
Arthur mengangkat tubuh Mona bak tengah memanggul sebuah karung berisi beras. Ia menaiki lift dan turun ke lantai bawah, entah lantai berapa. Yang jelas, di lantai itu hanya ada deretan kamar hotel.
"LEPASKAN SAYA!" teriak Mona sembari memukul-mukul punggung Arthur.
Pria itu diam seribu bahasa, dengan langkah kakinya yang semakin lebar melangkah. Kini sampailah ia di depan sebuah kamar. Pria itu mengeluarkan sebuah kunci akses masuk ke dalam, dan pintu pun langsung terbuka.
Arthur membawa Mona masuk ke dalam, dan langsung mengunci pintunya.
Dia berjalan melewati ruang santai, dan menuju ke tempat tidur, lalu kemudian membanting tubuh wanita cantik nan seksi itu ke atas sebuah kasur king size.
"Ah…," pekik Mona ketika tubuhnya mendarat di atas tempat tidur yang empuk.
Arthur kemudian membuka jasnya, dan melemparnya ke sembarang tempat. Tatapan tajamnya tertuju pada Mona yang masing terkejut dalam kondisi terlentang.
"Apa yang mau Anda lakukan?" teriak Mona ketika melihat pria itu mulai melucuti satu persatu benda yang melekat pada dirinya.
Arthur mencopot sepatu dan kaus kakinya, lalu melempar ke sembarang arah. Tak lupa, dasi kupu-kupu yang ia pakai pun turut dilemparnya.
Mata Mona membola, kala melihat pria di hadapannya tengah melepas gesper yang melilit di pinggang.
"Anda mau apa, Tuan?" Mons meringsut mundur, dan mencoba turun dari tempat tidur.
Dia seolah tahu apa yang akan terjadi jika dirinya masih berada di sana.
Namun dengan gerakan cepat, Arthur menangkap tubuh wanita itu, dan kembali menggulingkannya ke atas ranjang.
"Ah…," pekik Mona, yang lagi-lagi merasa terkejut dengan perlakuan kasar dari Arthur.
"Kau sendiri yang meminta hukuman, bukan? Jadi... terimalah hukumanmu," ucap Arthur dengan nada datar dan wajah dinginnya.
"Tidak. Tuan, tolong jangan begini," teriak Mona.
Arthur duduk mengangkangi Mona, dan menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Dengan gespernya, ia mengikat kedua tangan wanita tersebut dan menautkannya di salah satu tiang ranjang.
"Tuan, kalau Anda mau, saya bisa melakukannya dengan suka rela. Tapi tolong jangan seperti ini. Ini namanya pemer*ko*saan," ucap Mona yang berusaha bernegosiasi dengan Arthur, yang sama sekali tak mempedulikan dirinya.
Arthur mencengkeram kedua pipi Mona dengan sebelah tangannya yang kekar, dan mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu.
Nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing, dan sorot tatapan mereka saling menatap tajam.
"Kalau kau melakukannya seperti biasa, itu namanya bukan hukuman, tapi pelayanan. Aku hanya ingin melihat, bagaimana seorang pe*lacur yang tak bisa mendes*h seperti ini, menghadapi ku yang adalah seorang penakluk wanita," ucap Arthur dengan seringainya.
"Ehm…," bibir Mona terbungkam seketika oleh bibir Arthur yang me*lu*matnya dengan buas.
Mona tak mau membalas, dan menutup mulutnya rapat-rapat. Namun, Arthur yang adalah seorang player, sangat tau apa yang bisa membuat wanita itu membuka mulutnya.
Ia menghentikan ciu*man*nya, dan beralih ke telinga wanita itu.
"Terimalah hukumanmu," ucap Arthur sembari menggigit kecil ujung cuping telinga Mona.
"Eng…." Mona mengerang kecil karena rang*sangan yang dilakukan oleh Arthur.
Seperti biasa, Mona selalu menutup matanya, setiap kali mendapatkan fore*play dari lawan mainnya, dan menggigit bibir bawah agar suara-suara yang memalukan tak keluar dari mulutnya.
Arthur terus menjelajahi tubuh Mona, dan kini turun ke leher jenjang wanita tersebut. Kecupan demi kecupan yang disertai hisapan kecil, membuat tubuh Mona semakin memanas.
Kaki mulusnya terus menendang-nendang sprei yang ada di bawanya, untuk menekan sensasi aneh pada area sensitif di pangkal pahanya yang mulai basah.
Arthur turun hingga ke pundak mulus Mona, dan memberikan gigitan kecil di sana.
"Aaaahhhh…," sebuah suara indah lolos dari mulut wanita itu.
Namun, Mona kembali menutup rapat mulutnya dengan menggigit bibir bawahnya.
Arthur mendengar itu dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat ke atas.
Men*de*sah*lah, Mona. Ayo keluarkan suara indahmu, batin Arthur.
Arthur semakin menjelajah ke bawah. Ia merobek ujung tali bahu yang melingkar di belakang leher Mona, karena membuatnya kesulitan untuk menjamah kedua gunung kembar di hadapannya.
"Hei! Itu gaun baru," pekik Mona kala melihat pria yang tengah menguasainya, dengan sengaja merobek pakaian barunya.
"Eng…," Mona kembali dibuat bungkam, kala bibir Arthur tiba-tiba mendarat di ujung dadanya yang tak terhalang apapun. Buah mungil yang selalu digilai oleh bayi, kini disesap dengan rakus oleh Arthur.
Dengan lidahnya yang bergerak lincah, Arthur membuat Mona menggeliat-geliat di bawahnya. Rasa geleyar yang diciptakan oleh pria itu, sungguh membuatnya hampir tak bisa bertahan.
Gila, benar-benar gila. Kenapa rasanya begitu nikmat? Ini pertama kalinya aku merasa tidak bisa menguasai diri ku sendiri, batin Mona.
Ketika Arthur menarik pelan buah mungil merah muda itu dengan bibirnya,
"Aaaahhhh…," Mona telah dikuasi penuh oleh naf*su*nya hingga ia tak bisa lagi mengontrol kesadarannya.
Mendengar suara merdu yang memalukan bagi Mona, membuat Arthur semakin terpacu untuk membuat wanita itu melambung mencapai puncak has*ratnya.
Dia terus menyesap dan memilin ujung mungil itu dengan lidahnya, dan satu tangannya lagi me*rem*as gundukan lainnya.
"Eeeeengggg… Aaaaahhhhh…," Mona semakin hilang kendali.
Tubuhnya terus meliuk-liuk seiring dengan permainan Arthur yang sangat memabukkannya.
Pria tersebut beralih dari satu gunung ke gunung satunya, sedang tangannya yang bergerak semakin turun ke bawah, membelai perut yang masih tertutupi oleh baju yang dipakai Mona.
Ia menyingkap baju bagian bawahnya yang memang terbuka hingga paha, dan karena gerakan kaki Mona yang terus menendang sprei, membuat ce*la*na dalamnya terlihat.
Dengan sekali tarikan, Arthur merobek kain tipis penutup daerah inti Mona.
Dia mengusap lembut bulu-bulu halus Yang tumbuh di sekitarnya, dan membuat Mona semakin meremang.
"Eeehhhmmmm… Stop… it… Aaaaahhhh…," rintih Mona di tengah de*sa*han nikmatnya.
Arthur semakin menggila dan tak mau mendengarkan Mona yang memohon. Tangannya semakin turun ke bawah, dan dengan sekali tekan, jari tengahnya masuk ke liang lembah Mona yang telah basah.
"Aaaaahhhh… please… aaaaaahhhhh… stop aaaaahhhhhh…," de*sah Mona seiring Arthur yang terus memainkan jarinya di bawah sana, masuk dan keluar liang, dengan ibu jarinya yang memainkan buah mungil yang tersembunyi di sana.
"Mendes*hlah, Sayang. Keluarkan suara indah mu. Sebut namaku, Mona. Ayo sebut," seru Arthur yang kini telah berada di bawah, tepat di depan paha Mona yang terbuka lebar.
Mona menggeleng dengan cepat, namun bibirnya terus mengeluarkan suara indahnya.
Arthur memajukan wajahnya, dan seketika memasukkan lidahnya ke dalam liang lembah Mona.
"Aaaaahhhhh…," Mona mendongak ke atas karena merasakan sensasi nikmat yang luar biasa, yang diciptakan oleh Arthur.
Pria itu tersenyum melihat ekspresi Mona, yang sangat menikmati setiap sentuhannya.
Sementara lidahnya bermain di lembah, sebelah tangannya meraih dadanya yang begitu menantang di atas sana. Ia me*ram*asnya, seiring dengan sesapan dan jilatan lidahnya di bawah sana.
"Aaaahhhhhh… Kak!" pekik Mona yang secara tak sadar memanggil Arthur dengan sebutan 'Kakak', yang membuat Arthur menatap wajah wanita yang tengah meliuk-liuk indah itu lekat-lekat.
Pria itu semakin gencar memainkan lembah Mona dengan lidahnya, hingga si primadona Heaven valley benar-benar merasa akan meledak.
"Aaaaaahhhh… Kak… Eeeehhhmmm… hentikan… Aaaaaahhhhh… aku… aku… Aaaaahhhhhhhh…," Mona men*des*ah panjang, seiring pelepasannya.
Arthur menyudahi aksinya saat merasakan milik Mona berkedut dan keluar lelehan hangat dari dalam sana.
Pria itu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, sembari memandang wajah Mona yang memerah karena ga*irahnya.
Wanita itu memejamkan matanya dengan nafas yang tersengal-sengal, dan dada yang naik turun berayun membuat pangkal paha Arthur semakin terasa sempit.
Namun, pria itu tidak berniat untuk meniduri Mona. Dia hanya ingin memberikan wanita itu pelajaran, agar Mona tak lagi membantahnya.
Dia tahu sedikit jika wanita itu memiliki harga diri yang sangat tinggi sebagai seorang pe*la*cur. Dia sangat menjaga predikatnya sebagai pe*la*cur yang tak bisa men*des*ah selama ini, sebagai bentuk menjaga kehormatannya.
Sekalipun dia sudah tak suci, namun setidaknya para pria hidung belang akan malu pada diri mereka sendiri, karena tak mampu meruntuhkan pertahanan yang Mona buat.
Dengan begitu, Mona masih memiliki kebanggaan terhadap dirinya, yang sudah tak bisa di banggakan oleh siapa-siapa lagi.
Arthur membuka ikatan tangan Mona, dan turun dari tempat tidur.
Mona yang melihat itu pun segera bangun dengan menumpukan kedua lengannya ke belakang.
"Kenapa pergi?" tanya Mons dengan suara yang masih terdengar parau.
Arthur berhenti. Dia menoleh sedikit ke samping.
"Heh… apa kau kecewa karena tak bisa merasakan monster milikku?" ucap Arthur sembari tersenyum sinis.
Dia berjalan menuju ke kamar mandi. Namun, sebelum dia masuk, dia berhenti terlebih dulu di ambang pintu.
"Bangunlah. Ada pakaian di dalam kotak itu. Kau bisa mengambilnya sebagai ganti pakaianmu yang rusak," ucap Arthur yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dan menuntaskan urusannya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih