DESIRE

DESIRE
Bab 10



"Lisa! Lisa! Kamu di mana, Nak?" panggil seorang wanita.


Lisa pun segera menoleh, dan seketika itu juga dia bangkit dan berlari menghampiri wanita itu.


"Iya, Bu," sahutnya.


Lisa kecil berlarian menghampiri wanita yang tak lain adalah sang Ibu.


"Tolong bantu Ibu mengantarkan pakaian bersih ke hunian itu. Kau bisa bukan?" pinta sang Ibu.


Lisa kecil pun mengangguk dengan cepat, dan terlihat begitu antusias.


Dia segera meraih setumpuk baju yang telah bersih dan sudah dikemas dalam kantong-kantong plastik.


"Aku pergi dulu, Bu," Lisa kecil pun pamit dan berjalan dengan riang menyusuri jalanan setapak yang menghubungkan langsung antara perkampungan dengan hunian mewah yang berada tepat disebelahnya.


Jika dilihat, itu bukanlah sebuah jalan resmi, namun hanya sebuah celah di antara dinding pembatas, yang dimanfaatkan sebagian warga sekitar pulang pergi ke hunian itu untuk bekerja.


Termasuk Ibu Lisa yang adalah seorang pemilik binatu kecil yang biasa mengambil pakaian kotor dari rumah-rumah yang ada di area tersebut.


Kini, Lisa telah sampai di rumah tujuannya.


TOK! TOK! TOK!


Lisa kecil mengetuk pintu samping rumah besar itu, karena dia selalu diperingatkan oleh sang ibu, agar selalu lewat pintu samping, setiap kali ia mengantar dan mengambil pakaian.


"Oh... rupanya kau, Lisa. Cuciannya audah selesai ternyata?" kata seorang asisten rumah tangga di rumah itu, yang bertubuh agak gempal.


"Benar, Nyonya Luo. Ini pakaian-pakaiannya," Lisa kecil menyerahkan setumpuk pakaian kering itu kepada wanita bermarga Luo itu.


"Tunggu sebentar," ucap Nyonya Luo sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Lisa kecil menunggu di luar. Dia duduk seorang diri di kursi yang ada di dekat pintu belakang.


"Lisa, ini bayaran untuk hari ini," ucap Nyonya Luo saat kembali ke luar, dan memberikan upah dari cucian yang telah diantarkan gadis kecil itu.


"Lalu ini, pakaian kotor yang harus kamu bawa," lanjutnya sambil menyerahkan sekantung besar baju-baju kotor sang majikan.


"Terimakasih, Nyonya," ucap Lisa.


Dia pun pergi meninggalkan rumah besar itu, dan berjalan kembali melewati jalan yang sama.


Saat di tengah jalan, seseorang menarik kerah bajunya dari belakang. Lisa pun terjungkal, dan membuat semua barang bawaannya terjatuh dengan beberapa baju nampak terburai.


Dia mengusap-usap bo*kongnya yang terasa sakit akibat membentur paving blok.


"Berikan uangnya!" seru orang itu.


Lisa mendongak dan dia sangat terkejut, mendapati siapa yang ada di hadapannya.


"Kakak," gumamnya lirih.


Lisa kecil pun bangkit berdiri. Ia kemudian merapikan kembali barang bawaannya, dan hendak beranjak dari tempat itu.


"Berikan uangnya!" bentak orang yang ternyata adalah Kakak Lisa, seorang anak laki-laki yang usianya hanya terpaut tiga tahun darinya.


Lisa tertegun mendengar teriakan dari kakaknya. Ia terus menggenggam erat tali kantong cucian itu.


Ini bukan kali pertama sang kakak merampoknya, dan Lisa kecil selalu berusaha untuk menolak perintah kakaknya itu.


Namun, tubuhnya yang lebih kecil dan pendek, membuatnya selalu saja kalah ketika harus berebut uang dengan sang kakak.


"Tidak ada. Aku tidak memilikinya, Kak," Lisa kemudian berjalan melewati kakaknya begitu saja.


Namun, sang kakak tidak tinggal diam. Dia kembali menarik kerah baju belakang Lisa kecil hingga ia pun kembali terjungkal.


Dengan kasar, ia menggeledah tubuh Lisa, mencari apa yang ia minta. Gadis kecil itu pun meronta, dan mencoba menghalangi sang kakak yang sudah menyentuh saku celananya.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


"Tidak... Jangan... Kembalikan, Kak. Kembalikan," pekik seorang wanita yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya.


"Hah... Hah... Hah...,"


Nafasnya terdengar memburu. Ia lalu mengusap kasar wajahnya.


"Kamu kenapa, Mona?" tanya Joshua, pria yang sedari tadi berusaha mengguncang-guncang tubuh seksi itu, agar segera bangun dan tersadar dari mimpinya.


Mona menoleh, dan menatap dalam wajah pria paruh baya yang berada di sampingnya itu.


"Apa mimpi buruk itu datang lagi?" tanya Joshua lagi.


Lisa masih terdiam. Ia bangkit dan duduk bersandar di head board, diikuti oleh Joshua.


Pria itu menatap khawatir ke arah wanita cantik itu.


"Aku tidak apa-apa, Josh. Ini juga bukan mimpi buruk itu lagi," sahut Mona yang masih mencoba mengatur nafas dan detak jantungnya, yang masih berkejaran akibat mimpi tadi.


"Apa ini ada hubungannya dengan Nona Peterson? Atau bisa ku panggil dia dengan Jessy?" tanya Joshua menyelidik.


"Tolong jangan ungkit orang itu lagi, Josh. Aku tak kenal dengan mereka dan tak ingin mengenal siapa mereka. So please, jangan kaitkan aku dengan mereka lagi, Oke," Mona menekankan ketidaksukaannya itu kepada Joshua.


"Mona, aku memang belum tau semua hal tentang mu. Tapi, aku bisa melihat dari sorot matamu kalau kau gusar ketika melihat kehadiran Nona itu, dan aku yakin jika kalian memang sudah saling kenal di masa lalu."


"Sayang, terkadang ada hal-hal yang sangat ingin kita hindari, namun justru semakin berusaha menghindar, kita akan semakin dekat dengan hal itu. Aku tau kamu sangat ingin membuang masa lalu mu. Tapi, jika masa lalu itu memang ditakdirkan untuk kembali, kamu bisa apa?"


Joshua mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi wanita itu, lalu mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.


"Berdamailah dengan masa lalumu, Mona,"


Mona menoleh dengan tatapan nyalang ke arah Joshua.


"Seperti yang kau bilang tadi, kalau kau tidak tau apa-apa tentang masa laluku. Jadi, jangan pernah bertindak seolah kau lebih tahu dan mencoba menasehatiku, Josh. Kita hanya partner ranjang, sebuah hubungan simbiosis mutualisme."


"Kamu butuh tubuhku, dan aku butuh uang dan kekuasaanmu. Cukup seperti itu saja, tidak lebih," ucap Mona penuh penekanan.


Wanita cantik nan seksi itu kemudian beranjak dari tempat tidurnya, dan berjalan ke luar dengan raut wajah memerah menahan emosinya, atas kata-kata Joshua yang ia rasa sangat tak pantas.


Joshua hanya bisa menghela nafas kasar sambil menatap Mona pergi.


"Aku hanya ingin kau terbebas dari belenggu yang telah kau buat sendiri, Mona." Joshua bergumam pada dirinya sendiri.


Pria itu kemudian merebahkan diri di atas kasur, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Sedangkan di luar kamar, Mona berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Ia mengambil sebuah gelas dari rak piring, dan menuangkan air ke dalamnya.


Ia kemudian meneguk air itu hingga tandas, dan meletakkan kembali gelas itu ke dalam wastafel.


Kedua tangannya bertumpu pada pinggiran wastafel. Ia menundukkan wajahnya sambil menghela nafas yang terdengar begitu berat.


Tak lama, ia mengangkat wajahnya, dan menatap ke arah sebuah cermin yang tergantung di hadapannya dengan tatapan nanar.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih