DESIRE

DESIRE
Bab 36



Arthur pun kemudian membantu wanita itu, dan membuat Mona bersandar pada tubuh kekarnya.


Dengan sebelah tangan yang menopang pinggang Mona, ia mengambilkan minuman dengan tangan satunya.


Perlahan, ia meniup-niupkan minuman yang masih cukup panas itu, lalu dengan hati-hati meminumkannya kepada Mona.


Seteguk, dua teguk berhasil masuk ke dalam kerongkongan Mona yang kering.


"Bagaimana? Apa merasa lebih baik?" tanya Arthur memeriksa kondisi Mona.


Wanita itu tak menyahut. Dia hanya mengangguk pelan karena masih merasa pusing, dan efek obat bius masih membuatnya lemas.


"Mau lagi?" tawar Arthur.


Mona kembali mengangguk pelan, dan dengan telaten, Arthur meniup-niup minuman itu, dan meminumkannya.


"Lagi?" tanya Arthur.


Mona menggeleng pelan.


"Cukup," ucapnya lirih.


Arthur pun menaruh kembali gelas itu ke atas nakas yang ada di sampingnya. Dia kemudian membaringkan Mona lagi ke atas tempat tidur, dan menyelimuti tubuhnya.


"Apa kau butuh sesuatu lagi?" tanya Arthur saat selesai menyelimuti wanita itu.


"Terimakasih," ucapnya lirih.


Arthur tersenyum tipis mendengar kata itu keluar dari bibir Mona, wanita yang selalu saja dingin dan ketus kepadanya.


"Sudah kewajiban ku sebagai tetangga yang baik bukan?" ucap Arthur yang disambut senyum oleh Mona.


Namun, senyumnya mendadak hilang kala menyadari kata tetangga yang diucapkan oleh penyelamatnya.


Ia berusaha memfokuskan pandangannya, dan ingin melihat dengan jelas siapakah orang yang sudah menolongnya itu.


"Anda?" tanya Mona ketika berhasil melihat dengan jelas, sosok pria yang ada di hadapannya.


"Tentu saja aku. Memang siapa lagi tetangga baik hatimu?" ucap Arthur dengan penuh percaya diri.


Mona nampak jengah melihat sikap over confident dari pria tersebut.


"Sudah, marahnya nanti saja. Sekarang, sebaiknya kau istirahat saja di sini. Kondisi tubuhmu masih sangat lemah. Aku akan menemanimu dari sofa itu," ucap Arthur sambil menunjuk ke arah sofa di seberang tempat tidur.


Awalnya, Mona menolak dan memaksa pulang, akan tetapi tubuh nya memang belum sepenuhnya pulih dari pengaruh bius, sehingga membuatnya terpaksa hanya bisa menurut.


Ditambah, kondisi di luar yang belum dipastikan aman, membuat Arthur terus membujuk wanita itu agar mau tetap tinggal di tempatnya.


Malam itu, Mona pun meminta ijin kepada Madame Queen untuk tidak bekerja, dan beralasan jika ia sedang kurang sehat.


Tak lupa, ia juga mengirimkan foto obat-obatan yang diberikan oleh Arthur sesuai resep dari Dokter Anderson.


Mau tidak mau, Madame Queen pun mengijinkannya, karena memang sangat tidak mungkin melayani orang ketika tengah dalam kondisi sakit.


Arthur sekali lagi meminta Mona untuk sementara istirahat di tempatnya dulu, sampai dia benar-benar pulih. Mona hanya mampu menurut, karena ia belum bisa untuk memberikan perlawanan terhadap pria menyebalkan itu.


Setelah meminum obatnya, Mona kemudian tertidur. Sedangkan Arthur, ia berjalan menuju ruang tamu.


Pria itu nampak tengah menghubungi seseorang dari sambungan telepon.


"Firasat Anda benar. Sepetinya, semua sudah dimulai. Hari ini, Mona diserang oleh orang yang tak dikenal. Beruntung, saya datang tepat waktu sebelum sempat terjadi apa-apa padanya," ucapnya.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Keesokan pagi,


Mona yang semalam menginap di tempat Arthur, kini terbangun karena terusik oleh sinar mentari yang masuk melewati celah-celah tirai yang menutupi pintu kaca, yang menghubungkan antara kamar dengan balkon.


Setelah berhasil membuka matanya, Mona lalu bangun dan duduk bersandar di head board. Ia mengusap wajahnya, naik menuju ke kepalanya dan berakhir di tengkuk.


"Ahโ€ฆ kenapa pusingnya masih terasa?" keluhnya ketika masih merasakan pusing, walaupun tidak separah sebelumnya.


Ia menegakkan kepalanya dan menyandarkannya di headboard. Pandangannya lurus menangkap sosok pria yang semalaman terus menjaganya, yang kini tertidur di atas sofa sembari meringkuk.


"Wahโ€ฆ player seperti dia bisa-bisanya menahan diri melihat mangsa empuk seperti ini, yang bahkan berontak saja tidak bisa. Luar biasa," ucapnya lirih, antara mengagumi dengan menyindir.


Ia menoleh ke samping kanannya, di mana minuman semalam masih tersisa setengah. Mona meraihnya dan meneguk habis air tersebut.


"Ahโ€ฆ masih haus. Sebaiknya aku ambil sendiri saja. Tidak tega juga kalau sampai harus membangunkannya," gumam wanita itu.


Mona kemudian menyibakkan selimut yang semalaman menutupi tubuhnya ke samping, dan mencoba menjejakkan kedua kakinya ke lantai.


Dia pun lalu mulai melangkah ke luar, dan hendak turun ke bawah menuju dapur. Namun, baru beberapa langkah saja, tiba-tiba dia kembali merasa pusing dan limbung seketika.


"Tuan, bukannya Anda sedang tidur tadi?" tanya Mona yang terkejut dengan keberadaan pria itu, yang tiba-tiba saja menangkapnya dari belakang.


Arthur langsung mengangkat tubuh Mona, dan membawanya kembali ke ranjang. Ia mendudukkannya dengan bersandar di headboard.


"Aku memang tidur. Tapi seseorang terus saja membicarakan ku, sehingga aku jadi terganggu," keluh Arthur dengan wajah datarnya.


Mon mengernyitkan kedua alisnya.


Hahโ€ฆ apa benar suara ku yang sangat lirih itu bisa didengar olehnya. Ahโ€ฆ paling dia hanya pura-pura tidur saja tadi, batin Mona.


"Mau apa kau berjalan mengendap-endap seperti tadi? Apa kau mau kabur, hah?" tuduh Arthur.


"Kabur? Memangnya kenapa juga saya harus kabur? Saya bukan sedang mencuri atau merampok rumah orang. Saya hanya haus, dan ingin mengambil air minum, Tuan," gerutu Mona.


"Tunggulah. Duduk diam di sini saja," perintah Arthur.


Pria itu kemudian bangkit dan berjalan ke luar. Tak berselang lama, ia kembali dengan membawa segelas air putih hangat untuk Mona.


"Ini minumlah." Arthur menyodorkan gelas itu ke hadapan Mona, yang lalu diraih oleh wanita tersebut.


"Terimakasih, Tuan." Mona meneguk pelan-pelan air itu hingga tandas.


"Aku akan membuatkanmu sarapan. Ada yang ingin kau makan?" tanya Arthur.


"Tidak, Tuan. Saya bisa pesan sendiri lewat layanan pesan antar. Tolong antarkan saja saya pulang ke sebelah," ucap Mona.


"Jangan berlagak kuat. Berjalan saja masih sempoyongan," sindir Arthur dengan datarnya.


"Lalu, sampai kapan saya haru terus sembunyi di rumah pria asing? Seperti simpanan saja," keluh Mona.


"Anggap saja memang begitu," sahut Arthur seenaknya.


"Wahโ€ฆ Anda mulai kurang ajar lagi, Tuan. Atau mungkin... Anda memang punya niat tidak baik dan memanfaatkan kondisi saya yang lemah seperti ini?" terka Mona sinis.


"Kalau aku memang berniat jahat padamu, kenapa juga aku harus susah-susah tidur di sofa, dan bukan mene*lan*jangi mu, lalu memer*ko*samu semalam, hah?" sahut Arthur tak kalah sinis.


"Ohโ€ฆ jadi rupanya memang ada niatan seperti itu. Baiklah, sekarang semuanya sudah jelas. Sebaiknya saya memang harus segera pulang," ucap Mona sambil mencoba bangkit dari tempat tidur.


Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak kembali limbung.


"Lihat, saya sudah tidak apa-apa. Jadi, sekarang saya pamit. Terimakasih atas semuanya... dan permisi," Mona pun lalu berjalan perlahan, sambil menahan rasa pusingnya yang cukup merepotkan.


Ia tak mau kembali jatuh dan membuat Arthur semakin memintanya untuk tetap tinggal.


Sementara Mona berjalan keluar, Arthur hanya menatapnya dalam diam, tanpa berniat untuk menyusulnya.


Saat Mona berhasil mencapai pintu kamar, ia pun berjalan ke luar, dan melihat wanita tersebut yang terus berjalan menuju pintu depan, dari lantai atas.


Mona kini telah keluar, dan Arthur bersandar di dinding yang berada di samping pintu kamarnya, sembari memasukkan tangan ke dalam kantong celana.


"Dasar keras kepala. Kenapa kau menjadi pembangkang seperti ini, hah?" keluh Arthur.


Pria itu pun lalu kembali masuk ke dalam kamar, dan bersiap berangkat ke kantor untuk menyelesaikan permasalahan yang sempat tertunda, akibat kejadian tak terduga yang menimpa Mona kemarin.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Dua hari berlalu sejak hari itu, dan kini tiba lah saat di mana Mona akan bertemu dengan tamu VVIP-nya nanti malam.


Sejak kejadian pembiusan itu, wanita tersebut dan Arthur tak lagi saling bertemu, meskipun mereka tinggal bersebelahan.


Bahkan, ketika Mona hendak mengembalikan pakaian Arthur yang tertinggal di tempatnya, dia hanya menaruhnya di depan pintu apartemen pria tersebut, dengan hanya sebuah catatan bertuliskan 'Terimakasih'.


Mona tak terlalu memikirkan hal itu, meski sikapnya tak menunjukkan demikian.


Setiap kali dia keluar dan hendak masuk ke dalam apartemennya, ia berhenti sejenak dan memandang ke arah pintu yang berada tepat di sampingnya.


Namun, Mona menepis kuat-kuat perasaan sepinya itu, kala pria tersebut tak lagi mengganggu hidupnya.


"Syukurlah kalau dia tidak usil lagi. Hidupku bisa kembali tenang," ucapnya pada diri sendiri.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih