DESIRE

DESIRE
Bab 75



"Jangan sentuh wanitaku!" seru Arthur yang baru saja tiba di sana.


"Kak." Mona terkejut dengan kehadiran pria itu di sana secara tiba-tiba.


Wanita tersebut seketika menegakkan posisi duduknya.


Arthur menghempaskan tangan Gerald dan meraih tangan Mona. Pria itu pun menarik wanitanya dan membawanya pergi dari depan bar Elliott.


Di saat mereka sampai di tengah lantai dansa, langkah Arthur terhenti karena Mona menghentikan langkahnya.


Arthur menoleh dan melihat ternyata Gerald tengah memegangi sebelah tangan Mona yang satunya. Kini, posisi wanita itu berada di tengah kedua pria tersebut, dengan kedua tangan yang masing-masing ditarik oleh mereka.


"Lepaskan tanganmu darinya!" perintah Arthur yang terlihat geram.


"Kau yang lepas. Tidak pantas seorang pria bersikap kasar pada seorang wanita," balas Gerald tak kalah sengit.


"Kauโ€ฆ beraninya!" ucap Arthur yang kemudian melepas tangan Mona dan maju ke arah Gerald.


Mona melihat gelagat tak baik dan menghempaskan tangannya dari genggaman Gerald.


"Kak." Mona berdiri menghadang jalan Arthur, dan menahan dada pria itu agar tak melangkah lagi.


"Minggir!" seru Arthur.


"Kak. Kita bisa bicarakan ini di rumah," ucap Mona.


Arthur tak menyahut. Tatapannya masih tajam menikam mata Gerald, yang tak kalah garang menatap Arthur.


"Ayo pulang!" perintah Arthur yang berbalik dan berjalan cepat mendahului Mona.


Mona menoleh ke arah Gerald, yang masih berdiri di belakangnya.


"Gerry, maaf. Aku harus pulang sekarang," ucap Mona yang merasa tidak enak dengan pria itu.


"Baiklah. Tapi, bolehkah aku meminta nomormu?" tanya Gerald.


"MONA! CEPAT!" pekik Arthur yang kembali lagi dan melihat Mona masih berbincang dengan pria asing itu.


"Ehm... kau bisa tanyakan pada Elliott. Dia tau nomorku," ucap Mona kepada Gerald seraya berlalu dari sana.


Mona berjalan cepat menghampiri Arthur yang terlihat terus menatap tajam ke arah pria, yang masih berdiri di tengah lantai dansa.


"Ayo, Kak!" ajak Mona sambil merangkul lengan Arthur dan membawanya keluar.


Gerald memandang kepergian kedua orang itu. Namun, tiba-tiba terbersit sebuah ingatan tentang sebuah kejadian di masa lalu.


"Yah, benar... malam itu. Malam saat kau mabuk, aku bertemu denganmu, dan juga pria tadi yang mengaku suamimu. Yah... aku ingat sekarang, Mona. Aku ingat kau lah si wanita piyama itu," gumam Gerald saat kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan si ratu es.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Sepanjang perjalanan, Arthur terus diam sambil mengemudikan mobilnya. Pria itu nampak begitu marah karena mendapati Mona yang terlihat dekat dengan pria lain.


Sedangkan Mona, dia hanya bisa diam, sambil mencari cara untuk meredam amarah Arthur.


Sesampainya di apartemen, Arthur keluar dari mobil begitu saja, dan meninggalkan Mona. Wanita itu pun segera keluar dan berjalan menyusul pria itu menuju ke lift.


Begitu tiba di apartemen, Arthur langsung masuk begitu saja, dan lagi-lagi Mona buru-buru menyusulnya sebelum pintu tertutup.


"Kak, aku bisa jelaskan." Mona berjalan terseok-seok mengikuti langkah kaki Arthur yang lebar.


"Kak!" panggil Mona.


Tiba-tiba, Arthur berhenti dan berbalik, membuat Mona pun tak sengaja menabrak tubuh kekar itu. Mona mundur beberapa langkah karena benturan yang mengenai Arthur.


Pria itu tak berkata apapun. Dia berjalan mendekat ke arah Mona, dan seketika mendorong si ratu es hingga jatuh di atas sofa ruang tengah.


"Ah...," pekik Mona.


Pria itu langsung mengungkungnya, dan menyambar pundak yang tadi dipegang oleh Gerald.


"Eeeehhhhhmmmm...," Arthur menjil*t dan menyesapnya hingga meninggalkan bekas merah.


"Di mana lagi dia menyentuhmu? Katakan!" seru Arthur yang menatap tajam ke arah Mona.


"Kak, aku... eeeeehhhhmmmm...,"


Arthur tiba-tiba menyerang pundak sebelahnya, dan kembali menjilati dan menyesap hingga memerah.


"Tidak, Kak. A... eeeeehhhhmmmmm...,"


Mona kembali dibuat bungkam, kali ini oleh ciuman kasar yang mendarat dibibirnya. Gigitan-gigitan kecil membuat wanita itu mengerang dan membuat bibirnya terasa kebas.


"Hah... hah... Kak, aku tidak ada apa-apa dengan dia." Mona mencoba menjelaskan di sela kemarahan Arthur.


"Tidak ada apa-apa? Kenapa kalian terlihat sangat akrab, hah?" tanya Arthur.


"Eeeehhhhmmmm...,"


Mona kembali bungkam oleh bibir Arthur. Pria itu benar-benar marah. Ciumannya tak terasa lembut sedikitpun.


Gawat! Dia marah besar. Aku harus gimana? batin Mona yang terus meronta di bawah kungkungan Arthur.


Wanita itu memukul-mukul punggung Arthur, berharap pria tersebut mau melepaskan pagutan yang membuat bibirnya seperti robek dan terasa perih.


"Katakan siapa dia?" tanya Arthur.


"Aku sudah katakan... eeeeehhhhhmmmmm...,"


Mona kembali dibungkam. Pria ini seakan tak memberikan kesempatan Mona untuk menjelaskan. Arthur terus mengeksplor setiap inci kedalam mulut wanita itu.


Tidak bisa. Kalau aku terus melawan, bisa-bisa aku yang habis malam ini. Sebaiknya, ku ikuti saja permainannya, batin Mona.


Mona pun mengendurkan cengkramannya di punggung Arthur, dan beralih melingkarkan di leher pria itu. Dia mulai membalas ciuman Arthur, dan ikut membelit lidah pria yang sedang emosi itu.


Lambat laun, ciuman Arthur yang kasar, berubah semakin lembut, seiring dengan balasan yang Mona berikan.


Bagus. Dia sudah lebih baik sekarang, batin Mona yang terus membalas setiap gerakan bibir dan lidah pria tersebut.


Lama mereka berciuman, Akhirnya Arthur pun melepaskan bibir Mona, yang telah mati rasa karena serangan yang sebelumnya.


Mona menatap sayu ke arah Arthur, dan membelai lembut telinga pria itu, dan menyusurinya hingga rahang dan dagu. Ia mengusap sisa basah di bibir Arthur dengan ibu jarinya.


"Aku dan dia hanya bertemu beberapa kali, dan ini yang terlama. Kami hanya mengobrol biasa, dan tak ada apapun diantara aku dan pria itu, Kak." Mona membelai surai yang menutupi kening Arthur, menjuntai hingga ke alis.


"Tapi, kau terlihat sangat dekat dengannya tadi, dan aku tak suka," ucap Arthur yang terdengar merengek.


Mona tersenyim tipis, sambil menangkup kedua pipi pria besarnya itu.


"Kak, apa kau lupa apa pekerjaanku, hem? Aku dituntut agar selalu dekat dengan tamuku, melayani mereka dengan baik, sehingga mereka nyaman dan betah berada di sana. Aku hanya terbiasa dengan hal itu, jadi itu pun berlaku padanya, meski aku tidak sedang bekerja," ucap Mona dengan pandangan yang begitu menghipnotis Arthur, hingga pria itu hanya bisa diam.


"Tapi aku tidak suka kau seperi itu dengan pria lain, Mona. Aku tidak suka," rengeknya, sambil menjatuhkan kepala di ceruk leher Mona.


Wanita itu pun memeluk pria besarnya, dan menepuk-nepuk punggung Arthur, mencoba agar pria itu merasa tenang.


Bagus. Semua sudah selesai sekarang. Game over, dan aku yang menang, batin Mona dengan seringainya di balik punggung Arthur.


"Kau jangan dekat-dekat dengan pria lain lagi, hem," rengek Arthur yang masih betah berada di atas Mona.


"Aku dan dia hanya berteman, Kak. Bukankah aku sekarang jadi milikmu," ucap Mona.


Arthur seketika mendongak dan menatap manik hitam wanita esnya.


"Benarkah? Hanya milikku saja?" tanya Arthur terdengar begitu berharap.


"Ehm...," gumam Mona sembari mengedipkan kedua matanya, memberikan jawaban ya kepada Arthur.


Mereka pun saling tersenyum, dan Arthur merangkak semakin ke atas, dan kembali menautkan bibir keduanya.


Malam panas pun kembali mereka lalui bersama, setelah semua kemarahan Arthur atas kedekatan Mona dengan pria asing bernama Gerald itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih