DESIRE

DESIRE
Bab 116



PRAAAANG!


Ema menoleh dan melihat jika Mona limbung dan berpegangan pada meja makan. Gelas yang sedari tadi ia pegang, kini telah pecah berhamburan ke atas lantai.


Wanita itu pun segera berlari menghampiri rekannya yang terlihat sudah sangat pucat, jelas jika tubuhnya gemetar.


"Mona, kau tak apa?" tanya Ema yang seketika itu merasa cemas melihat sikap Mona yang tak biasa.


"Dia datang! Dia sudah sampai sini! Aku harus bagaimana?" ucap Mona lirih namun masih bisa terdengar oleh Ema.


"Kau kenapa Mona? Apa kau sakit?" tanya Ema lagi sambil memegangi kening Mona.


Tidak panas, tapi dia berkeringat dingin, batin Ema.


"Ayo kita ke sana dulu. Duduk di sana," ucap Ema.


Dia memapah Mona dan membawanya agar duduk di sofa ruang tengah. Setelah itu, dia pergi ke dapur dan mengambilkan lagi minuman untuk wanita yang terlihat ketakutan itu.


"Ini, kau minum dulu biar tenang," ucap Ema.


Mona pun segera meraih gelas yang disodorkan oleh Ema dan meneguknya hingga tanda. Nafasnya terdengar memburu, dengan tatapan mata yang terus berlarian.


Dia kenapa sih? Tidak biasanya dia terlihat takut sekali begini? batin Ema.


"Kau di sini dulu. Aku akan bereskan gelas yang pecah tadi biar tidak kena kakimu," ucap Ema.


Dia pun berdiri dan hendak berjalan ke dapur. Namun, Mona seketika itu meraih tangannya dan menahan agar Ema tidak pergi ke kemana-mana.


"Jangan tinggalkan aku. Aku takut sekali, Em. Please, jangan tinggalkan aku," pinta Mona.


Sepertinya bener-bener ada yang salah deh, batin Ema.


"Aku tidak ke mana-mana kok, Mon. Aku cuma mau ke dapur saja untuk ambil sapu dan serokan sampah, dan membereskan pecahan gelas itu. Kau duduk tenang dulu di sini baik-baik ya," seru Ema yang sebisa mungkin hakaus, namun tetap saja bar-bar.


Mona pun perlahan melepaskan tangannya dari Ema. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, dan memeluk lututnya sendiri.


Ema terus melihat ke arah Mona yang sangat aneh, dan baru kali ini ia melihat sikap rekannya tersebut begitu terintimidasi seperti itu.


Setelah menyelesaikan kekacauan yang ditimbulkan oleh Mona, Ema pun kembali duduk di samping rekannya yang masih dalam posisi memeluk lututnya sendiri.


"Mona, kau kenapa sih?" tanya Ema.


"Dia ke sini, Em. Aku takut. Aku takut sekali. kau… kau di sini saja sampai Tuan Peterson pulang ya," pinta Mona.


"Kau takut pada apa sih? Selama ini aku mengenalmu, belum pernah kulihat kau ketakutan sampai begitu," tanya Ema yang penasaran.


"Dia… dia sudah menemukan tempat ini. A … aku udah tidak bisa sembunyi lagi," ucap Mona yang masih terus memeluk lututnya.


Dia benar-benar aneh sekali. Apa aku telepon Tuan Peterson saja ya? batin Ema.


"Ehm… Mona, hand phone mu mana? aku pinjam sebentar ya," ucap Ema.


Namun, Mona tak juga menjawab. Dia justru berbicara sendiri, dan terus mengatakan 'dia datang' secara terus menerus.


Ema pun akhirnya berdiri dan mengedarkan pandangannya. Ia melihat jika benda itu berada di atas lemari pendingin. Mona meletakkannya begitu saja di sana, saat hendak mengambil air minum.


Wanita itu pun kemudian mengambilnya dan mencoba mencari nomor Arthur di daftar kontak ponsel Mona.


"Kenapa tidak ada sih? Dia beri nama apa yah?" gumam Ema.


Dia pun kembali menghampiri Mona yang masih terlihat ketakutan.


"Mona, Tuan Peterson kau beri nama apa sih?" tanya Ema.


Mona menoleh, dan melihat ponselnya. Dia segera merebut benda itu dari tangan Ema, dan menekan-nekan layarnya.


Sesaat kemudian, dia menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya.


"Halo," terdengar sahutan dari seberang.


"Halo, Kak. Dia datang, Kak. Dia ke sini. Aku takut, Kak. Aku takut," ucap Mona histeris.


Ema yang melihat hal itu pun begitu terkejut, dan tak menyangka sosok dingin dan angkuh seperti Mona bisa menjadi seorang yang paranoid seperti ini.


Melihat Mona terus meracau ditelepon, Ema pun merebutnya dan hendak mengambil alih percakapan. Namun, gerakannya terhenti saat melihat nama yang tertera di layar.


Daddy-nya lil baby? Siapa? Tuan Peterson? Namanya aneh sekali? batin Ema.


Dia pun kemudian segera meletakkan benda pipih tersebut ke dekat telinganya.


"Halo," sapa Ema.


"Halo, ini siapa?" sahut suara di seberang.


"Ini Tuan Pererson?" tanya Ema.


"Ya. Mana Mona?" tanya Arthur yang terdengar panik


"Maaf, aku Ema. Saat ini Mona terlihat aneh. Dia seperti ketakutan. Bisakah Anda pulang sekarang? Sepertinya ini serius," ucap Ema.


"Ada apa lagi ini… ehm… Ema? Ema kan?" tanya Arthur.


"Ya, aku Ema," sahut Ema.


"Ambil obat yang ada di dalam laci nakas sebelah kiri tempat tidur. Di sana ada botol obat. Kamu minumkan dua butir pada Mona sekarang. Aku akan segera pulang," seru Arthur.


"Oke," sahut Ema.


sambungan pun terputus.


Ema segera berlari ke arah kamar dan mengambil obat yang sudah diberitahukan letaknya oleh Arthur. Dia mengambil dua butir lalu kemudian kembali meletakkan botol obat itu di tempatnya.


Ia kembali turun dan menghampiri Mona yang masih merapalkan kata-kata yang sama.


"Mona, kau minum ini dulu yah," seru Ema.


Mona segera meraih kedua butir pil tersebut dan meminumnya. Dia pun meraih gelas yang ada di atas meja dan meneguknya.


Dia lalu kembali memeluk kedua lututnya dengan erat, sambil terus gemetar ketakutan.


Ema pun dibuat pusing dengan sikap Mona yang aneh ini.


Lambat laun, Mona mulai melemas. Ucapannya pun terdengar mulai melambat, dan pada akhirnya dia terjatuh dan meringkuk di atas sofa.


Ema segera membetulkan posisi tidurnya agar lurus dan terlentang, dengan kepala di atas bantal.


"Hah… udah tenang sekarang," gumam Ema.


Wanita itu kembali duduk di atas karpet, di bawah Mona yang tidur di atas sofa. Ema bersandar di sofa, bersebelahan dengan lutut Mona.


Dia pun kembali menikmati acara televisi yang sempat terganggu tadi.


Tak berselang lama, terdengar kunci pintu terbuka sendiri dari luar, dan seseorang masuk. Nampak, Arthur berjalan cepat ke arah Ema yang juga melihat ke arah pria tersebut.


"Mana Mona?" tanya Arthur yang tak melihat dengan jelas sekelilingnya.


Ema hanya menunjuk dengan mengunakan dagunya.


Arthur pun segera mendekat menghampiri wanitanya yang telah tertidur pulas.


"Kamu kenapa lagi, Mona?" gumam Arthur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih