DESIRE

DESIRE
Bab 16



Semakin hari, Arthur dan juga Lisa semakin terlihat dekat. Justru Jessy yang sekarang sudah tak lagi sedekat dulu dengan Lisa.


Jessy sering pulang sekolah terlambat, dengan alasan pergi bersama teman-temannya hanya untuk sekedar berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.


Arthur sering menasehati adiknya, agar jangan terlalu dekat dengan benalu, begitu sebutan Arthur untuk teman-teman sang adik. Namun, Jessy akan sangat marah ketika kakaknya menyebut teman-temannya dengan sebutan buruk tersebut.


Sedangkan orang tua mereka, tak terlalu peduli dengan hal semacam itu. Menurut mereka, selama Jessy selalu dalam pantauan bodyguard kedua orang tuanya, maka semuanya boleh dilakukan.


Meski pun Jessy pulang terlambat, bahkan kadang sampai malam, namun dia selalu diantar ke mana pun oleh sang supir dan seorang bodyguard, yang sudah pasti akan memberikan informasi kepada tuannya tentang keberadaan si tuan putri.


Arthur tak lagi menegur kelakuan Jessy, yang kian hari makin tak karuan, meski usianya masih terbilang anak-anak.


Ayah dan Ibu saja tidak peduli, kenapa aku harus repot-repot memikirkan anak itu. Dia sendiri yang lebih suka dimanfaatkan oleh benalu-benalu itu, begitu pikir Arthur.


Lisa pun kini tak lagi bisa bertemu Jessy sesering dulu, meskipun dirinya selalu datang ke rumah besar itu hampir setiap hari.


Dia seperti biasa akan selalu menyibukkan diri dengan pasangan tukang kebun yang sudah menganggap Lisa kecil seperti anak mereka sendiri.


Ditambah, keadaan mereka yang memang tidak memiliki anak, membuat keduanya sangat menyayangi Lisa.


Lisa pun demikian. Dia selalu dengan senang hati membantu keduanya. Matanya selalu berbinar, kala harus bergumul dengan tanah bercampur kompos yang kadang baunya sangat menyengat hidung, akan tetapi tak sedikit pun membuat gadis itu mengeluh.


Dia dan Arthur pun kerap kali menghabiskan waktu bersama di gazebo, sambil menggambar sesuatu.


Pemuda itu beberapa kali memberinya sepaket pewarna, untuk memperindah gambar buatan Lisa.


Gadis itu pun begitu senang menerimanya, karena gambarnya tak lagi berwarna hitam dan putih atau abu-abu.


Suatu hari, saat Lisa sedang asik menikmati waktu sore di gazebo bersama Tuan Ming, istrinya dan juga Arthur, Jessy tiba-tiba datang bersama teman-temannya dengan menggunakan mobil milik keluarganya.


Nampak terlihat jelas jika mereka baru saja pergi jalan-jalan entah kali ini ke mana, yang jelas satu persatu dari mereka menenteng satu tas belanja yang bisa dipastikan berasal dari kartu ajaib milik Jessy, yang diberikan oleh sang ayah sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke tiga belas tahun beberapa bulan yang lalu.


Mereka berjumlah empat orang, lima beserta Jessy, berjalan dengan tawa cekikikan dan tak melihat jika kelakuan mereka sangat mengganggu penghuni rumah.


Lisa beranjak dari duduknya, dan berjalan menghampiri Jessy.


"Lisa," panggil Arthur yang tak dihiraukan oleh gadis itu.


Arthur memandang punggung Lisa dengan raut wajah khawatir. Entah apa yang dikhawatirkannya. Dia pun lalu membereskan peralatan gambarnya, dan memasukkan semua ke dalam tas.


Pemuda itu pamit kepada sepasang suami istri itu, dan berlari menyusul Lisa yang lebih dulu masuk ke dalam rumah mengikuti Jessy dan teman-temannya.


Di ruang tamu, Lisa berhasil menyusul rombongan Jessy dan yang lain.


"Jessy," panggil Lisa dengan senyum yang mengembang sempurna.


Dia menghampiri Jessy, yang justru menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan satu persatu teman-temannya.


"Jessy, kamu ke mana saja? Beberapa hari ini, kudengar kau pulang malam terus. Aku …," lanjut Lisa


"Ehmm… siapa ini, Jessy? Kenapa dia bisa terlihat akrab denganmu? Apa dia teman mu juga?" potong salah satu dari ke empat teman Jessy, sambil memencet hidungnya dengan wajah jijik melihat keberadaan Lisa.


"Benarkah, seorang Jessy memiliki teman seperti ini? Dia lebih seperti gelandangan yang tinggal liat di luaran sana. Sangat jauh dari level kita. Benar begitu kan, Jessy?" tambah yang lain.


Lisa terdiam mendengar ucapan kedua gadis yang telah berdiri di depannya, sambil melipat kedua lengannya di depan dada, dan memandang rendah ke arahnya.


Begitu pun Jessy. Dia bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, dia masih menganggap Lisa sebagai teman baiknya, di sisi lain, dia pun ingin agar teman-temannya tidak lantas menjauhinya, hanya karena dia dekat dengan seseorang yang tidak selevel.


"Jessy, kenapa diam saja? Siapa dia? Temen mu atau bukan?" cecar gadis tadi.


"Waaah… Kalau dia memang teman mu, lebih baik kita tidak usah berteman lagi. Aku jijik dengan orang seperti dia," sarkas yang lain.


"Ehm… dia… dia…," ucap Jessy yang dilanda kebingungan, antara mengakui jika Lisa adalah temannya, atau memilih teman-teman barunya dan meninggalkan Lisa.


"Begini saja. Kalau kamu memang masih mau berteman dengan kami, usir dia jauh-jauh dari sini. Bagaimana, Jessy?" seru seseorang dari keempatnya, yang sedari tadi diam dan menatap sinis ke arah Lisa.


Jessy nampak mengepalkan tangannya, dan menatap wajah Lisa lekat-lekat. Dia kemudian melangkah maju dan menghampiri gadis yang sejak tadi menatap ke arahnya.


"Kau dengar bukan apa yang teman ku katakan? Lebih baik sekarang kau pergi dari sini, dan jangan pernah datang lagi ke rumah ini. Mengerti?" ucap Jessy dengan bentakan di ujung kalimatnya.


Lisa diam bergeming di tempat, sedangkan Jessy langsung berbalik dan naik ke atas menuju kamarnya, tanpa menoleh sekali pun ke arah Lisa.


Teman-teman barunya itu pun kemudian berjalan menyusul si tuan putri, dengan seringai kemenangan, karena telah berhasil menyingkirkan Lisa.


"Jessy," panggil Lisa lirih nyaris tak terdengar.


Arthur yang datang tepat saat Jessy mengucapkan kata-kata menyakitkan itu pun, berjalan menghampiri Lisa.


"Kau tak apa?" tanyanya sambil menepuk pundak gadis itu.


Lisa masih terdiam memandangi pintu kamar Jessy yang telah tertutup rapat. Tanpa sadar, air matanya menetes.


Itu adalah air mata pertama yang ia jatuhkan selain untuk sang ibu tercinta. Lisa merasa jika selama tiga tahun ini, Jessy sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya, yang akan selalu ada bersamanya.


Tapi, kejadian hari ini menyadarkannya kembali, jika sejak awal dirinya memang bukanlah siapa-siapa.


Lisa kembali harus menelan kenyataan pahit, bahwa dirinya memang tak pernah benar-benar diinginkan di mana pun ia berada.


Arthur melihat lelehan bening itu, dan semakin mengeraskan tepukannya di pundak Lisa.


"Lisa," panggilnya.


Lisa pun seketika mengerjap untuk menghentikan air matanya, agar tak terus menerus turun. Ia mengusap kasar lelehan yang terlanjur melintas di pipinya dengan punggung tangan.


"Kamu baik-baik saja bukan?" tanya Arthur yang semakin merasa khawatir.


"Saya tak apa, Tuan muda," ucap Lisa yang tiba-tiba merubah panggilannya kepada Arthur, dan berusaha mengulas senyum ke arah pemuda tampan itu, yang sudah berdiri tepat di sampingnya.


Arthur sampai mengerutkan keningnya mendengar panggilan asing dari gadis di depannya. Namun, dia paham jika saat ini Lisa pasti sedang sangat kecewa dengan sikap Jessy padanya, sehingga membuat gadis itu merasa kembali tak dianggap oleh orang di sekitarnya.


"Sebaiknya, saya pulang sekarang. Pewarna yang Anda berikan, akan saya kembalikan lain waktu," lanjutnya kemudian.


"Lisa, kau tak usah mengembalikan pewarna itu, karena aku memang berniat memberikannya untuk mu. Kau simpen saja dan pakai setiap kali kamu ada waktu untuk menggambar," ucap Arthur.


"Kalau begitu, terimakasih, Tuan muda," sahut Lisa tersenyum simpul ke arah Arthur, yang masih memandang lekat bola mata hitam itu.


"Saya permisi," ucap Lisa kemudian.


Gadis itu pun pergi, berlalu dari ruangan yang sepi itu. Ia berjalan menuju gazebo, dan nampak berpelukan dengan Nyonya Ming, layaknya orang yang akan melakukan sebuah perpisahan.


Arthur menoleh kembali ke arah pintu kamar adiknya. Kedua tangannya mengepal dan rahangnya mengeras, karena begitu geram dengan kebodohan yang telah dilakukan sang adik.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih