
Keesokan paginya, Arthur bangun lebih dulu dari Mona. Ia hampir terlonjak kaget, kala menyadari bahwa dirinya tidur sambil memeluk wanita itu dari belakang.
Wanita tersebut tidur begitu nyenyak, hingga ia tak melayangkan protes saat Arthur mendekatinya saat tidur.
"Selamat pagi ratu esku," ucap Arthur lirih, sambil mengusap lembut surai coklat terang Mona, dan mengecup puncak kepalanya dari belakang.
Merasa terusik, Mona pun menggeliat dan berbalik menghadap ke arah Arthur.
Pria itu membelalak sambil menahan nafas. Ia takut jika wanita dinginnya bangun, dan mengamuk kembali akibat ulahnya yang tidur sambil memeluknya.
"Huft!" Arthur bernafas lega saat melihat mata Mona masih terpejam.
Pria tersebut terpesona melihat wajah bantal Mona, yang terlihat begitu tenang dan damai. Sangat berbeda ketika dirinya tengah terjaga, dan berubah seketika menjadi ratu es yang begitu dingin dan angkuh.
"Saat kau tidur, aku seperti kembali ke masa itu. Masa di mana kau menjadi seorang gadis manis yang lembut, Lisa." Arthur terus saja mengamati setiap lekuk di wajah Mona.
Bulu mata lentiknya, hidung mancungnya, kulit pipinya yang begitu mulus, serta bibirnya yang walau pias tanpa lipstik, namun masih terlihat seksi.
"****!" Arthur tiba-tiba mengumpat, saat teripang daratnya tiba-tiba bangun saat ia tengah mengagumi kecantikan wajah Mona.
Pria itu buru-buru beringsut menjauh dari wanita tersebut, dan bangun dari tempat tidur. Ia membetulkan selimut Mona yang sebelumnya sempat turun, hingga memperlihatkan paha atasnya.
Dengan hati-hati dan setengah memalingkan wajah, Arthur mencoba untuk tidak melihat bagian intim Mona yang hampir terlihat, karena wanita itu tidur hanya mengenakan kemejanya, tanpa apapun lagi di dalam sana.
"Hahโฆ aku bisa terkena serangan jantung kalau setiap pagi seperti ini," bisiknya sambil mengelus dadanya.
Arthur kemudian berjalan menuju ke dalam kamar mandi, dengan tubuh yang masih telan*jang bulat.
Sekitar tiga puluh menit, dia telah selesai membersihkan diri, dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang terlilit dari pinggang hingga betisnya.
"Ratu es ku berubah menjadi putri tidur rupanya," gumamnya saat melihat Mona masih saja tertidur pulas.
Ia lalu masuk ke dalam walk in closet, dan berganti pakaian.
Setelah itu, Ia keluar kamar dan membereskan sisa-sisa pertempuran mereka semalam, dan memasukkan pakaian-pakaian kotor mereka berdua ke dalam keranjang cuci.
Tak lupa, Arthur mengambil key card dari dompet Mona, dan pergi ke apartemen wanita tersebut. Ia langsung masuk ke dalam kamar Mona, dan mengambil pakaian ganti untuk wanita yang masih tertidur itu.
Arthur sengaja memilih pakaian yang sedikit tertutup, agar Mona tidak mengumbar tubuh moleknya kepada setiap orang.
Saat telah selesai mengambil pakaian, ia keluar dari sana. Saat tengah berada di kamar Mona, pandanganya tertuju pada sebuah sketsa sebuah gubug singgah, di mana ada banyak bunga di sekitarnya, serta dua orang anak yang tengah duduk di dalam gubug itu.
Ia berjalan mendekat, dan mengulurkan tangannya untuk menjangkau sketsa yang tergantung pada sebuah figura, yang berada tepat di depan tempat tidur si wanita es.
Tanpa sadar, lelehan bening menetes dari sudut matanya.
"Aku sangat merindukan mu, Lisa. Sungguh," ucap Arthur.
Sketsa itu adalah kenang-kenangan dari masa lalu, saat Lisa dan Arthur tengah menggambar bersama di taman bunga rumah besar milik keluarganya.
...๐๐๐๐๐...
Tak berapa lama, Mona terbangun, dan tak mendapati Arthur di sampingnya. Ia menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.
"Ehmโฆ di mana si maniak itu?" gumam Mona sambil melihat ke sekelilingnya.
Ia lalu bangun dari tempat tidur, dan berjalan menuju keluar kamar. Ia mendengar suara gaduh di dekat dapur, dan melangkah mendekati asal suara.
Ia mengintip dari balik tembok, dan ternyata Arthur yang menciptakan kegaduhan tersebut.
Pria itu tengah berkutat dengan wajan dan kuali, sambil mencampur berbagai bahan dan bumbu ke dalamnya.
"Selamat pagi," sapa Mona yang kemudian berjalan mendekati pria itu.
"Pagi," jawab Arthur singkat.
"Sedang masak apa, Tuan?" tanya Mona.
"Aku membuatkan mu pasta carbonara dan steak. Apa kau suka?" tanya Arthur sambil menoleh ke arah Mona.
Pria tersebut tiba-tiba saja tertegun melihat penampilan Mona kala itu. Rambut acak-acakan dan muka bantalnya, terlebih lagi kemeja kedodoran yang dipakai Mona, membuat Arthur sulit menelan saliva.
Cepat-cepat Arthur menyadarkan dirinya, agar tak semakin tergoda dengan si ratu es itu.
"Ehmโฆ sepertinya enak," ucap Mona dengan santainya.
"Di mana?" tanya Mona.
"Di sofa yang ada di kamar," jawab Arthur singkat.
Mona pun segera naik kembali ke atas meninggalkan Arthur.
"Hahโฆ kenapa dia sembarangan sekali berpakaian di depan pria? Membuat ku tidak tenang saja," keluh Arthur yang mengelus-elus dadanya.
Dia pun kembali melanjutkan acara masaknya, sambil menunggu Mona selesai mandi dan berganti pakaian.
Sekitar empat puluh menit kemudian, Mona telah kembali ke lantai bawah menghampiri Arthur di meja makan.
Semua hidangan telah tersaji di sana. Arthur pun tengah duduk menunggu Mona, sambil mengecek surel yang masuk dari macbook-nya.
"Kau sudah selesai?" tanya Arthur.
"Seperti yang Anda lihat," jawab Mona datar.
Mona mengenakan sebuah sweeter dengan kerah tinggi hingga menutupi leher, dengan celana jeans panjang selutut yang tentunya atas pilihan Arthur.
Tanpa make up dan tanpa aksesoris, Mona terlihat cantik secara alami.
"Ayo makan. Aku harus berangkat ke kantor setelah sarapan," ucap Arthur.
Mona tak menyahut. Dia hanya makan, dan tak mengeluarkan suara sama sekali hingga sarapan mereka selesai.
Seusia makan, Mona pamit pulang ke apartemen sebelah, sedangkan Arthur bersiap untuk berangkat ke kantor.
Hari ini dia akan cukup sibuk, mengingat rencana jangka panjang yang ia susun untuk merambah pasar eropa.
Banyak meeting dengan beberapa orang penting, untuk memperlancar tujuannya yang mungkin baru akan terwujud beberapa tahun kedepan.
Sebuah langkah besar dan beresiko yang ia ambil, demi tujuannya kembali ke negara ini, memegang kepemimpinan di pusat, dan menemani Mona selamanya.
Itu adalah salah satu janjinya kepada para dewan direksi, ketika mereka mencoba menolak kehadiran Arthur di sini.
Siang itu, Arthur sedang berada di tengah rapat. Ia menitipkan ponselnya kepada sang asisten, William. Rapat ini terbilang penting, hingga tak bisa seenaknya membuka ponsel bahkan hanya sekedar untuk melihat pesan.
Seusai rapat, William mengembalikan ponsel bosnya, dan memberitahukan bahwa ada pesan dari Joshua.
"Tuan, tadi ada beberapa panggilan dari Tuan Chou, dan juga sebuah pesan. Maaf, saya tidak sempat menerimanya, karena terlalu fokus pada acara rapat tadi," tutur William, yang memang bertugas sebagai operator saat rapat berlangsung.
"Baiklah. Kau boleh istirahat," ucap Arthur yang kemudian duduk di kursi kerjanya.
Pria itu lalu membuka ponsel dan melihat banyak sekali panggilan masuk dari Joshua.
"Lima puluh tiga panggilan? Ada hal penting apa sampai Josh menelpon ku sebanyak ini?" gumam Arthur.
Ia pun lalu membuka pesan chat dari rekan bisnisnya tersebut, dan Arthur seketika terlonjak kaget, dengan mata membulat sempurna.
[Tuan, Mona dalam bahaya. Cepat cegah dia memakai mobilnya. ]
Setelah membaca pesan dari Joshua, Arthur segera keluar dari gedung kantornya, dan mengendarai mobil menuju apartemen.
Ketika hampir sampai, Arthur berhenti di perempatan karena lampu memang sedang merah.
Saat itu lah, ia melihat mobil sport Mona meluncur ke arahnya, dan menerobos lampu lalu lintas. Hingga tanpa sadar, sebuah truk besar menghantamnya dari sisi kanan.
BRAK! SRAAAAAK! DUM!
"LISAAAAAA!"
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐, komen ๐, atau beri dukungan lainnya
terimakasih