DESIRE

DESIRE
Bab 41



Mona mencoba mengatur nafas, dan menormalkan debaran di dadanya akibat ulah Arthur, yang benar-benar sudah membuatnya lepas kendali.


"Gila! Bagaimana dia bisa melakukan hal ini? God, bagaimama ini? Apa Dia tahu kelemahan ku?" Mona duduk sembari mengusap wajahnya yang masih memerah.


Ia menyadari jika saat ini, tubuhnya sudah setengah telan*jang, dengan bagian atas yang robek dan merosot ke bawah, dan bagian bawah yang terbuka lebar. Hanya perutnya saja yang masih tertutup sisa bajunya.


"Breng*sek! Apa ini?" Mona memekik kaget, ketika melihat kedua buah dadanya berubah warna menjadi totol-totol merah, akibat ulah Arthur yang telah meninggalkan banyak bekas kecupan di sana.


"Si*l! Kenapa aku sampe tidak nyadar? Ini pasti lama hilangnya. Aaarrgghhhh…," keluh Mona.


Untuk seorang wanita malam, kiss*mark adalah hal terlarang yang tidak boleh ada di atas kulit mereka.


Tanda merah itu seperti sebuah stempel, atau tanda kepemilikan. Sedangkan wanita malam adalah wanita yang bebas dinikmati oleh siapa saja. Tidak ada yang bisa memiliki mereka sepenuhnya.


Bahkan, jika mereka sampai lupa diri dan membiarkan tamu mereka memberikan tanda itu, maka selama tanda itu belum hilang, maka mereka tak bisa melayani siapa pun.


Karena apa? Itu menandakan jika mereka adalah sebuah barang bekas, walau pun sudah barang tentu jika wanita malam adalah sisa orang. Namun dengan adanya tanda merah di kulit mereka, sangat memperjelas status mereka, dan sebagian pria merasa jijik akan hal itu.


Mona bangkit berdiri dan berjalan ke arah sofa, dan mengambil beberapa lembar tisu yang terdapat di atas meja.


Wanita itu lalu membersihkan miliknya yang sangat basah, akibat ulah Arthur barusan.


"Aku yakin, di dalam dia pasti sedang bermain solo. Heh… dasar maniak. Mau berpura-pura keren, hah?" gerutu Mona yang menerka tentang apa yang tengah dilakukan Arthur di dalam sana.


Setelah selesai mengelap miliknya, Mona membuka kotak yang tadi ditunjuk oleh Arthur, yang berada di atas meja.


"Baju model apa ini?" Mona mengangkat baju yang sudah disiapkan oleh Arthur.


Tampak sebuah setelan piyama tidur, dengan motif karakter kuda poni berbahan katun. Baju dan celana semuanya panjang, dan sangat longgar jika dipakai oleh Mona.


"Apa dia serius meminta ku memakai pakaian seperti ini di waktu kencan?" tanya Mona yang berdialog seorang diri.


Sempat berpikir agak lama, akhirnya dia pun mulai melepaskan pakaiannya yang sudah sobek, dan menggantinya dengan piyama lucu tersebut.


"Dari pada memakai baju robek seperti orang gila, lebih baik memakai ini saja," gumam Mona sembari mengenakan piyama pemberian Arthur.


Wanita itu lalu mengambil sebungkus ro*kok beserta pemantik dari dalam tasnya yang tergeletak tak jauh dari posisinya saat itu. Dia mengambil sebatang dan mengapitnya dengan jari tengah dan telunjuk, lalu kemudian menyulutnya.


Bibir seksinya mulai menyesap bahan beracun itu dengan nikmat dan menghembuskan asapnya yang mengepul di dalam kamar hotel.


Kakinya ia angkat dan diletakkan lurus di atas meja, dengan tangan kirinya yang berada di depan dada untuk menyangga lengan kanan yang tengah mengapit sebatang ro*kok.


Setelah cukup lama, dan ro*kok Mona hampir habis, Arthur keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bath robe.


Mona tersenyum miring saat melihat pria itu berjalan ke luar.


Heh… benar bukan, dia pasti bermain solo. Sok keren, batin Mona yang menertawakan Arthur.


Pria tersebut berjalan menuju sofa, di mana Mona tengah duduk bersandar, dengan kaki yang masih berada di atas meja.


Dengan gerakan tiba-tiba, Arthur memajukan wajahnya hingga tepat berada di samping telinga Mona, dengan tangannya yang sudah melingkar di belakang sandaran sofa wanita itu.


"Apa hukuman yang tadi belum cukup, Hah?" ucap Arthur yang sontak membuat mata Mona membulat.


Wanita itu pun menoleh, dan pandangan mereka bertemu. Mona membeku, kala nafas segar yang keluar dari mulut Arthur menerpa kulit wajahnya.


Sedangkan Arthur, menirukan gaya Mona saat menyesap ro*kok dan meniupkan nafasnya ke wajah Mona.


Entah sihir apa yang dilakukan Arthur, hingga Mona yang seorang pembangkang, tiba-tiba saja langsung berdiri dan menoleh ke kanan dan kirinya, sambil mencari sesuatu.


Buru-buru dia berjalan ke sana, dan mematikan sisa ro*kok yang masih menyala di tangannya.


Bahkan, tanpa Arthur perintah pun, kini Mona sangat cepat paham dengan apa yang diperintahkan. Pria itu pun tersenyum tipis melihat tingkah Mona yang mendadak jadi penurut.


Kena kau sekarang. Aku tau kelemahan mu, Lisa, batin Arthur yang tersenyum ke arah wanita cantik itu.


Setelah mematikan rokoknya, Mona berjalan ke arah jendela kamar, dan membukanya lebar-lebar.


"Apa kau mau nyamuk-nyamuk masuk ke dalam sini, Nona?" tanya Arthur sambil berjalan menuju ke arah Mona.


"Biarkan sebentar, agar asapnya keluar semua, Tuan," jawab Mona.


Kini, Arthur sudah berada di samping Mona, dan kembali dengan tiba-tiba dia menoleh, lalu membungkukkan badannya agar sejajar dengan wanita itu, hingga wajah mereka kembali sangat dekat dan hampir tak berjarak.


Mona yang kaget pun sontak memundurkan wajahnya, hingga dia hampir terjungkal ke belakang.


"Ah…," pekik Mona saat hendak terjatuh.


Beruntung, Arthur dengan sigap meraih pinggang ramping wanita cantik itu, dan menariknya ke depan hingga tubuh mereka kini tak berjarak lagi.


Mona memegangi lengan Arthur yang masih melingkar di pinggangnya, seraya hendak melepaskan diri. Namun, Arthur kembali memajukan wajahnya dan membuat Mona melengos, memalingkan wajah.


"Panggil aku dengan yang tadi," ucap Arthur datar.


"Panggil apa?" tanya Mona yang berusaha menutupi kegugupannya.


"Apa kau lupa? Haruskah ku ingatkan?" tanya Arthur yang membuat Mona kembali menoleh.


Pandangan mereka bertemu, dan lagi-lagi Mona bagai tersihir oleh pesona Arthur. Wanita itu membeku, dengan perasaan berdebar kala merasakan nafas berbau mint yang keluar dari mulut Arthur, kembali menerpa kulit wajahnya.


Arthur pun dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke samping, mengarah ke telinga Mona dan membisikkan sesuatu.


"Aaaaaahhhhhh… Kak… Aaaaahhhh…," ucap Arthur, tepat di depan lubang telinga Mona, yang sukses membuat mata wanita itu membola.


Rona merah pun seketika muncul di pipi Mona akibat perkataan Arthur, yang mengingatkannya akan hal memalukan yang baru saja terjadi.


Mona menggigit bibir bawahnya, seraya memejamkan mata, dan berusaha menahan rasa malu yang menyerangnya.


Arthur tersenyum tipis, saat melihat tingkah Mona, dan melepaskan lengannya dari pinggul wanita tersebut.


Bertepatan dengan saat itu, pintu kamar diketuk, dan Arthur pun berjalan menuju ke depan, sambil mengulum senyumnya.


Kau lucu sekali, Lisa. Aku sangat gemas melihatnya, batin Arthur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih