DESIRE

DESIRE
Bab 77



Pertemuan dengan Gerald membuat perasaan Arthur menjadi kacau. Dia tak menyangka jika pria yang mendekati Mona justru adalah arsitek yang akan bekerja sama dengannya.


Setelah keluar dari ruangannya, Arthur pergi ke taman atap untuk memenangkan diri. Pertemuan tiba-tiba dengan Gerald, mengacaukan semua rencana yang selama ini dia rancang demi bisa menetap di negara ini bersama wanita yang dicintainya.


Dia tahu bahwa sikapnya tadi sangat tidak profesional, dan pasti akan membuat imagenya turun. Namun hatinya tak bisa dibohongi. Dia sangat tidak senang saat ada pria yang mendekati Mona, meski sejak awal wanita itu sudah dijamah banyak pria.


Pikirannya pun seketika tertuju pada Mona. Dia meraih ponsel dari saku jasnya. Arthur mencoba menghubungi Mona yang saat ini berada di apartemennya.


Pada deringan pertama, sambungan diangkat. Terdengar sahutan yang begitu lembut dari seberang.


"Halo, Kak. Ada apa?" tanya Mona.


"Sayang, apa kau bosan di rumah?" tanya Arthur balik.


"Wah... ada apa ini? Apa Kakak ingin mengajakku berkencan?" goda Mona.


"Apa kau mau?" tanya Arthur.


"Benarkah? Kemana?" tanya Mona antusias.


"Kau bersiaplah. Aku akan menjemputmu sekarang juga," sahut Arthur.


"Baiklah. See you," ucap Mona.


Sambungan pun dimatikan. Arthur terlihat menghela nafas panjang, sebelum akhirnya pergi dari sana menjemput wanita esnya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Beberapa saat kemudian, di apartemen Arthur, Mona terlihat tengah berdiri di depan cermin, sambil memandangi penampilannya siang itu.


Sebuah kemeja putih tulang, dipadu rok abu-abu strip hitam dengan ikat pinggang besar berwarna gelap, serta high heel senada dengan bawahannya, ia pilih sebagai out fit untuk makan siang bersama dengan Arthur.


Rambut hitamnya ia biarkan tergerai, dan sedikit di buat ikal di ujungnya.


Terdengar bunyi pengunci otomatis di pintu masuk terbuka, pertanda jika Arthur sudah sampai.


Mona pun segera meraih tas yang sudah ia siapkan sebelumnya, dan berjalan keluar dari kamar.


Mereka berdua berpapasan di tangga, ketika Arthur hendak naik dan Mona hendak turun.


"Sudah siap?" tanya Arthur sambil mengulurkan tangannya ke arah Mona.


"Tentu," sahut wanita itu menyambut tangan Arthur.


Mereka berdua pun berjalan keluar dari apartemen menuju parkiran, dan pergi dengan menggunakan mobil Arthur. Keduanya akan berkunjung ke sebuah restoran bintang lima yang ada di ibu kota.


Sepanjang jalan, Arthur tak henti-hentinya menggenggam jemari Mona, seolah ia takut jika ada yang akan mengambilnya.


Mona pun merasa aneh dengan sikap posesif Arthur saat itu, dan terus melihat ekspresi wajah prianya tersebut.


"Kak, apa terjadi sesuatu?" tanya Mona.


Arthur pun menoleh sekilas, dan tersenyum. Lalu kemudian kembali fokus menghadap ke depan.


"Tidak ada. Kenapa bertanya seperti itu?" ucap Arthur sembari mengecup jemari Mona yang ada di dalam genggamannya.


"Yakin?" tanya Mona memastikan.


"Yakin, Sayang." Arthur kembali menoleh dan mengulas senyum ke arah ratu esnya.


Mona pun berhenti bertanya, dan memilih membalas genggaman tangan Arthur.


Sesampainya mereka di restoran, Arthur membawa Mona menuju ke sebuah ruangan VIP di mana hanya ada satu meja dan dua kursi, dengan view taman bunga yang ada di belakang restoran, dan terhalang sekat kaca.


Ruangan itu tertutup rapat, dan meskipun bisa melihat pemandangan di luar, tetapi tidak ada yang bisa dilihat orang yang berada di luar, karena kaca itu adalah kaca refleksi satu arah.


Arthur menarik kursi untuk Mona dan mempersilakan wanitanya duduk.


"Terimakasih," ucap Mona.


"Sama-sama, Cantik," sahut Arthur mengerlingkan sebelah matanya.


"Isshhh... gombal," gerutu Mona namun sembari tersenyum.


Tak berselang lama, beberapa pelayan masuk sambil membawa pesanan yang sebelumnya sudah di pesan oleh Arthur.


"Sudah pesan rupanya?" tanya Mona.


"Kenapa? Tidak suka menunya?" tanya Arthur.


Beberapa hidangan telah tersaji di atas meja. Mona nampak tersenyum melihat semua hidangan yang telah dipesan untuknya.


"Tak terlalu buruk juga. Aku suka kok," ucap Mona saat semuanya telah tersaji.


Pelayan-pelayan itu pun kembali keluar dan meninggalkan mereka berdua.


Arthur tampak mulai memotong-motong steak di depannya, sedangkan Mona memilih menikmati red wine terlebih dahulu.


"Ehm... ini memang yang terbaik," ucapnya sambil kembali menyesap wine di tangannya.


"Makanlah. Tidak baik minum saat perut masih kosong," seru Arthur.


Mona pun meletakkan gelasnya, dan mulai mengangkat garpu yang berada di sebelah kirinya.


"Ehm... ini lezat, Kak," ucap Mona yang menikmati makanannya.


"Syukurlah kalau kau suka," sahut Arthur yang juga menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.


"Oh iya, tadi Will sudah ke apartemen dan dia memberiku banyak sekali benda itu dengan berbagai merek. Apa kau yang menyuruhnya, Kak?" tanya Mona.


"Ehm… aku? Tidak. Aku hanya memintanya membeli benda itu saja," elak Arthur.


"Pantas saja. Kau tak memberi tau dia mereknya?" keluh Mona.


"Mana ku tau hal seperti itu. Memangnya aku memakai benda mengerikan itu juga, hah? Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Kita sedang makan, oke," seru Arthur.


"Oke," sahut Mona yang kembali menyuapkan sepotong daging ke mulutnya, sambil menikmati pemandangan taman bunga di hadapannya.


Arthur melihat wanitanya itu begitu menikmati suasana di restoran yang ia pilih. Dia tau jika kesukaannya akan keindahan bunga-bunga tak pernah hilang dari dulu.


Dia bahkan memilih hunian di mana terdapat taman bunga raksasa, yang menjadi pusatnya. Ditambah, lukisan sketsa gazebo di tengah hamparan bunga-bunga di halaman rumah lamanya dulu, membuat Arthur mencari tempat makan dengan view seperti itu.


Setelah selesai menyantap menu utama, Mona memilih red velvet sebagai hidangan penutup di antara yang sudah dipesan oleh Arthur.


"Mona, setelah ini kau ikutlah aku ke kantor," ajak Arthur sambil menyesap wine-nya.


"Ehm… kenapa, Kak?" tanya Mona sambil meng*lum garpu ditangannya.


Arthur nampak memperhatikan gerakan bibir wanita itu tanpa berkedip, membuat ia kesusahan menelan ludah.


"Ehem… ehm… hanya ingin saja. Tidak mau?" tanya Arthur yang berusaha membuang kegugupannya.


"Bukan begitu, Kak. Kakak yakin mengajak aku ke sana? Kakak tidak sedang mabuk hanya gara-gara minum sedikit, kan?" tanya Mona bertubi-tubi membuat Arthur keheranan.


"Memangnya kenapa? Kau aneh sekali tanyanya, Mona. Apa salahnya aku mengajak someone special ke kantor sendiri?" tanya Arthur yang tak mengerti jalan pikiran Mona.


"Someone special? Memangnya aku ini apanya Kakak?" tanya Mona enteng, namun seketika membuat Arthur tertegun.


Ia baru sadar jika hubungannya dengan si ratu es belum jelas.


Melihat Arthur terdiam, entah kenapa ada rasa sakit di hati Mona. Seolah semakin memperjelas, siapa dirinya di hati pria itu.


Kenapa juga aku melow seperti ini. Sudah jelas bukan bahwa dari awal memang hubungan ini tidak lebih dari sebuah pekerjaan. Apa yang sebenarnya aku harapkan, batin Mona menepis semua kegundahan di hatinya.


"Sebaiknya, kau jangan memperlihatkan aku ke muka umum, Kak. Siapa tau di antara banyaknya karyawanmu, ada salah satu yang mengenaliku. Aku tidak mau kau malu nantinya," ujar Mona sambil kembali memakan red velvet-nya.


Entah kenapa mendengar hal itu, hati Arthur terasa panas. Dia seperti tak terima dengan ucapan Mona.


"Apa maksudmu aku akan malu, Mona? Apa kau kira aku tidak serius dengan mu?" cecar Arthur.


Mona pun meletakkan garpunya di atas meja, dan menatap lekat pria yang tengah memandanginya.


"Kak, aku ini apa kau pasti tau. Dan hubungan kita, bukankah hanya sekedar saling menguntungkan saja…," ucap Mona


BRAK!


Arthur seketika menggebrak meja karena lagi-lagi dia tak terima dengan perkataan Mona.


"Apa maksudmu berkata seperti itu, Mona?" tanya Arthur dengan tatapan nyalang.


Mona mengelap mulutnya dengan serbet, lalu kemudian bangkit berdiri.


"Kak, aku tau diri. Maka itu aku tidak mau berharap banyak. Kita sangat berbeda. Aku siapa dan kau siapa, sudah jelas sangat jauh berbeda." Mona nampak memalingkan wajahnya, tetapi Arthur bisa menangkap lapisan bening di matanya mulai menumpuk.


"Cukup kita seperti sekarang ini saja, jangan pernah membuatku berharap lebih dari ini. Rasanya sakit, saat menginginkan sesuatu yang tak tergapai. Jadi ku mohon… Eeehhhhmmm…," ucap Mona.


Arthur tak bisa lagi mendengar kata menyakitkan itu dari mulut Mona. Dia maju dan seketika meraih tengkuk wanita itu, dan membungkam mulut Mona dengan bibirnya.


Mona tak berontak. Dia memilih diam. Lelehan bening lolos dari pelupuk matanya, dan masuk ke celah pagutan Arthur.


Pria itu melepas ciumannya, dan menempelkan keningnya ke kening Mona. Dia menangkup kedua pipi Mona, dan menatap lekat kedua manik hitam ratu esnya itu.


"Jangan pernah mengatakan hal semenyakitkan itu lagi, Mona." Arthur mengusap jejak lelehan di pipi dengan ibu jarinya.


"Aku tau, selama ini aku tak pernah memperjelas hubungan kita. Namun, tunggulah sebentar lagi, hingga aku bisa mewujudkan mimpiku, dan kita bisa bersama selamanya. Aku akan menjadikanmu istriku," ucap Arthur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih