DESIRE

DESIRE
Bab 92



Petang itu, di sebuah mansion mewah yang terletak di pinggiran kota dengan luas tanah berhektar-hektar, tinggallah seorang wanita yang kini menjadi seorang janda kaya raya setelah ditinggal mati oleh suaminya yang seorang pengusaha besar.


Ya, dialah Valeria Chou. Wanita yang tak pernah kedinginan di malam hari, meski suaminya sudah tak ada lagi. Wanita yang selalu bermain dengan para pria penghibur bahkan jauh sebelum Joshua pergi untuk selamanya.


Saat itu, Valeria baru saja selesai mandi, dan terlihat seorang pria yang masih duduk di atas kasur dengan bersandar pada head board.


"Kau tidak pergi? Bukankah tugasmu sudah selesai?" tanya Valeria yang kini duduk di depan meja rias, dengan hanya mengenakan handuk yang terlilit di dadanya.


Pria itu nampak beranjak dari posisinya dan berjalan mendekati wanita tersebut tanpa mengenakan apapun. Ia meraih handuk yang ada di tangan Valeria dan membantunya mengeringkan rambut.


"Nyonya, biarkan aku menemanimu juga malam ini," ucap pria itu sambil membelai pundak Valeria yang terbuka.


Namun, tatapan wanita itu begitu dingin, dan sama sekali tak merespon sentuhan pria yang berdiri di belakangnya.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar sebuah ketukan di pintu, dan membuat fokus keduanya teralihkan.


"Kau mandilah. Uangmu akan ku letakkan di atas meja. Setelah itu kau boleh pergi. Aku masih ada urusan lain," seru Valeria dengan datarnya.


Merasa permintaanya ditolak, pria itu pun segera masuk ke kamar mandi. Valeria kembali mengeringkan rambutnya sendiri.


"Masuklah!" teriaknya pada orang yang sedang berada di depan sana.


Segera, seorang pria yang tak lain adalah pengawal pribadinya, Broga, masuk. Seperti biasa, pria berbadan kekar itu selalu memalingkan wajah setiap kali memasuki kamar majikannya tersebut.


"Ada apa?" tanya Valeria.


"Ada yang ingin bertemu dengan Anda, Nyonya," ucap Broga.


"Baiklah, tunggu aku di ruang kerjaku," sahut Valeria.


"Baik. Dan ini ada sesuatu dari pengintai yang kita kirim untuk mengawasi kedua pria itu," ucap Broga sambil menyerahkan sebuah amplop kecil.


Valeria meraihnya, dan melihat isi di dalamnya yang ternyata adalah beberapa lembar foto. Sebuah senyum tersungging di sudut bibirnya.


"Bagus. Seperti dugaan ku. Kita bisa manfaatkan kedua pria itu untuk menghancurkannya. Lanjutkan pengintaian. Kita lihat, sej*lang apa anak si Eliza itu. hahaha…," tawa Valeria seakan menggema di seluruh mansion besar tersebut saat mendapat sebuah kabar dari anak buahnya.


Setelah memberikan laporan kepada sang majikan, Broga pun kembali keluar dan meninggalkan Valeria di dalam sana.


Wanita itu kemudian berganti pakaian dan bersiap menemui orang yang dikatakan oleh Broga sebelumnya.


Di sebuah ruang kerja yang terdapat di dalam mansion keluarga Chou, nampak seorang pria tengah duduk bersandar, dengan kedua lengan yang terbentang ke samping dan bertopang kaki.


Dia nampak menatap ke sekeliling, dan merasa takjub dengan apa yang ia lihat saat itu.


"Mewah sekali. Aku bisa dapat uang banyak kalau bisa bekerja sama dengan orang ini," ucapnya.


Tak berselang lama, seorang wanita dengan gaya elegan glamour, masuk ke ruang tersebut diikuti oleh pria bernama Broga.


Wanita yang tak lain adalah Valeria, nyonya besar di mansion itu, duduk di kursi kerjanya.


"Broga, bisa kau jelaskan siapa orang ini?" tanya Valeria yang merasa tak senang dengan sikap pria tersebut yang terlihat urakan.


"Maaf, Nyonya. Dia baru saja keluar dari penjara, jadi sikapnya masih sangat liar," papar Broga.


"Baiklah. Jadi, siapa namamu?" tanya Valeria pada pria asing itu.


Pria tersebut kemudian berdiri, dan mendekat ke arah wanita yang tengah duduk di belakang meja kerja di ruangan itu.


"Apa Anda lupa dengan saya, Nyonya?" tanyanya.


Valeria mengernyitkan kedua alisnya, seakan tengah mengingat siapa pria yang berdiri di depannya.


Apa mungkin salah satu pria penghangat ranjangku? batin Valeria menerka.


"Siapa kau?" tanya Valeria dengan tatapan tajamnya.


"Aku Jeffrey. Orang yang dulu kau jebloskan ke penjara, karena adikku melarikan diri saat dijual olehmu," ungkap pria itu.


"Jeffrey?" Valeria masih belum bisa mengingatnya.


"Kau, anak tiri Eliza yang menjual adikmu demi hutang. Iya benar, kau lah orangnya," seru Valeria dengan seringainya.


...🍂🍂🍂🍂🍂...


Malam hari di The Royal Blossom, tepatnya Royal Rose Tower, unit di mana Arthur dan Mona kini tinggal bersama.


Malam telah larut, dan keduanya pun tengah tertidur. Namun, Mona nampak begitu gelisah dan dia bahkan bergumam dalam tidurnya.


"Tidak… jangan… lepaskan aku… Kak, tolong… jangan, kak… tidak… tidak… tolong aku, Kak… Kak… KAAAAAAK!" pekiknya dengan sangat keras.


"Mona, kamu kenapa?" tanya Arthur yang sedari tadi mencoba membangunkan wanita itu, hingga akhirnya Mona memekik keras dan membuka matanya lebar-lebar.


Nafasnya tampak terengah-engah, dan degup jantungnya terasa tak beraturan. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya dan membasahi bantal yang ia gunakan sebagai alas kepala.


Mona bangun dan duduk, bersandar di head board. Ia mengusap kasar wajahnya hingga berakhir di tengkuk.


Ia menoleh ke samping, dan meraih air minum yang selalu ia siapkan sebelum tidur. Mona meneguk air tersebut hingga tandas. kemudian ia meletakkan kembali gelas itu ke atas nakas.


"Kamu kenapa, Mona? Mimpi buruk?" tanya Arthur yang merasa khawatir dengan wanitanya.


"Ehm… mimpi itu datang lagi. Padahal, sudah sebulan lebih aku tak lagi memimpikan hal menakutkan itu," jawab Mona sambil mendongakkan kepalanya yang bersandar di head board.


Arthur mengusap lembut puncak kepala Mona, dan menuntunnya agar bersandar di bahu kekarnya.


"Itu cuma mimpi. Kau tenang lah," ucap Arthur dengan entengnya.


Mona menarik kepalanya dari bahu Arthur, dan menatap tajam pria di sampingnya.


"Kamu tak tau apa-apa, Kak. Jadi jangan bicara seolah-olah kau tahu semua," seru Mona dingin.


"Maaf, Mona. Bukan maksudku menyepelekan. Oke, aku memang tak tahu apa yang ada di mimpimu, tapi sekarang kau sudah bangun. Sudah tak apa-apa lagi bukan," sahut Arthur mencoba menjelaskan.


"Yah… kau memang tak pernah tau apa-apa tentangku sejak pergi begitu saja waktu itu," sindir Mona yang membuat Arthur merasa tidak nyaman.


Pria itu pun diam. Dia tak ingin salah bicara lagi, dan memilih untuk mendengarkan terlebih dulu perkataan Mona.


"Hah… apa kamu tau, Kak. Hampir setiap malam, aku selalu memimpikan hal yang sama selama bertahun-tahun. Kejadian saat aku dijual lima tahun yang lalu, selalu saja menghantui di setiap malam ku. Jika saja Joshua masih ada, dia pasti akan membenarkan perkataanku," tutur Mona dengan memejamkan matanya dan mengatur nafas yang belum juga kembali tenang.


Arthur merasa bersalah karena mengungkapkan pendapatnya sendiri tanpa tau kenyataan yang telah dialami oleh Mona.


Dia pun meraih tangan wanitanya, dan menggenggamnya erat.


"Maafkan aku, Mona. Aku yang salah karena meremehkan masalahmu," ucap Arthur sembari membelai lembut pipi si ratu esnya.


"Aku juga tak tau kenapa, mimpi itu selalu saja datang. Aku harusnya sudah terbiasa, tapi setiap kali mimpi itu datang, aku selalu saja ketakutan." Mona masih memejamkan matanya, dan menenangkan debaran jantungnya yang masih tak beraturan.


"Namun, sudah sebulan lebih semenjak aku pulang dari negara K, mimpi itu seolah menghilang bersamaan pertemuan kita kembali, Kak," ucap Mona yang menatap wajah prianya.


"Aku merasa, kau adalah penangkal mimpi burukku. Tapi hari ini, setelah sekian lama, kenapa mimpi ini malah muncul kembali," lanjutnya.


Arthur merasa penasaran dengan mimpi yang Mona alami itu.


"Apa yang ada di dalam mimpi itu, Mona?" tanya Arthur.


"Seorang wanita… seorang wanita yang dulu membawaku pergi ke tempat di mana aku hampir diperk*sa," sahut Mona.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih