DESIRE

DESIRE
Bab 128



Arthur kalang kabut saat mengetahui Mona hilang. Dia baru saja mendapat kabar dari salah satu penjaga yang sempat pingsan, namun kemudian sadar dan memeriksa kondisi di dalam ruang rawat itu.


Dia sangat terkejut saat mendapati Ema yang telah tergeletak tak sadarkan diri di lantai, dengan Mona yang sudah tak ada lagi di dalam sana.


Dia pun membantu wanita malang itu untuk berbaring kembali ke tempat tidur, dan memanggilkan seorang petugas medis asli untuk memeriksa kondisi Ema.


Setelah itu, dia menyampaikan situasi tersebut kepada William.


"Cepat cari tau di mana mereka membawa Mona pergi! SEKARANG!" pekik Arthur kepada sang asisten.


"Baik, Tuan," sahut William.


Arthur menyesali keputusannya yang lebih mementingkan pertemuannya dengan sang investor, yang ternyata malah meng-cancel meeting tersebut, sehingga membuat Mona lepas dari pengawasannya dan sampai diculik seperti ini.


Setelah sang asisten pergi, dia pun bergegas menuju ke rumah sakit untuk mencari informasi mengenai kejadian ini lewat Ema yang dikabarkan mulai sadar.


Sesampainya di sana, dia melihat jika Ema saat itu duduk bersandar di atas tempat tidurnya.


"Kenapa Mona sampai hilang? Ke mana kamu tadi hah?" bentak Arthur setibanya di ruang tawat itu.


"Maaf, Tuan. Sepertinya, orang yang Anda tangkap waktu itu, bukanlah orang yang bernama Jeffrey," tutur Ema.


"Apa maksudmu?" tanya Arthur yang nampak kebingungan.


"Orang yang membawa Mona pergi, adalah Jeffrey. Dialah orang yang waktu itu mencari orang bernama Lisa, dan menyamar sebagai tukang ledeng palsu," ungkap Ema.


"Apa?!" pekik Arthur.


Bagaimana bisa? batin Arthur.


Dia berjalan mendekat ke arah Ema, dan mencengkeram kerah baju pasien yang dikenakan oleh wanita itu.


"Kamu jangan bicara yang tidak masuk akal begitu. Jelas-jelas, Mona mengatakan kalau itu adalah Jeffrey, kakak tirinya," elak Arthur.


"Bukan, Tuan. Dia orang yang berbeda. Aku yang waktu itu setengah sadar karena kepala yang terbentur, ditambah Mona yang panik, membuat kami tak bisa mengenali orang itu dengan baik," jawab Ema.


Arthur pun terkejut. Dia merasa sangat b*doh karena tak tahu sama sekali wajah asli dari orang yang bernama Jeffrey itu.


Dia melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Ema perlahan, sambil mundur beberapa langkah dengan gontai.


Kenapa? Kenapa aku bisa seb*doh ini? Melindungi satu orang yang berharga saja tidak becus, batin Arthur.


Arthur mulai mencoba tetap berpikir jernih, namun rasa khawatirnya membuat pria itu tak mampu berbuat apapun kecuali diam.


Sebuah panggilan masuk dari William.


"Halo, Will. Apa sudah ada kabar?" tanya Arthur.


"Mereka menuju ke arah pelabuhan, Tuan. Sekarang, Kami sedang mencoba mencari keberadaan mereka," tutur William.


"Pelabuhan? Baiklah, aku akan segera menyusul ke sana," ucap Arthur.


Pria itu terlihat berlari keluar meninggalkan Ema yang masih terdia di atas ranjangnya.


Mon, semoga kau baik-baik saja, batin Ema yang bedoa untuk rekannya itu.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Di perjalanan, Arthur teringat akan alat penyadap yang terpasang di hampir seluurh ruangan di apartemennya.


Kenapa dia harus menaruh penyadap di apartemen? Apa yang mau dia tau dari kami? batin Arthur.


Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga membuat klaksonnya tak berhenti berbunyi untuk membuat pengemudi lain menyingkir dari jalurnya.


Namun tiba-tiba, dia menginjak pedal rem mendadak dan hampir membuat kecelakanaan beruntun, jika saja kendaraan dibelakangnya tak segera menghindari.


"Heh bangs*t! Kalau nyetir hati-hati dong! Memang ini jalan punya nenek moyang mu!" maki pengemudi yang hampir menabrak mobil pria itu dari belakang.


Sumpah serapah ditujukan kepada Arthur yang masih berada di dalam mobilnya.


Tunggu dulu. Dia memasang penyadap, dan pergi begitu saja hari itu. Tapi, tiba-tiba dia datang dan menyerang Mona dan Ema, batin Arthur mecoba menyusun kepingan puzzle masalah ini.


Apa yang dia dengar sebelum itu? Oh, Jangan-jangan, dia mendengar pembicaraan antara pengacara itu dengan kami. Tapi, apa hubungannya dengan dia. Apa mungkin, ini semua ada kaitannya dengan Joshua? lanjut Arthur dalam hati.


"Halo, Will!" sapa Arthur.


"Ya, Tuan. Maaf, kami belum menemukan keberadaan Nona Mona," sahut Will.


"Tetap cari sampai dapat," seru Arthur.


"Baik," sahut William.


"Ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan padamu. Siapa investor yang tadi meminta bertemu dengan ku tapi tiba-tiba cancel?" tanya Arthur.


"Mereka dari The silk, Tuan," jawab William.


"The silk? Perusahaan apa itu?" gumam Arthur.


Dia nampak berpikir tentang perusahaan tersebut.


"Ehm … The silk itu bukan perusahaan yang mandiri, Tuan. Tapi, itu adalah anak perusahaan dari The fortuna, milik Tuan Joshua yang dikelola oleh istrinya," tutur William.


Binggo! Ketemu sekarang ujung dari benang kusutnya, batin Arthur.


"Will, coba cari bangunan atau container milik The fortuna atau The silk yang ada di sekitar atau di dalam area pelabuhan. Kemungkinan besar, Mona ada di tempat itu," seru Arthur.


"Bagaimama Anda bisa tau?" tanya William memastikan.


"Cepat cari saja dulu. Nanti ku jelaskan semuanya setelah ini selesai," ucap Arthur.


"Baik, Tuan," sahut William.


...πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚...


Sementara itu, di sebuah gudang kosong di daerah pesisir ibu kota. Tempat yang sudah lama tak terpakai dan sangat kotor. Tampak seorang wanita diikat tangannya ke belakang disebuah kursi dalam keadaan duduk dan masih tak sadarkan diri, di tengah sebuah ruangan yang temaram, dengan hanya diterangi oleh sebuah lampu yang tepat berada di atasnya.


Rambut panjangnya yang tergerai acak-acakan menutupi hampir seluruh wajahnya. Beberapa orang pria berpakaian hitam nampak berjaga di setiap sudut ruangan itu.


Seorang pria yang mengenakan jaket berhoodie masuk dan berjalan menuju ke tengah, di mana wanita itu berada. Tangannya terulur, dan mengangkat dagu si wanita dengan jari telunjuknya, lalu menjatuhkannya lagi begitu saja.


"Heh… ajalmu akan segera datang, adikku sayang. Kau akan segera bertemu dengan ibu mu. Wanita murahan yang sudah membuat ibu kandungku pergi meninggalkan aku dan juga ayah ku," maki pria itu yang tak lain adalah Jeffrey.


Dia lalu duduk di sofa usang yang berada di sudut ruangan. Dalam kegelapan, dia terus memperhatikan adik tirinya yang masih belum sadar.


Tak lama kemudian, nampak seorang wanita mengenakan gaun hitam dengan sarung tangan berwarna senada, memasuki ruangan yang hanya di sinari oleh sebuah lampu gantung yang berada tepat di atas Mona yang masih pingsan.


Wanita yang tak lain adalah Valeria, berjalan mendekat ke arah Mona, dengan pandangan yang merendahkan.


"Akhirnya, kali ini aku akan benar-benar melenyapkanmu dengan tanganku sendiri. Aku pastikan kau tak akan kesepian, karena anakmu …," Valeria membelai perut Mona yang terlihat sedikit membuncit.


"… akan ikut menemani mu di neraka! Cepat siram Dia dengan air. Buat dia sadar. Aku ingin lihat bagaimana reaksi dia saat melihatku," seru Valeria kepada salah satu anak buahnya.


Tak perlu menunggu lama, seember air di tumpahkan ke atas Mona langsung, dan membuat wanita itu gelegapan hingga sadar dari pengaruh obat yang disuntikkan oleh Jeffrey kepadanya.


"Hah … hah … hah …." Mona berusaha mengambil nafas yang seolah begitu tipis ditempat itu.


Dia pun mengedarkan pandangangnya, dan mencoba menyadarkan diri sepenuhnya.


Gelap. Di mana aku? Batin Mona.


"Putri Luzy. Akhirnya kita berdua bisa bertemu kembali, setelah lima tahun," ucap Valeria.


.


.


.


.


Mohon tinggalkan jejak berupa like πŸ‘, komen πŸ“, atau beri dukungan lainnya


terimakasih