DESIRE

DESIRE
Bab 62



Mona yang masih tertunduk, terlihat menyeka wajahnya dengan punggung tangan, dan hal itu pun tak luput dari perhatian Arthur.


"Kenapa Anda melakukan semua ini?" tanyanya sambil mendongak ke atas.


Arthur tertegun melihat mata Mona yang berkaca-kaca, dengan lelehan bening yang telah mengalir di pipinya.


"Kenapa Anda tak biarkan saja saya tertabrak mobil tadi? Kenapa Anda harus peduli padaku? Harusnya Anda acuhkan saya saja seperti yang sekarang Anda lakukan," ungkap Mona.


Arthur menatapnya datar.


"Aku hanya ingin menolongmu. Apa salah?" sahut Arthur dengan suara beratnya.


"Kenapa semua orang harus berkorban untuk ku. Memangnya saya ini siapa? Harusnya Josh pun tak perlu mati hanya demi mencegahku menaiki mobil itu. Harusnya Anda tak perlu terluka hanya untuk mencegahku tertabrak. Harusnya kalian biarkan saja saya celaka. Saya ini bukan siapa-siapa kalian. Kenapa?" ucap Mona di tengah isaknya.


Arthur yang tak tega melihat ratu esnya itu menangis kembali pun menegakkan badan dan menurunkan kedua kakinya, lalu kemudian ia merengkuh pundak Mona.


"Berdirilah," Arthur menuntun Mona untuk berdiri, dan duduk di sampingnya.


"Saya lelah. Apa Anda tau, saya dijual dua kali hingga akhirnya jadi pelacur seperti sekarang ini. Diculik sekali dan hampir diculik lagi kemarin. Sekarang, saya hampir mati, dan entah apa alasan semua itu."


"Saya hidup selama ini dengan terus menunggu hal buruk apa lagi yang akan terjadi padaku. Saya lelah. Saya sangat lelah. Harusnya kalian biarkan saja orang tak berharga seperti saya ini mati." Mona meluapkan semua kegundahannya selama ini.


Arthur tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Mona.


Aku tak menyangka, jika hidupmu seberat ini, Lisa. Maafkan aku yang tak ada di sampingmu selama ini, batinnya.


Arthur pun seketika memeluk tubuh Mona yang terus bergetar karena isaknya.


"Jangan katakan bahwa kau tak berharga. Kau adalah orang yang sangat berharga untuk ku, dan untuk Tuan Chou. Itulah kenapa kami rela mengorbankan diri untukmu." Arthur mencoba membesarkan hati Mona yang tengah hancur.


Wanita itu menjauhkan kepalanya dari dada Arthur, dan menatap lekat wajah pria tersebut.


Arthur menyentuh pipi Mona, dan mengalirkan kehangatan di wajah cantik itu.


"Jangan pernah katakan bahwa tak ada lagi yang peduli pada mu. Ada aku yang akan selalu di sampingmu, Mona. Sandarkan semua beban mu padaku. Gunakan aku semaumu. Anggaplah aku sedang menebus kesalahanku padamu di masa lalu," ucap Arthur sambil menatap lurus ke dalam netra hitam Mona.


Mona menyentuh pipi pria itu, dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"I miss you," bisiknya.


Arthur balik menatap Mona dengan tatapan sendu. Pria itu lalu mendekat ke arah Mona, dan mulai memiringkan kepalanya.


Mona menempelkan kedua tangannya di pundak Arthur, dan menatap lekat bibir pria itu yang semakin mendekat ke arahnya.


Hembusan nafas hangat saling menyapa kulit masing-masing, dan menggetarkan perasaan keduanya.


Sesaat kemudian, bibir mereka telah menyatu, saling memagut dan menyesap, mengalirkan perasaan rindu yang selama ini mereka pendam.


Lidah mereka pun saling menyapa dan bertaut di dalam rongga mulut, mengalirkan getaran-getaran yang menghangatkan jiwa.


Ciuman lembut dan manis itu, terasa begitu tulus. Tanpa terasa, Mona menitikkan air mata dari sudut matanya.


Mereka berdua pun terhanyut, dengan saling merasakan lembut dan manisnya bibir masing-masing.


Arthur menuntun Mona untuk berbaring dan kemudian mengungkungnya. Sedangkan tangan Mona mulai naik dan menyusup ke celah-celah rambut Arthur.


Ciuman hangat itu bertambah dalam dan semakin memanas, seiring gelora yang tercipta di antara kedua insan yang saling merindu itu.


Tangan kiri Arthur menumpu tubuhnya, sedangkan tangan kanannya terus membelai lembut wajah Mona yang berada di bawahnya.


Pagutan mereka pun semakin liar seiring nafas yang berkejaran. Hangat tubuh Mona yang hanya terbalut bath robe dan kini mulai terbuka, bergesekan dengan Arthur yang juga bertela*njang dada.


Geleyar-geleyar gair*ah mulai muncul, dan semakin membuat mereka hanyut dan terbuai.


Tangan Arthur mulai membuka tali bath robe yang dipakai Mona, dan memampangkan keindahan wanita itu di depan matanya.


Arthur semakin dalam menyesap dan mereguk manisnya bibir Mona, sambil tangannya mere*mas bulatan sintal di dada wanita itu.


"Ehm…,"


Lenguhan mulai terdengar dari bibir Mona yang masih dibungkam dengan kelincahan lidah Arthur.


"Aaaaahhhh… Kak…,"


Pria itu mulai menyesap ujung merah muda yang terpampang di depannya, dan dengan nakal mulai menariknya dengan bibir, hingga Mona semakin menggelinjang.


Semakin lama, has*rat mereka semakin memuncak dan menginginkan lebih. Mata mereka semakin sayu dan berkabut, solah mendamba hal yang lebih lagi.


Arthur mulai turun dari ranjang, dan hendak membuka celananya,


"AAARRRGHHH… ****!" Dia tiba-tiba memekik kesakitan dan mengumpat.


Mona yang terkejut pun bangun dengan kedua lengan yang menumpu tubuhnya ke belakang.


"Anda kenapa?" tanya Mona dengan wajah yang sudah memerah dan mata yang sayu.


Arthur terlihat sedang memegangi pergelangan kakinya yang kembali terasa sakit karena ia menjejakkan di lantai begitu saja.


"Ppfffttt… Pppfffttt… hahaha… hahaha…," tiba-tiba tawa Mona pecah melihat pria di hadapannya itu kesakitan karena ulahnya sendiri.


Dia pun kemudian duduk bersila di atas kasur sambil membetulkan bathrobe-nya yang telah terbuka lebar.


Sedangkan Arthur yang tadi sempat kesal, kini justru ikut tertawa melihat Mona yang tertawa begitu lepas. Has*ratnya turun seketika, dan dia pun tak lagi menginginkan hal panas itu.


Tak apa aku terlihat konyol, asalkan kau bisa tertawa lagi, Lisa, batin Arthur.


Mereka pun saling menertawakan diri mereka yang gagal bercinta karena Arthur yang mengaduh kesakitan, karena lupa jika kakinya sedang cedera.


Puas tertawa hingga perut mereka sakit. Kini keduanya tengah berada di atas ranjang dengan Mona yang bersandar di head board, dan Arthur yang memilih tidur telungkup dengan sebuah bantal yang berada di bawah dadanya.


Mona mengusap-usap lembut rambut pria itu, yang sedeng terpejam meresapi sentuhan si wanita es.


"Apa tidak sebaiknya Anda memanggil dokter untuk memeriksa luka Anda?" tanya Mona.


Arthur mendongak dan menatap wajah Mona lekat-lekat.


"Aku heran padamu," ucap Arthur tiba-tiba.


Mona mengernyitkan keningnya.


"Heran kenapa?" tanya Mona penasaran.


"Kenapa kau selalu memanggilku dengan panggilan Kak, saat kita sedang bercinta saja?" tanya Arthur yang membuat Mona meng*lum bibirnya rapat-rapat.


Sedangkan Arthur terus menatapnya, sambil menunggu jawaban dari wanita itu.


"Ehm… kenapa Anda malah balik bertanya? Jawab dulu pertanyaan ku sebelumnya," ucap Mona yang terlihat bersemu.


Arthur tersenyum tipis melihat hal langka itu.


"Baiklah. Aku akan memanggilnya untuk mengobati lukaku agar cepat sembuh." Arthur bangkit duduk dan meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


"Setelah itu, akan kuhukum kau, karena sudah mengurung diri selama berhari-hari dan membuatku khawatir setengah mati," ucapnya sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Mona.


"Semoga Anda beruntung … Tu… an...," ucap Mona menantang.


Arthur pun seketika menerkam Mona yang masih berada di hadapannya, dan membuat keduanya jatuh dan terbaring. Arthur terus menggelitiki wanita itu hingga Mona tertawa terpingkal-pingkal.


"Hentikan… hahahaha… ampun, Kak… hahahahah…," teriak Mona di sela tawanya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih