DESIRE

DESIRE
Bab 32



Mona berjalan kembali menuju meja riasnya. Tepat saat dirinya baru saja duduk di depan cermin, pintu kamar mandi terbuka dan kali ini Arthur keluar dengan dibalut handuk yang menutup sempurna, dari bagian perut hingga lututnya.


Tampak jelas terlihat tubuh atletis, dengan perut ala roti sobeknya yang sangat menggoda siapa pun yang melihat.


Mona tak menoleh langsung, hanya melihat sekilas lewat pantulan cermin yang ada di depannya.


Wanita itu mulai mengoles serum ke wajah dan menepuk-nepuknya agar meresap.


Arthur berjalan ke arah tempat tidur, dan duduk di bibir ranjang, tepat di belakang Mona. Dia menumpukan satu kakinya ke atas kaki yang lain, dengan kedua lengan yang bertumpu ke belakang.


"Apa kau akan pergi?" tanya Arthur.


"Bukan urusan Anda, Tuan," jawab Mona ketus.


"Apa pekerjaanmu?" tanya Arthur lagi.


Mona menghentikan sejenak gerakan tangannya, yang tengah meratakan pelembab di wajah, dan menghela nafas berat.


"Apa Anda ingin terus-menerus berada di sini dan mengganggu orang lain?" jawab Mona dengan berbalik tanya.


"Hei, Nona. Apa kau tidak bisa melihat bagaimana kondisiku sekarang, hah?" sahut Arthur tak kalah sengit, dan menegakkan posisi duduknya.


"Hah… lalu apa mau Anda sekarang, Tuan? Apa Anda berencana meminjam bajuku? Silakan saja pilih salah satu kalau Anda mau," jawab Mona yang mulai kembali dibuat jengkel dengan pria yang ada di belakangnya.


"Ambilkan baju ganti di tempatku," perintah Arthur seenaknya.


Mona sontak meletakkan kuas bedaknya, dan menoleh ke arah pria tersebut dengan tatapan jengah.


"Apa Anda pikir, saya ini pesuruh Anda, hah?" tolak Mona kesal.


Wanita itu kembali memoles wajahnya dengan bedak, lalu kemudian mengukir alis hitam menukik. .


Saat dia tengah berkonsentrasi menggambar sebelah alis, tiba-tiba Mona melihat Arthur dari pantulan cermin, sedang naik ke atas tempat tidurnya dan berbaring di sana.


"Hah… nyamannya," ucap Arthur saat tubuhnya sudah terlentang di atas kasur Mona.


"Hei! Apa yang sedang Anda lakukan," Mona bangkit dan berjalan menuju ranjangnya.


Dia menghampiri Arthur yang tengah berbaring dengan kedua tangan yang ia jadikan sebagai bantalan kepalanya sendiri.


"Tolong jangan seenaknya di rumah saya, Tuan Peterson yang terhormat. Saya bisa saja panggilkan sekuriti untuk mengusir Anda sekarang juga," ancam Mona.


Arthur menoleh, dan menatap wanita yang memandangnya dengan penuh emosi. Namun, pria itu justru mengernyitkan kedua alisnya, serta memicingkan matanya melihat ke arah wanita tersebut.


"Pppfffttt… hahahhaha… hahahhaha…," tawanya tiba-tiba meledak begitu saja, ketika melihat dengan jelas wajah wanita di depannya.


Mona semakin kesal melihat pria itu tertawa seolah sedang mengejeknya. Dia geram, dan segera meraih tangan Arthur, hendak menariknya agar bangun dari ranjang.


Namun, dengan tenaganya yang lebih besar, Arthur balik menarik tangan Mona, sehingga wanita itu pun limbung dan jatuh menimpa tubuh telanjang Arthur yang hanya terbalut handuk itu.


"Ah…," pekik Mona saat dirinya terjatuh.


Dia terpaku, kala mencium bau maskulin bercampur feminim dari tubuh pria tersebut. Bau sisa parfum Arthur yang berpadu dengan wangi sabun mandi beraroma bunga mawar miliknya, yang dipakai pria itu saat mandi tadi.


Dia tersadar dari pesona Arthur, dan buru-buru bangkit dari atas tubuh kekar itu. Namun, Arthur menahan pinggang Mona dengan melingkarkan kedua lengan kekarnya di sana.


"Lepaskan," perintah Mona yang berusaha melepaskan diri dari jeratan Arthur.


"Kau suka bukan, berada di atasku seperti ini?" Arthur menatap mata bulat Mona sambil tersenyum tipis, yang dibalas dengan tatapan nyalang dari wanita itu.


Mona terdiam karena terlewat emosi, sementara Arthur masih menahan pinggang Mona, agar wanita itu tak bisa pergi kemana-mana.


Mata mereka seolah saling menaut, dan tak bisa melepaskan pandangan. Namun, sejurus kemudian, Arthur kembali tak bisa menahan tawanya.


"Ppppffftttt… hahhaha… hahhaa…,"


Karena tawanya yang meledak begitu saja, cengkeraman lengannya di pinggul Mona pun melemah, dan hal itu dimanfaatkan oleh wanita tersebut untuk segera bangun dari atas tubuh Arthur.


"Breng*sek! Apanya yang lucu? Cepat bangun!" hardik Mona dengan emosi yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.


"Heheheh… hehe…." Arthur menghentikan tawanya, dan segera bangun dari tempat tidur.


Ia lalu berdiri di depan wanita itu, dan merengkuh pundak mulusnya yang terbuka lebar.


"Berbaliklah," serunya sambil menatap ke dalam bola mata Mona, dengan tatapan serius.


Karena Mona hanya diam, pria itu pun lalu membalikkan badan sang wanita, dan mendorongnya hingga ke depan cermin.


"Lihatlah dirimu. Bagaimana aku tidak tertawa, jika alismu hanya sebelah begitu, hahahahha… hahahaha…," tawa Arthur pun kembali pecah, ketika selesai memberitahukan penampilan Mona yang menurutnya sangat konyol itu.


Wajah Mona yang semula merah padam akibat emosi, kini pias dan cenderung merona malu akibat ia lupa belum selesai mengukir alis satunya.


Dia menutup matanya rapat sejenak, sambil membuang nafas yang terdengar begitu berat.


Si*al! Lagi-lagi dia berhasil mengolokku, gerutu Mona pada dirinya sendiri.


Mona segera kembali ke meja rias, dan menyelesaikan make up-nya yang sempat terganggu tadi. Sedangkan Arthur, dia masih saja tertawa, menertawakan kekonyolan Mona, sambil berguling-guling di atas kasur wanita itu.


Mona sudah tak peduli lagi dengan kelakuan menyebalkan tamu tak diundangnya. Dia hanya ingin fokus menyelesaikan dandanannya saja untuk sekarang, baru kemudian mengusir Arthur dari tempatnya.


Setelah beberapa saat, kini Mona telah siap dengan make up nya untuk bekerja malam ini.


Dia melihat pria menyebalkan itu, nampak terdiam dengan sebelah lengannya yang menutupi mata.


Mona berjalan mendekat dan mengamati Arthur, tetangga barunya.


"Apa dia tertidur?" gumamnya.


Mona lalu pergi menuju kamar mandi. Di sana dia melihat pakaian pria itu yang tercampur dengan miliknya di keranjang laundry.


Ia mengambil celana yang tadi dipakai Arthur, dan merogoh sakunya.


"Ini dia," gumamnya saat ia menemukan sebuah key card, akses masuk ke apartemen milik pria tersebut.


Mona lalu mengembalikan celana itu ke dalam keranjang, dan beranjak dari sana. Ia kemudian pergi keluar kamar.


Wanita itu rupanya pergi ke apartemen Arthur, dan mengambil satu setel baju ganti, yang menurutnya pas untuk digunakan saat tidur. Tak lupa, ia juga mengambil sebuah cel*na dalam untuk pria itu.


Setelah selesai mengambil baju ganti, Mon keluar dari dalam walk in closet milik Arthur. Tatapannya tertuju pada kamar mandi yang pintunya terbuka.


Ia melangkah dan berjalan ke sana. Ruangan itu masih terlihat kering dan belum dipakai sama sekali. Bersih, benar bersih.


Wanita itu masuk, dan mencoba membuka keran airnya, dan ternyata memang benar jika air di unit itu belum mengalir.


"Dia memang tidak bohong," gumamnya.


Setelah memastikan hal itu, Mona pun kembali ke apartemennya. Dia langsung menuju ke kamar, dan mendapati pria itu masih dalam posisi yang sama, saat ia meninggalkannya.


Mona meletakkan baju ganti di atas tempat tidur, tepat di samping kaki Arthur. Serta key card yang ia letakkan di atas nakas, di samping tempat tidur, dan sebuah note.


[Jika kau sudah bangun, cepatlah berpakaian. Aku sudah mengambilkannya dari apartemenmu. Lalu, tolong segeralah pergi dari tempat ku, Tuan.]


Setelah meninggalkan pesan itu, Mona pun lalu meraih tas yang sudah ia siapkan, kemudian bergegas untuk berangkat ke Heaven valley, karena waktu sudah cukup malam.


Ia tak ingin sampai datang terlambat dan mendapat hukuman aneh dari mucikarinya itu.


Saat mendengar pintu depan tertutup, dan pengunci pintu otomatis berbunyi, Arthur membuka matanya, dan menurunkan lengan yang sedari tadi menutupi separuh wajah.


Ia lalu bangkit, dan duduk bersandar di head board.


Arthur menoleh ke sisi kanannya, dan melihat note yang ditinggalkan oleh Mona. Ia pun mengambilnya, lalu kemudian membaca pesan tersebut.


Ada senyum tipis yang tersemat di bibir seksinya.


"Kau manis sekali, Lisa. Aku benar-benar sangat merindukan mu," pandangannya beralih ke depan, tepat mengahadap sebuah figura foto yang menggantung di hadapannya.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya


terimakasih