DESIRE

DESIRE
Bab 98



Beberapa waktu yang lalu, Dokter tiba di ruang UGD dan segera memeriksa kondisi Mona.


"Apa keluhannya?" tanya Dokter kepada para perawat yang lebih dulu di sana.


"Dari tadi, pasien memegangi perutnya, Dok." Salah satu perawat menjawab pertanyaan dokter itu.


"Sudah dapat riwayat medisnya?" tanya Dokter itu lagi.


"Seingat saya, ini korban percobaan perkosaan tempo hari, Dok. Dan kebetulan, pria di luar juga adalah orang yang sama yang membawanya kemari saat itu," tutur perawat lainnya yang rupanya ingat dengan Mona dan Arthur.


Dokter itu nampak berpikir sejenak, lalu kemudian, dia segera memerintahkan perawat untuk menyiapkan alat USG.


"Cepat persiapkan pemeriksaan USG. Dia hamil. Kemungkinan ada masalah dengan kandungannya," ungkap dokter itu.


Perawat pun segera menyiapkan peralatan USG dan memberikan alat sensornya kepada dokter. Sedangkan perawat yang lain, membuka dress bagian bawah Mona dan menutupi tubuhnya dengan selimut, lalu menuangkan gel bening ke atas perut Mona.


"Tahan sebentar, Nyonya. Dokter akan memeriksa kondisi kandungan Anda," ucap perawat itu kepada Mona yang masih meringis kesakitan.


Dokter pun mulai memeriksa kandungan Mona dengan alat sensor yang ia pegang, setelah sebelumnya dia menghela nafas panjang saat menyadari kondisi Mona yang tak memakai pakaian dalam.


"Ehm… masih bagus. Mungki Anda terlalu kelelahan sehingga menimbulkan reaksi ini… Perawat, tolong berikan Nyonya ini obat penguat kandungan di dalam cairan infusnya," ucap Dokter itu kepada Mona dan memberikan perintah kepada salah satu perawat.


Setelah diberikan obat itu, Mona berangsur-angsur membaik. Nyeri di perutnya pun berangsur menghilang.


"Apa sudah lebih baik, Nyonya?" tanya Dokter itu kepada Mona.


"Ehm… sudah lumayan, Dok. Terimakasih," sahut Mona.


"Apa tadi Anda melakukannya bersama suami Anda dengan keras?" tanya Dokter itu kepada Mona.


Wanita itu nampak mengangkat kedua alisnya, lalu kemudian mengerutkan keduanya karena tak paham dengan maksud dokter itu.


"Maksud saya, apa tadi Anda melakukan hubungan suami istri dengan pasangan Anda dengan begitu keras, hingga Anda kesakitan seperti ini?" ulang dokter itu lebih jelas lagi.


Mona membulatkan matanya, dan wajah si ratu es merona seketika karena merasa malu.


Kedua perawat yang berada di dalam ruangan itu pun hanya tersenyum menahan tawa mereka.


"Ma… maaf, Dok." Mona tersenyum kikuk dengan jawaban singkat itu.


"Anda tidak perlu minta maaf. Harusnya suami Anda yang bisa menjaga batasannya. Dasar laki-laki di mana-mana sama saja," gerutu sang dokter.


"Ehm… tapi, Dok. Dia tidak salah. Saya yang minta," ungkap Mona dengan gamblangnya.


Kini, gantian sang dokter yang dibuat terperangah dengan perkataan Mona.


"Ehem… terlepas dari siapa yang meminta, harusnya kan dia bisa bermain halus. Untuk sekarang ini, Anda beristirahat saja dulu di rumah sakit sampai kondisi Anda membaik," pesan dokrer tersebut.


"Baik, Dok." sahut Mona.


Dokter hanya mengangguk.


"Perawat, tolong pantau terus. Kalau kondisinya sudah stabil, baru pindahkan pasien ke ruang rawat inap ya," seru sang dokter kepada kedua perawat tadi.


"Baik, Dokter Stella," sahut mereka bersamaan.


Dokter bernama Stella itu pun kemudian keluar, dan menghampiri Arthur yang masih menunggu di luar. Bisa dilihat jika wajahnya begitu mengkhawatirkan wanita di dalam sana.


Nampak Arthur juga berjalan ke arah dokter Stella, dan begitu ingin mengetahui bagaimana kondisi Mona saat ini.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Arthur cemas.


Arthur pun hanya mampu mengerutkan kedua alisnya dan mencoba memahami perkataan sang dokter.


"Maksud dokter?" tanya Arthur bingung.


"Mari keruangan saya," ajak Dokter Stella.


Arthur pun menurut dan mengikuti ke mana sang dokter pergi.


Kini, mereka telah sampai di sebuah ruangan bertuliskan nama sang dokter lengkap dengan bidang keahliannya.


"Obgyn?" gumam Arthur saat membaca papan nama di depan pintu.


"Silakan duduk, Tuan." Sang dokter yang melihat Arthur masih berdiri saja di ambang pintu pun, mempersilakannya duduk, sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya.


Arthur pun menoleh dan berjalan masuk. Dia kemudian duduk di hadapan sang dokter.


"Begini, Tuan. Kalau tidak salah ingat, pasien adalah korban percobaan perkosaan beberapa waktu yang lalu bukan? Anda sendriri yang membawanya kemari saat itu," ucap Dokter Stella.


"Iya, Dok. Benar. Memangnya kenapa ya?" sahut Arthur bingung.


"Lalu, Anda pasti sudah membaca laporan hasil visumnya kan? Atau mungkin, istri Anda sudah memberitahukannya sendiri kepada Anda," ucap Dokter Stela kembali, yang membuat Arthur semakin dibuat pusing dengan pertanyaannya yang terkesan berputar-putar.


"Bisa dipersingkat, Dok? Maaf, tapi saya tidak tau maksud perkataan dokter yang berputar-putar ini," ujar Arthur sedikit kesal.


"Hah… Apa Anda tidak tau kalau istri Anda sedang hamil?" ungkap Dokter Stella.


"Ya?" sahut Arthur yang terkejut bukan main saat mendengar penuturan sang dokter barusan.


"Terlepas dari siapa yang meminta, harusnya Anda bisa bermain lembut. Kalau Anda bermain kasar, akibatnya akan seperti tadi. Apa Anda paham?" imbuh Dokter Stella.


"Tu… tunggu, Dok. Tadi, dokter bilang… wa… wanita itu… hamil?" tanya Arthur yang seolah tak percaya dengan fakta baru yang ia ketahui.


"Apa Anda tidak membaca laporan hasil visum kemarin?" tanya balik Dokter Stella.


Arthur menggegelang pelan, dengan kedua mata yang membulat dan mulut yang terbuka lebar.


Sekilas, dia teringat akan perkataan Mona yang terdengar aneh, saat mereka berada di taman kecil, yang terletak di lantai VIP.


Iya, benar. Saat itu, dia selalu menyinggung soal hasil visumnya. Apa jangan-jangan dia juga sudah tau akan hal ini? batin Arthur.


"Saya sudah memberinya obat penguat kandungan. Kedepannya, mau siapun yang meminta, tolong tahan dulu selama dua bulan ini, atau paling tidak, sampai pasien sudah memasuki trimester ke dua dan kuat untuk melakukan hubungan suami istri lagi," pesan sang dokter.


"Ba… baik, Dok." Arthur menyahut meski pikirannya masih mengulang kejadian malam itu.


Kenapa kau tak mengatakannya padaku, Mona? Apa kau se-tak percaya itu padaku? batin Arthur.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih