
Di ruang kerja Dokter Miranda, seorang psikiater yang mendapat janji temu dengan Arthur dan juga Mona, saat ini tengah melakukan hipnosis kepada si ratu es, untuk mengetahui sebesar apa ketakutannya yang saat ini tengah di alami wanita itu.
"Bukalah pintu itu, dan coba lihat apa yang ada di sana," ucap Miranda.
Miranda dan juga Arthur, terus mengamati dengan seksama setiap mimik wajah serta gerakan yang ditimbulkan oleh Mona, yang saat ini terlihat tengah tertidur pulas. Namun, dia masih bisa mendengar dan melakukan apa yang dikatakan oleh Miranda seorang.
"Apakah yang kau lihat adalah bunga? Jika iya, anggukan kepala sekali," seru Miranda untuk yang kesekian kali.
Mona mengangguk pelan, dengan kedua matanya yang masih tertutup. Tubuhnya tampak begitu nyaman dan tenang.
"Apakah itu bunga mawar? Bunga mawar yang banyak?" tanya Miranda.
Mona kembali mengangguk pelan.
"Kenapa kau bisa tau?" tanya Arthur penasaran.
Miranda mengalihkan pandangannya ke arah Arthur, yang duduk di seberangnya.
"Saya bisa mengetahui karakter, dan kegemaran dari seseorang, bahkan sejak pertama kali melihat orang tersebut, hanya dari penampilannya. Untuk Nyonya Mona yang terlihat begitu cantik dan elegan, dan menyukai dandanan dengan lipstik yang berwarna terang dan berani, saya bisa tau jika mawar adalah bunga kesukaannya," ungkap Miranda.
Arthur nampak manggut-manggut saat mendengar penjelasan dari si psikiater. Mereka pun kembali menoleh ke arah Mona, dan fokus pada setiap gerakan dan ekspresi yang dilakukan oleh wanita itu.
"Nyonya Mona nampak begitu tenang. Itu berarti sampai saat ini, dia sedang melihat hal yang ia sukai," tutur Miranda.
Namun beberapa saat kemudian, Mona nampak mengerutkan keningnya. Wajahnya yang sedari tadi tenang, kini terlihat ketakutan. Ia mulai menggeliat tak tenang, dan menggumamkan sesuatu.
"Tidak… tidak mungkin… Kenapa dia ada di sini?" gumam Mona yang semakin erat menggenggam tangan Arthur, yang sedari tadi memeganginya.
"Mona, apa yang Anda lihat saat ini?" tanya Miranda.
"Kak Jeffrey! Itu Kak Jeffrey. Aku harus lari," ucap Mona.
wajahnya semakin terlihat ketakutan. Peluh mulai keluar dari pelipisnya, dan pegangannya semakin erat, hingga Arthur merasakan sakit. Namun, pria itu mencoba menahannya, karena saat ini Mona lebih membutuhkan dirinya.
"Coba hadapi dia. Anggap dia hanya sebuah bayangan," seru Miranda.
"Tidak… Aku harus lari… Kak Arthur, tolong aku, Kak…," ucap Mona yang begitu gelisah di dalam tidurnya.
"Aku di sini, Mona. Kamu akan baik-baik saja," ucap Arthur.
"Dia tidak akan mendengar suara Anda, Tuan. Percuma. Sebaiknya kita akhiri saja dulu sampai di sini," ucap Miranda.
"Kak Arthur… tolong aku, Kak… tolong aku… Kak Arthur…," rintih Mona lirih.
"Mona, dengar kata-kataku. Pada hitungan ketiga, Anda akan bangun. Satu, dua, tiga." Miranda menjentikkan jarinya.
"KAK ARTHUUUUURRR," pekik Mona yang seketika membuka matanya.
"Mona... Sayang, kamu tidak papa?" tanya Arthur yang begitu lega melihat wanitanya sudah bangun.
Mona langsung terduduk, dengan nafas yang begitu cepat. Degupan jantungnya seakan berkejaran. Ketakutan bahkan rasa sakit dari duri yang menyayat-nyayat kulitnya pun masih terasa.
Dia menoleh ke arah Arthur yang masih setia di sisinya. Genangan muncul, dan meleleh begitu saja di pipinya.
"Kak," panggil Mona yang mulai terisak.
Arthur pun bangkit dan berdiri di samping Mona. Dia mendekap wanitanya, dan mencoba mengurangi rasa takut yang dialami si ratu es.
"Ssstttt… ssssttt… tenang. Sudah tidak apa-apa. Aku ada di sini, hem," ucap Arthur sambil menepuk-nepuk pelan punggung wanitanya yang terisak.
Mona menangis meluapkan rasa takutnya atas apa yang ia alami di mimpinya dalam pelukan Arthur.
Lama mereka berpelukan, hingga Dokter Miranda pun harus meninggalkan keduanya beberapa saat.
Sekitar dua puluh menit, Mona akhirnya bisa sedikit lebih tenang. Tangisnya mulai hilang dan hanya tersisa isakan kecil dari mulut wanita itu.
Dokter Miranda sudah kembali ke ruangannya. Dia berjalan menuju ke arah water dispenser dan mengambil segelas air minum. Dia pun kemudian duduk di kursinya. Arthur menuntun Mona untuk kembali duduk di depan meja kerja sang psikiater.
"Tuan, silakan berikan minum kepada Nyonya Mona agar sedikit lebih tenang," seru Miranda.
Arthur pun meraih gelas berisi air yang tadi di bawa oleh dokter itu, dan memberikan kepada Mona.
Wanita itu nampak meminum air tersebut hingga tandas. Mona menyeka mulutnya kasar dengan punggung tangannya.
"Terimakasih, Dok," ucap Mona.
Mona masih nampak mengatur nafasnya yang belum kunjung normal, ditambah degupan jantungnya yang sedari tadi berpacu cepat, tak juga kunjung mereda.
"Apa Anda sudah siap menceritakan apa yang Anda lihat di mimpi tadi?" tanya Dokter Miranda.
Mona terdiam. Dokter Miranda terus memperhatikan pasiennya itu.
"Bagaimana Nyonya?" tanya Miranda.
"A… aku melihatnya," ucap Mona.
"Apa yang Anda lihat?" tanya Miranda.
"Kak Jeffrey. Ya, aku melihatnya," jawab Mona.
Pandangan si ratu es terlihat tak bisa fokus ke satu titik. Nampak jelas jika dia sedang dilanda ketakutan.
"Dimana? Apa di mimpi?" tanya Miranda lagi.
Mona seketika menggeleng dengan cepat. Jemarinya saling bertaut. Tatapan matanya terus berkejaran.
Miranda pun semakin mengejar pandangan Mona yang terlihat begitu gelisah.
"Mona," panggil Arthur sambil mengusap lembut kepalan tangan Mona.
"Di mana Anda melihatnya?" tanya Miranda lagi.
"Di taman rooftop kantor Kak Arya," jawab Mona.
"Apa?" pekik Arthur yang begitu terkejut dengan penuturan wanitanya.
Miranda memberi peringatan kepada Arthur dengan jari telunjuknya, agar pria itu diam sejenak, hingga dokter itu selesai menanyai pasiennya.
"Apa Anda yakin di sana tempatnya?" tanya Miranda lagi.
"Ya, aku melihatnya di sana. Dia menatap ke arahku dan tersenyum. Itu terlihat sangat mengerikan. Dia pasti datang untuk merusak hidupku lagi seperti dulu. Aku… aku takut dia melukai anakku. Aku takut… Kak, aku takut," ungkap Mona.
Kini, Arthur tahu kenapa Mona selalu ketakutan setelah pulang dari kantornya. Dia pun tak tahan melihat wanitanya menangis lagi. Pria itu memeluk tubuh Mona yang berguncang, dan lelehan bening kembali menganak sungai di wajahnya.
Jadi, dia mengejarmu sampai sana? Kenapa bisa ada orang asing masuk? batin Arthur bertanya-tanya.
Seusai menenangkan Mona, Arthur pun pamit kepada Dokter Miranda.
"Datanglah lagi minggu depan. Kita akan coba terapinya, supaya dia bisa menghadapi ketakutannya itu," ucap Miranda.
"Baik, Dok," sahut Arthur.
Mereka berdua pun pergi dari tempat tersebut.
Di perjalanan, Arthur terus menggenggam erat tangan Mona, yang duduk di sampingnya. Sebelum pulang, Miranda memberikan obat penenang untuk Mona, agar wanita itu bisa beristirahat saat serangan cemas datang lagi.
Mona pun kini tertidur pulas. Arthur mengatur kursinya sedikit rebahan, agar Mona merasa nyaman tidur di dalam mobil.
Arthur pun menelepon seseorang, dan menempelkan hands free ke telinganya.
"Halo, Will!" sapa Arthur.
"Ya, Tuan. Ada tugas apa menelepon saya?" sahut William.
"Cek CCTV enam hari yang lalu di sekitar taman rooftop. Cari tau apakah benar ada orang yang mengintai Mona saat dia sedang berada di taman itu?" perintah Arthur.
"Baik, Tuan."
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih