
Seorang pelayan mengantarkan makanan ke kamar hotel yang ditempati oleh Arthur dan juga Mona, beserta dengan sebuah paper bag yang sebelumnya sudah dititipkan oleh William, untuk diantarkan ke kamar itu.
"Terimakasih," ucap Arthur kepada pegawai hotel, dan mendorong troli makanan ke dalam setelah memberi orang itu uang tips.
Mona melihat dari ambang pintu ruang tidur.
"Kemarilah," panggil Arthur tanpa menoleh ke arah Mona berdiri.
Mona pun menurut. Malam ini, si wanita dingin yang tak mau diatur itu mendadak begitu patuh pada setiap perkataan yang dikeluarkan oleh Arthur.
Mungkin dia masih terkejut, dengan model hukuman yang diberikan oleh tamu istimewanya.
"Wah… banyak sekali makannya," gumam Mona saat melihat banyaknya makanan yang terhidang di atas troli.
Arthur duduk di sofa yang berada di depan TV, dan menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
"Duduk di sini," perintahnya.
"Baik, Tuan," sahut Mona malas.
"Pilihlah mana yang kamu suka," ucap Arthur kepada Mona, sambil menyesap red wine yang ia pesan.
"Saya mau yang seperti Anda, Tuan." Mona menunjuk ke arah gelas Arthur.
"Makanlah sesuatu dulu. Kamu sejak sore belum makan apapun bukan," seru Arthur yang akhirnya menoleh ke arah Mona.
Wanita itu mendengus kesal, sambil mengedikkan bahunya. Ia pun memilih makanan yang bisa dijadikan teman minum red wine, yang sangat ia inginkan.
"Bisa tolong ambilkan saya steak itu, Tuan?" tunjuk Mona ke arah seporsi daging sapi panggang, dengan kentang tumbuk dan asparagus, serta disiram saur jamur.
Arthur pun mengambilkannya. Pria itu otomatis menuangkan minuman yang pas dengan makanan yang telah dipilih oleh Mona, yaitu red wine.
"Terimaksih, Tuan," ucap Mona
Mona pun mulai menikmati makan malamnya yang sempat tertunda, akibat ulahnya yang keras kepala tadi.
Sementara wanita itu makan, Arthur bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi, dengan membawa paper bag yang tadi dititipkan kepada petugas room service.
Mona hanya meliriknya sekilas, dan tak bertanya sama sekali tentang apa yang pria tersebut akan lakukan.
Mona sangat antusias dengan makanan dan minuman yang tengah ia nikmati.
Arthur keluar dari kamar mandi, ketika Mona baru setengah menghabiskan makannya. Wanita itu tengah menyesap anggur merah yang sangat ia sukai, ketika Arthur berjalan ke arahnya.
Mona melirik sekilas ke arah Arthur yang kini telah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Sebuah kaus oblong putih, dengan celana bahan coklat selutut.
Rambutnya yang masih setengah basah, ia sisir kesamping, membuatnya tampak fresh dan,
"Tampan," gumam Mona lirih.
Arthur berjalan ke arahnya, dan duduk di sofa kosong yang ada di samping wanita itu.
Dia mengambil seporsi menu kentang panggang dengan isian jamur, serta saus krim yang lumer di dalamnya.
Ia meletakkannya di samping piring makan Mona yang masih sisa setengah.
Arthur mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dan menjilati sisa krim yang menempel di sendoknya.
Mona terus saja memperhatikan gerakan demi gerakan Arthur, sambil memegangi gelas wine-nya.
"Tatapanmu bisa melubangi wajahku, Nona." Arthur tiba-tiba menoleh, dan sontak membuat Mona salah tingkah.
Wanita itu pun lalu memalingkan wajahnya, sambil pura-pura minum red wine miliknya.
"Ah… saya hanya ingin tau saja bagaimana rasa kentang itu. Karena tadinya saya mau memilihnya, tapi saya lebih tertarik dengan daging panggang ini," sahut Mona yang lalu kembali memotong steak dan melahapnya.
"Benarkah? Bukannya tadi kamu juga memuji ketampananku saat berjalan ke mari," ucap Arthur dengan tatapan tajam ke arah Mona, yang membuat mata wanita itu membola.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk...." Mona tersedak karena perkataan Arthur barusan.
Namun, efek dari tersedaknya masih menyisakan rasa panas, ditambah alkohol dari wine yang masuk ke dalam kerongkongan.
Si*l! Bagaimana dia bisa dengar ucapan ku tadi? Bukankah tadi aku bicara sangat lirih, rutuk Mona dalam hati.
Arthur menyodorkan segelas air putih ke arah Mona.
"Minumlah pelan-pelan saat tersedak. Tidak baik terlalu banyak alko*hol juga," ucap Arthur.
Mona pun meraih gelas dari Arthur dan meneguknya perlahan.
"Ah… terimakasih airnya…," ucap Mona tertahan.
"Arthur… panggil aku Arthur," potong Arthur yang membuat Mona diam membisu.
Wanita yang selalu melawan dan menjawab setiap omongan Arthur itu, kini terdiam. Lingkar matanya tiba-tiba memerah dan mulai berkaca-kaca.
Arthur yang melihat hal itu pun, sontak mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Mona. Ia mengusap kulit halus wanita itu dengan lembut.
Mona memejamkan matanya, untuk menahan lelehan yang seperti akan segera turun. Ia menghela nafas panjang untuk mengurai kemelut di dadanya, namun justru terasa semakin berat.
Wanita dingin itu tak ingin lagi mengingat semua yang telah ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya, hanya karena seseorang dari masa lalunya kini telah datang dan berusaha dekat lagi dengan dirinya.
"Apa aku sangat menyakitimu di masa lalu, Lisa?" tanya Arthur yang membuat Mona semakin mencoba menahan sekuat hati, perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.
Dengan kasar, Mona menepis tangan Arthur yang tengah berada di wajahnya. Ia membuka matanya, yang kini telah kembali seperti semula, dingin dan tajam.
"Maaf, Tuan Peterson yang terhormat. Jangan pernah Anda mencoba untuk dekat dengan saya. Kita hanyalah partner kerja. Hubungan kita tidak lebih dari sekedar pelanggan dan pemberi jasa. Jadi, bersikaplah profesional, karena sayapun akan seperti itu," ucap Mona yang kemudian berdiri.
Wanita itu berjalan menuju tempat tidur, dan mengambil tasnya yang berada di atas ranjang.
Mona lalu berjalan kembali ke arah pintu depan, namun segera dicegah oleh Arthur yang dengan cepat menarik lengannya hingga Mona terhuyung dan bertabrakan dengan pria tersebut.
"Kau mau kemana, Lisa?" tanya Arthur yang telah mencengkeram kedua lengan Mona.
"MONA! NAMAKU MONA, TUAN PETERSON YANG TERHORMAT!" ucap Mon dengan lantangnya di depan wajah pria tersebut.
Arthur terkesiap dengan sikap Mona yang begitu keras terhadapnya.
"Oke... Oke, Nona Mona. Kau tidak bisa kemana-mana sekarang. Ingat, kau sudah menandatangi surat kontrak, dan biaya pembatalannya sangat besar," ucap Arthur.
"Satu miliyar? Baiklah. Akan saya bawakan uang sebanyak itu kehadapan Anda. Jadi sekarang, lepaskan tangan saya," bentak Mona sambil menghempaskan tangan Arthur yang mencengkeram lengannya.
Arthur pun akhirnya melepaskan Mona, dan membiarkan wanita dingin itu pergi dari kamar hotel yang telah ia pesan.
Dia sangat ingin menahan Mona, dan membantingnya kembali ke atas ranjang, dan mengungkung wanita itu dibawahnya agar tak bisa lari kemana-mana.
Namun, ia tak ingin Mona semakin terluka, dan menganggapnya sama seperti pria-pria lain yang hanya menginginkan tubuhnya saja.
Arthur pun mengusap kasar wajahnya, dan menjambak rambut belakangnya.
"AAARRGHHHH! AAAARRRGHHHH! teriak Arthur yang merasa frustasi di dalam ruangan president suit itu sendirian.
"Kau tidak akan bisa lepas dariku, Lisa. Tidak akan pernah," ucapnya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih