
Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian tragis itu. Selama itu pula, Mona sama sekali tak keluar dari apartemennya. Dia lebih memilih mengurung diri di dalam sana, sambil ditemani puluhan botol minuman keras yang terlihat berserakan di lantai ruang tamu.
Matanya terlihat lelah, dengan lingkar mata yang menghitam. Wajahnya kusam, menutupi kecantikannya.
Madame Queen sesekali mendatangi kediaman wanita cantik itu, namun Mona sama sekali tak mau menemuinya.
Arthur pun dibuat cemas dengan kondisi Mona yang seperti itu. Dia berusaha mengganggu wanita itu dengan terus menggedor pintunya, setiap pagi siang sore dan malam hari.
Namun, Mona sama sekali tak peduli dengan mereka yang khawatir padanya. Tatapannya kosong, dengan tangannya yang terus menggenggam botol minuman keras, sambil sesekali menenggaknya.
Berawal dari hari itu, saat sepulang dari pemakaman Joshua, dan suasana masih mendung. Arthur kembali ke kantor setelah mengantarkan Mona pulang ke apartemennya.
Dia sebenarnya tak tega meninggalkan Mona seorang diri, terlebih keadaannya yang masih sangat labil. Namun, pekerjaannya pun tak bisa terus ia tinggalkan. Terlebih hari sebelumnya, ia terus menemani Mona hingga pagi menjelang.
Saat dalam kesendiriannya, Mona yang seakan hilang arah itu pun, berdiam diri di dalam kamar sambil duduk di atas ranjangnya, dengan masih mengenakan pakaian pemakaman.
Wajahnya terlihat muram, datar dan tak berekspresi.
Cukup lama ia dalam posisi seperti itu, hingga Mona memutuskan untuk berganti pakaian, dengan sebuah kaus oblong dan celana jeans hitam panjang.
Dia pun mengambil sebuah jaket ber-hoodie hitam yang sangat jarang ia gunakan, dan tergantung rapi di sudut lemari pakaiannya.
Ia memakai semua itu, dan lalu berjalan keluar dari apartemen.
Mona tak terlihat seperti dirinya yang biasa. Dengan mengenakan tudung jaketnya, ia berjalan sambil menundukkan kepala, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
Ia berjalan menyusuri trotoar dan berujung pada sebuah swalayan.
Mona masuk dan mengambil keranjang belanja. Ia berjalan menuju deretan lemari pendingin yang ada di dalam sana.
Langkah kakinya terhenti tepat di depan pendingin yang menyimpan berbagai jenis minuman beralkohol, dari mulai bir kaleng hingga yang lebih keras dalam kemasan botol.
Mona memasukkan sangat banyak minuman-minuman itu ke dalam keranjang belanjanya, hingga mengundang perhatian dari para pengunjung swalayan yang lain. Ditambah dengan penampilannya saat itu, membuatnya terlihat seperti wanita urakan.
Setelah selesai memenuhi isi keranjangnya, Mona bersusah payah membawa belanjaannya ke depan meja kasir.
Sang kasir sempat tertegun melihat belanjaan Mona yang hanya berupa minuman beralkohol dari berbagai merek dan jenis.
Namun, sudah menjadi pekerjaannya melayani pembeli, sehingga ia pun tetap memproses pembayarannya.
Setelah membayarkan semuanya, Mona membawa dua kantong besar berisi minuman keras dan kembali berjalan pelan, sambil menahan beratnya barang bawaan itu menuju ke apartemen.
Dia tak peduli lagi pandangan orang lain terhadapnya. Yang ia butuhkan saat ini adalah melampiaskan rasa sedihnya, menyalurkannya menjadi sebuah mabuk, agar ia bisa melupakan semua kejadian yang menimpa Joshua.
Sesampainya di apartemen, Mona meletakkan kedua kantong besar berisi minuman itu di atas meja ruang tengah, tepat di depan TV.
Ia mulai membuka satu kaleng bir, dan menghabiskannya. kemudian kembali membuka satu lagi, hingga akhirnya satu demi satu kaleng dan botol itu kosong.
Mona duduk di lantai, bersandar pada kursi sambil meluruskan sebelah kakinya, dan kaki sebelahnya tertekuk ke atas, menopang lengan yang memegangi minuman.
Entah sudah berapa yang ia habiskan, yang jelas Mona masih merasa belum juga mabuk. Hingga akhirnya, ia merasa lelah dan mengantuk, kemudian tertidur meringkuk di lantai yang beralaskan karpet di tempat yang sama.
Saat tertidur pun, Mona terus memimpikan Joshua. Rasa bersalahnya begitu besar, hingga tak membiarkannya tidur dengan tenang barang sebentar saja.
Peluh keluar dari pelipisnya, dan rintihan serta gumaman terdengar dari bibir wanita cantik itu.
"Joshua... Tidak, Josh. Tidak. Jangan. JANGAAAAANNNNN!" pekik Mona yang terbangun tiba-tiba dari tidur singkatnya.
Dia seketika terduduk dengan nafas yang tersengal-sengal. Mona mengusap wajahnya kasar, dan menjambak rambut belakangnya.
Dia menghembuskan nafas berat. Dadanya sangat sesak. Sulit sekali baginya bernafas saat itu. Tangis seakan menghilang dari wajahnya, namun dia justru terlihat semakin menyedihkan.
Hal itu terjadi hingga keesokan harinya. Arthur yang telah bangun di pagi hari setelah tertidur karena kelelahan mengurusi pekerjaannya, kini tengah berada di depan apartemen Mona.
Dia menggedor-gedor pintu itu, namun Mona menulikan pendengarannya. Dia sama sekali tak menggubris sedikit pun kegaduhan yang dibuat oleh tetangganya.
"Mona... Mona... Buka pintunya, Mona," teriak Arthur dari balik pintu.
Mona sama sekali tak menghiraukannya, dan terus meneguk minuman yang semakin berkurang.
Arthur begitu khawatir karena wanita itu tak kunjung meresponnya. Dia pun lalu mengambil ponsel dari saku, dan mencoba menghubungi Mona.
Sayup-sayup terdengar bunyi ringtone ponsel Mona dari tempat pria itu berada, yang menandakan jika wanita itu tengah berada di dalam apartemen.
Arthur kembali menggedor-gedor pintu berkali-kali namun hasilnya tetap nihil. Mona sama sekali tidak peduli dan tetap diam dengan pandangan yang kosong.
Arthur beranjak dari sana, dan masuk ke dalam apartemennya. Dia segera menuju ke arah balkon kamarnya.
Pria itu mulai berteriak memanggil-manggil Mona dari balkon. Dia sama sekali tak peduli, jika tetangga yang lain melaporkannya karena membuat keributan.
"Mona... Jawab aku, Mona. Kamu ada di dalam bukan? Mona!" teriaknya.
Namun sama sekali tak ada sahutan dari arah sampingnya.
Dia pun kemudian mencoba sebuah ide gila, untuk melompat dari balkonnya ke balkon Mona.
ketika ia hendak memanjat pagar pembatas, Arthur sempat menoleh ke bawah dan seketika itu ia ragu. Namun, rasa khawatirnya membuat ia melanjutkan ide gilanya itu.
Arthur kini telah naik ke atas pagar, dan berjalan perlahan menuju sisi di mana balkon Mona berada. Tapi sayangnya, jarak antara balkonnya dan balkon Mona, dipisahkan oleh dua buah tembok yang berjarak cukup jauh, dan kemungkinan besar Arthur akan gagal melompat dan hanya berakhir mati konyol.
Pria itu pun lalu mengurungkan niatnya dan hanya berteriak frustasi.
"AAARRRGGHHHH!" teriaknya sambil menjambak rambut belakangnya dengan kuat.
Dia sudah tak tau lagi harus berbuat apa. Ingin meminta bantuan pihak pengelola gedung, namun dia dan Mona tak ada hubungan apapun.
Jika dipaksa, bisa-bisa Mona balik melaporkannya karena mengganggu privasi, dan membuat Arthur tak bisa lagi tinggal di tempat itu.
Hari semakin siang, dan panggilan dari William membuatnya harus mau meninggalkan Mona kembali seorang diri.
Arthur hanya bisa menggedor pintu wanita itu setiap pagi, siang, sore bahkan malam hari. Namun tetap tak ada jawaban.
Dia sampai meminta bantuan Madame Queen untuk mencoba membujuk Mona agar mau membuka pintunya. Tapi tetap saja, Mona seolah sedang menjauhkan dirinya dari dunia.
Wanita itu tengah tenggelam dalam rasa bersalahnya, dan memilih untuk terus mengurung diri di dalam apartemennya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih