
Di sebuah caffe yang berada di seberang rumah sakit pusat ibu kota, Arthur dan Gerald tengah duduk berhadapan di sebuah meja yang ada di salah satu sudut.
Gerald nampak bertopang kaki, dengan punggung yang bersandar di kursi, sambil menyesap hot americano-nya.
Sementara Arthur, pria itu nampak menatap tajam ke arah pria di hadapannya.
"Tidak buruk," ucap Gerald sambil meletakkan kembali cangkir beserta tatakannya ke atas meja.
Pria itu kembali bersandar, dan melipat kedua lengannya di depan dada.
"Baiklah. Sekarang katakan, ada urusan apa Anda dengan saya, Tuan Peterson?" tanya Gerald dengan nada datarnya.
"Ini tentang rencana kerja sama kita tempo hari, yang belum sempat kita bicarakan," ucap Arthur sambil menautkan jemari tangannya dia atas meja.
Gerald tampak tersenyum mengejek ke arah Arthur, yang terlihat begitu serius memperhatikan pria itu.
Gerald mengurai kedua lengannya yang terlipat, dan memajukan tubuhnya ke depan sambil menumpukan kedua lengannya di atas meja.
"Saya merasa tersinggung atas perlakuan Anda tempo hari. Jadi, saya ingin sebuah permintaan maaf terlebih dulu dari Anda." Gerald menatap tajam ke arah Arthur, dengan kata-kata yang penuh penekanan.
Arthur mengerutkan keningnya. Dia penasaran apa maksud perkataan Gerald sebenarnya.
Hanya minta maaf? Aku tak yakin akan semudah itu, batin Arthur.
"Permintaan maaf yang seperti apa maksud Anda?" tanya Arthur.
Gerald kembali tersenyum dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya, dan terlihat begitu mengerikan dengan tatapan tajam yang terus menikam netra hitam Arthur.
"Biarkan aku makan malan dengan Mona. Cukup sekali saja, dan semuanya selesai," seru Gerald dengan dinginnya namun penuh penekanan.
Arthur seketika meradang. Dia tak percaya dengan permintaan pria di hadapannya itu. Dia sudah tak bisa mengendalikan emosinya jika menyankut soal Mona.
Arthur pun bangkit dan mendobrak meja.
BRAK!
"Apa Anda sengaja memanfaatkan situasi ini untuk mendekati Mona? Jangan harap itu akan terjadi!" ucap Arthur yang telah diliputi emosi.
Gerald terlihat tenang, dan sama sekali tak bereaksi. Dia bahkan kembali mengangkat cangkir kopinya, dan menyesap perlahan sambil bersandar di kursi.
"Ah… aku hanya memberimu kesempatan untuk meminta maaf. Kalau tak mau, ya sudah. Silakan cari orang lain saja untuk mengurus pembangunan department store mu itu," ucap Gerald dengan senyum mengejeknya.
"Kurang ajar!" Arthur sudah tak bisa lagi bertahan.
Emosinya memuncak melihat sikap arogan pria itu. Arthur memilih untuk pergi dari sana, dan meninggalkan Gerald yang masih menikmati kopinya.
Sedangkan Gerald, pria itu terlihat diam saat Arthur pergi. Namun, saat pimpinan PS group itu telah menghilang dari pandangannya, senyumnya hilang dan raut wajahnya berubah datar.
"Kau tidak akan pernah bisa menemukan orang lain yang bisa menciptakan gedung impianmu, Tuan Peterson. Tidak akan pernah," ucap Gerald.
...🍂🍂🍂🍂🍂...
Hari mulai menjelang petang. Namun, Arthur yang pergi sedari siang, sampai saat ini belum juga kembali.
Kau di mana sih, Kak? Ngambekmu sangat tidak lucu, batin Mona.
"Mona. Ini sudah hampir petang. Kami berdua harus kembali. Kau tak apa jika ditinggal sendiri?" tanya Madame Queen.
"Ehm… tenang saja, Mom. Tuan Peterson mungki sedang sibuk. Sebentar lagi juga pasti ke mari. Pulanglah, aku tak apa," ucap Mona.
"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku. Satu lagi, aku menunggu kejutan darimu," ujar wanita tua menor itu.
"Iya, Mom. Pulanglah … Ell, aku titip wanita tua ini yah," ucap Mona kepada Elliott dan juga Madame Queen.
"Isshh… ini anak. Kurang ajar sekali memanggilku wanita tua," keluh Madame Queen sembari mendorong pelan kepala Mona.
Namun, Mona justru terkekeh melihat kekesalan wanita tua itu, dan disahuti oleh Elliott yang juga ikut tertawa.
"Hah… dasar anak jaman sekarang tidak ada yang punya sopan santun pada orang tua. Ayo, Ell. Kita pulang sekarang. Sebentar lagi kita harus buka," ajak Madame Queen yang meraih tas tangannya.
"Oke, Bos… Mona, kami pulang dulu," sahut Elliott dan pamit kepada Mona.
"Oke! hati-hati ya," ucap Mona.
Keduanya pun pergi.
Kini, tinggallah Mona sendiri di dalam ruang rawatnya yang begitu besar dan mewah. Dia masih dalam posisi duduk bersandar di atas kasurnya.
Beberapa saat yang lalu, tepatnya saat Arthur sedang keluar membelikannya sarapan, ia tengah melihat hasil visumnya dan menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.
Ini tidak mungkin… ini bohong kan…, batin Mona yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sebelah tangannya membekap mulut rapat-rapat, sedangkan satunya lagi nampak membelai foto hitam putih dua dimensi itu.
Lelehan bening pun lolos dari matanya, dengan perasaan yang bercampur aduk, antara senang dan juga takut.
Lama ia memandangi foto buram itu, dengan pikiran yang terus mengembara entah ke mana. Hingga sebuah suara gaduh terdengar dari arah luar, yang membuatnya segera tersadar dari lamunan.
Mona buru-buru mengambil lembar pemeriksaan yang terakhir di mana terlampir foto hitam putih itu, dan membawanya menuju ke arah ranjang.
Ia melipatnya dan memasukkan benda tersebut ke dalam laci paling bawah di nakas sebelah kanan. Bertepatan saat itu, Arthur masuk ke dalam dengan membawa banyak sekali belanjaan. Dia nampak sedikit kerepotan, sehingga tak menyadari apa yang baru saja dilakukan oleh Mona.
Wanita dingin yang selalu bisa menyembunyikan perasaannya itu pun memasang wajah tenang dan bersikap biasa saja, meski hampir tertangkap basah tengah menyembunyikan sesuatu.
"Banyak sekali belanjaan mu, Kak?" tanya Mona yang masih duduk di tepi ranjang.
"Aku membeli beberapa makanan cadangan yang bisa kau makan sampai siang, atau mungkin cemilan di waktu bosan," ucap Arthur sambil meletakkan semuanya di atas meja.
"Wah… terimakasih. Tadi ku dengan ada suara gaduh di depan. Apa itu Kakak?" tanya Mona.
"Iya… tadi ada barang yang jatuh. Apa kau terganggu? Maaf ya," ucap Arthur dengan sayangnya.
"Tak apa. Terimakasih sudah mau direpotkan," sahut Mona.
Arthur hanya melempar senyum begitu hangat kepada Mona, dan membuat wanita itu berdebar. Namun seperti biasa, Mona selalu buru-buru menepisnya.
"Ehm… Kau beli sarapan apa, Kak?" tanya Mona yang hendak turun dari tempat tidur.
"Eehhh… mau apa kau? Kenapa turun?" tanya Arthur yang seketika menghampiri Mona, yang hendak berdiri.
"Aku hanya ingin lihat belanjaan Kakak aja kok," sahut Mona.
"Kamu di sini saja. Naiklah, biar aku ambilkan sarapanmu," ucap Arthur yang membantu Mona untuk kembali naik ke ranjangnya, dan duduk bersandar di head board.
Arthur nampak membuka sebuah bungkusan yang berisi wadah styrofoam berbentuk mangkuk sedang yang terlihat masih mengepul.
"Apa itu, Kak?" tanya Mona yang penasaran dan membayangkan isinya yang masih panas.
"Bubur ayam. Katanya sih spesial, tapi entah bagaimana rasanya," tutur Arthur yang berjalan ke arah Mona.
"Wah… sepertinya enak," seru Mona.
Tak terasa, air liur seolah menggenang begitu banyak di rongga mulutnya, hingga Mona menelannya bak orang yang tengah meneguk air.
GLUK!
"Lapar sekali yah?" ledek Arthur.
"Cepatlah sini, aku ingin makan," keluh Mona yang merasa kalau Arthur terlalu lama memberikan makanan itu kepadanya.
"Eh… biar aku menyuapimu. Bukankah sedang sakit, jadi biarkan suamimu ini yang melayani mu," ujar Arthur dengan seringainya, sambil menaik turunkan kedua alis.
"Ehm... maunya. Memangnya aku audah mengiyakan ajakan nikah Kakak?" ledek Mona atas ucapan Arthur yang begitu percaya diri.
"Yakin tak mau? Hah… hah…," goda Arthur yang membuat Mona bersemu sejenak.
Namun, wanita itu buru-buru mengalihkan pembicaraan agar rona merah di pipinya hilang.
Arthur pun menyuapi wanitanya dengan telaten. Bahkan hingga siang, pria itu terus menawari Mona beberapa makanan yang telah ia beli.
Anehnya, meski sudah banyak yang masuk ke perutnya, tetapi Mona masih bisa melahap semua yang diberikan oleh Arthur seolah tak merasa kenyang sama sekali.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih