DESIRE

DESIRE
Bab 108



Flash back on


Saat Mona berada di kantor Arthur, dia merasa jenuh menunggu prianya yang sedang mengikuti rapat dewan direksi, yang membahas tentang pengajuan dana untuk pembangunan proyek Eropanya.


Dia pun kemudian keluar dan berjalan berkeliling di sekitar ruang kerja pimpinan perusahaan tersebut.


"Maaf, Nona. Anda mau ke mana?" tanya seorang wanita yang berada di depan ruang kerja Arthur.


"Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar," sahut Mona datar, seperti gayanya yang biasa.


"Apa mau saya temani?" tawar wanita itu.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri. Terimakasih," ucap Mona yang kemudian berlalu pergi.


Mona nampak berjalan ke arah lift, namun matanya menangkap sebuah cahaya yang ada di ujung lorong.


Dia pun mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah, dan memilih untuk melihat apa yang ada di ujung sana.


Langkahnya terhenti, saat dia melihat sebuah pintu keluar yang terbuka sedikit. Dia pun kemudian membukanya, dan betapa terpesonannya dia saat melihat hamparan taman bunga yang indah di hadapannya.


"Wah… kenapa tempat sebagus ini bisa ada di sini?" gumam Mona.


Dia pun kemudian melangkah masuk ke dalam area taman rooftop tersebut. Mona tak menutup kembali pintunya, melainkan membiarkannya terbuka sedikit.


Dia tak sadar, jika ada seseorang yang mengintainya sedari tadi, dan mendekat ke arah pintu yang menuju ke taman tersebut.


Mona pun duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Saat dia sedang menikmati susana taman bunga yang begitu memesonanya, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang berada di balik pintu yang terbuka sedikit itu.


"Seperti ada orang?" gumamnya.


Mona pun memicingkan matanya dan mencoba melihat siapa yang sedang bersembunyi di balik pintu sana, dan mengawasinya sedari tadi.


"Apa si sekretaris tadi?" gumam Mona.


Dia pun berjalan menghampiri orang tersebut.


Namun, saat Mona baru beberapa langkah mendekat, orang itu nampak menyeringai dan membuat langkah Mona terhenti.


Sosok misterius itu pun pergi meninggalkan tempatnya, dan menghilang begitu saja meninggalkan Mona yang berdiri mematung.


Hembusan angin menyadarkan Mona, dan seolah menghentikan sihir yang diciptakan sosok misterius tadi pada dirinya. Wanita itu pun mengusap-usap lengannya yang terasa dingin.


"Sebaiknya, aku menunggu di dalam ruangan Kakak saja lah," ucap Mona pada dirinya sendiri.


Dia pun lalu pergi meninggalkan taman yang indah itu, dan berjalan kembali menuju ruang kerja pimpinan PS group yang berada di ujung sebaliknya.


Sesampainya di ruangan, Mona duduk di sofa. Namun, rasa kantuk mulai menyerangnya. Dia pun berbaring di sofa dan tertidur, hingga mimpi buruknya datang menghampirinya, bahkan hingga saat ini.


Flash back off


...🍂🍂🍂🍂🍂...


"Mona," panggil Arthur lirih saat merasakan wanitanya memeluk dengan tubuh yang kembali gemetar.


Dia pun meletakkan spatula yang tengah di pegangnya, lalu kemudian berbalik menghadap ke arah wanita itu. Arthur menangkup kedua pipi si ratu es, dan kembali melihat ekspresi ketakutan serta cemas di wajah cantik itu. Mata Mona terus bergerak ke kanan dan kiri tak beraturan.


"Dia kembali… dia kembali, Kak… dia kembali! Aku takut!" Seru Mona yang semakin membuat Arthur cemas, terlebih air matanya yang mulai mengalir dengan derasnya.


"Siapa yang kembali? Kamu takut pada siapa?" tanya Arthur yang begitu khawatir dengan wanitanya itu.


"Dia… dia kembali… aku takut…," racau Mona yang menatap kosong ke arah Arthur.


"Tenanglah! Ada aku di sini, hem." Arthur mendekap wanitanya erat.


Makan malam mereka pun gagal, karena Mona yang kembali ketakutan. Arthur memilih untuk membawa wanitanya kembali ke kamar.


Pria itu terus mendekap wanitanya, hingga Mona berangsur-angsur terlelap.


Apa yang sebenarnya kau takutkan, Mona? tanya Arthur dalam hati, saat memandangi Mona yang telah lelap.


Keesokan paginya, Arthur terbangun karena cahaya mentari masuk begitu terik ke dalam kamar tidur.


Dia pun berbalik hendak bersembunyi dari silaunya sang surya, tapi seketika itu Arthur membuka mata, saat menyadari jika di sampingnya tak ada siapapun.


Dia pun duduk dan mengedarkan pandangannya. Arthur melihat jika pintu balkonya terbuka lebar.


"Apa Mona di situ?" gumamnya lagi.


Dia pun meregangkan ototnya sambil beranjak dari tempat tidur. Ia melakukan gerakan mematahkan leher untuk mengurangi rasa pegal pada bagian tersebut.


Arthur berjalan mendekat dan keluar menuju balkon. Helaan nafas terdengar begitu melegakan saat dia melihat wanitanya berada di sana.


Mona tengah duduk tenang, dengan kedua kaki yang terangkat ke atas. Wanita itu tampak memeluk kedua lututnya yang menekuk di depan dadanya.


Arthur berjalan kembali ke dalam, dan mengambil selimut yang ada di atas ranjang. Ia kemudian kembali lagi ke balkon, dan perlahan menghampiri Mona.


"Lagi apa sih? Dingin lho, nanti kamu masuk angin bagaimana?" ucap Arthur sambil menyelimuti tubuh Mona, yang hanya mengenakan kaus oblong milik Arthur, dan sebuah underwear tipis.


Mona menoleh dan tersenyum tipis ke arah pria itu.


"Hanya ingin duduk di sini aja kok, Kak," sahut Mona.


Arthur pun duduk berlutut di depan Mona, karena di balkon itu hanya terdapat sebuah kursi yang sudah di duduki oleh Mona.


"Sepertinya, aku perlu tambah satu kursi lagi di sini, supaya kita bisa duduk sambil menikmati suasana pagi atau sore bersama," ucap Arthur.


Mona hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan prianya. Dia lalu menurunkan kakinya dan berdiri.


"Kakak duduklah di atas," ujar Mona yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Ehm… lalu, kamu mau ke mana?" tanya Arthur yang bingung denga perkataan Mona.


"Aku ya mau duduk juga. Kakak kan bisa memangku ku bukan," jawab Mona.


Arthur pun tersenyum. Dia mengerti maksud Mona dan bangkit dari posisinya. Pria itu kemudian duduk di kursi yang tadi ditempati si ratu es.


"Baiklah. Sekarang, sini duduk," ucap Arthur sambil menepuk-nepuk kedua pahanya.


Mona pun duduk menyamping di atas pangkuan pria itu. Arthur meraih selimut yang masih dipegang Mona, dan menutupi tubuhnya serta Mona dengan selimut itu, sambil memeluk wanitanya.


"Ehm… hangatnya," gumam Mona.


Dia merebahkan kepalanya di dada bidang Arthur, sambil memejamkan matanya, meresapi setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya.


"Mona," panggil Arthur.


"Ehm… kenapa, Kak?" sahut Mona yang masih memejamkan matanya.


"Apa kau tak mau cerita pada ku, soal kejadian semalam?" tanya Arthur yang begitu penasaran dengan apa yang dialami oleh Mona, hingga membuatnya ketakutan setengah mati.


"Ehm… hanya masa lalu. Mimpi yang biasa datang dulu, Kak. Tidak penting," jawab Mona.


Tanpa sadar, tangannya merangkul lengan Arthur dengan erat. Pria itu semakin merasa jika wanitanya tidak sedang baik-baik saja.


"Apa kamu yakin?" tanya Arthur menyelidik.


"Ehm… aku yakin kok," sahut Mona yang masih enggan membuka matanya, tapi justru semakin merapatkan keduanya.


"Lalu, kenapa kau terus mengatakan kalau 'dia' sudah kembali? Memang siapa 'dia'? Dan kembali dari mana?" tanya Arthur yang semakin penasaran.


Seketika, Mona membuka matanya. Dia kembali teringat dengan sosok yang mirip Jeffrey, yang mengawasinya saat berada di taman rooftop kantor Arthur.


Tanpa terasa, rangkulannya berubah menjadi cengkeraman yang membuat Arthur merasa kesakitan.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih