DESIRE

DESIRE
Bab 63



Dokter Anderson tiba di apartemen Arthur, sekitar pukul setengah sebelas malam. Waktu yang cukup larut untuk meminta bantuan seseorang, yang kemungkinan sedang beristirahat saat itu.


Mona yang sebelumnya hanya mengenakan bath robe, kini telah mengganti pakaiannya dengan kaus Arthur yang kedodoran dan celana training yang juga kebesaran.


Dia duduk dengan tenang di sofa yang berada di seberang tempat tidur, sambil memperhatikan kedua pria beda usia di depannya.


Dokter Anderson memeriksa dan mengobati luka yang ada di punggung serta siku Arthur.


"Ini akan sembuh dalam beberapa hari. Pastikan lukanya jangan terkena air agar cepat kering. Lalu untuk kaki Anda, sebaiknya Anda periksakan lebih lanjut ke rumah sakit. Takutnya, ada tulang yang retak di sana," ucap Dokter Anderson.


"Beberapa luka yang cukup parah sudah ku perban, tapi sebaiknya Anda jangan tidur telentang untuk sementara, dan jangan banyak bergerak dulu. Liburkan juga monstremu, Tuan," ucap Dokter Anderson yang sontak membuat Arthur membelalak dan Mona pun mengulum senyumnya.


"Saya akan resepkan obat untukmu. Nanti Anda bisa meminta nona itu untuk menebusnya di apotek tersekat," lanjut dokter tua itu sambil melihat ke arah Mona.


"Baiklah. Kalau sudah selesai, kau boleh pergi." Arthur merasa kesal dengan perkataan Dokter Anderson sebelumnya, yang seolah menyindirnya.


"Hah… ya sudah. Kalau begitu, saya pamit dulu. Tolong jaga dia baik-baik, Nona," pesan Dokter Anderson kepada Mona.


"Baik, Dok." Mona menyahut dengan tersenyum.


Wanita itu kemudian mengantarkan Dokter Anderson sampai ke pintu depan. Sebelum sempat keluar, dokter itu menyerahkan resep obat yang harus ditebus dan diminumkan segera kepada Arthur agar lukanya cepat sembuh.


"Segera tebus obatnya. Usahakan malam ini dia tidur dengan nyenyak, Nona," ucap Dokter Anderson di ambang pintu.


"Baik, Dok. Saya akan pastikan hal itu," sahut Mona tersenyum ke arah sang dokter.


Dokter Anderson pun keluar dan Mona kembali menutup pintu. Dia pun berjalan ke arah kamar Arthur untuk meminta ijin.


"Saya akan keluar sebentar. Ada yang mau Anda beli?" tanya Mona.


"Kemarilah sebentar," seru Arthur yang melambaikan tangan, sambil tetap dalam posisinya yang terus menelungkup di atas ranjang.


Mona berjalan menghampirinya, dan meraih tangan pria itu.


"Jangan kemana-mana. Temani saja aku di sini," ucap Arthur yang menuntun Mona agar duduk di sampingnya.


Arthur beringsut dan membaringkan kepalanya di paha Mona, dengan wajah yang menghadap ke perut wanita itu.


Tangannya melingkar di pinggang Mona, dan memeluknya erat.


"Saya hanya akan ke apotik untuk menebus resep obat, yang diberikan Dokter Anderson tadi. Kenapa Anda tiba-tiba jadi manja seperti ini?" ucap Mona sambil mengusap lembut surai hitam Arthur.


"Biar William saja yang membelikannya. Kau cukup di sini menemaniku, hem," pinta Arthur sambil mengeratkan pelukannya di pinggang wanita itu.


"Will? Tapi ini sudah hampir tengah malam. Pasti dia sudah tidur bukan? Lalu tadi juga, ku kira Anda akan memanggil dokter besok, tapi ternyata malam-malam begini. Bagaimana kalau dia sedang istirahat tadi? Ditambah, Anda langsung mengusirnya begitu saja. Sopan sekali Anda. Coba kalau Anda…," cibir Mona.


Arthur pun mendongak dan meraih tengkuk Mona.


CUP!


Pria itu mendaratkan kecupan di bibir seksi yang terus mencerocos itu. Mona bungkam seketika dan matanya membulat karena mendapatkan serangan mendadak dari Arthur.


"Kau ini cerewet sekali. Di sini, aku bosnya. Jadi ya suka-suka aku," ucap Arthur sambil kembali merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu.


Mona yang kembali tersadar dari keterkejutannya pun, mendorong pelan kepala Arthur hingga membuat pria itu terkekeh.


"Dasar menyebalkan!" gerutu Mona.


Sebuah senyum mengembang di bibir Mona. Tangannya terus mengusap lembut surai hitam Arthur dengan penuh kasih sayang.


Perlahan, kebekuan di hatinya pun mulai mencair, dengan ketulusan Arthur yang selalu berada di sisinya dan melindunginya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Pagi menjelang, dan kedua insan yang baru saja saling melepas rindu di hati masing-masing, tengah tertidur dalam posisi saling berpelukan.


Pakaian? Tentu saja lengkap. Hanya Arthur saja yang terluka di punggungnya, sehingga pria itu memilih untuk tidur bertelanjang dada.


Mona nampak begitu nyaman berada di dalam dekapan Arthur, dan merasakan kehangatan yang berasal dari dada pria itu.


Arthur pun nampak tertidur pulas, setelah semalam meminum obat yang diantarkan oleh William.


Sinar mentari yang mengintip dari balik tirai, tepat mengenai mata lentik Mona dan mengusik tidurnya.


Wanita itu mengerang lirih, dan mulai menggeliat di dalam pelukan Arthur. Perlahan, ia pun mulai membuka matanya, dan mendapati pria yang beberapa waktu belakangan ini terus mengganggu hidupnya, kini tengah tertidur pulas, mendekap erat tubuhnya.


Sebuah senyum mengembang di bibir seksinya, saat mengamati setiap lekuk wajah pria itu. Tangannya terulur, dan merayap dari kedua alis yang tebal, meraba ke bulu mata yang tak terlalu lentik. Hidung mancungnya dengan nafas hangat yang menerpa wajah Mona, kemudian turun ke bibirnya yang tebal.


Mona membelai pipi pria di hadapannya itu, hingga menangkup sebelah telinganya, dan mengusap-usap lembut pelipis Arthur dengan ibu jarinya.


"Apa aku setampan itu?"


Mona terkejut dan segera menarik tangannya dari wajah pria itu yang tiba-tiba bersuara.


Arthur pun seketika membuka matanya lebar-lebar dan menatap tajam ke arah Mona sambil mengulas senyum.


"Anda bangun? Sejak kapan? Kenapa pura-pura tidur?" cecar Mona yang menutupi kegugupannya.


"Aku hanya memberimu waktu untuk mengagumi ketampananku," goda Arthur sambil mencolek ujung hidung Mona.


"Iissshhhh! Menyebalkan! Dasar narsis," gerutu Mona sambil mengerucutkan bibirnya.


CUP!


Arthur tak menyia-nyiakan momen itu untuk mencuri ciuman selamat pagi dari Mona.


"Ihhh… Kakak!" pekik Mona sambil memukul kecil pundak Arthur.


Pria itu pun terkekeh dan menangkap lengan Mona. Dia tersenyum dan terus menatap tajam wanita di hadapannya itu.


"Panggil aku seperti itu saja mulai sekarang," ucap Arthur yang membuat Mona diam.


"Seperti apa?" tanya Mona yang tak sadar dengan apa yang dia ucapkan tadi.


"Panggil aku seperti yang pernah kau lakukan dulu, hem," pinta Arthur sembari membelai wajah Mona.


Mona diam beberapa saat, dan membuat Arthur khawatir jika wanita itu akan kembali menolaknya lagi seperti sebelumnya.


"Ehm… a… aku hanya merasa, ka… kalau panggilanmu terlalu kaku. Anda, Saya, itu kaku, Mona. Ehm… tapi, kalau kau memang belum mau, aku…," ucap Arthur yang dibuat gugup.


"Kakak," potong Mona memanggil Arthur.


"Yah?" Arthur seolah tak mendengar apa yang dikatakan Mona barusan karena terkejut.


"Kakak," panggil Mona lagi sambil mengulas seutas senyum, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Lisa.... Lisa, aku merindukan mu. Lisaku," seru Arthur sambil membawa Mona ke dalam pelukannya.


Mona pun membalas pelukan Arthur.


"AW!" pekik pria itu.


Mona tak sadar jika lengannya yang memeluk Arthur, telah mengenai luka di punggung pria tersebut, dan membuat Arthur kembali kesakitan.


Pelukan mereka pun terurai.


"Maaf," ucap Mona.


Namun, Arthur hanya tersenyum dan kembali membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Mona pun hanya berani membalasnya dengan meletakkan tangannya di atas pundak kekar pria tersebut.


Terimakasih, Tuhan. Kau telah kembalikan Lisa kecil padaku, batin Arthur sambil terus memeluk erat wanita es yang mulai mencair itu.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih