DESIRE

DESIRE
Bab 68



Arthur segera memeluk wanitanya. Hatinya terasa sakit mendengar penuturan Mona, akan masa lalunya yang sangat sulit.


"Maaf... Maaf karena aku tak ada bersamamu. Maaf karena aku sudah meninggalkanmu dulu. Maaf karena aku terlambat menemuimu. Maaf, Lisa. Maaf," ucap Arthur sambil sesekali mengecup puncak kepala wanita itu.


Mona pun membalas pelukan prianya, dan menyandarkan semua beban yang membuat dadanya terasa sesak.


Bulir bening lolos dari sudut mata pria tampan itu, sambil bibirnya terus mengucapkan kata maaf berkali-kali.


"Kakak minta maaf sebanyak apapun, tidak akan pernah bisa mengubah apa-apa." Mona mengurai pelukannya dan melihat lingkar mata pria besarnya itu telah merah, dengan aliran yang telah terbentuk di pipinya.


Mona pun menangkup wajah Arthur, sambil menghapus jejak air mata di pipi pria tersebut dengan ibu jarinya.


"Semua udah terjadi, Kak. Mau menyesal seperti apapun, sudah seperti ini keadaannya. Aku bukan lagi Lisa kecilmu yang dulu. Aku yang sekarang hanyalah wanita yang sudah kotor… sangat kotor. Jujur aku malu saat bertemu lagi dengan mu dan juga Jessy di Negara K," ucap Mona sambil berkaca-kaca.


"Ssstttt… aku tidak peduli siapa kamu, apa pekerjaanmu, bagaimana kehidupanmu. Karena yang aku tau, kamu tetaplah Lisa kecilku… cinta pertama ku," ungkap Arthur.


Pria itu seketika mencium Mona dengan begitu lembut, menyesap manisnya bibir wanita itu, dan menyalurkan perasaan yang hangat.


Mona menitikkan air mata dan lolos masuk kedalam celah pagutan mereka. Tangannya seketika melingkar di leher Arthur, sambil jemarinya mere*mas rambut belakang pria tersebut, dan membawa ciu*mannya semakin dalam.


Jangan menangis lagi, Lisa. Aku sudah datang. Aku akan selalu bersama mu, akan selalu melindungi mu, akan selalu ada untuk mu, batin Arthur.


Josh, maaf jika secepat ini aku melupakanmu. Semoga kau tenang di sana. Aku janji akan selalu bahagia di sini bersama pria masa laluku, batin Mona.


Ciuman mereka semakin lama semakin dalam. Tangan Arthur sudah tak bisa dikontrol lagi, dan mulai menyusup ke balik baju yang dikenakan oleh Mona.


Ia menyingkap kain pembebat dada Mona ke atas sehingga terbebaslah dua bulatan padat yang menggoda tangannya untuk semakin mere*mas.


"Ehm…,"


Mona merintih pelan di sela ciuman Arthur yang terus menuntut dan semakin dalam.


Bibirnya kini berpindah ke leher jenjangnya. Dia menjilat dan menyesap, hingga menimbulkan jejak cinta kemerahan di sana.


Dia perlahan turun hingga berada tepat di depan dada Mona yang begitu menantang.


Mona begitu menikmati setiap sentuhan Arthur yang selalu bisa membuatnya melayang. Kedua tangannya terus mere*mas rambut belakang Arthur sambil menekannya semakin dalam.


Erangan dan rintihan keluar dari bibir wanita cantik itu. G*irahnya semain terbakar seiring dengan gerakan-gerakan yang diciptakan oleh Arthur.


Puas bermain dengan kedua benda kenyal itu, kini dia menuntun Mona untuk memimpin. Ia memegang tangan wanita itu dan mengarahkan ke miliknya yang mulai mengeras.


"Apa Kakak yakin sudah tak apa-apa?" tanya Mona dengan mata yang telah sayu, dipenuhi kabut g*irah.


"Lakukanlah," sahut Arthur dengan suara yang telah serak menahan gejolak n*fsu yang muncul.


Mereka saling melepas kain-kain penutup yang melindungi kulit mereka masing-masing. Semua dibiarkan begitu saja berserakan di atas lantai.


Mona duduk dipangkuan Arthur , dengan menghadap ke arahnya. Perlahan, dia menyatukan miliknya dan milik pria itu, kemudian memulai permainan cinta mereka.


Antara g*irah, n*fsu, cinta dan rindu melebur jadi satu. Deru nafas memacu, dan peluh mulai bercucuran dari tubuh keduanya.


Hentakan demi hentakan terus membuat Mona mend*sah penuh kenikmatan. Arthur yang menuntun pinggul wanita itu untuk bergerak naik turun dengan berirama, dibuat mengejang karena rasa yang begitu dahsyat.


Geleyar-geleyar yang timbul, membuat mereka kian memacu dengan cepat, membawa mereka kepuncak syurga kenikmatan tiada tara.


"Aaaaahhhhhh… Kak…," pekik Mona di sela gerakannya.


"Bersama, Sayang," ucap Arthur yang menuntun pinggul Mona agar terus bergerak.


"Kak… aaaahhhhhh… aku… ke… aaaaaaahhhhhh …," des*han panjang Mona menandai mereka telah sampai di puncaknya.


"Aaaaarrrghhhh… aaaaarrrghhhh…," Arthur mengerang seiring dengan semburan vanila yang menyirami rahim Mona.


Mona lemas dan menjatuhkan kepalanya di pundak Arthur. Pria itupun kemudian memeluk erat wanitanya sambil menciumi pelipis Mona.


"I love you," bisik Arthur di telinga Mona.


Mona tersenyum mendengarnya. Sungguh kata-kata manis yang baru pertama kali ini diucapkan lawan mainnya, setelah pertempuran panas yang mereka lakukan.


Mona mengurai pelukannya dan mengangkat kepala, membuat Arthur pun turut mengurai pelukan.


"Lalu, aku harus jawab apa?" tanya Mona menggoda dengan senyumannya.


"Tidak usah jawab apapun. Cukup jadi Lisa kecilku saja, untuk selamanya." Arthur menempelkan keningnya ke kening Mona dan senyum seketika mengembang di bibir masing-masing.


"Ehm…," sahut Mona mengiyakan dengan sebuah kedipan mata.


Kebahagiaan begitu terasa di antara keduanya, dan bibir mereka pun kembali saling terpaut.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Siang harinya, Arthur berangkat ke kantor dan meninggalkan Mona sendiri di apartemen, karena ada hal penting yang harus ia urus.


Si ratu es itu belum bangun juga setelah pertempurannya dengan Arthur yang entah sudah berapa kali mereka lakukan pagi itu.


"Ehm…,"


Mona tampak menggeliat di atas ranjang, sambil tangannya meraba tempat di sampingnya. Ia menepuk-menepuknya saat tak mendapati apapun di sana.


Wanita itu pun kemudian membuka matanya dan menoleh ke kanan dan kiri, namun tak ada siapapun juga. Mona pun kemudian bangun dan duduk bersandar di head board.


"Ehm… kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri.


Ia meraih ponselnya yang berada di atas nakas, dan melihat jam yang tertera di layar.


"Wah… ternyata aku sudah tidur terlalu lama. Apa dia pergi ke kantor?" gumamnya.


Mona kemudian membuka riwayat panggilan. Banyak sekali panggilan masuk dari nomor asing, yang sangat dia kenal siapa pemiliknya.


"Harus ku save dengan nama apa yah?" tanyanya pada diri sendiri.


Jari telunjuknya ia ketuk-ketukkan ke sisi dagunya, sambil memikirkan nama yang akan dipakai untuk menamai nomor asing tersebut.


"Save." Mona terus mengembangkan senyumnya sambil memandangi nama yang tertera di sana.


Dia kemudian melakukan panggilan ke nomor tersebut. Pada deringan pertama, panggilan langsung tersambung.


"Halo," sapa suara yang terdengar di seberang.


"Kenapa tidak membangunkan ku?" keluh Mona berlagak sok galak.


"Ma… maaf, Mona. Tadi kau tidur sangat pulas. Aku tak tega mengganggumu," sahut orang yang adalah Arthur itu.


"Sekarang kau sedang di mana?" tanya Mona ketus.


"Aku… aku di kantor sekarang," jawab Arthur sambil menoleh ke kanan dan kiri seolah lupa bahwa dia tengah berada di mana.


"Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku kan, Kak? Bisa saja kan kau sekarang di bandara dan akan meninggalkanku lagi," gerutu Mona sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan, dan berusaha menahan tawa.


Sambungan tiba-tiba terputus, dan membuat Mona terbelalak.


"Kenapa dimatikan? Dasar menyebalkan!" Mona membanting ponselnya di atas kasur dan merebahkan dirinya.


Ponsel kembali berdering. Kali ini, Mona dengan malas meraba sampingnya dan meraih benda yang masih berbunyi itu.


Sebuah panggilan vidio masuk ke ponselnya. Ia melihat nama yang tertera di layar, dan seketika senyumnya mengembang kembali.


Mona kemudian duduk dan bersandar di head boar, lalu membenahi penampilannya terlebih dulu sebelum menerima panggilan vidio tersebut.


"Halo," sapa Mona dengan berakting merajuk.


"Jangan marah, Sayang. Aku benar-benar berada di kantor sekarang. Lihatlah," ucap Arthur sambil memutar kursi yang didudukinya, dan menunjukkan seluruh penjuru ruang kerjanya di kantor.


Mona melihat dengan ekspresi datar, dan bibir yang agak manyun.


"Percaya sekarang? Aku tidak mungkin meninggalkan kau tanpa pamit lagi, Mona. Bukankah aku sudah janji akan selalu ada di samping kamu," ucap Arthur dengan serius.


Pria itu tak tahu jika Mona saat ini tengah menahan tawanya dengan susah payah, melihat Arthur yang begitu ketakutan saat dirinya merajuk.


"Sudah, jangan merajuk lagi, hem. Aku janji, besok-besok jika akan pergi, aku akan membangunkan mu lebih dulu. Ayo lah, Sayang. Jangan marah lagi, hem," bujuk Arthur yang melihat Mona masih tetap diam dan cuek.


"Ya sudah. Tapi hari ini aku mau pergi ke mall. Jangan larang aku. Aku bosan tinggal di rumah terus," rengek Mona.


"Tapi aku sibuk sampe sore, Mona. Besok saja yah. Aku janji," seru Arthur.


"Siapa yang memintamu menemaniku? Aku mau pergi sendiri hari ini. Kamu tidak boleh melarang ku, titik!" sahut Mona ketus.


"Hah… ya sudah. Tapi kau harus berhati-hati. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku," pesan Arthur.


"Lalu uangnya?" Mona lagi-lagi berlagak jual mahal namun merengek seperti anak kecil yang meminta permen.


"Akan ku transfer ke rekeningmu sekarang juga," sahut Arthur.


"Berapa? Seratus?" tanya Arthur menawarkan.


"Ckk… pelit." Mona kembali melengos, namun dalam hati dia tertawa melihat Arthur yang begitu menuruti permintaannya.


"Oke, aku transfer lima ratus juta sekarang. Kalau masih kurang, langsung beritahu aku," ucap Arthur.


"Benarkah?" tanya Mona dengan mata berbinar dan senyum yang seketika mengembang.


"Iya, Sayang. Apapun asalkan kau senat. Tapi jangan marah lagi yah," seru Arthur membuat Mona tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang putih.


"Oke," ucapnya sambil membuat simbol O dengan telunjuk dan ibu jarinya.


Arthur nampak tersenyum di seberang sana, menatap keceriaan di wajah wanita itu.


"Ya sudah, aku harus bekerja lagi. Kalau tidak selesai, nannanti malam aku bisa pulang telat," ucap Arthur.


"Ya sudah. Aku juga mau siap-siap pergi," sahut Mona.


"Hati-hati. Selamat bersenang-senang. Jangan lupa bayaranku nanti malam," ucap Arthur sambil mengerlingkan sebelah matanya ke arah Mona.


"Iissshh… dasar perhitungan. Sudahlah kau kerja saja. Cari uang yang banyak," ujar Mona yang kemudian tergelak di depan kamera.


"Awas kamu yah… Arthur terus memandangi Mona sambil ikut tertawa… ya sudah. Aku tutup dulu ya," pamit Arthur.


"Bye, Sayang," sahut Mona.


"Apa? Apa tadi kau bilang? Sayang?" tanya Arthur yang pura-pura tak dengar perkataan Mona.


"Iiihhhh… tidak ada siaran ulang! Weeekkkk …," sahut Mona sambil menjulurkan lidah, dan Arthur seketika tergelak melihat tingkah wanitanya itu.


Mona sekilas melihat tawa pria tersebut, dan kemudian menutup panggilan vidionya.


"Hah… ayo kita cek rekeningku," gumam Mona sesaat setelah sambungan terputus.


Mona menekan beberapa kali tombol-tombol yang ada di layar ponselnya, hingga ia melihat nominal yang fantastis telah masuk ke dalam rekening miliknya.


"Wah… sultan sekali dia. Baiklah, apa aku harus membuat list belanja dulu?" gumamnya sambil memikirkan barang-barang apa yang akan dia beli nanti.


"Ah… kenapa aku seperi orang susah. Bod*h! Sudah lah aku mau mandi dan bersiap-siap shopping," ucapnya sambil bangun dan beranjak menuju ke kamar mandi.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih