DESIRE

DESIRE
Bab 8



“LISA!” pekiknya yang terdengar begitu antusias.


Mona yang tengah asik menikmati makanan, mendadak menghentikan gerakan tangannya, ketika mendengar nama yang tak ingin lagi ia dengar.


"LISA," wanita itu berlarian menghampiri tempat di mana Mona dan Joshua berada.


"Hai... Kau di sini rupanya? Benarkan ucapanku, kalau kita akan segera bertemu lagi," ucap Jessica dengan mata berbinar.


"Hai, Jessica,"


"Jessy... panggil aku Jessy saja," potong Jessica saat Mona memanggilnya dengan nama depannya.


"Baiklah, Hai... Nona Jessy."


"Ehm ... ehm ...," Jessica membolak balikan jari telunjuk di depan wajahnya, pertanda ketidak setujuan.


Mona pun mengerutkan alisnya, merasa bingung dengan apa yang diinginkan perempuan di depannya itu.


"Jangan gunakan kata 'Nona', cukup 'Jessy' saja," sanggah Jessica mengoreksi panggilan Mona kepadanya.


Mona pun memutar bola matanya, tanda jengah.


Terserah, rutuknya dalam hati.


"Hai, Jessy. Lalu namaku Mona, bukan Lisa," timpal Mona.


Jessica tersenyum senang mendengar panggilan itu. Ia seolah tengah bertemu dengan teman lamanya, yang begitu ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya.


Perempuan itu sama sekali tak peduli dengan perlakuan Mona yang selalu dingin setiap kali mereka bertemu. Apalagi, saat dia salah sebut nama, dari Mona menjadi Lisa.


"Hai, Tuan Chou," terdengar sebuah suara yang cukup mengganggu pendengaran Mona, hingga ia pun malas untuk melihat ke arah sumber suara.


"Oh... hai, Tuan Peterson. Sebuah kebetulan bisa bertemu Anda di sini juga. Dunia seakan begitu sempit bukan," sambut Joshua atas kehadiran pria tinggi bertubuh kekar, yang dengan jelas terlihat dari balik baju pantainya.


"Boleh kami bergabung?" tanya Arthur.


"Mari… mari, silakan duduk bersama kami," ajak Joshua.


Pria paruh baya itu mempersilakan ketiga orang tersebut untuk duduk satu meja bersamanya, dan tentu saja hal itu membuat Mona semakin jengah.


Namun, sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa kesalnya, demi menjaga nama baik Joshua di depan rekan bisnisnya.


"Nona Jessy, sepertinya Anda selalu ada di mana pun Tuan Peterson berada. Apa kalian sangat dekat?" tanya Mona yang bermaksud menyinggung Arthur, yang selalu dikelilingi oleh kaum hawa.


"Oh... tidak juga. Kebetulan aku suka dengan negara ini, jadi aku memintanya untuk mengajakku turut ke mari," tutur Jessica sambil melihat-lihat buku menu.


"Saya pilih yang ini saja. Kak, kamu mau yang mana?" Jessica berbicara dua arah, dengan pelayan dan juga dengan Arthur.


"Kak?" gumam Mona dengan ekspresi bingung, menatap kedua orang yang duduk berhadapan dengannya.


"Mereka kakak beradik, Mona. Apa aku belum memberi tahumu tentang hal ini? Oh … tunggu…," Joshua mendekatkan wajahnya ke telinga Mona.


"Apa mungkin kau cemburu?" bisiknya kemudian.


"Hah... apa yang kau katakan itu? Lucu sekali. Aku? Tidak... Tidak...," sanggah Mona cepat.


"Terlihat jelas, Mona. Hahaha...," Joshua menarik kembali wajahnya menjauhi wanita cantik itu.


Mona diam saja mendengar tawa mengejek dari Joshua. Selama sisa makan siang mereka, wanita itu lebih banyak diam dan mendengarkan percakapan yang terjadi di antara Joshua dan juga Arthur.


Dia hanya menyahuti seperlunya pertanyaan-pertanyaan tak penting yang dilontarkan oleh Jessica padanya.


Mona benar-benar merasa terganggu dengan keberadaan kedua orang di hadapannya itu.


"Oh iya, kalian sampai kapan akan berada di tempat ini? Apa akan menginap juga?" tanya Jessica disela-sela makannya.


"Kami akan pulang ke negara kami malam ini, Nona Peterson," sahut Joshua.


"Wah... sayang sekali. Harusnya kalian menginap di sini dulu. Apa kalian tau, saat malam tiba, di tempat ini suasananya akan jauh berbeda," tutur Jessica.


"Bagaimana, Mona?" tanya Joshua seolah meminta pendapat kepada Mona.


"Bukankah urusan kita di sini sudah selesai, Josh? Sebaiknya kita segera pulang dan melanjutkan rutinitas masing-masing," seru Mona sambil tetap menyantap makanannya dalam ketenangan.


"Aaaah … hahaha … kau benar, Mona. Hehehe …," Joshua tertawa kaku saat mendengar penuturan Mona, yang seakan melemparkan kembali kata-kata yang sebelumnya ia ucapkan sendiri.


"Ehm… sayang sekali. Padahal, aku masih ingin berlama-lama bersamu, Lisa," ucap Jessica


"Mona. Namaku Mona, Nona," sela Mona memotong ucapan Jessica dengan penuh penekanan, karena sangat terganggu dengan panggilan yang ia tujukan pada dirinya.


"Oh, maaf. Aku selalu lupa. Tapi, bisa kah aku memanggilmu dengan 'Lisa' saja? Bukankah terdengar bagus?" ucap Jessica dengan ringannya.


Mona mulai mengepalkan tangannya, yang berada di bawah meja. Joshua melihat hal itu, dan segera menepuk-nepuk pahanya pelan.


"Jessy, sebaiknya kamu jangan mengganti nama orang seenaknya," ujar Arthur kepada sang adik dengan ekspresi datar, sambil terus menikmati hidangan yang tersaji di hadapannya.


"Baiklah," sahut Jessy mengedikkan bahunya dan kembali makan dengan tenang.


Setelah acara makan yang sangat tidak nyaman untuknya, kini Mona memilih untuk berjalan seorang diri di sepanjang bibir pantai, yang terpisah dengan area resort.


Awalnya, Joshua memintanya untuk istirahat, namun pikirannya dipenuhi oleh hal aneh yang sangat tidak penting baginya.


Kaki mulus yang hanya tertutup sehelai kain pantai tipis, terus melangkah menyusuri garis pantai.


Jadi, dia kakaknya? Tapi setahuku, namanya Arthur. Apa mungkin itu nama keluarga mereka? Benar, kalau dipikir-pikir aku memang gak pernah tahu nama belakang mereka, gumamnya dalam hati.


Sejak ia mengetahui, jika Arthur yang sangat menyebalkan baginya adalah kakak dari Jessica, yang selalu memanggilnya dengan nama 'Lisa', pikirannya seolah kembali ke masa dulu.


Masa di mana ia sempat berkawan dengan seorang gadis kecil yang ceria, dengan sang kakak yang juga sangat penyayang.


Pantai dengan pasir putih, dan tebing karang tinggi. Langkah wanita itu terhenti saat hamparan batu karang, yang seolah tertanam di bibir pantai, menghalangi jalannya. Mona pun duduk di salah satu batu yang berada paling dekat darinya.


"Hah...,"


Terdengar embusan nafas yang begitu berat dari mulut wanita cantik itu.


Matanya menatap cakrawala yang membentang di hadapannya. Laut biru bening yang sungguh indah, berayun-ayun seolah merayunya untuk ikut menari bersama.


"Indah bukan?"


Mona seketika menoleh, ketika mendengar suara seseorang yang tiba-tiba telah berada di dekatnya.


Matanya membelalak, dan segera bangkit dari duduknya.


"Sedang apa Anda di sini, Tuan?" tanyanya dengan tatapan tak suka.


Pria itu berjalan dan menduduki batu yang tadi Mona tempati. Ia menumpukan kedua tangannya ke belakang.


"Aku hanya sedang menikmati pemandangan indah di tempat ini," ucapnya sembari memandang lurus ke tengah laut.


"Kalau begitu, silakan nikmati waktu Anda. Saya permisi," ucap Mona dingin, lalu kemudian berbalik dan berjalan menjauh.


"Maafkan adikku," seru Arthur dengan sedikit berteriak, agar suaranya terdengar oleh wanita itu.


Mona menghentikan langkahnya, dan berbalik menoleh ke arah pria tersebut.


"Dia hanya sangat senang melihat orang yang mirip dengan temannya," ucap Arthur lagi, sembari menoleh dan menatap ke arah Mona.


"Kebetulan, nama kalian benar-benar serasi seperti nama satu orang. Kua tau kan, Mona dan Lisa. Jadi, mungkin dia mengira kalau kalian adalah orang yang sama," pungkasnya


Mona hanya diam mendengarkan perkataan Arthur, pria yang sejak pertemuan awal mereka, sudah memberikan kesan buruk untuknya. Dia kembali berbalik, dan melanjutkan langkahnya.


"DIA SANGAT MERINDUKAN LISA!" teriak Arthur hingga membuat Mona membeku.


"Dia sangat merindukan temannya itu. Dia selalu meminta orang tua kami agar mau membawanya pulang ke negara asal, tapi karena sesuatu hal, kami tak bisa mengabulkan permintaannya," lanjutnya.


Arthur kembali menatap ke depan, memandang lurus ke arah cakrawala. Tiupan angin menghempaskan rambut depannya hingga menutupi sebelah mata.


"Bisakah kamu menjadi temannya?" tanya Arthur di akhir kalimatnya.


"Mana berani saya yang hanya orang rendahan, menjadi teman dari seorang putri pemilik perusahaan retail terbesar di benua ini. Itu hal yang mustahil, Tuan. Kecuali jika nantinya, saya hanya akan diperlakukan sebagai seorang pesuruh saja," ucap Mona dengan nada yang terdengar begitu dingin.


Wanita cantik nan seksi itu kemudian berlalu pergi dari tempat tersebut.


Arthur tak lagi menginterupsi kepergian wanita cantik itu. Dia tetap duduk di sana seorang diri, sambil menikmati hembusan angin yang terus memainkan rambutnya hingga berantakan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih