DESIRE

DESIRE
Bab 60



"Apa yang ada dipikirannya saat ini? Mau apa dia sampai mengurung diri berhari-hari seperti itu?" gerutu Madame Queen kala ditemui Arthur di kantornya, Heaven valley.


Arthur yang sudah hampir empat hari tak bisa membuat Mona keluar dari apartemennya, begitu pun dengan Madame Queen yang beberapa kali ke sana dan gagal membujuk ladies-nya itu keluar, kini tengah membicarakan si ratu es.


"Aku tak tau, Nyonya. Aku hanya khawatir akan kondisinya. Aku takut dia berbuat nekad dan membahayakan jiwanya," ucap Arthur.


"Aku baru pertama kali ini melihatnya seperti itu. Bahkan dulu, saat dia baru masuk ke sini, Mona tak pernah mengurung diri sekali pun, meski saat itu dia dalam keadaan terpuruk. Mungkin dia benar-benar terpukul akan kepergian Joshua," tutur Madame Queen.


"Yah... dan merasa bersalah karena tak menerima panggilan pria malang itu. Dia sangat menyesalinya, karena kalau saja dia tidak merajuk seperti anak kecil, Tuan Chou mungkin bisa saja masih ada di tengah-tengah kita sampai sekarang," ucap Arthur menimpali.


"Kau benar. Itu yang membuatnya menjadi seperti ini. Rasa bersalah dan kehilangan," seru Madame Queen.


Hening. Mereka berdua pun terdiam, sambil menyesap masing-masing minumannya.


"Aku akan coba mengganggunya terus agar dia mau keluar. Kalau perlu, aku akan bermalam di depan pintunya. Atau jika dia tak juga keluar, aku akan laporkan wanita itu kepada pihak keamanan bahwa ada yang mencoba bunuh diri, agar mereka mau menerobos masuk ke dalam, dan menyeret Mona keluar," ucap Arthur yang terlihat sudah pasrah.


"Bagaimana dengan konsekuensinya? Kau tak akan bisa tinggal di sana lagi jika bocah tengik itu sampai melaporkanmu balik," ujar Madame Queen


"Aku tak peduli. Apapun akan ku lakukan, asal dia bisa keluar dan tidak mengurung diri lagi," jawab Arthur sambil menyesap sisa sampanye di gelasnya.


Malam telah cukup larut, dan Arthur memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Madame Queen mengantarkannya ke depan, dan menunggu hingga pria itu menghilang bersama dengan mobil yang di kendarainya.


"Apa Mona masih belum mau keluar, Mom?" tanya Ema yang rupanya mengikuti Madame Queen, dan menghampirinya ketika Arthur telah pergi.


"Hem… semua orang dibuat khawatir olehnya," sahut Madame Queen sambil memijat pangkal hidungnya.


"Menurut ku itu hal yang wajar. Selama ini bukankah Joshua sudah seperti ayah baginya. Ya, walaupun hubungan mereka sebenarnya tak seperti itu, tapi pria itu sangat peduli pada Mona," ujar Ema yang memang sangat kenal dengan Mona, dan hubungan wanita itu dengan Joshua.


"Yah... kau benar. Hubungan mereka sangat dekat, terlalu dekat hingga membuatnya menjadi rumit," sahut Madame Queen.


Mereka pun lalu masuk kembali ke dalam, dan melanjutkan kegiatan masing-masing di tempat hiburan malam itu.


Sepanjang perjalanan, Arthur terus saja memikirkan cara agar bisa membuat Mona keluar.


"Apa aku buat alarm kebakaran palsu saja? Pasti Mona akan keluar karen panik bukan," pikirnya.


Namun sedetik kemudian, dia kembali menepis pikirannya tersebut


"Eh... tapi sepertinya itu bukan ide bagus. Bagus jika dia panik dan keluar. Tapi kalau ratu es itu malah pasrah nunggu sampai gedungnya hancur bagaimana? Sama saja tidak akan berguna," ucapnya menimpali perkataanya sebelumnya.


Seperti orang yang tak waras, Arthur berbicara dan menyahuti sendiri perkataannya.


Ketika dia tengah dibuat pusing dengan berbagai rencana dan skenario konyolnya, Arthur seolah melihat orang yang begitu mirip dengan Mona.


"Mona," gumamnya saat berbelok di sebuah tikungan, dekat dengan gedung apartemen.


Orang yang menurut Arthur mirip Mona itu, tengah berjalan menuju ke sebuah swalayan di area tersebut.


"Seperti Mona. Tapi pakaiannya kenapa seperti itu?" ucap Arthur yang kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan, dan keluar dari sana.


Ia setengah berlari mengikuti orang yang terlihat memaki jaket hoodie hitam, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaket.


Meski penampilannya sangat aneh dengan berpakaian serba hitam, namun dari cara berjalannya, dia masih terlihat anggun.


Arthur bisa tau jika orang itu adalah seorang wanita. Ditambah, dia sempat melihat sekilas wajahnya saat berpapasan dengannya tadi.


Arthur mempercepat larinya, dan meraih tangan wanita tersebut.


GREB!


Wanita itu pun berbalik seketika dan tatapan keduanya saling bertemu.


"Mona," gumam Arthur lirih.


Dia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat itu. Mona yang selama ini ia kenal tak terlihat lagi di sana.


Suram. Yah, itu lah yang bisa disimpulkan dari diri Mona saat itu.


Sedangkan Mona, dia sama sekali tak menampakkan keterkejutannya atas apa yang Arthur perbuat. Dia justru memandang tajam ke arah pria di depannya itu dengan dingin.


Dia menghempaskan tangan Arthur dengan kasar, dan kemudian kembali berbalik.


Arthur yang tersadar dari keterkejutannya pun, segera mengejar dan meraih kembali tangan Mona.


"Mona, mau kemana kamu malam-malam begini?" tanya Arthur yang menahan tangan wanita itu, meski Mona terus berusaha melepaskan tangannya dari Arthur.


"Lepas," ucap Mona lirih tanpa memandang ke arah Arthur.


"Ehm... kau… kau mabuk?" tanya Arthur yang mencium aroma alkohol dari mulut Mona yang sangat menyengat.


"LEPAS!" pekik Mona yang membuat Arthur tertegun.


Mona pun kembali menghempaskan tangan pria itu dan kembali berjalan pergi. Namun, Arthur terus mengikutinya dan kembali meraih tangan Mona.


"Ayo kita pulang, Mona. Ini sudah malam," ajak Arthur.


"Lepaskan aku. Lepas," ronta Mona.


"Mona, tolong jangan seperti ini. Kau tidak boleh terus-terusan meratapi kepergian Joshua. Biarkan dia tenang di sana." Arthur terus mencoba membujuk Mona.


"Hah… peduli apa kau padaku? Peduli apa?" bentak Mona yang langsung menatap pria itu nyalang.


"Dia adalah satu-satunya orang yang peduli padaku, dan kini orang itu sudah tak ada lagi di dunia ini. Jadi, apa aku harus hidup bahagia, sementara akulah yang menyebabkan dia mati. Apa masih pantas aku bahagia?" ucap Mona yang kembali berkaca-kaca.


"Mona, tenang lah. Aku yakin, bukan ini yang dia inginkan. Kita pulang, hem," bujuk Arthur.


"Lepas! Kau tidak usah peduli padaku, Tuan Peterson yang terhormat. Tetap lah seperti dirimu yang dulu, yang bahkan tak mempedulikan gadis kecil yang sekarat di depan matamu," maki Mona yang membuat Arthur tersayat hatinya.


"Mona," ucapnya lirih.


"Pergilah dari hidup saya, Tuan. Karena saya tak butuh orang seperi Anda," ucap Mona yang seketika menepis tangan Arthur.


pria itu terdiam. Ia sadar jika yang dilakukannya dulu, pasti sangat membekas di hati wanita itu.


Dia pun seperti tak punya muka lagi untuk bertemu dengan Mona, namun permintaan Joshua dan dukungan sang adik, membuatnya mau untuk menemui Lisa kecilnya lagi, yang kini telah menjadi seorang Mona, si ratu es.


Mona berjalan, dan kini hendak menyeberang menuju ke swalayan yang berada di seberang.


Pikirannya yang kacau ditambah pengaruh alkohol, membuatnya tak bisa fokus pada jalanan.


Dia hanya tau jika lampu yang menyala saat itu adalah hijau untuk pejalan kaki.


Mona pun mulai melangkah ke depan dan menyeberang jalan.


Baru saja beberapa langkah, sebuah mobil tampak melaju cukup kencang dari arah kanannya.


Arthur yang sempat tertegun, seketika berteriak saat melihat mobil melaju ke arah Mona dengan kencang,


"MONAAAAAA!"


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih