DESIRE

DESIRE
Bab 124



Di sebuah ruangan, nampak seorang wanita yang tengah duduk di balik meja kerjanya, dengan head phone yang bertengger di kepalanya. Dia terlihat mengepalkan tangannya saat mendengarkan sesuatu dari benda yang menempel di telinganya tersebut.


"Apa kau dapat sesuatu, Nyonya?" tanya pria yang sedari tadi menemani wanita itu.


"Semua harta dan asetnya, dia berikan pada j*lang si*lan itu? Ini keterlaluan. Tidak bisa dibiarkan," ucap wanita itu geram.


"Kerjaku lumayan bagus kan. Kalau tidak, kau tidak mungkin akan mendapat rekaman sejelas itu," sahut pria lain yang juga sedang berada di tempat tersebut.


Mereka bertiga tak lain adalah Valeria, Broga dan juga Jeffrey.


"Kapan ini diambil?" tanya Valeria.


"Tadi siang. Anak buahku yang selalu memantau setiap pergerakan di apartemen itu, dan menemukan kehadiran si pengacara yang kau cari-cari selama ini," jawab Jeffrey.


"Kurang ajar. Broga! Perintahkan anak buahmu untuk menghadang pria tua itu di bandara. Jangan biarkan Moris pergi keluar negeri lagi," perintah Valeria.


"Baik, Nyonya," Broga pun pergi meninggalkan Valeria bersama dengan Jeffrey.


"Dan kau, aku punya tugas satu lagi untukmu," seru Valeria.


"Apa bayarannya kali ini?" tanya Jeffrey.


"Seperti biasa. Aku akan menghargai sesuai hasil kerjamu," jawab Valeria dengan kedua tangan yang saling bertaut di atas meja.


"Baiklah. Lalu apa tugasnya?" tanya Jeffrey lagi.


"Bawa si j*lang kecil itu kehadapanku!" perintah Valeria.


"Apa sudah saatnya dia mati? Aku kira, kau ingin membuatnya gila dulu," ucap Jeffrey.


"Aku sudah muak melihat dia terus-terusan lolos dari kesialan yang sengaja ku buat. Jadi kali ini, aku akan lakukan sendiri dengan tangaku," ujar Valeria.


Terlihat sebelah sudut bibirnya terangkat.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


Di apartemen The Royal Blossom, unit yang ditempati oleh Mona dan juga Arthur. Keduanya kini tengah duduk di atas tempat tidur sambil bersandar di head board.


Arthur nampak memeluk wanitanya yang terlihat diam merenung.


Mona masih memikirkan kedatang Moris siang tadi. Dia tak menyangka jika Joshua meninggalkan wasiat seperti itu untuknya.


"Mona, apa kamu masih memikirkan kejadian tadi siang?" tanya Arthur.


"Ehmโ€ฆ bagaimana aku tidak kepikiran, Kak. Aku tidak tau apa yang ada dipikirannya saat membuat wasiat itu," ucap Mona yang masih diam di dalam pelukan prianya.


"Mungkin saja, karena dia sangat peduli padamu," sahut Arthur.


"Peduli? Yah, aku tau, Kak. Tapi, tidak seharusnya dia menjadikan aku sebagai anak angkatnya kan. Ini terlalu konyol! Mana ada anak angkat yang menjadi teman tidur ayah angkatnya. Ini menjijikan, Kak. Sangat menjijikan," ucap Mona.


Arthur semakin erat memeluk tubuh wanitanya, saat Mona kembali merendahkan dirinya sendiri.


"Memang semua berawal dari kesalahan, tapi kasih sayang Joshua pada mu itu nyata," ujar Arthur.


"Yang aku tak habis pikir, dia masih ada istri, kenapa juga membuatku menjadi pewaris tunggalnya. Aku tidak mau dikira simpanan yang menyamar jadi anak angkat, dan merebut semua harta pria kaya itu. Ini โ€ฆ ini benar-benar konyol," tukas Mona.


Arthur tak bisa mengatakan apapun kepada Mona, karena wanita itu terus menolak menerima semua yang diwasiatkan Joshua kepadanya.


...๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚...


keesokan harinya, Arthur mempunyai rapat penting yang tak bisa diwakilkan, sehingga mau tak mau, dia harus memanggil Ema kembali untuk menemani Mona.


"Ingat! Jangan sekali-kali kau tinggalkan Mona. Kalau tidak, kamu akan terima akibatnya," ancam Arthur.


"Kak, jangan galak-galak dong. Kasihan kan Emanya," keluh Mona.


"Biar dia tau tugasnya dan jangan ceroboh lagi," sahut Arthur ketus.


Ema hanya diam. Dia sadar sepenuhnya akan kesalahannya tempo hari, yang hampir membuat Mona celaka.


"Aku berangkat dulu ya. Kamu baik-baik di rumah," ucap Arthur.


Pria itu mengusap lembut belakang kepala Mona sambil mengecup kening wanitanya.


"Ehmโ€ฆ Kakak hati-hati juga ya," sahut Mona.


Arthur pun kemudian pergi bersama sang asisten yang selalu menemani kemanapun dia berada.


"Iya. Tidak papa kok, Mon. Lagian aku juga yang salah sudah meninggalkan mu sendirian," jawab Ema.


"Ehโ€ฆ kamu udah makan belum. Aku mau pesan delivery order nih. Mau sekalian Tidak. Mumpung aku lagi baik nih," tawar Mona.


"Tumbenan baik. Jangan bilang kau lagi merayu ku agar Tidak benci pada priamu. Iya kan," terka Ema.


"Kenapa Anda yang jadi kagak yah? Aku hanya menawarkan saja. Tidak mau ya sudah," sungut Mona.


"Steak, kentang goreng, burger dan salad," ucap Ema.


"Tumben banyak? Lapar ya? Karbonya dia lho....Hahahaha โ€ฆ," sindir Mona.


"Ini sarapan sekaligus makan siang, Mon. Sudah cepat pesankan," seru Ema.


Mona pun memesankan makanan yang diminta oleh Ema dan untuk dirinya sendiri.


Mereka terlihat sedang duduk di sofa ruang tengah, sambil menonton TV. Ema nampak mengantuk karena dia belum sempat tidur sejak pulang dari paradise fall.


"Tidur saja kalau mengantuk," seru Mona.


"Ehmโ€ฆ iya. Nanti kalo pesenannya sudah smapai, kau bangunkan aku ya," ucap Ema.


Mona mengangguk, sedangkan Ema seketika berbaring dan memejamkan matanya. Tak perlu waktu lama hingga wanita itu terlelap dalam tidur. Dengkuran halus pun terdengar dari mulutnya.


Tak berselang lama, pesanan mereka datang. Notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Mona yang mengatakan bahwa makanan sudah sampai.


Mona pun mendengar ketukan di pintu, dan segera membangunkan kembali Ema yang sudah sangat pulas.


"Ehmโ€ฆ kenapa, Mon? Makanannya sudah sampai?" tanya Ema dengan mata yang belum mau terbuka dengan benar.


"Iya, Em. Itu ada yang ketuk pintu dari tadi," tutur Mona.


Ema pun berjalan menuju ke arah pintu depan dan membuka pintunya tanpa melihat terlebih dulu dari lupang intip.


"Pesanannya ya?" tanya Ema.


"Iya, Nona." Kurir itu pun menyerahkan pesanan kepada Ema.


Ema pun mundur dan hendak menutup pintu. Namun, kurir itu justru mendorong tubuh Ema yang memang belum sepenuhnya sadar, hingga terjungkal ke belakang.


Kepalanya terbentur sesuatu hingga terlihat darah mengalir di pelipisnya.


"Kenapa, Em?" tanya Mona yang mendengar teriakan Ema dari arah depan.


Mona pun berdiri dan melihat jika rekannya itu telah terjaruh dan terkapar di lantai.


Dia semakin terkejut saat melihat seorang pria yang memakai topi dan penutup wajah, tengah berjalan mendekat ke arahnya.


Mona seketika ketakutan dan mundur.


"Siapa kau? Mau apa kau masuk ke sini?" tanga Mona di tengah ketakutannya.


"Lisa. Apa kamu lupa pada kakakmu sendiri hah? Hahahahahโ€ฆ," ucap pria bertopi itu.


Mona sektika membolakan matanya.


Kakak? Tidak mungkin. Bagaimana ini? batin Mona panik.


Dia mencoba mencari sesuatu yang bisa dijadikannya sebagai senjata, namun karena panik, Mona sampai tak sadar jika di belakangnya adalah jalan buntu.


Mona terpojok di antara tembok ruang makan dan dapur. Dia tak bisa lari lagi karena jarak antara dirinya dan pria bertopi itu tinggal beberapa meter lagi.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like ๐Ÿ‘, komen ๐Ÿ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih