
Arthur terkejut mendengar perkataan Mona. Dia tak menyangka jika kata-katanya tadi membuat wanita itu terluka.
"Mona," panggil Arthur.
Dia berusaha meraih lengan wanitanya. Namun, Mona mundur dan berbalik hendak pergi menuju ke kamarnya.
Arthur cepat-cepat menyusulnya, dan sebelum Mona sampai di tangga, pria itu telah lebih dulu memeluk pinggangnya dari belakang.
"Maafkan aku, Mona. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku … aku cuma …," ucap Arthur.
"Aku tau ini berat, Kak. Maka dari itu kalau kamu tak sanggup, lebih baik kamu lepaskan aku saja…," Mona.
"Tidak! Aku tak mau. Sampai kapan pun aku tak akan melepaskan kalian berdua," ucap Arthur yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak…,"
Arthur seketika membalik tubuh Mona, dan membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya, sebelum si ratu es kembali mengatakan hal yang menyakitkan lagi.
"Eeehhhhhmmmm…," ciuman itu semakin lama semakin dalam dan membuat keduanya larut dalam perasaan yang tak menentu.
Tak ada h*srat di sana. Arthur dan Mona hanya saling meluapkan perasaan yang mendalam di antara mereka satu sama lain.
Arthur pun melepas pagutannya, dan menempelkan keningnya di kening Mona. Ia mengusap bekas basah di sudut bibir wanitanya dengan lembut.
"Jangan suruh aku melepaskan kamu lagi yah. Maaf kalau aku sudah membuat kamu tersinggung tadi," ucap Arthur tepat di depan wajah Mona.
"Ehm… aku haya tidak ingin kamu kesulitan karena aku, Kak," sahut Mona.
Arthur seketika memeluk tubuh wanitanya, dan mendekap erat si ratu es yang sedang rapuh saat ini.
Tak sampai tiga puluh menit waktu yang diberikan Arthur untuk menunggu Ema datang, ladies itu sudah lebih dulu hadir di sana.
"Heh, kamu… besok lagi jangan kesiangan datangnya. Ini sudah jam berapa? Saya harus berangkat ke kantor tapi tidak bisa gara-gara kamu belum datang," gerutu Arthur kepada Ema.
"Hei, Tuan. Dalam kerja sama kita, tidak ada aturannya saya datang jam berapa setiap harinya. Jadi, apa salahnya kalau saya ke sini siang hari. Lagi pula, pekerjaan saya sebagai ladies kan memang baru selesai saat fajar. Ini juga saya belum tidur sama sekali," balas Ema tak kalah sengit.
Mona yang melihat perdebatan keduanya pun hanya tertawa cekikikan.
"Eh, kucing ganjen. Diam kau! Tidak usah senang seperti itu melihat ku dimarahi kekasih mu," seru Ema.
"Eh… kenapa malah memarahi Mona. Di sini dia nyonya rumahnya. Jadi, kamu harus sopan padanya," tukas Arthur.
Ish… menyebalkan sekali. Kalo tak gara-gara bayarannya yang lumayan, malas sekali aku menuruti maunya dua orang ini. Dasar si Mona rese. Malah senang sekali dia melihat ku susah, batin Ema menggerutu.
"Kamu tetap di sini, jangan biarkan Mona sendirian. Nanti akan ada tukang ledeng yang datang, suruh masuk saja langsung agar airnya cepat bisa mengalir lagi." Arthur pun berjalan ke arah Mona, dan meraih tas kerjanya yang ada di depan si ratu es.
"Aku berangakt yah. Kamu baik-baik di rumah," ucap Arthur sambil mengusap lembut puncak kepala Mona, dan tak lupa sebuah kecupan singkat di kening wanita itu.
"Ehm… kamu juga hati-hati ya, Kak," sahut Mona.
Arthur tersenyum dan berbalik pergi.
Saat melihat tuan rumah sudah menghilang di balik pintu, Ema pun berjalan menghampiri Mona yang duduk dengan santai sambil mengemil buah-buahan.
"Ck! Gayanya seperti sudah menikah saja kalian berdua," sindir Ema yang mengambil sepotong buah melon dari mangkuk yang ada di pangkuan Mona.
"Memang dia mau menikahi aku kok katanya," sahut Mona cuek.
"Kan baru katanya. Memang orang tuanya mau punya menantu seperti kamu ini. Bekas banyak orang," cerocos Ema.
"Ya, kita lihat saja nanti. Kalau mereka mau, berarti aku bakal dapat jackpot. Suami sultan. Hahahaha…," kelakar Mona yang seolah tak terbebani dengan itu semua.
Padahal, beberapa waktu yang lalu, dia sempat galau saat memikirkan hal tersebut.
"Eh, tadi kata pria mu, mau ada tukang servise datang?" tanya Ema.
"Iya. Air mati. Untung saja matinya pas kita sudah mandi," gerutu Mona.
"Untung ya. Kalau tak, lengket deh," sahut Ema sambil melirik ke arah sel*ngkangan Mona.
"Hish! Apaan sih kamu, dasar mesum," keluh Mona.
"Sudah kebiasaan. Hahaha…," giliran Ema yang berkelakar.
Menjelang siang hari, Ema terlihat telah lelap tertidur di sofa, yang sudah di ubah menjadi tempat tidur oleh Mona.
Tempat yang sering dijadikan arena pertempuran antara Arthur dan dirinya, kini menjadi tempat tidur sementara bagi Ema, yang memang selalu mengantuk saat sepulang dari Heaven valley.
Mona saat itu masih asik menonton TV, sambil duduk di samping rekannya yang sudah pulas.
Tiba-tiba, terdengar sebuah ketukan di pintu masuk. Mona yang masih belum berani membuka pintu pun, mau tak mau mengganggu tidur wanita di sampingnya.
"Em! Ema! Eh… Ema. Bangun!" panggil Mona sambil menggoyangkan tubuh rekannya itu.
"Ehm… apa sih, Mon. Ganggu orang tidur saja deh," keluh Ema yang masih enggan membuka matanya.
"Em, ada yang ketuk pintu. Tolong periksakan," seru Mona.
"Hah… intip saja dulu di lubang. Kalau aman, kau buka. Kalau tak aman, ya jangan buka. Susah sekali sih," ujar Ema yang masih terus terpejam sambil meracau.
"Em. Aku masih tak berani. Kau saja yang kelihat ke sana," rengek Mona.
"Tak mau! Aku ngantuk," tukas Ema yang lanjut tidur.
"Ya sudah. Ku adukan ke Arthur kalau kau tak benar kerjanya. Biar tidak bisa dapat duit lagi," ancam Mona.
Seketika, Ema pun membuka matanya, dan bangkit dari tidurnya.
"Siap, Nyonya. Laksanakan perintah," ucap Ema yang terpaksa bangun dan terus mengomel sepanjang langkahnya.
Sesampainya di depan pintu, dia pun mengintip dari lubang pintu.
"Tinggal begini saja kok susah sekali sih. Heran!" keluh Ema.
Dia melihat seorang pekerja dengan seragam berlogo kepala keran dan air menetes, tengah berdiri di depan pintu. Wajahnya tak terlihat dengan jelas, karena memakai penutup wajah dan topi.
Wanita yang setengah mengantuk itu pun segera membukakan pintu.
"Tukang ledeng yah?" tanya Ema sambil menggaruk kepalanya.
"Benar," sahut orang itu.
"Ya sudah. Masuklah," seru Ema yang langsung menyingkir dari depan pintu dan membiarkan tukang ledeng itu masuk ke dalam.
Mona yang sedari tadi duduk di ruang tengah, memperhatikan pria yang masuk, dan melempar pandang pada rekannya.
"Tukang ledeng," sahut Ema seolah tahu bahwa Mona menanyakan siapa orang asing yang masuk itu.
"Oh…," gumam Mona.
Ema pun kembali berbaring di dekat Mona, yang masih asik menonton acara TV kesukaannya.
"Maaf, apa di sini ada lem pipa?" tanya tukang ledeng itu.
Mona mendengarnya, namun wanita itu tak berani mendekati pria asing tersebut. Dia memilih untuk mengganggu kembali tidur Ema.
"Em, coba kamu lihat dia bilang apa," seru Mona.
"Apaan lagi sih, Mon. Ganggu saja deh," keluh Ema.
"Itu tukang ledengnya bilang apa," ucap Mona.
"Ya tinggal tanya saja. Apa susahnya sih," keluh Ema.
"Hih… mau aku adukan ke Arthur, hah?" ancam Mona.
"Hah… dasar tukang ngadu!" gerutu Ema.
Mau tak mau, dia pun bangun dan dengan malas menghampiri si tukang ledeng.
"Kenapa, hah?" tanya Ema malas.
"Ada lem pipa tidak? Saya lupa bawa," ucap si tukang ledeng yang sedang berada di area dapur.
"Mon, kau punya lem pipa tidak?" teriak Ema ke arah Mona.
"Lem pipa? Ya tidak lah. mana ada benda seperti itu," sahut Mona dari ruang tengah.
"Tidak ada," ucap Ema kepada tukang ledeng itu.
"Bisa tolong belikan di swalayan depan tidak?" pinta si tukang ledeng tadi.
"Hah... menambah pekerjaan saja. Memang kau tak bisa beli sendiri, Tuan?" rutuk Ema.
"Apa Nona bisa pegang ini sebentar?" ucap si tukang ledeng sambil menunjuk ke arah pipa yang terlihat kotor dan berlumut.
Ema bergidik jijik melihatnya.
"Apa tidak bisa dilepas saja?" ujar Ema.
"Kalau dilepas, sisa air yang di lekukan ini bisa tumpah kemana-mana," jawab si tukang ledeng.
"Hah… ya sudah. Cuma lem pipa saja kan?" tanya Ema yang terpaksa melakukan permintaan si tukang ledeng tadi.
"Iya," sahut si tukang ledeng.
Ema pun berbalik dan berjalan sambil menjejakkan kakinya kesal ke arah Mona.
"Tidak profesional! Harusnya dicek dulu alat-alatnya. Lengkap apa tidak. Jangan malah dibuka dulu seperti itu. Kan yang repot aku juga," gerutu Ema.
"Kenapa sih?" tanya Mona.
"Aku keluar sebentar. Kau diam di dalam saja ya," seru Ema.
Wanita itu pun kemudian keluar meninggalkan Mona berdua dengan si tukang ledeng. Si ratu es pun tak terlalu mempedulikan keberadaan si tukang ledeng, selama itu bukan Jeffrey.
Di depan lift, Ema terus saja ngedumel karena kedua orang itu mengganggu waktu istirahatnya yang berharga.
"Hah… nasib ku kenapa seperti ini sih. Mau tidur saja tidak bisa," gerutu Ema.
Pintu lift terbuka, dan dia pun masuk ke dalam. Wanita itu nampak menyandarkan punggungnya di dinding lift.
"Tapi, aku seperti tak asing dengan tukang ledeng itu. Tapi siapa yah?" gumam Ema mencoba mengingat-ingat.
Angka di atas pintu lift sudah menunjukkan angka satu, pertanda jika dia sudah sampai di lobi Royal Rose Tower. Ema pun keluar dari lift dan berjalan menuju ke arah luar.
Saat dia melewati meja resepsionis, dia sayup mendengarkan pembicaraan seseorang yang tengah bertanya pada petugas di sana.
"Apa di sini ada penghuni yang bernama Feronika Wang?" tanya seseorang.
"Tunggu sebentar, saya akan coba lihat di daftar penghuni apartemen," sahut petugas tersebut.
Seketika itu, Ema menghentikan langkahnya. Ingatannya kembali saat dirinya membukakan pintu untuk pria yang menanyakan Lisa tempo hari, yang membuat si ratu es mendapatkan serangan panik.
Dia pun segera berbalik dan berlari menuju lift. Namun sayang, semuanya tertutup. Ema panik, dan memilih untuk naik menggunakan tangga darurat.
"Dia orang yang waktu itu. Gawat! Mona dalam bahaya,"
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih