
Di Heaven valley,
TOK! TOK! TOK!
Sebuah suara ketukan terdengar dari balik pintu. Tampak seorang bodyguard bertubuh besar masuk dan melapor kepada bosnya.
"Bos, ada Tuam Chou datang mencari Anda," seru bodyguard yang bernama Hawkin itu.
"Suruh dia masuk," sahut wanita tua menor, yang tak lain adalah Madame Queen.
Sang mucikari pun lalu mematikan rokoknya, dan meletakkan puntung sisa di dalam asbak yang berada di atas meja kerja.
Joshua kemudian masuk, dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut. Madame Queen beranjak dari kursi kebesarannya, dan mengambil sebotol red wine yang ada di lemari, lalu bergabung bersama dengan Josh di sofa single yang berada di seberang pria tua itu.
"Kenapa kau baru datang sekarang, Josh?" tanya Madame Queen.
Ia meletakkan botol anggur beserta gelas ke atas meja, lalu menyandarkan punggungnya, dan melipat kedua lengan di depan dada, serta sebelah kakinya yang terlipat ke atas.
"Maaf, Meela. Aku sangat sibuk akhir-akhir ini," jawab Joshua, sambil membuka penutup botol, dan menuangkan minuman itu ke dalam masing-masing gelas kosong.
Ia lalu menyesap miliknya, dan kembali meletakkan gelas di atas meja.
"Apa yang ingin kau tanyakan soal Mona dan Arthur?" tanya Joshua.
"Semuanya," seru Madame Queen.
"Hah... sejujurnya, aku pun tak tau banyak. Aku hanya tau bahwa mereka adalah orang yang pernah saling mengenal di masa lalu," tutur Joshua.
"Apa kau tau, kalau Arthur adalah orang yang telah membuat luka di belakang punggung Mona?" tanya Madame Queen.
"Yah... aku sudah tau hal itu," jawab Joshua.
"Kalau kau tau, kenapa kau tega membuat Mona kembali mengingat masa lalunya yang pahit itu, Josh?" tanya Madame Queen sambil menyesap red wine-nya.
"Aku tahu, aku memang sudah keterlaluan. Tapi, aku merasa tidak salah menitipkan Mona padanya," Joshua kembali menyesap wine-nya.
Ia teringat akan kejadian beberapa waktu lalu, tepatnya saat acara pesta pembukaan cabang baru PS dept. store di Kota S Negara K.
FLASHBACK...
Setelah Mona pamit kembali ke hotel untuk beristirahat, akibat kesal dengan tingkah Arthur, Joshua yang merasa penasaran dengan interaksi antara Mona dan Jessica pun, mengajak Arthur untuk berbincang.
"Tuan Peterson, bisakah kita membicarakan sesuatu di luar bisnis?" tanya Joshua.
"Ehm… tentu. Mari ikut saya." Arthur mengajak Joshua ke sebuah balkon yang berada jauh dari keramaian para tamu pesta.
Joshua dan Arthur adalah rekan bisnis yang bisa dibilang cukup dekat, meski usia mereka terpaut sangat jauh. Jiwa muda Joshua, membuatnya bisa membaur dengan orang yang berusia lebih muda darinya, bahkan untuk berbicara mengenai wanita, bukan hal tabu lagi untuk Joshua dan juga Arthur.
Namun, keduanya menjunjung tinggi sopan santun, dan saling menghormati satu sama lain, sehingga mereka selalu berbicara dalam bahasa yang formal.
Mereka kini tengah berdiri di salah satu sisi gedung, sambil bersandar pada pagar pembatas. Udara malam begitu terasa dingin, meskipun ini masih musim panas.
"Tuan, saya minta maaf jika saya lancang bertanya sesuatu mengenai adik Anda." Joshua mulai membuka suara.
"Adikku? Ada apa dengan Jessy?" tanya Arthur yang mengerutkan keningnya.
"Bukankah tadi, Nona Peterson memanggil partner saya Mona, dengan nama Lisa? Apa mungkin mereka pernah saling mengenal?" tanya Joshua yang begitu ingin menemukan masa lalu Mona.
"Ehm… sepertinya, adik saya hanya salah mengenali orang. Dia dulu memang pernah memiliki teman dengan nama Lisa, sebelum kami pindah ke negeri kanguru," jawab Arthur.
"Maaf, Tuan. Tapi saya rasa, adik Anda tidak salah mengenali orang. Dia memang bernama Lisa, sebelum ku ubah namanya menjadi Mona." Joshua memberitahukan kenyataan itu kepada Arthur.
Arthur seketika menatap tajam ke arah Joshua.
"Li… Lisa? Benarkah? Benarkah dia Lisa kami? Tapi, kenapa aku tak lihat apapun di balik punggungnya?" tanya Arthur semakin penasaran.
"Anda tau hal itu juga rupanya. Jadi benar, Kalian memang pernah mengenal di masa lalu?" tanya Joshua.
Arthur lalu membuang pandangannya ke arah jauh, dan kembali berpegangan di pagar pembatas. Sedangkan Joshua, dia terus menatap Arthur dengan tatapan menyelidik.
"Akulah yang menyebabkan luka itu, Tuan Chou." Arthur menyesap sampanye-nya dan lalu menghela nafas berat.
"Apa maksud Anda?" tanya Joshua menyelidik.
"Namun, justru dia yang kemudian tertusuk, dan terluka cukup parah." Arthur seakan kembali ke masa itu, di mana Lisa kecil tergeletak tepat di hadapannya.
"Hah… jadi begitu rupanya," sahut Joshua, menghela nafas.
"Boleh saya tanya, apa sebenarnya hubungan Anda dengan dia, Tuan Chou?" tanya Arthur tiba-tiba.
"Ehm… jujur, dia bukan partner kerja saya, tapi dia adalah wanita malam yang saya ajak pergi ke mari. Kami sangat dekat, hingga aku mau membiayai semua biaya operasi plastik untuk menghilangkan bekas luka di punggungnya itu," jawab Joshua.
"Wa… wanita malam? Dia menjadi seorang wanita malam? Bagaimana bisa?" tanya Arthur yang merasa emosi mendengar hal itu.
Josh pun lalu menceritakan awal pertemuannya dengan Mona. Bagaimana kesalahan itu terjadi, dan bagaimana Lisa akhirnya berganti nama menjadi Mona.
Arthur merasa geram. Dia mengepalkan tangannya, dan
BUG!
Sebuah pukulan keras melayang di wajah Joshua.
Arthur merasa tidak terima jika Lisa kecilnya, telah dijamah oleh pria yang bahkan tidak mencintainya, dan hanya karena sebuah kesalahan.
Joshua tidak membalas, karena dia sudah tau kalau jadinya akan seperti ini, dan ini semua memang kesalahannya yang patut mendapatkan hukuman.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi semua itu pun di luar kesadaran saya," ucap Joshua yang memegangi sudut bibirnya yang luka.
Empat tahun yang lalu? Bukankah lima tahun yang lalu pun, kejadiannya hampir sama? Lisa, kenapa nasibmu seperti ini? Siapa yang sudah tega menjual mu hingga dua kali? batin Arthur perih mengingat gadis kecilnya dulu, kini menjadi wanita yang telah dijamah banyak pria.
"Pergilah! Saya ingin sendiri untuk sekarang," ucap Arthur kepada Joshua.
Pria paruh baya itu pun lalu berbalik, namun sebelum pergi, ia kembali berkata kepada Arthur.
"Besok, kami akan ke pantai di Propinsi N. Jika Anda mau, datanglah bersama adikmu." Joshua kemudian pergi meninggalkan Arthur seorang diri.
Hal itu lah yang membuat kenapa Arthur dan Jessica bisa menyusul Joshua dan juga Mona ke pantai. Karena Joshua lah yang telah memberitahukan informasi itu kepada Arthur.
Saat di pantai, Joshua mengutarakan niatnya untuk mempercayakan nasib Mona selanjutnya kepada Arthur, orang yang menurutnya lebih tepat untuk bersama Mona.
"Tapi sepertinya, dia sangat membenci kami." Arthur merasakan kekecewaan di dalam mata Mona setiap kali berbicara dengan Jessica.
"Tapi, hanya Anda yang bisa melakukannya, Tuan. Anda yang lebih tau siapa dia, dan mungkin andalah yang bisa mengeluarkannya dari tempat itu," ucap Joshua.
"Kak, terima saja. Bagaimanapun, keluarga kita sudah banyak melakukan kesalahan padanya. Kita harus bertanggung jawab, Kak," ucap Jessica yang juga ikut dalam pembicaraan tersebut.
Setelah mendengar perkataan sang adik, Arthur pun akhirnya menyetujui akan hal itu.
"Baiklah, di mana tempat dia bekerja?" tanya Arthur.
"Heaven valley, dengan bosnya yang bernama Madame Queen," sahut Joshua.
Setelah kejadian di pantai, Joshua dan Mona kembali ke tanah air.
Setibanya di ibu kota, Joshua mendapati kabar bahwa selama ini, sang istri, Valeria, telah lama mengirim seorang penguntit untuk mengikuti ke mana pun dan apapun yang dia lakukan bersama Mona.
Saat itu lah, Joshua meminta Arthur agar segera datang ke tanah air, supaya dia bisa menitipkan Mona kepadanya.
Awalnya, Arthur menjanjikan satu minggu. Dalam satu minggu, dia akan tiba di tanah air. Namun berita penguntitan Soraya, membuat Joshua meminta Arthur mempercepat kedatangannya.
Akhirnya, Arthur pun mengiyakan, dan tiba keesokan harinya, kemudian bertemu Mona di resto, lalu tiba-tiba menjadi tetangga Mona.
FLASHBACK END...
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih