DESIRE

DESIRE
Bab 34



Beberapa waktu yang lalu, Arthur masuk ke dalam apartemennya, ketika mendengar pintu geser kamar Mona telah menutup.


Ia duduk di sofa yang terdapat di dalam kamar tidurnya.


Pikirannya kembali ke saat di mana ia masih berada di dalam kamar wanita dingin tersebut.


"Rupanya, kamu masih menyimpan benda itu. Bukankah itu berarti, kau masih mengingat ku, Lisa. Kau masih ingat semuanya. Tapi kenapa kau sangat bersikeras untuk tidak mengakuinya?" pria itu memijit pangkal hidungnya, karena terlalu pusing memikirkan gadis kecilnya dulu, yang kini telah berubah menjadi wanita dingin, sedingin dan sekeras gunung es.


Arthur terdiam cukup lama, hingga sebuah panggilan menyadarkannya dari lamunan.


Ia pun bangkit dan berjalan menuju nakas, dan mengambil hand phone yang tengah diisi dayanya.


"William?" gumamnya seraya melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Segera, ia pun menggeser tombol hijau ke kanan, untuk menerima panggilan tersebut.


"Halo, Will. Ada apa?" tanya Arthur langsung.


"Maaf, Tuan. Ada rapat dadakan dengan para anggota dewan direksi, terkait kepindahan mendadak Anda ke negara ini. Bisakah Anda segera datang ke kantor?" tutur William kepada atasannya.


"Hah… ada-ada saja para orang tua itu. Masalah gampang seperti ini, kenapa malah mereka buat rumit begini," gerutunya.


"Tuan. Halo, Tuan. Anda bisa datang kemari bukan?" tanya William lagi, karena tak kunjung mendengar jawaban pasti dari bosnya tersebut.


"Baiklah. Aku akan pergi sebentar lagi ke sana," kata Arthur malas.


"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya akan menunggu Anda," ucap William.


Tanpa menjawab lagi, Arthur pun segera memutuskan sambungan telepon sang asisten.


Ia kemudian beranjak dari tempatnya, dan berjalan menuju walk in closet, untuk mengganti pakaian santainya dengan yang lebih formal, karena sebelumnya ia hanya memakai kaus oversize dan celana bahan pendek selutut, untuk bersantai di dalam hunian pribadinya.


Arthur hanya mengenakan kemeja biru langit dengan aksen garis-garis halus, dipadu dengan celana panjang bahan berwarna navy, tanpa memakai jas dan juga dasi.


Tak ketinggalan sepatu sneaker yang ia pilih untuk out fit-nya saat itu, agar lebih santai namun tetap terkesan formal.


Ia lalu melumuri rambutnya dengan sedikit gel pomade, dan menyisirnya menggunakan jari.


Kini, ia pun berjalan keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju lantai bawah unitnya. Ia menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja ruang tamu.


Ketika Arthur hendak membuka pintu, ia mendengar pengunci pintu otomatis di apartemen sebelahnya berbunyi, pertanda Mona juga hendak pergi keluar.


"Mau ke mana dia sore-sore begini?" gumamnya yang kemudian menyusul keluar.


Saat pria itu keluar, Mona sudah berada di depan pintu lift sedang menunggu lift itu datang.


Ia pun lalu menghampiri wanita tersebut namun terlambat, karena lift datang dan dengan cepat pintu tertutup, sebelum Arthur tak mampu menyusulnya.


"Hah… ya sudahlah. Mungkin dia hanya sekedar cari makan saja," gumamnya lagi sembari menekan tombol turun di depan pintu lift.


Sesaat kemudian, lift terbuka dan ia pun bergegas turun ke area parkir basement.


Ia memarkirkan mobilnya berdekatan dengan milik Mona, karena dia memang sengaja ingin selalu dekat dengan wanita itu.


Ketika dia tengah berjalan menuju tempat mobilnya berada, dari kejauhan, dia melihat seorang pria dengan setelan hitam, mengenakan penutup wajah, tengah berjalan mengendap-endap di belakang seorang wanita, yang sangat ia kenal.


Arthur pun segera berlari. Namun sayang, si pria asing telah berhasil membekap wanita itu dengan sebuah sapu tangan yang telah dilumuri obat bi*s.


Mona nampak melakukan perlawanan, namun karena tenaganya kalah jauh dengan pria tak dikenal itu, ia pun akhirnya berhenti dan perlahan melemas, hingga terkulai lemah.


Wanita itu lalu terjatuh ke lantai, dan mulai tak sadarkan diri.


Sedangkan Arthur, dia berusaha menyerang balik penyerang tadi. Namun, orang itu buru-buru kabur kala melihat kehadiran Arthur yang tiba-tiba berada di tempat tersebut.


Arthur pun segera menghampiri Mona, dan mencoba membangunkannya dengan menepuk-nepuk pipinya agak keras.


"Lisa! Lisa! Bangun, Lisa!" panggil Arthur.


Pria itu panik bukan main, hingga ia pun segera mengangkat tubuh wanita tersebut lalu membawanya kembali ke atas.


Ia kemudian membawa wanita itu masuk ke dalam apartemen miliknya, karena ia tak memiliki key card apartemen Mona. Bisa saja ia mencarinya di dalam tas Mona, namun itu bisa memakan waktu lebih lama.


Setelah berhasil masuk, Arthur segera merebahkan tubuh lemah Mona ke atas ranjangnya. Ia lalu cepat-cepat menelepon seseorang dengan tergesa-gesa.


"Halo, Dok. Tolong ke apartemen The royal blossom sekarang, lantai dua puluh empat, unit nomor 245 A. Ada kondisi darurat. Tolong, Dok," seru Arthur yang menghubungi dokter pribadi keluarganya, yang telah mengabdi lama kepada keluarga Peterson.


"Baik, Tuan. Saya akan segera ke sana. Tunggu sekitar lima belas menit lagi," sahut Dokter Anderson, seorang dokter yang telah berusia lanjut dan masih aktif dalam praktek medisnya.


"Tolong cepat, Dok," perintah Arthur.


Pria itu lalu menutup sambungan teleponnya dengan Dokter Anderson, dan kembali menggulirkan layar ponselnya. dia tengah mencari kontak asisten pribadinya, dan kembali melakukan panggilan.


"Halo, Will. Aku tidak bisa ke sana sekarang. Ada hal yang lebih darurat, yang mengharuskanku tetap tinggal di apartemen," ucapnya.


"Tapi, Tuan. Bagaimana soal rapat dengan para anggota dewan?" tanya William yang terdengar cemas.


"Beritahukan kepada mereka, bahwa aku akan menemui mereka semua besok," ucap Arthur sambil memijit pangkal hidungnya, untuk mengurangi rasa pening akibat masalah yang datang bersamaan ini.


"Tapi, Tuan. Bagaimana kalau mereka marah dan melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan? Anda tahu betul jika mereka tak suka dengan keberadaan Anda, yang dinilai kurang serius dalam bekerja. Anda harus datang dan meyakinkan mereka, Tuan. Anda …," cerocos William tanpa tahu apa yang tengah dialami oleh bosnya.


"WILL!" bentak Arthur yang geram dengan ocehan William.


"Katakan pada mereka untuk datang besok. Di sini, aku bosnya. Kalau tak suka, silakan mereka pergi dari PS group sekarang juga. Aku bisa bekerja tanpa adanya mereka sekali pun. Katakan itu pada mereka," titah Arthur dengan nada tinggi, membuat nyali William untuk terus mendesak bosnya menciut.


"Ba… baik, Bos."


Tanpa menjawab lagi, Arthur segera memutuskan sambungan teleponnya dengan William.


Pandangannya lalu tertuju pada wanita yang tengah tak sadarkan diri, dan terbaring di atas kasurnya.


Ia berjalan mendekat, dan duduk di tepi ranjang. Arthur meraih tangan Mona, dan menggenggamnya erat.


"Apa yang sudah menimpamu hingga membuatmu jadi seperti ini? Apakah aku salah satu penyebab membekunya hatimu, Lisa?" gumam Arthur sembari mengusap lembut pipi Mona.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih