
Mona kini telah tiba di salon milik Miss Monica.
"Hai, Mona." Miss Monica menyambut Monica dengan heboh seperti biasa.
"Hai... Tolong hitamkan lagi rambutku." Mona langsung saja duduk di depan cermin besar.
"Hanya itu saja?" tanya Miss Monica.
"Ehm... tentu saja sekaligus merapikan," sahut Mona.
"Tidak mau melakukan perawatan full body lagi seperti waktu itu?" ujar Miss Monica menawarkan.
"Ehm... tidak dulu. Terlalu lama," jawab Mona setelah sekilas melirik jam di pergelangan tangannya.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita cuci rambutmu lebih dulu." Miss Monica pun mengajak Mona untuk ke tempat cuci rambut, dan menyerahkannya kepada stylist.
Saat itu sudah lewat tengah hari, sekitar pukul dua siang. Butuh waktu sekitar dua jam untuk menyelesaikan urusannya di salon kecantikan tersebut.
...ššššš...
Di kantor PS group, Arthur sudah tak bisa fokus lagi untuk bekerja, gara-gara ulah Mona yang dengan nakalnya mengirimkan foto yang begitu menggoda.
"Tuan, ini ada laporan dari tim perencanaan, mengenai event valentine yang akan diadakan bulan depan," seru William di saat menjelaskan beberapa laporan yang masuk.
Arthur terus diam. Pikirannya tak fokus, dan terus membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.
"Ehem... Tuan." William berdehem untuk menyadarkan bosnya.
"Ehm... ya, tadi bagaimana, Will?" tanya Arthur yang terkaget karena deheman sang asisten.
"Tuan, sepertinya Anda sangat tidak fokus hari ini. Apa Anda kurang sehat? Kalau memang seperti itu, sebaiknya kita istirahat dulu dan lanjutkan lagi nanti," saran William.
"Tidak. Tidak usah nanti. Sekarang saja. Aku harus selesaikan ini sekarang juga, agar aku bisa cepat pulang. Ayo kita kembali bekerja," sahut Arthur.
Rapat berdua dengan William pun berlanjut. Kali ini, Arthur mencoba untuk lebih fokus agar semua urusannya bisa segera terselesaikan.
...ššššš...
Sore hari, tepatnya pukul setengah enam petang, Arthur telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia pulang lebih awal dikarenakan konsentrasinya buyar gara-gara pesan chat bergambar dari Mona, yang membuat pikirannya traveling kemana-mana.
"Apa kau sudah selesai belanja?" tanya Arthur di sambungan telepon.
Saat itu, dia tengah berjalan menuju parkiran kantornya, dan hendak mengambil mobil.
"Sudah. Aku juga sudah pulang. Kenapa, Kak?" tanya Mona dari seberang.
"Bagus. Aku pulang sekarang. Bersiaplah untuk makan malam yang kau janjikan," ucap Arthur.
"Hah⦠tapi ini masih sore, Kak. Yang benar saja," keluh Mona.
"Tidak ada tapi-tapian," Arthur pun segera memutuskan panggilan dan melajukan mobilnya menuju apartemen The Royal Blossom.
Perjalan yang harusnya memakan waktu kurang dari satu jam itu, terasa sangat lama dikarenakan Arthur yang memilih pulang di jam sibuk, ketika para pekerja pulang dan memenuhi jalanan kota.
Dia sesekali berdecak kesal, karena harus terjebak macet di jalanan.
Arthur akhirnya tiba di apartemen sekitar pukul setengah sembilan malam, setelah melewati kemacetan parah selama satu setengah jam, dan itu membuat emosinya naik.
Dia langsung berjalan dengan langkah lebar menuju apartemen miliknya, dan segera masuk ke dalam.
"Gelap," gumam Arthur saat suasana apartemennya sangat gelap sekali seperti tak ada orang di dalam sana.
"Mona... Mona." Arthur memanggil ratu esnya dan berjalan terus menuju ke lantai atas.
Ketika masuk ke dalam kamar, dia dikejutkan dengan suasana di dalam sana yang sangat berbeda.
Taburan kelopak mawar berserakan di lantai, dengan temaramnya cahaya lilin putih yang cukup banyak di beberapa sudut ruangan.
Yang paling membuatnya tak mampu menelan salivanya adalah sesuatu yang berada di atas tempat tidur.
Ya, Mona yang tengah duduk bersandar di head boar, dengan mengenakan pakaian yang sempat ia tunjukkan kepada Arthur lewat pesan chat tadi siang, serta balutan make up bold dengan lipstik yang merah merona, membuat emosi Arthur turun, dan menaikkan hasr*tnya seketika.
Mona nampak tengah duduk sambil meluruskan kakinya, dan sebelah tangannya memegangi sebuah gelas berisi anggur merah. Rambut hitam lurusnya ia biarkan terurai menutupi sebelah dadanya yang menonjol.
Dia berjalan mendekati Arthur yang masih tertegun di depan pintu. Dengan nakalnya, ia mengusap pundak prianya naik turun, dengan wajah yang ia buat se seksi mungkin.
"Kau pasti lelah. Mandi dulu sana," ucapnya dengan suara yang terdengar begitu menggoda.
Arthur seketika meraih pinggul Mona, dan menekannya agar semakin menempel pada pria itu. Arthur mendekatkan wajahnya di telinga Mona dan membisikkan sesuatu.
"Apa tidak bisa ku makan sekarang? Aku sudah sangat menginginkannya sampai hampir gila di jalan," tanyanya sambil menggigit kecil ujung cuping telinga si ratu es.
"Ehmā¦,"
Mona seketika meremang mendapat satu sentuhan dari Arthur.
"Mandilah. Aku tunggu, hemā¦," ucap Mona sambil mengusap lembut pipi Arthur dengan punggung tangannya.
"Baiklah," Arthur pun melepaskan Mona dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Mona kembali ke tempat semula, dan menuangkan anggur merah ke gelas yang lain.
Tak berselang lama, pria itu muncul dari balik pintu dengan mengenakan piyama kimono hitam, yang sudah sengaja disediakan oleh Mona sebelumnya di dalam kamar mandi, dan tertempel sebuah sticky note di atasnya agar Arthur mengenakan benda tersebut.
Aura Arthur begitu menyihir Mona. Rambut basahnya, dan juga kulitnya yang tampak segar seusai mandi, ditambah bulu-bulu halus di dadanya yang menyembul dari balik kimono yang dipakai pria itu, membuat Mona seketika menggigit bibir bawahnya.
Tubuhnya mulai bereaksi hanya dengan melihat prianya berjalan menuju ke arahnya.
Arthur naik dari arah kaki, merangkak di atas tubuh Mona hingga wajah mereka pun berada pada jarak yang sangat dekat.
Mona tersenyum dengan bibir merahnya yang begitu sensual.
"Mau minum?" tawar wanita itu.
Namun, Arthur tak menjawab. Dia hanya meraih gelas yang dipegang oleh Mona sedari tadi.
Dengan seringainya, pria itu tiba-tiba menuangkan sedikit anggur merah ke tubuh Mona, dan menyiramnya dari leher hingga ke perut.
"Kakā¦," pekik Mona kaget dengan apa yang dilakukan Arthur kepadanya.
Arthur meletakkan kembali gelas di atas nakas, dan mulai menyerang leher Mona, menjil*tnya dengan perlahan, menyapu semua sisa-sisa anggur yang menempel di sana.
"Ehmā¦,"
Rintihan pun terdengar dari Mona, yang mulai menikmati setiap sentuhan prianya itu.
Arthur menurunkan tali bahu baju tembus pandang Mona, dan semakin turun menyapu lelehan red wine yang ada di dada ratu esnya dengan lidah serta bibirnya. Ia semakin turun menyusuri lembah diantara dua gunung besar, dengan puncak merah muda itu.
"Aaaahhhhā¦,"
Mona semakin tak terkendali. Tangannya menyusup ke celah rambut belakang Arthur dan meremasnya kuat, sembari mendorong wajah pria itu semakin masuk ke dalam.
"Eeeehhhmmm⦠kau tau, Mona? Ini adalah cara minum yang paling nikmat," ucap Arthur yang masih berada di sana.
"Curang⦠eeeeehhhmmmmā¦,"
Mona kembali tak bisa berkutik, kala bibir Arthur mulai bermain dengan puncak mungilnya, menyesap dan memelintirnya dengan sedikit hisapan lembut.
Wanita itu semakin menggelinjang di bawah kungkungan Arthur yang semakin turun menyusuri hingga ke perut Mona.
Mona terhanyut hingga tak sadar kini prianya telah berada di bawah sana, memandangi keindahan tubuhnya yang telah polos.
"Apa kau siap dengan hukuman gabungan mu?" tanya Arthur yang terus memandang wajah Mona yang telah memerah, dengan mata yang berkabut penuh g*irah.
Wanita itu hanya mampu menggigit bibir bawahnya, dengan nafas yang memburu. Dia pasrah sepenuhnya.
Arthur pun menyeringai, dan mulai melepaskan kain yang menutupi tubuh telanj*ngnya, hingga monster miliknya yang telah bangun, terlihat begitu kokoh menjulang hingga ke perutnya.
"Aaaaahhhhā¦,"
Arthur memulai penyatuan mereka. Pria itu tak selembut biasanya. Dia cenderung lebih agresif. Hentakan yang begitu menghujam, benar-benar membuat Mona seolah dikendalikan olehnya.
Suara-suara indah terus mengiringi percintaan mereka. Arthur benar-benar sedang menghukum Mona.
"Aku akan tunjukan, siapa aku sebenarnya saat di atas ranjang," ucapnya sambil terus memacu dengan ritme yang cepat dan menghujam dalam.
Semua badan Mona telah merah oleh bekas kecupan dari pria itu hingga seolah tak ada lagi kulit putih yang tersisa, yang luput dari kecupan pria itu.
"Kau liar sekali, Kak⦠aaaaahhhhhā¦,"
Mona semakin kepayahan menghadapi Arthur.
"Kak⦠aku⦠aaaaahhhhhhā¦,"
******* panjang menandai pelepasan Mona. Namun, Arthur tak terlihat akan segera menyudahi permainannya.
"Kau akan ku buat pingsan malam ini, Sayang. Nikmatilah," ucap Arthur.
Benar saja, pelepasan demi pelepasan telah Mona alami hingga lebih dari lima kali. Namun, Arthur masih terus memacunya dengan kuat.
Pria itu menghentikan gerakannya sesaat, dan mengusap wajah dan rambutnya yang telah penuh dengan keringat.
"Apa sudah selesai?" tanya Mona yang terdengar lemas.
"Jangan mimpi," seru Arthur menyeringai.
Mona seketika seakan tak mampu menelan salivanya, karena khawatir dengan nasibnya malam ini.
Oh, ****! Aku sudah sangat lelah. Berapa kali tadi aku keluar. Tapi dia belum puas juga. Aku benar-benar bisa pingsan, batin Mona.
Arthur mengangkat sebelah kaki Mona melewati kepalanya, dan menumpangkannya di kaki sebelahnya, membuat Mona dalam posisi miring dengan penyatuan yang belum terlepas.
Pria itu mulai mencumbu punggung mulus wanita itu, dan memacu yang di bawah sana dengan perlahan.
Mona kembali merintih, namun dia mengangkat pinggulnya ke atas dengan sendirinya, membuat milik Arthur terjepit dan terbenam sepenuhnya.
"Aaaaahhhhh⦠nikmat sekali, Sayang⦠aaaahhhhhā¦," ucap Arthur.
Saat bibirnya menc*mbu punggung mulus itu, tangannya menjalar ke depan dan menyentuh buah mungil yang terjepit di antara lembah Mona.
Wanita itu semakin merintih-rintih merasakan sensasi yang laur biasa, yang belum pernah ia rasakan selama menjalani kehidupannya di dunia pel*curan.
"Kak⦠aku⦠eeehhhhmmmmā¦,"
Mona sudah tak mampu lagi menahan dirinya, ia pun kembali mencapai puncaknya yang kesekian kali.
"Kenapa, Mona. Sudah tau bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh menghukummu, hem?" ucapnya tepat di depan telinga Mona dengan memberinya sedikit jil*tan.
"Eeehhhmmm⦠sudah⦠aku⦠aaaahhhhā¦," rintih Mona.
Habislah aku. Aku benar-benar sudah tak tahan lagi. Tapi pasti memalukan kalau pel*cur sampai pingsan gara-gara hal ini, batinnya.
Mau gengsi setinggi apapun, tenaga Mona tak mampu menandingi stamina Arthur yang sedang dalam mode full charge, dan membuat si kupu-kupu malam itu pun tak mampu lagi terjaga, dan pasrah dengan semua perlakuan Arthur terhadapnya.
Suara rintihan halus sesekali terdengar dari mulut wanita yang telah tak sadarkan diri itu.
Arthur pun akhirnya sampai pada puncaknya, dan semakin memacu dengan keras, menghentak dan menabrak dinding rahim Mona.
"Aaaarrrgghhh... Aaaarrrghhhh... Aaaarrrrrgghhh...,"
Semburan lava berwarna vanilla, memenuhi rahim si ratu es dan menyemai benih yang ada di dalam sana.
Arthur pun ambruk dan terkulai lemas di atas tubuh wanitanya. Dia mengecup pelipis Mona, dan memeluknya erat hingga keduanya pun tertidur bersama.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like š, komen š, atau beri dukungan lainnya
terimakasih