DESIRE

DESIRE
Bab 115



"Kau?!" tanya Mona yang terkejut melihat sosok yang terasa familiar, namun sangat berbeda dari yang biasa dia lihat.


"Apa sih? Awas minggir! Tamu tidak disuruh masuk. Tidak sopan sekali!" gerutu tamu yang baru saja dateng itu.


Mona hanya diam dan memandangi orang tersebut dengan tatapan heran.


"Wah… enak juga ya apartemen mu. Kaya sekali ya kau sekarang. Pantas saja kau resign dari Heaven valley," ucap orang itu yang saat ini duduk di ruang tamu.


Mona pun kini berdiri di hadapannya sambil berkacak pinggang.


"Eh, kucing kampung! kau main nyelonong saja ke rumah orang. Sopan sedikit lah," keluh Mona kepada tamunya yang tak lain adalah Ema, rekan sekaligus rivalnya di tempat kerja.


"Ya lagipula, kau pakai acara bengong saja di depan pintu. Bukannya mempersilahkan masuk, duduk, atau buatkan minum," sindir Ema.


"Hah… sepertinya aku salah minta tolong kau untuk kemari," rutuk Mona yang berjalan ke arah dapur dan membuatkan minum untuk tamunya.


Sedangkan Ema, dia justru mengekor Mona dan ikut masuk, lalu duduk di meja makan yang berada di depan dapur.


"Kenapa tadi kau bengong pas aku datang?" tanya Ema.


"Aku seperti lihat hantu. hahahaha…," kelakar Mona.


"Si*lan kau. Cantik begini dibilang hantu," gerutu Ema.


Matanya mengedar ke sekeliling tempat tinggal rekannya tersebut, sambil mengagumi kemewahan yang ada di dalam unit apartemen itu.


"Aku baru lihat kau yang seperti ini. Ternyata benar apa kata yang lain, kalau kau itu cantik hanya saat malem saja, kalau siang tidak terlihat seperti orang. Hahahaha …." Mona kembali berkelakar, menertawakan penampilan Ema yang sangat kontras dengan image-nya yang adalah seorang kupu-kupu malam.


"Eh, kucing liar. Kalau malam itu tuntutan pekerjaan, jadi ya aku mesti cantik lah. Kalau siang, memangnya aku mau cantik UN siapa? Memangnya kau yang tinggal bersama pelanggan. Kan tidak," jawab Ema yang selakau saja apa adanya.


"Iya juga sih. Sekali-kali coba deh kau cari pelanggan yang seperti aku, jadi kalau siang kau tidak seperti hantu begitu, hahahahaha …," Mona kembali berkelakar mengejek rekan sesamanya tersebut.


"Si*lan kau. Sudahlah mana minuman ku. Haus nih," keluh Ema.


Bukan maksud Mona untuk mengejek, namun penampilan Ema saat di luar Heaven valley, sungguh berbanding terbalik dengan saat dia menjadi ladies di sana.


Sekilas tak ada yang salah dengan penampilannya yang casual, sama halnya dengan Mona yang selakau tampil cantik dan elegan di manapun dia berada, meski dalam balutan busana yang santai.


Hanya saja, jika dibandingkan dengan image seksi dan nakal dari seorang Ema, ladies Heaven valley, penampilannya saat ini sangat jauh dan hampir tak terlihat pada wanita yang saat ini tengah bertandang ke apartemen Arthur.


Penampilannya saat ini, cenderung terlihat terlalu santai dan bahkan tertutup. Jauh dari kesan seksi seperti yang biasa Mona lihat.


"Ini minuman mu. Aku tinggal mandi sebentar. Lengket sekali badan ku," ucap Mona sambil menyodorkan segelas honey lemon ice ke hadapan Ema.


"Jorok sekali, jam segini baru mandi. Pasti sudah kering," ejek Ema.


"Apa yang kering. Memang aku melakukan apa sampai basah hah?" elak Mona.


"Pikir saja sendiri. Laki-laki dan perempuan berdua saja, kalau tidak basah-basahan, apa lagi memangnya?" sindir Ema sambil meneguk minuman dinginnya.


"Gila kau. Dasar pikiran mu semuanya mesum," keluh Mona yang berjalan ke atas.


"Kalau tidak mesum, aku alih profesi saja," gumam Ema.


Mona tak lagi terlihat karena sudah masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Ema berjalan ke arah dapur dan membuka lemari pendingin yang ada di sana.


"Hem… orang kaya kulkasnya sepi sekali, ck!" keluh Ema yang tak mendapati banyak makanan di dalam sana.


Dia pun akhirnya mengambil sebuah apel hijau dari dalam lemari pendingin, dan membawanya menuju ke meja makan.


Dia tak duduk di sana, melainkan mengambil minumannya dan berjalan menuju ke ruang tengah, di mana terdapat TV flat yang sangat besar dan menarik perhatian Ema.


"Wuih… besarnya TTV ini Berapa hargahya ya. Kalau dibawa ke kontrakan ku, sepertinya tidak muat deh," gumam Ema yang memperhatikan benda pipih itu dari jarak yang cukup dekat.


Dia pun kemudian duduk di sofa yang ada di depan TV, dan meletakkan minuman di atas meja, sedangkan apelnya ia pegang untuk kemudian dimakan.


Ema meraih remote TV. Betapa antusiasnya wanita itu melihat tayangan yang begitu banyak tersedia di sana.


"Gila… aku jadi betah nih di sini. Sorry, Mona. aku akan sering main-main nih ke sini buat mengganggu mu. Hahhaha …," kelakar Ema.


Wanita itu terus mengganti saluran TV yang ada dan semakin membuatnya merasa betah.


Ema hanya menoleh sekilas. Namun, kemudian dia tak menghiraukan ketukan tersebut dan kembali fokus ke depan TV.


Namun, ketukan itu terus saja terdengar hingga membuat salah satu ladies Mom Winda itu terusik.


"Ck! Siapa sih. Ganggu sekali!" keluh Ema.


Dia menoleh ke atas, namun Mona tak kunjung terlihat.


"Si Mona lama sekali mandinya. aku lihat saja deh,mungkin saja tukang antar makanan. Hehehee…," gumam Ema.


Wanita itu pun berjalan ke arah pintu dan membukanya. Terlihat seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal.


Ema melihat pria itu dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. Wanita itu pun melongokkan kepalanya ke keluar dan melihat ke anan dan kiri, namun tak menemukan apapun.


"Bukan kurir makanan?" tanya Ema.


Pria itu hanya menggeleng.


"Lalu sedang apa di sini?" tanya Ema ketus.


"Ini tempat tinggal Lisa kan?" tanya pria itu.


"Lisa? Tidak ada yang namanya Lisa di sini. Salah alamat!" ucap Ema yang seketika menutup pintu itu rapat-rapat tepat di depan wajah pria asing tadi.


Ema berjalan kembali ke arah ruang tengah. Bertepatan saat itu, Mona muncul dari atas dan melihat rekannya terlihat berjalan sambil menggerutu.


"Kau kenapa, Ema? Seperti habis lihat hantu saja," ledek Mona yang berjalan ke dapur dan mengambil air minum.


"Si*lan kau. Itu tadi ada orang aneh ketuk-ketuk pintu mu," ucap Ema yang telah duduk kembali di depan TV.


"Hem… orang aneh? Maksudnya?" tanya Mona bingung.


Wanita itu kemudian membawa minumannya dan berjalan menghampiri rekannya yang terlihat masih kesal.


"Ya aneh saja. Coba bayangkan, di luar sedang panas sekali , tapi dia malah pakai jaket, warna hitam pula. Lalu hoodie-nya juga di pakai," tutur Ema.


Mona seketika membeku mendengar penggambaran yang baru saja dituturkan oleh rekannya itu.


"Dan lagi, ternyata dia salah alamat. aku kira kurir makanan. Ya mungkin saja begitu, kau baik hati tiba-tiba mau memesankan ku makan. Eh, ternyata sedang mencari orang," lanjut Ema yang tak melihat seberapa pucatnya wajah Mona saat ini.


"Si… siapa yang dicari?" tanya Mona yang mulai gemetaran.


"Lisa! Dia bertanya, ini tempat tinggal Lisa apa bukan. Ya aku bilang bukanlah, bukankah di sini adanya Mona. Lalu…,"


PRAAANG!


Ema menghentikan celotehannya, dan terkejut mendengar benda pecah dari arah temannya berada.


"Mona? kau kenapa?" tanya Ema.


Dia segera berlari ke arah Mona yang berdiri di samping meja makan, sambil tangannya mencengkeram pinggiran meja itu dengan kuat.


Gelas yang ia bawa tadi pecah berserakan di lantak di lantai, karena tiba-tiba jatuh juga terjatuh begitu saja dari genggaman Mona.


"Dia sudah sampai sini,"


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih