Anda atas wasiat yang ditinggalkan oleh Tuan Chou. Sebelum meninggal, beliau sempat meminta saya untuk mengurus beberapa hal mengenai Anda," tutur Moris.


Mona nampak memicingkan matanya dengan kedua alis yang berkerut.


"Saya paham kalau Anda bingung. Namun, kematiannya sudah beliau prediksi sebelumnya. Bahkan, Tuan Chou pun meminta saya untuk segera meninggalkan negera ini ketika mendengar hal buruk yang menimpa beliau," lanjut Moris.


"Jadi, di mana Anda selama ini?" tanya Arthur yang mulai tertarik dengan pembicaraan ini.


"O… orang yang ma… mau mencelakai Anda?" tanya Arthur yang tampak begitu terkejut dengan penuturan sang pengacara.


"Benar, Tuan," sahut Moris.


"Tapi kenapa? Apa Anda berbuat salah dengan seseorang?" tanya Mona yang tak mengerti dengan semua yang dikatakan oleh Moris.


"Tidak, Nona. Saya tak berbuat salah kepada siapa pun. Hanya saja, surat wasiat Tuan Chou lah yang membuat saya terancam," ucap Moris.


"Memangnya apa isi surat wasiat itu?" tanya Arthur yang semakin tidak sabar.


Moris nampak meletakkan tasnya di atas meja, dan membuka pengaitnya agar kuncinya terlepas. Dia nampak mengambil sebuah map dan meletakkannya di pangkuan, kemudian menutup kembali tas kopernya.


"Tuan Chou meminta saya untuk menjaga ini selama kurang lebih tiga bulan setelah kematianya, dan meminta saya untuk menemui Anda di apartemen sebelah. Namun rupanya, Anda sekarang berada di sini bersama dengan Tuan Peterson," ucap Moris.


"Apa Joshua melarangku untuk mendengar wasiatnya?" tanya Arthur yang merasa tersisih.


"Tentu tidak. Tuan Chou bahkan memintaku untuk turut membawa Anda agar bersama-sama menyaksikan pembacaan wasiat ini di depan Nona Mona," jawab Moris.


"Jadi, cepat kau bacakan surat itu," seru Arthur.


"Baiklah," sahut Moris.


Saya, yang bernama Joshua Chou, dengan ini menunjuk Monalisa alias Lisa Law, sebagai anak angkat saya yang sah, dibuktikan dengan surat keterangan adopsi dan kartu keluarga terbaru.


Sekaligus menunjuknya sebagai ahli waris tunggal atas seluruh harta kekayaan beserta aset saya. Baik yang bergerak maupun yang tidak. Jika dikemudian hari terjadi sesuatu dengan Monalisa alias Lisa Law, semua aset akan dilimpahkan kepada Tuan Arthur Peterson, untuk dikelola sebagai badan amal beratas namakan Lisa Law. Surat ini saya buat dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Tertanda, Joshua Chou.


Mona meraih tangan Arthur dan mer*masnya kuat-kuat. Dia tak percaya dengan apa yang diucapkan oeh sang pengacara barusan.


Arthur seakan tahu apa yang ada dipikiran wanitanya. Dia pun mengusap lembut pundak Mona, mencoba menenangkan si ratu es.


Seusai membacakan surat wasiat tersebut, Moris menyodorkan map tersebut ke depan Mona.


"Silakan Anda tanda tangani ini di sini, sebagai bukti jika Anda telah menerima wasiat dari Tuan Chou," ucap Moris.


"Tidak! Tidak mungkin. Ahli waris tunggal? Bukakah dia punya istri? Bagaimana dengan istrinya? Aku tidak mau mengambil hak orang lain. Tidak," tolak Mona.


"Sebelumnya saya mohon maaf, tapi hubungan antara Tuan Chou dan istrinya tak lebih dari sekedar suami istri di atas kertas. Tidak pernah ada apapun di antara mereka."


"Nyonya Chou sudah memiliki sendiri asetnya yang didapat dari Tuan Chou semasa beliau masih hidup. Jadi, Anda tidak merebut milik siapapun, karena ini semua hak milik dari Tuan Chou yang sah secara hukum diberikan kepada Anda," jelas Moris panjang lebar.


Mona masih bergeming, dan tak mau membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.


"Ehm… Tuan Moris, sepertinya Anda perlu memberi Mona waktu untuk memikirkan hal ini. Aku yakin dia terlalu terkejut karena ini semua sangat mendadak. Ditambah, rasa kehilangannya akan kepergian Joshua masih jelas terasa hingga saat ini. Mohon pengertian Anda," ucap Arthur yang mencoba memberi pengertian kepada pengacara itu.


"Baiklah. Tapi, saya akan kembali ke luar negeri malam ini juga. Jika memang Anda sudah memutuskan, silakan hubungi saya di nomor ini," pesan Moris sembari menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor telepon luar negeri.


"Baiklah. Kami hargai usaha Anda untuk menjaga wasiat Joshua. Terimakasih atas kerja samanya," ucap Arthur.


Moris pun meninggalkan salinan surat wasiat dari Joshua untuk Mona, dan mengambil kembali surat yang asli dan akan dibawanya kembali ke luar negeri.


Setelah itu, sang pengacara pamit pergi, meninggalkan Mona yang masih tertegun dengan pikirannya sendiri.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih