
Pria itu mengulurkan tangan kanannya dengan telapak tangan yang menengadah ke atas, meminta kunci mobil dari Mona.
"Wah… kau sekarang perhitungan sekali rupanya. Saat aku meminta uang baik-baik, kau sama sekali tak peduli. Sekarang, aku mau jual mobilmu, kau malah memintanya kembali," ujar Mona yang tak percaya dengan apa yang dikatakan Joshua padanya.
Mona kembali menatap tajam ke arah pria tersebut, dan memberikan kunci mobilnya dengan kasar ke atas tangan pria itu.
"Ambillah. Aku juga bisa dapatkan lagi yang jauh lebih bagus dari pendukung baruku. Aku anggap ini terakhir kali kita bertemu, Josh. Jangan pernah temui aku lagi," ucap Mona kesal sambil membuang mukanya.
Niat hati, Mona hanya ingin merajuk agar Joshua tidak mengacuhkannya lagi. Namun tak disangka, Joshua justru langsung masuk ke dalam mobil sport itu, dan melajukannya keluar dari sana, meninggalkan Mona yang masih tak percaya dengan apa yang dilakukan Joshua.
"Dasar laki-laki, semuanya brengs*k! Pergi sana, yang jauh sekalian. Aaarrrghhhh …," maki Mona saat mobil itu telah menghilang dari pandangannya.
Mona lalu pergi dari tempat tersebut, dan bergegas menuju Lift. Dia berencana akan kembali ke apartemennya, dan duduk di tempat favoritnya.
Ketika di dalam lift, dia teringat akan ponselnya yang berada dalam mode senyap.
"Hah… apa mungkin tadi itu karena dia marah tentang aku yang mengabaikan panggilannya," gumam Mona saat melihat banyaknya panggilan masuk dari Joshua.
Dia menyandarkan punggungnya ke dinding lift, dan tepat saat itu, ponselnya kembali menyala dan sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Mona yang kebetulan melihat pantulan dari dinding di depannya pun, kemudian melihat ponselnya yang sedari tadi ia pegang.
"Siapa?" tanya Mona ketika melihat nomor asing di layar.
Dia pun mengangkatnya dengan malas, namun wanita itu buru-buru menjauhkan telepon pintarnya dari telinga, karena tiba-tiba ia mendengar sebuah jeritan yang cukup keras dari seberang sambungan.
Mona segera menempelkan lagi ponselnya, setelah merasa kembali sunyi.
"Halo," sapa Mona.
"Li... Lisa? Apa ini benar-benar kau, Lisa?" tanya orang di seberang yang terdengar begitu ketakutan dan khawatir.
"Maaf, Anda salah orang." Mona segera menjauhkan ponsel dari telinga.
"MONA!" panggil suara itu lagi yang membuat Mona kembali menempelkan ponsel ke telinganya.
Sayup-sayup Mona mendengar keributan di seberang sana.
"Siapa Anda?" tanya Mona penasaran.
"Aku Arthur. Kau di mana sekarang? Apa kau mengendarai mobilmu? CEPAT KATAKAN!" bentak orang di seberang yang tak lain adalah Arthur.
"Arthur?" gumam Mona pada dirinya sendiri.
"Aku sedang berada di apartemen. Mobilku dibawa pergi oleh Joshua tadi. Memang kenapa, hah?" lanjutnya ketus.
"Joshua? Tidak, Joshua! JOSHUA!" teriak Arthur di ujung sambungan.
Mona tak mengerti dengan pria aneh yang tinggal di sebelahnya itu. Namun, sambungan rupanya tak terputus, dan masih memperdengarkan apa yang terjadi di seberang sana.
"Bising sekali," gumam Mona yang terus mendengarkan suara dari balik ponselnya.
Pintu lift terbuka, dan dia pun melangkah keluar, berjalan menuju unit miliknya.
"Tolong. Tolong selamatkan dia."
"Anda mengenalnya?"
"Aku mengenalnya. Dia Tuan Chou. Tolong selamatkan dia"
Mona menghentikan langkahnya, ketika mendengarkan percakapan antara kedua orang di seberang telepon.
Sayup-sayup terdengar bunyi sirine ambulance, yang semakin membuat Mona gelisah.
"Joshua?" gumam Mona.
"Halo... Halo... Tuan Peterson. Anda di mana sekarang? Tuan Peterson? Arthur!" panggil Mona, berharap orang yang menelponnya bisa menjawab.
Saat itu, tampak dua orang tengah berjalan ke arahnya. Sepertinya itu salah satu penghuni unit yang ada di lantai yang sama dengan Mona.
"Kecelakaannya mengerikan sekali ya," ucapnya.
"Iya. Kudengar mobil sport merahnya menerobos lampu merah, kemudian tertabrak oleh truk dan terseret," sahut yang lainnya.
Mona yang mendengar hal itu, seketika melemas. Ponselnya pun luruh dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
Kedua orang itu pun terkejut, dan berhenti di dekat Mona. Salah satunya berjalan menghampiri wanita cantik itu, dan mengambilkan ponselnya.
"Maaf, ini ponsel Anda terjatuh," ucapnya sambil menyodorkan ponsel milik Mona.
"Ta... tadi, Anda bilang ke... kecelakaan?" tanya Mona yang bahkan tak peduli lagi dengan ponselnya.
Tetangganya itu melihat ekspresi Mona yang sepertinya begitu terkejut.
"Iya benar. Ada kecelakaan di persimpangan lampu merah di depan sana," jawab si tetangga.
"Mo… mobil…," tanya Mona menggantung.
"Terimakasih," potong Mona yang langsung menyambar ponselnya dari tangan tetangganya itu, dan berlari mengejar lift.
Mona berlarian menyusuri trotoar di sepanjang jalan dari The Royal Blossom menuju ke jalan raya. Ia melihat keramaian orang berkerumun dari kejauhan, dan membuat hatinya semakin berdebar tak menentu.
Aku mohon, biarkan aku salah. Tuhan, aku mohon jangan biarkan dugaanku benar, batin Mona seraya terus berlari, dan semakin mendekat ke arah kerumunan itu.
Sesampainya di sana, Mona langsung menyerbu dan menyeruak masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang tengah melihat tempat terjadinya kecelakaan.
"Permisi... Permisi... permi… si…." Mona tertegun, kala matanya menangkap sebuah mobil yang telah hancur dengan kondisi terbalik, serta banyaknya darah yang tercecer di sana.
Langkahnya terseok, kala mengenali kendaraan itu. Matanya membelalak dan lingkar netranya memerah. Ia membekap mulut dengan kedua tangannya, sambil menggeleng cepat.
Tidak... Tidak... Aku mohon, batin Mona mengharapkan apa yang ia duga salah.
Saat itu, Mona mendadak tuli, seolah sekitarnya sunyi tak ada seorang pun di sana. Kakinya melangkah sendiri ke arah mobil yang ringsek itu, dengan tetap membekap mulutnya, dan mata yang menatap nanar.
Tidak... Jangan seperti ini. Tolonglah, batin Mona berharap.
Wanita itu terus berjalan maju, namun langkahnya terhenti, kala seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Dia lalu berbalik, dan melihat seorang petugas kepolisian tengah berdiri di belakangnya.
"Maaf, Anda tidak bisa masuk seenak ke TKP. Silakan Anda berdiri di belakang garis polisi," ucap sang petugas itu sambil menunjuk ke arah kerumunan warga.
Mona masih tertegun, seolah ia tak mengerti bahasa yang digunakan oleh si petugas. Dia kembali menoleh ke arah mobil nahas itu berada.
"Si… siapa ko… korbannya?" tanya Mona sambil terus menatap mobil itu.
"Apa Anda mengenali mobil itu?" tanya si petugas.
Mona mengangguk pelan, tanpa melepaskan pandangannya dari kendaraan yang telah rusak tersebut.
"Korban adalah seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahunan. Beliau ditemukan dalam keadaan kritis saat bantuan datang, dan sekarang sudah di bawa ke rumah sakit di pusat kota," ucap petugas kepada Mona.
Mona masih terdiam, hingga akhirnya petugas itu menuntunnya agar menjauh dari tempat terlarang tersebut.
Setelah dibawa ke belakang garis polisi, Mona mundur dan kini berada di belakang orang-orang yang masih berkerumun di sana.
Ia berjalan gontai. Pikirannya kacau. Sebuah taksi melintas dari arah belakang, dan membuat Mona sontak meneriakinya.
"TAKSI! TAKSI!" panggil Mona dan seketika, taksi itu pun berhenti agak jauh di depan sana.
Mona berlari dan buru-buru masuk ke dalam taksi tersebut.
"Rumah sakit pusat ibu kota, Pak," ucap Mona memberikan alamat tujuan kepada driver taksi.
Di tengah perjalanan, tak ada lagi wajah tenang Mona yang memandang keluar jendela mobil. Yang ada sekarang hanyalah wajah khawatir dan cemas. Dia masih berharap jika dugaannya salah.
Taksi terus berjalan membelah hiruk pikuknya lalu lintas ibu kota. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh dari The Royal Blossom, kini Mona telah sampai di rumah sakit tujuannya.
Mona segera memberikan selembar uang pecahan seratus ribu kepada supir, tanpa meminta kembalian. Dia bergegas masuk, dan mencari tahu kondisi korban tabrakan itu.
"Suster, korban tabrakan ada di sebelah mana ya?" tanya Mona kepada seorang perawat yang tengah berpapasan dengannya.
"Oh… korban tabrakan mobil yang baru saja terjadi? Beliau sedang di operasi," jawab perawat tersebut dengan tenang.
"Di… di mana ruang operasinya?" tanya Mona lagi dengan wajah paniknya.
"Ruang operasi ada di lantai tiga," sahut si perawat.
"Thanks!" ucap Mona sambil kemudian berlari menuju lift.
Mona menaiki lift dengan hati cemas, hingga kuku jarinya pun tak luput dari giginya yang sedari tadi terus menggigiti hingga hampir menyentuh kutikula.
Setibanya Mona di lantai tiga, Mona kembali berlari dan menuju ke tempat tunggu operasi.
Langkahnya mendadak memelan, kala melihat beberapa orang tengah berada di sana.
Pandangannya tertuju pada seorang wanita, dengan balutan busana yang anggun dan elegan, tengah menangis tersedu-sedu di bangku tunggu.
Mona berhenti melangkah, dan bersembunyi di balik dinding yang ada di persimpangan lorong.
Aku harus bagaimana? Aku ingin sekali mengetahui siapa dan bagaimana kondisi korban itu. Tapi di sana itu pasti keluarganya. Apa tidak apa-apa jika aku langsung bertanya kepada mereka? batin Mona sambil menyandarkan tubuh pada dinding yang berada di belakangnya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih