DESIRE

DESIRE
Bab 119



William nampak berjalan menuju ke suatu arah, masih di sekitar lantai di mana unit Arthur berada.


"Bagaimana? Apa ada yang mencurigakan? Aku dengar, tadi ada orang yang mengetuk pintu unit itu," ucap William pada seseorang yang terlihat memakai pakaian serba hitam.


"Memang tadi ada yang datang dan mengetuk pintu apartemen itu, dan kami mencoba menghampirinya karena curiga dengan penampilannya," tutur orang tersebut.


"Lalu bagaimana? Apa kalian mendapatkannya?" tanya William.


"Maaf, Bos. Dia sangat lihai. Padahal awalnya dia pun terkejut dengan keberadaan kami di sini. Namun, dia begitu cepat melarikan diri seolah dia sudah tau betul seluk beluk tempat ini," ungkap pria itu.


"Terus awasi tempat ini. Jika ada yang mencurigakan lagi, segera bereskan, dan jangan lupa laporkan padaku," seru William.


"Siap, Bos," sahut pria tadi.


William pun kemudian pergi dari sana dan kembali ke kantor menemui Arthur.


Setibanya di ruangan atasan, sang asisten pun memberitahukan semuanya kepada Arthur.


"Apa? Kenapa bisa sampai lepas sih? Dia hanya sendirian. Kenapa anak buah mu tak bisa menangkapnya," keluh Arthur yang masih terduduk lemas di kursinya.


Pikirannya tertuju pada Mona yang pasti kembali merasa ketakutan sekarang.


"Apa kau bawa rekaman CCTV-nya?" tanya Arthur.


"Iya, Tuan. Tapi hasilnya sama saja. Dia begitu pintar menyembunyikan wajahnya, sehinga tak tampak sama sekali di CCTV. Saya pun sudah menyusur jejaknya, namun dia menghilang di tempat yang tak memiliki kamera pengawas," tutur William.


"Hah… kau mengecewakanku, Will. Sekarang, aku mau kau tambah lagi orangmu untuk menjaga apartermen. Aku tak mau sampai ada yang membuat teror lagi di tempat tinggalku," seru Arthur.


"Baik, Tuan." William pun kemudian pergi dari ruang kerja Arthur.


Pimpinan PS group itu sungguh tak tau lagi harus bagaimana menghadapi teror yang terus mengincar Mona.


"Apa sebenarnya mau orang itu? Kalau uang, dia pasti akan minta secara terang-terangan kan. Aku rasa, ada hal lain yang lebih besar dari ini, yang sedang terjadi dan mengintai Mona. Aku ingin segera membebaskan wanitaku dari semua teror ini, tapi orang ini seperti belut. Susah sekali mendapatkannya," gumam Arthur.


Dia pun teringat akan Mona. Pria itu segera meraih ponsel, dan menghubungi wanitanya. Pada deringan pertama, panggilang seketika diterima.


"Halo, kak," sapa Mona.


"Halo, Mona. Kamu tak apa kan? Aku dengar tadi dari Will kalau …," cecar Arthur.


"Aku tak apa, Kak. Ada Ema yang selalu menemani aku. Kalau panik lagi, aku juga bisa minum obat dari dokter supaya kembali tenang kan," potong Mona.


"Hah… syukurlah. Apa sebaiknya kita pindah saja dari sana?" ajak Arthur.


"Pindah ke mana? Percuma, Kak. Dia akan selalu bisa mmenemukanku lagi nanti. Aku pun akan semakin tertekan bukan. Ingat, kata dokter aku harus bisa menghadapinya, bagaimana pun keadaannya," sahut Mona.


"Aku hanya ingin kamu merasa aman, Mona. Aku takut terjadi apa-apa denganmu dan anak kita," keluh Arthur.


Pria itu terlihat frustasi dengan kondisi saat ini yang terus saja mengancam wanita dan calon anaknya.


"Aku akan baik-baik saja selama ada kamu di sampingku, Kak," ucap Mona.


Arthur merasa tersentuh dengan perkataan Mona tadi. Dia pu tak bisa lagi memaksa wanitanya untuk pindah, meski itu adalah jalanyang terbaik untuk saat ini, agar bisa terhindar dari teror yang terus datang.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Beberapa hari kemudian, pagi itu Mona hendak membuatkan sarapan untuk Arthur. Namun, air di unit mereka mendadak mati. Untung saja, Mona dan Arthur sudah selesai mandi, meski Arthur masih berada di kamar dan sedang berganti pakaian.


"Yah… bagaimana ini? Apa sebaiknya pesan delivery order saja?" gumam Mona.


wanita itu pun berjalan ke arah meja makan, dan mengutak atik ponselnya. Dia nampak menggulirkan layarnya sambil memilih menu makanan yang akan dia pesan.


Saat itu, Arthur turun dan melihat Mona tengah fokus berselancar dengan ponselnya. Dia berjalan ke arah belakang dan memeluk pundak Mona sembari mengecup pelipis wanitanya.


"Ehm… Mommy-nya lil baby lagi apa?" tanya Arthur.


"Ya sudah. Nanti aku coba hubungi pengembang agar mereka segera panggil tukang ledeng. Mau pesan apa memangnya?" ucap Arthur.


Pria itu pun kemudian berjalan menuju ke kursinya, dan duduk di sana.


"Belum tau. Ehm… Kak, makan bebek panggang saja bagaimana?" seru Mona.


"Boleh. Apa saja yang penting kamu suka," sahut Arthur tersenyum.


"Oke deh," ucap Mona.


Dia pun kemudian memesan menu yang dia inginkan.


Tak berselang lama, pesannya pun datang. Bebek panggang yang masih hangat, lengkap dengan aneka lauk, sayuran, serta pelengkap lainnya.


"Ehm… Kak, aku ijin gendut yah. Soalnya, n*fsu makanku naik terus tiap harinya. Hehehehe…," seru Mona.


"Tak apa. Gendut juga enak kok. Empuk," sahut Arthur dengan kerlingan sebelah matanya.


"Issh… sudah mau makan, masih saja mesum," gerutu Mona.


Mereka pun kemudian sarapan sambil sesekali melempar candaan yang mewarnai suasana pagi itu.


Hingga selelai sarapan, Arthur yang sudah rapi masih belum mau meninggalkan Mona, sebelum Ema datang dan menggantikannya menemani Mona di apartemen.


"Kenapa dia lama sekali sih?" keluh Arthur yang merasa sudah menunggu terlalu lama.


"Kak, kalau memang buru-buru, lebih baik segera berangkat saja deh. Nanti juga paling dia ke sininya siangan. Ya, maklum lah, Kak. Dia kan baru pulang pas fajar, paling nanti bangun tengah hari," tutur Mona.


"Hah… besok, minta dia langsung ke sini saja begitu pulang dari tempat Mommy mu," seru Arthur.


"Yang benar saja, Kak. Masa dia ke sini pagi-pagi sih. Nanti kalau kamu lagi kangen lil baby pagi-pagi bagaimana? Memang Kakak bisa tahan?" cibir Mona.


"Waduh… iya, aku lupa soal itu. Bisa repot nanti," keluh Arthur yang tak tau lagi harus bagaimana berurusan dengan ladies satu itu.


"Lebih baik, Kakak berangkat saja. Kalo si kucing… eh… Ema datang, dia juga pasti chat aku dulu kok," seru Mona.


"Tidak… Tidak… aku tunggu dia saja," ucap Arthur bersikeras.


"Kak, kamu harus profesional dong kalau kerja. Tidak boleh begini. Katanya ingin cepat-cepat bisa pegang kendali penuh di sini. Kalau kinerjanya seperti ini, bagaimana bisa cepat-cepat menikahi ku," sindir Mona.


"Hah… kamu itu, pintar sekali buat orang bingung. Ya sudah, aku tunggu setengah jam lagi. Kalau dia tak datang juga, aku suruh Will ke sini untuk menjaga mu," ujar Arthur.


"Lah terus, Kakak di kantor bagaimana kalau tak ada Will? Memangnya tak apa?" tanya Mona.


"Aku juga tak yakin. Tapi, dari pada aku khawatir padamu. Kamu diajak ikut ke kantor tak mau gara-gara takut lihat taman itu. Diajak pindah juga tak mau, katanya malah tambah beban pikiran saja. Terus, aku harus bagaimana?" keluh Arthur.


Mona tercengang mendengarkan perkataan Arthur barusan. Dia nampak mengepalkan tangannya, dan menunduk.


"Kalau memang ini terlalu membebani, aku bisa pergi kok dari sini. Lagi pula, ini urusanku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya dengan mu," ucap Mona dengan suara bergegar.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih