
Di mana aku? batin Mona.
Wanita itu nampak mulai membuka matanya, meski belum terbuka sepenuhnya. Kepalanya terasa pening akibat efek obat yang masih tersisa.
"Ehm …," lenguh Mona.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk mengurangi pusing yang dia rasakan.
Seperti ada orang di depan Aku? Siapa? batin Mona yang masih samar-samar melihat keberadaan Valeria yang masih memandanginya dengan mengangkat sebelah sudut bibir.
"Haus," rintih Mona lirih.
Valeria mendekatkan wajahnya dan meraup segenggam rambut Mona, dan kemudian menariknya hingga wajah wanita hamil itu menengadah ke atas.
"Aahh …," pekik Mona yang merasakan sakit di kepalanya akibat jambakan Valeria.
"Apa kau haus?" tanya janda itu.
Mona hanya mampu mengangguk pelan.
"Bawa airnya ke sini!" seru Valeria kepada salah satu anak buahnya.
Segera, salah satunya membawakan sebotol air minum dan menyerahkannya kepada bos mereka dalam keadaan tutup yang terbuka.
Valeria lalu menuangkannya begitu saja ke atas mulut Mona, hingga wanita itu gelagapan dan tersedak oleh air yang masuk ke dalam rongga hidungnya.
"Uhuk … uhuk … uhuk … hah … hah … apa yang kau lakukan … uhuk … uhuk …," ucap Mona yang mulai sadar sepenuhnya.
Valeria menghempaskan genggamannya di rambut Mona dengan kasar dan membuat wanita itu terhuyung ke belakang. Beruntung dia tengah duduk terikat di atas kursi, sehingga tak membuat dirinya terjatuh.
Mona terkejut saat menyadari jika dia tengah berada di tempat asing dan terikat di kursi. Pandangannya berkeliling dan melihat banyak sekali laki-laki berbaju hitam yang ada di sana.
"Hahaha … Apa kabar Lisa, putri si j*lang Luzy … atau, harus ku panggil si primadona heaven valley, Mona? Heh," ucap Valeria dengan tertawa yang terdengat mengejek.
"Siapa kau? Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Mona menatap tajam ke arah Valeria.
"Wah… apa aku harus memperkenalkan diriku pada orang rendahan sepertimu? Hahahaha …," ucap Valeria terbahak.
Dia kembali mendekat ke arah Mona dan mencondongkan wajahnya ke hadapan wanita yang terikat itu.
"Apa kamu tidak bisa mengingat wajah ini? Hem," lanjut Valeria.
Mona memicingkan kedua matanya dan mencoba mengingat ingat siapa orang itu.
Aku ngerasa Tidak asing dengan orang ini. Tapi siapa? batin Mona.
Valeria menyeringai saat melihat Mona terlihat tengah berpikir keras mengingat dirinya.
"Apa perlu ku ingatkan padamu, hah?!" ujar Valeria memalingkan wajah.
"Siapa … kau …," Mona menghentikan pertanyaannnya saat siluet wajah Valeria terlihat dari samping.
"Kau … kau istri Joshua? Yah, kau istrinya. Aku melihatmu di rumah sakit waktu itu dan di berita juga," tutur Mona.
"Wah … cepat sekali kau mengingatnya. Tapi, apa hanya itu saja?" sahut Valeria.
"Apa kau melakukan ini karena tau tentang wasiat Joshua yang ditujukan padaku? Aku bersumpah aku tidak menerima semua harta itu. Dan … dan maafkan aku karena selama ini telah dekat dengan suamimu. Tapi, ku mohon lepaskan aku," ucap Mona.
Wanita itu merasa menyesal dengan Valeria, yang tak lain adalah istri Joshua, pria yang selama empat tahun sudah bersama dengannya, bahkan hingga berbagi ranjang bersama.
Dia merasa bersalah karena perbuatannya yang sudah menjadi simpanan Joshua selama ini, dan tentu saja Mona mengira jika Valeria marah akan hal itu.
"Hahahaha … wasiat? Yah, aku memang marah soal wasiat itu. Tapi, jauh sebelum itu, aku sudah menyimpan dendam padamu, terutama ibumu si j*lang itu," ungkap Valeria.
Mona nampak mengerutkan keningnya.
Bukan soal wasiat, tapi soal Ibu? Apa maksdunya? Apa hubungan dia dengan mendiang Ibu ku? batin Mona yang diliputi berbagai macam tanda tanya.
"Apa kau hanya mengingatku sebagai istri pria tua itu saja? Apa kau yakin tak pernah melihat ku sebelumnya?" tanya Valeria.
Mona menggeleng pelan.
"Wah … kenapa aku merasa sedih yah karena kamu tak bisa mengingatku?" keluh Valeria dengan suara yang terdengar kecewa.
Dia semakin menarik kuat rambut Mona, hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Apa harus ku ingatkan lagi kejadian lima tahun lalu, hah?" ucap Valeria dengan seringainya yang terlihat mengerikan.
"Li … lima tahun lalu?" tanya Mona.
"Jeffrey!" panggil Valeria.
Seorang pria yang sedari tadi duduk di dalam ruangan itu, tiba-tiba saja muncul dari salah satu sudut yang gelap di ruangan tersebut.
Mona terbelalak saat mendengar wanita di hadapannya itu memanggil nama sang kakak tiri.
Kak Jeffrey? Dia … dia di sini? Apa hubungan mereka sebenarnya? batin Mona bertanya-tanya.
"Apa kau tidak bisa melakukannya dengan cepat? Aku yakin sebentar lagi pacarnya yang b*doh itu akan segera menemukan kita di sini," ucap Jeffrey yang kini telah berdiri di samping Valeria.
Janda Joshua itu kembali menghempaskan rambut Mona hingga wanita itu kembali terhuyung.
"Aku hanya tidak ingin membuatnya penasaran sampai mati, atas semua kesialan yang selama ini menimpanya. Itu saja," jawab Valeria sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Kak, apa hubungan mu dengan wanita ini?" tanya Mona yang belum juga menemukan kaitan antara dirinya, Jeffrey juga wanita itu.
Jeffrey maju mendekat, dan meraih wajah Mona. Pria itu mencengkeram kedua pipi adik tirinya hingga Mona merasakan kuku jari Jeffrey menancap di sana.
"Ssshhhh …," desis Mona kesakitan.
"Kau mau tau, apa hubungan ku dengan dia? Kami cuma partner bisnis. Mungkin kau lupa, tapi jangan khawatir, Aku akan beri tahu semuanya padamu... semuanya. Heh … hehehehe …," ujar Jeffrey terkekeh.
Dia melepaskan cengkeramannya, dan meninggalkan bekas kuku di sana yang nampak menggores kulit mulus Mona.
"Partner bisnis?" gumam Mona.
"Yah, kau Tidak mungkin lupa kan waktu Aku menjual mu lima tahun lalu," ucap Jeffrey yang terlihat memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya.
"Lima tahun lalu?" gumam Mona.
Ingatannya kembali berputar ke kejadian kelam, di mana dia untuk pertama kali dijual oleh sang kakak tiri, saat hendak mencari bantuan untuk biaya operasi sang ibu.
Bayangannya mengingatkan saat dirinya bersama dengan sosok wanita yang berada dalam mobil van, yang memberikan alat suntik kepada dua orang yang mencekal lengannya.
Tidak mungkin! batin Mona.
Dia segera mengangkat wajahnya dan menajamkan penglihatannya ke arah wanita yang masih berdiri di dapannya itu.
Valeria seolah tau arti tatapan Mona, dan wanita itu pun menyeringai ke arah sandranya.
"Ingat kan sekarang?" tanya Valeria tersenyum mengejek.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih