DESIRE

DESIRE
Bab 111



Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian yang membuat Mona terus ketakutan setengah mati, saat bermimpi jika kakak tirinya telah kembali dan hendak mengusik hidupnya lagi.


Dia bahkan membuat Arthur terus berada di apartemen, dan menyusahkan William karena harus mengurus semua pekerjaan di kantornya untuk sang tuan.


Beberapa hari ini, mereka hanya tinggal di dalam apartemen, dan tak merencanakan kencan atau sekedar jalan-jalan ke luar, karena kondisi Mona yang masih takut melihat keadaan di luar sana.


Meski Arthur berusaha meyakinkan wanitanya jika semua baik-baik saja, akan tetapi, Mona selalu saja merasa cemas jika harus berada di luar ruangan. Bayangan orang yang mengintainya saat di kantor Arthur, membuat dia menjadi paranoid.


"Apa kamu yakin tidak perlu pergi ke psikiater?" ucap Arthur di sela waktu bersantai mereka di balkon.


Arthur berencana ingin menambahkan satu kursi lagi di tempat tersebut. Namun, Mona menolaknya karena dia tak bisa lagi punya alasan untuk duduk di pangkuan pria itu.


Mona yang saat ini duduk di pangkuan Arthur sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang prianya pun, seketika menegakkan duduk dan menatap tajam ke arah Arthur, saat si pemilik monster teripang itu berbicara mengenai psikiater.


"Apa Kakak serius meminta ku ke dokter jiwa? Aku tidak gila, Kak," keluh Mona yang terlihat jelas jika dirinya tak terima dianggap mengidap penyakit kejiwaan.


"Ehm… bu… bukan begitu maksudku, Mona." Arthur meraih pundak wanitanya, dan mengarahkan badan Mona agar menghadap ke arahnya.


Mona masih melengos. Dia merasa sangat tersinggung dengan ucapan Arthur tadi.


Pria itu pun beralih menangkup kedua pipi Mona, dan membuat wanita itu menatap lurus ke arahnya.


"Mona, Sayang, Mommy-nya lil baby, calon istriku, aku tak mengatakan bahwa kau gila. Psikiater itu bukan tempat yang hanya didatangi oleh orang gila saja. Orang yang memiliki kecemasan atau trauma pun bisa datang ke sana," ucap Arthur yang menirukan perkataan Dokter Tama tempo hari.


Mona pun mulai mau mendengarkan perkataan pira itu.


"Aku hanya cemas, karena kamu yang selalu terbayang-bayang oleh kehadiran kakak tirimu di dalam mimpi, yang begitu membuatmu ketakutan. Aku khawatir itu akan berimbas pada anak kita," lanjut Arthur.


Sebelah tangannya turun ke bawah dan mengusap lembut perut rata wanita itu. Pandangannya bertemu dengan tatapan teduh Mona.


"Aku hanya memikirkan kalian berdua. Semua yang membuat kalian berdua nyaman dan aman, itu akan menjadi prioritasku, begitupun sebaliknya," tutur Arthur.


Mona nampak tersenyum. Dalam hati, dia begitu bersyukur bisa menemukan cinta dari pria di hadapannya itu.


Dia pun merangkul Arthur, dan memeluk erat prianya itu. Mona membenamkan wajahnya di ceruk leher Arthur, dan mengendus aroma maskulin yang selalu membuat Mona ingin terus dan terus berada di samping prianya.


"Aku benar-benar tak apa, Kak. Tapi, kalau Kakak mau memastikannya, baiklah. Ayo kita coba," ujar Mona.


Arthur pun membalas pulukan wanitanya dengan sesekali mengusap-usap punggung Mona dengan lembut.


"Baiklah. Aku akan buat janji dulu dengan psikiater terbaik di sini. Kalau perlu, ku bawa kau ke luar negeri untuk menemukan yang terbaik dari yang terbaik," ucap Arthur di balik punggung Mona.


"Ckk… jangan terlalu berlebihan deh, Kak. Sudah di sini saja tidak usah ke mana-mana," tolak Mona yang mengurai pelukannya, dan mengerucutkan bibirnya.


Wanita itu nampak kesal dengan perkataan Arthur yang menurutnya terlalu berlebihan.


"Isshh… sengaja yah," seru Arthur yang mencubit hidung Mona, hingga wanita itu mengaduh.


"Ihhh… kak… eeeehhhhmmmm…," gerutuannya terhenti kala mulutnya terbungkam oleh serbuan bibir Arthur.


Pria itu memagut dan menyesap bibir bawah Mona, hingga gigitan kecil ia daratkan di sana.


Bukan pria namanya jika saat berciuman, tangannya bisa tetap diam. Begitu pun dengan Arthur yang sedari tadi, tangannya telah bergerilya turun ke bawah, meraih bulatan padat di balik lapisan celana yang dipakai Mona.


"Eeehhhhmmmm…." Mona mel*nguh saat tangan pria itu merem*s bokong sintalnya.


Dia menyusupkan jemarinya di antara lebatnya rambut Arthur, dan merem*snya kuat, seiring pagutan mereka yang semakin memanas.


Lidah Arthur terjulur mengajak Mona untuk ikut membelit, ******* dan menyesap semua manisnya rasa.


"Eeeeehhhhhmmmm… eeeeehhhhhmmmm…," nafas mereka kian memburu seiring gerakan tangan Arthur yang telah menurunkan tali bahu dress yang dipakai oleh Mona.


Dengan sebelah tangannya, pria itu mulai mengusap lembut buah dada Mona yang masih tertutup, sedangkan tangan satunya lagi menyangga punggung wanita itu agar tak roboh oleh dorongannya.


Pria itu melepas pagutannya, dan memandangi wajah Mona yang sudah merah, dengan mata sayunya.


"My beautiful love," ucap Arthur seraya membelai pipi wanitanya.


Mona tersenyum tipis, seraya mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.


"Mandi bareng yuk," ajak Mona.


Wanita pun kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke dalam. Belum juga sampai di kamar mandi, Arthur yang berjalan di belakangnya, menyambar tangan si ratu es hingga Mona pun seketika berbalik dan menabrak tubuh Arthur.


"Aaaahhhh… eeeeeehhhhmmmmm…," belum usai keterkejutannya yang tiba-tiba ditarik, Arthur seketika membungkam bibirnya dengan ciuman yang sangat berg*irah.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Tiga hari berlalu, Arthur yang sudah membuat janji temu untuk konsultasi dengan seorang psikiater pun, mengajak Mona untuk turut serta.


Di terus cemas pada wanitanya itu. Meskipun suasana hatinya sudah coba ia perbaiki dengan terus ada di samping si ratu es, namun setiap malam, Mona selalu saja bermimpi buruk.


Dia takut hal ini akan mempengaruhi sang anak yang di kandungnya juga.


"Apa kau siap?" tanya Arthur yang sedang duduk bersama Mona di ruang tunggu tempat praktek psikiater itu.


Mona menggenggam tangan Arthur erat, dan jemari mereka pun bertaut kuat


"Asal ada kakak di samping ku, aku tak akan takut lagi," ucap Mona yang berusaha menutupi kegugupannya.


Arthur pun tersenyum tipis ke arah wanita itu.


"Nyonya Mona," panggil seorang asisten psikiater yang bertugas memanggil pasien dan mengarahkannya masuk.


"Ya," sahut Arthur.


Pria itu pun berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Mona.


"Ayo," ajak Arthur.


Mereka berdua pun masuk ke dalam sebuah ruangan, yang didominasi oleh warna putih. Nampak seorang wanita dengan memakai jubah putih layaknya seorang konsultan kesehatan, tengah duduk di kursi kerjanya.


"Silakan duduk," ucapnya.


"Terimakasih, Dok," sahut Arthur.


Pria itu pun menuntun Mona agar duduk di kursi yang sudah di sediakan. Namun, tiba-tiba saja si ratu es membeku, seolah sekujur tubuhnya menjadi batu.


Pandangannya mengarah ke satu titik, dan ekspresinya terlihat begitu ketakutan. Semua terkejut, saat Mona memekik dengan kerasnya, sambil menutupi kedua telinga.


"TIDAAAAAAAAK!"


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih