DESIRE

DESIRE
Bab 24



"Mona, apa yang kau lakukan? Jaga sopan santun mu di depan tamu," tegur Madame Queen, yang masih berdiri melihat kelakuan Mona, namun tersenyum canggung ke arah ketiga pria di dalam sana.


"Bukankah tadi, tuan ini berkata sedang mencari wanita berbaju merah? Aku juga berbaju merah. Benarkan, Mom?" ucap Mona sambil menuangkan minuman ke dalam gelas kosong, tanpa menatap Madame Queen.


Dia kemudian menoleh ke arah pria tadi, yang terpana melihat kehadiran wanita yang ia cari.


"Bukan begitu, Tuan?" ujar Mona dengan senyum sejuta pesonanya, sembari menyerahkan gelas berisi minuman kepada pria tadi.


Pria itu begitu tersihir dengan pesona Mona, hingga pandangannya seakan tak bisa lepas dari wanita cantik tersebut.


Melihat hal itu, Madame Queen pun tak lagi menghiraukan apa yang tengah dilakukan oleh ladies-nya, meski dalam hati dia mengumpat kesal kepada wanita satu itu.


Dasar rubah licik. Rupanya dia sudah menargetkan mangsanya dari awal, batin Madame Queen dengan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya.


"Baiklah kalau begitu. Kalian, layani tamu-tamu kita dengan baik. Saya permisi, Tuan-tuan," ucap Madame Queen yang kemudian keluar dan menutup pintu bilik itu.


Setelah kepergian sang mucikari, Mona segera memalingkan wajahnya dari pria itu. Dia melihat, kedua temannya telah mulai bercumbu mesra dengan para tamu yang mereka layani. Salah satunya tengah berciu*man, dengan posisi si wanita yang duduk mengangkangi pria itu, dan dengan bebas tangan tamunya meremas bo*kong padatnya.


Sedangkan satunya, berciuman sambil tangan tamunya meremas gundukan sintal di dadanya, hingga suara-suara aneh mulai terdengar di dalam bilik itu.


Mona tetap tenang melihat semua hal yang sudah biasa baginya itu, dan menuangkan kembali minuman untuk dirinya sendiri.


Dia kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dan melipat sebelah tangannya untuk menyangga siku satunya yang memegangi gelas.


Perlahan, ia menyesap minumannya. Saat itu, ia merasakan sebuah tangan tengah mengusap-usap pelan paha mulusnya yang terekspos.


Dia tetap diam bergeming, hingga bibir pria di sampingnya, mulai mengulum dan menarik ujung telinganya. Pria itu lalu menyapu leher jenjangnya, dan menghirup aroma wangi tubuh Mona.


Wanita itu menutup matanya, untuk menahan geleyar yang ia rasakan saat ini. Tangannya berusaha tetap memegang erat gelas agar tidak terjatuh.


Pria itu semakin turun hingga ke ceruk leher Mona, dengan tangan yang mulai masuk ke dalam baju bagian bawahnya.


Mona merasakan jemari pria itu menyapu lembahnya, dari luar g-str*ing yang ia pakai. Ia menggigit bibir bawahnya, dan berusaha untuk tetap tak terpancing.


Sebelah tangan pria itu, mulai menurunkan tali bahu Mona, sehingga dengan mudah ia bisa mengeluarkan bulatan padat dengan ujung merah muda dari tempatnya.


Dire*mas*nya gundukan sintal itu, dengan bibir yang telah saling terpaut. Mona mulai menikmati permainan pria tersebut.


Mona meletakkan gelas yang sejak tadi berada ditangannya perlahan ke samping. Ia mulai merangkul leher pria itu, dan mengikuti permainannya.


Tak terasa, bilik itu kini telah sepi dan hanya tertinggal mereka berdua di dalam sana.


Permainan si pria yang awalnya begitu nikmat dan memabukkan, kini berubah semakin kasar. Awalnya, dia seakan ingin memberikan sentuhan-sentuhan mautnya kepada Mona, namun ketika hasratnya telah di puncak, ia pun dengan segera merebahkan wanita itu di sofa, lalu menindihnya begitu saja.


Mona mulai tersadar dari buaian pria itu, dan wajahnya kembali berubah dingin. Bahkan, ketika teripang darat milik si pria mulai masuk dan melesak sepenuhnya ke dalam miliknya, Mona sama sekali tak mengeluarkan des*han.


Dia hanya mengerang kecil, seolah tengah menahan sakit yang diakibatkan gerakan kasar pria tadi.


Si pria sudah tak peduli lagi dengan Mona. Yang ada di otaknya hanya sesegera mungkin menuntaskan hasratnya.


Tak perlu waktu lama, hingga tercapailah pelepasannya, dan pria itu duduk bersandar dengan celana yang turun hingga lututnya.


Mona pun bangkit dari posisinya, dan segera membenahi pakaiannya yang berantakan. Dengan wajah datar, ia lalu mengambil kembali gelas yang diletakkan tadi, dan menuangkan minuman untuk dirinya sendiri.


Wanita itu meminum habis isi gelasnya dalam sekali teguk, lalu meletakkan kembali gelas itu di atas meja.


"Semoga Anda puas dengan pelayanannya, dan jangan lupa untuk membayar semua servis kami di kasir, Tuan." Mona mengulas senyum yang sangat jelas terlihat dibuat-buat ke arah pria, yang tengah duduk terkulai lemas, dan nafas yang masih terengah-engah.


"Mau ke mana kau?" pria itu menahan kepergian Mona, dengan menarik tangan wanita itu.


"Tentu saja menemui tamu yang lain. Tugas saya di sini sudah selesai, setelah Anda mengalami pelepasan tadi," jawab Mona dingin.


Wanita itu pun lalu menarik pelan tangannya, dan berjalan ke luar bilik, meninggalkan si pria yang masih dalam kondisi berantakan.


Julukan pe*la*cur yang tidak bisa men*de*sah di atas ranjang, sebenarnya tak sepenuhnya benar. Mona adalah wanita dewasa normal, di mana hasratnya sama dengan wanita yang lain.


Buktinya, dia sempat terlena dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan pria tadi. Namun pada akhirnya, dia kembali kepada dirinya yang semula, datar dan dingin saat tak lagi mendapatkan kenyamanan dari lawannya.


Meskipun dia menjual tubuhnya, namun Mona tak mau dengan mudahnya jatuh, apalagi berpura-pura menikmati segala macam penyiksaan yang dilakukan para pria hidung belang itu kepadanya.


Menurut Mona, mereka hanya mementingkan diri sendiri, egois. Pria-pria itu tak mau memikirkan kepuasaan si wanita yang bercinta dengan mereka.


Meski dia tahu, jika dirinya memang dibayar untuk hal itu, namun Mona tak mau kalah dari laki-laki yang menurutnya bajingan.


Setelah melakukan tugas pertamanya malam ini, Mona berjalan menuju base camp, untuk membersihkan dan merapikan dirinya, yang sedikit berantakan akibat ulah tamunya tadi.


Malam masih panjang, dan tidak menutup kemungkinan dia akan melayani lebih dari satu pria dalam semalam, jika memang banyak tamu yang ingin menggunakan jasanya.


Dia naik ke lantai dua, dan segera menuju ruang make up. Di dalam sana juga terdapat toilet khusus para ladies, dan Mona pun masuk ke dalamnya.


Wanita itu menuju bilik paling ujung, dan mulai membuang air kecil, dan membersihkan miliknya yang sudah berlendir akibat tamu pertamanya.


Setelah selesai, dia lalu keluar dan membasuh wajahnya dengan air di wastafel.


Saat itu, seorang ladies lain keluar dari bilik toilet, dengan memegangi perut dan pinggangnya. Dia meringis seperti menahan sakit.


Mona melihat temannya itu lewat pantulan di cermin.


"Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" tanya Mona kepada ladies tersebut.


"Aku mengalami sembelit. Ini benar-benar sangat tidak nyaman," keluh sang ladies, yang berjalan mendekati wastafel tempat Mona berada.


"Kenapa bisa begitu? Apa kau salah makan sesuatu?" tanya Mona yang membalikan badannya menghadap rekannya.


"Sepertinya tidak. Aku ingat betul, malam ini hanya makan nasi dengan lauk seperti biasa. Malah, aku selalu memakan sayur agar buang air besarku lancar," jawab sang ladies yang masih meringis kesakitan.


"Pasti sangat tidak nyaman," tanya Mona mengernyitkan kedua alisnya.


Ladies itu mengangguk pelan dengan wajah memelas, dan peluh yang telah membasahi pelipisnya.


"Memangnya sudah seperti ini sejak kapan?" tanya Mona lagi.


"Tadi pagi," jawab ladies tersebut.


"Ehm…," Mon nampak berpikir, sambil memperlihatkan ekspresi temannya yang sedang dalam kondisi tak baik.


"Apa kemarin kau datang untuk bekerja? Berapa orang dalam semalam?" tanya Mona langsung.


"Memangnya kenapa kau tanyakan hal seperti itu?" tanya ladies tadi bingung.


"Jawab saja pertanyaan ku," ucap Mona.


"Ehm… kalo tidak salah hitung, sekitar lima orang," jawabnya sambil mencoba mengingat-ingat.


"Lima dalam semalam?" seru Mona terkejut.


Sang ladies hanya mengangguk.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih