DESIRE

DESIRE
Bab 125



Mona terpojok di antara tembok ruang makan dan dapur. Dia tak bisa lari lagi karena jarak antara dirinya dan pria bertopi itu tinggal beberapa meter lagi.


Nampak pria itu mengambil sesuatu dari balik saku belakang celananya.


Pisau, batin Mona


Wanita itu bergidik ngeri saat melihat benda yang tengah dipegang oleh pria di depannya


BUG!


Tepat saat itu, seseorang memukul pria bertopi dengan menggunakan sebuah vas bunga yang cukup besar, hingga membuat pria itu terhuyung.


"Mona, kau Tidak papa?" tanya Ema yang telah kembali berdiri setelah sebelumnya sempat terkapar di ruang tamu.


Belum sempat Mona menjawab, dia kembali terkejut saat pria itu hendak menyerang Ema.


CRASH!


Sebuah tusukan mendarat di perut wanita itu.


Mona menutup mulutnya melihat rekannya bersimbah darah. Dia melihat sebuah rolling pin yang ada di dekatnya. Si ratu es pun mengambil benda tersebut dan memukul tengkuk pria itu hingga jatuh tersungkur.


Mona memukuli pria bertopi beberapa kali. Dia mencoba menggoyang-goyangkan tubuh si peneror dengan menggunakan kaki. Wanita itu pun membuang benda yang dipegangnya seketika saat si pria bertopi sudah tak bergerak lagi.


"Em, Ema. Kau Tidak papa kan." Mona menghampiri Ema dengan panik.


Dia mencoba mengangkat kepala rekannya itu, dan meletakkan di atas pangkuannya. Terlihat darah segar sudah menggenang di bawahnya hingga mengotori pakaian Mona.


Rekannya itu masih bisa meresponnya, dan meraih tangan wanita hamil yag sudah menangis sesenggukan.


"Ce… cepet pa… panggil orang di… depan…," ucap Ema terbata.


"O… orang? Orang apa, Em?" tanya Mona tak paham.


"O… orangnya Will a… ada di… depan. Cepat!" seru Ema di tengah-tengah kesakitannya.


"A… aku tinggal dulu sebentar. Aku akan cari bantuan buat mu," ucap Mona.


Dia pun meletakkan kepala Ema ke lantai dan berlari menuju ke arah luar. Mona melihat ke sekelilingnya namun tak ada seorang pun yang tampak berada di sana.


Mana? Kata Ema ada orang-orangnya Will? batin Mona.


Dengan putus asa, Mona pun berteriak meminta pertolongan kepada siapapun, berharap ada yang mendengar jeritannya.


Tiba-tiba, beberapa orang muncul dari segala arah, dan menghampiri Mona.


"Ada apa, Nona Mona?" tanya Salah satunya.


"E… Ema… E… Erik…," ucap Mona panik.


Mendengar nama Erik disebut, dua orang dari mereka bergegas masuk dan yang lainnya mengamankan Mona.


"Cepat panggil ambulance!" pekik seseorang dari dalam apartemen.


Mereka pun meringkus pria bertopi dan membawa Ema untuk mendapatkan penanganan di runah sakit atas luka tusuk yang ia derita.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Arthur nampak berlari terburu-buru menuju ke arah sebuah ruang parawatan di bangsal VIP. Dia mendengar kabar dari sang asisten, bahwa Jeffrey telah tertangkap. Namun sempat terjadi keributan di dalam apartemennya yang mengakibatkan salah satu wanita yang ada di sana terluka.


Pria itu tak mendengar penjelasan William sampai selesai, hingga dia mengira jika Mona lah yang terluka.


Wajahnya begitu panik dan tak peduli lagi akan rapat penting yang tengah ia hadiri saat itu. Dia segera menuju ke rumah sakit tempat kedua wanita itu berada.


GREG!


Pintu terbuka, dan Arthur muncul dari sana. Mata pria itu membola dengan jantung yang hampir lepas dari tubuhnya, saat melihat bahwa Mona, wanitanya, terlihat baik-baik saja dan sedang duduk menelungkupkan wajahnya di samping seseorang yang tengah terbaring di ranjang pasien.


"Ema?" gumamnya saat melihat sosok yang terbaring itu.


Arthur pun berjalan menghampiri Mona, dan meraih pundaknya.


"Mona," pangil Arthur lirih.


Mona pun mengangkat wajahnya, dan jelas terlihat lingkar mata yang bengkak dan sembab. Hidungnya pun terlihat merah karena terlalu banyak menangis.


"Kak!" seru Mona.


"Sssttt … tenang yah. Sekarang semuanya sudah tidak apa-apa," ucap Arthur.


"Ta … tapi E… Ema … Ema bagaimana, Kak?" tanya Mona dalam isaknya.


"Kita akan berusaha untuk memberikan perawatan yang terbaik, supaya dia bisa sembuh, hem," ucap Arthur.


Pria itu mencoba menenangkan wanitanya, yang nampak begitu terguncang.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Di tempat lain, William dan anak buahnya, membawa pria bertopi yang menyerang Mona dan Ema ke dalam sebuah gudang bekas yang terabaikan.


Mereka mengikat kedua tangan pria itu ke atas dalam posisi berdiri dan sedikit menggantung hingga kedua kakinya pun harus berjinjit saat hendak menyentuh lantai.


William terlihat membuka jas hitamnya, dan menyerahkannya kepada salah sekrang anak buah yang berdiri tak jauh darinya.


Lengan bajunya ia gulung hingga siku, dan membuka dua buah kancing baju bagian atas yang sebelumnua terlihat rapi.


Dia pun berjalan menghampiri pria yang diduga Erik itu, sambil melepas ikat pinggangnya.


"Jadi, kau yang namanya Jeffrey, Kakak tiri Lisa?" tanya William.


Pria itu tetap diam dan tertunduk. Dia enggan menjawab dan membuat William pun menendang perutnya dengan keras.


"Aarrghhh!" jeritnya.


Will meraih puncak kepala yang tergantung itu dan menarik rambut pria tersebut ke belakang hingga wajahnya pun terangkat.


"Apa mau mu sebenarnya? Kenapa kau terus-terusan meneror Mona?" tanya William lagi.


Nampak pria itu balas menatap tajam mata William, tanpa ada rasa takut sedikit pun.


William pun melepas genggamannya dari rambut pria itu dengan kasar, hingga tubuhnya berayun ke kanan dan kiri.


Nampak ikat pinggang yang dipegang oleh William, mulai di lilitkan beberapa kali di telapak tangannya, dan memukulkannya ke udara hingga tercipta bunyi cambukan.


"Katakan, atau kau akan menyesal," seru William.


Pria bertopi itu justru meludah dan menatap William dengan nyalang.


"Baiklah. Kau yang mau," ucap Will.


Pria yang selalu tampil penurut dan sopan, kini terlihat begitu liar dan kejam. Dia memberikan cambukan kepada pria yang sudah melukai Ema itu berkali-kali hingga pingsan.


Tak sampai di situ, dia kemudian menyiram tubuhnya dengan air agar kembali sadar, dan memberinya cambjkan lagi hingga pria bertopi itu mau menjawab pertanyaannya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Malam hari, di rumah sakit, Mona yang tak mau pergi meninggalkan Ema pun akhirnya meminta Arthur untuk memberinya sebuah tempat tidur agar dia bisa menjaga rekannya itu yang masih belum sadarkan diri sejak siang.


"Kamu kenapa Tidak mau pulang sih? Aku akan minta orang untuk menjaga dia. Kamu juga harus jaga kondisi tubuhmu, apa lagi lil baby juga pasti sempat ikut ketakutan tadi," ucap Arthur yang tengah duduk di samping Mona dan mengusap lembut perut wanitanya.


"Dia sudah menolong aku, Kak. Aku hanya ingin gantian menjaganya saja. Coba kamu bayangkan kalau Tidak ada Ema, bisa saja sekarang aku yang terbaring di sana, atau bahkan lebih parah," ujar Mona.


"Tapi semuanya sekarang sudah selesai. Jeffrey sudah tertangkap, dan kamu bisa tenang," tutur Arthur.


"Yah… aku harap setelah ini dia tidak lagi menggangguku. Aku lelah terus-terusan ketakutan karena dia yang tiba-tiba muncul setelah menjualku dan sekian lama mengabaikanku," ungkap Mona.


Arthur memeluk erat wanitanga, dan memintanya untuk segera beristirahat.


"Kamu naiklah ke tempat tidur. Aku akan menemanimu hingga kamu terlelap," ucap Arthur yang memapah Mona menuju ke ranjangnya yang ada di samping Ema.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih