
Sore hari, Mona tengah bersiap-siap untuk bekerja. Dia baru saja selesai mandi, ketika pintu apartemennya diketuk dengan keras oleh seseorang.
Mona yang saat itu masih mengenakan handuk kimononya, berjalan ke arah pintu karena merasa terganggu dengan ulang seseorang.
"SEBENTAR!" teriaknya dari dalam.
Ia pun lalu segera membukakan pintu, tanpa mengintip terlebih dulu dari lubang pintu.
"Ya, ada apa?" tanyanya sembari membuka pintu apartemennya.
Mona terkejut, dan hampir terlonjak sangkin kagetnya.
"Sedang apa Anda di depan pintu ku?" tanya Mona kepada orang yang sedang berdiri di hadapannya, yang tak lain adalah sang tetangga baru, Tuan Peterson.
"Air di tempatku tidak mau keluar. Aku ingin menumpang mandi di sini," ucapnya sambil mencoba masuk ke dalam.
Namun, Mona segera menyempitkan bukaan pintu, agar pria itu tak bisa masuk dengan mudah.
"Kenapa harus ke tempat ku? Kau kan bisa ke tempat lain. Banyak penghuni di lantai ini selain aku," tolak Mona keras.
"Oh... ayolah. Di sini aku hanya mengenalmu, Nona Mona. Akan sangat aneh kalau aku tiba-tiba mengetuk pintu mereka, dan mengatakan bahwa aku ingin menumpang mandi."
"Apa yang akan mereka pikirkan tentangmu? Tetangga baru yang aneh? Perampokan dengan modus terbaru?Pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Bukankah, lebih baik aku datang ke mari saja, karena setidaknya kita sudah saling mengenal," kilah Arthur.
"Tapi aku keberatan. Kenapa Anda tak mencoba hubungi pihak pengelola saja, dan minta mereka untuk segera mengalirkan air ke tempat Anda, Tuan?" ujar Mona yang kesal dengan ulah tetangga barunya itu.
"Sudah. Tapi kata mereka, semua pekerja sudah pergi, dan masalah ini akan diurus besok pagi. Aku tidak biasa jika tidur dalam keadaan tubuh lengket seperti ini," keluhnya.
"Tapi…," ucap Mona.
Belum selesai ia berkata-kata, Arthur justru menerobos masuk begitu saja, dan membuat wanita itu terdorong hingga membentur tembok.
"Kau terlalu lama berpikir. Aku juga perlu buang air kecil. Apa kau mau aku pipis di depan pintumu, hah?" keluh Arthur sambil berjalan masuk ke dalam.
"HEI! JANGAN SEMBARANGAN MASUK KE RUMAH ORANG!" pekik Mona yang mengikuti pria itu.
Arthur sama sekali tak peduli dengan Mona yang kesal dengan ulahnya. Dia justru asik melihat ke kanan dan ke kiri, seolah tengah mencari sesuatu.
"Di mana kamar mandinya?" tanyanya yang terus berjalan masuk semakin dalam, diikuti oleh Mona yang berusaha menyamakan langkah kakinya.
Mona hendak menunjukkan kamar mandi yang ada di dekat dapur, namun Arthur tiba-tiba berbalik, dan hampir menabraknya.
"Apa di sana?" pria itu menunjuk ke lantai atas, tepatnya kamar Mona yang pintunya masih terbuka.
"Bu… kan…,"
Belum sempat Mona menjawab, lagi-lagi Arthur dengan seenaknya berjalan cepat menaiki anak tangga, dan menuju kamar yang berada di lantai dua tersebut.
Mona memutar bola matanya jengah, melihat kelakuan pria yang sangat menyebalkan untuknya.
Dia hanya bisa mengikuti Arthur ke atas, dan berharap jika pria itu tak membuat kekacauan lebih dari ini.
Sesampainya di kamar, Mona tak menemukan keberadaan Arthur. Dia melihat jika pintu kamar mandi telah tertutup, dan terdengar bunyi kloset yang sedang menyiramkan air.
"Hah… dia sudah di dalam rupanya," gumam Mona.
Wanita itu hanya bisa menghela nafas berat, dengan bahu yang turun begitu saja. Sejurus kemudian, dia mendengar suara gemericik air yang berasal dari shower, pertanda jika tamu tak diundangnya itu tengah mandi.
Mona pun lalu mengabaikannya, dan berbalik menuju walk in closet.
Ia memilih baju yang akan dikenakan utuk pergi bekerja ke Heaven valley malam ini, dan pilihannya jatuh pada dress ketat berwarna jingga, dengan motif floral.
Gaun dari bahan satin itu hanya sepanjang paha, dan memiliki tali bahu yang kecil. Bagian dada dan punggungnya tak terlalu terbuka, namun terdapat belahan di sisi kiri dan kanan bawahnya, yang membuat penampilannya terlihat sangat menggoda iman para pria.
Setelah berganti pakaian, Ia keluar dari walk in closet dan berjalan menuju meja riasnya.
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka, dan Arthur menyembulkan kepalanya ke luar, dengan tubuhnya yang masih tersembunyi di balik pintu.
"Sssstttt... Sssttt...." Pria itu berusaha memanggil Mona, namun wanita itu bersikap acuh, dan pura-pura tidak mendengarnya.
"Ssssttt... Sssttt... Mona," panggilnya kemudian.
"Tolong pinjami aku handuk mu. Aku lupa tak membawa apapun saat masuk tadi. Aku sekarang telanj*ng," serunya yang seketika membuat mata Mona membola.
Wanita itu memutar bola matanya kesal, dan berbalik menuju ke arah lemari. Ia mengambil asal sebuah handuk kering dari dalam sana, dan tak memastikan lebih dulu ukurannya.
Mona kemudian berjalan menuju kamar mandi, tempat Arthur berdiri mengintip dari balik pintu.
"Cepatlah. Aku sudah sangat kedinginan dan hampir membeku di sini," ucap Arthur.
"Siapa suruh Anda masuk begitu saja kemari tanpa permisi?" gerutu Mona sambil mengulurkan handuk itu, yang kemudian diraih cepat oleh Arthur.
"Thanks," ucap pria itu yang kemudian langsung masuk ke dalam.
Baru beberapa langkah, Arthur kembali memanggil Mona dari dalam kamar mandi yang tertutup.
"Hei... Apa kau serius memberiku benda ini?" tanya Arthur, yang membuat Mona sontak menoleh.
"Tentu saja aku serius. Memang apa yang salah dengan itu?" tanya Mona sambil melihat ke arah kamar mandi, yang sudah kembali tertutup.
"Oke, tunggu sebentar." Arthur kemudian memakai handuk yang tadi diberikan oleh Mona, dan mengikat kecil ujungnya.
Pintu lalu terbuka, dengan Mona yang masih melipat kedua lengannya di depan dada, sambil melihat ke arah kamar mandi tersebut.
Arthur lalu keluar dengan handuk yang sangat kecil, yang biasa dipakai untuk mengeringkan rambut yang basah, dan terlilit hanya menutupi pusakanya saja, bahkan ujungnya hampir terlihat.
Sebelah kakinya pun tidak bisa tertutup karena ukuran handuk yang terlalu kecil. Sedangkan ujung bagian atasnya ia ikat sangat kecil pada pinggangnya, agar tidak terlepas.
"HEI!" pekik Mona yang sempat membulatkan matanya, namun buru-buru ia berbalik, dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa yang sedang Anda lakukan? Bisa-bisanya Anda berbuat mesum di tempat orang seperti ini," ucap Mona geram dengan kelakuan tamu tak diundangnya itu.
"Salah siapa memberiku handuk yang sangat mini ini? Bukankah sudah ku tanyakan tadi, apa kau kau serius memberiku benda ini, hah?" sahut Arthur sengit dengan berkacak pinggang, seolah tak merasa malu sedikit pun dengan kondisinya yang hampir telanj*ng bulat itu.
Sedangkan Mona, wanita yang terbiasa dengan para pria, justru merasa sangat malu melihat hal konyol yang dilakukan oleh Arthur.
"Baiklah, aku minta maaf. Tapi, bisakah Anda kembali ke dalam terlebih dulu? Akan aku ambilkan lagi handuk yang lebih besar," ucap Mona sambil sedikit menoleh, dengan tangan yang masih menutupi matanya.
"Baiklah. Tapi cepat. Aku sudah sangat kedinginan," keluh Arthur yang kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Mona cepat-cepat menuju ke arah lemari dan mengambil sebuah handuk. Namun kali ini, ia membentangkannya terlebih dahulu dan memastikan ukurannya, sehingga ia tak akan salah lagi.
Wanita itu buru-buru berjalan ke kamar mandi dan mengetuk pintunya.
Tok! Tok! Tok!
"Ini handuknya," seru Mona dari luar.
Pintu terbuka dan wanita itu segera menutup matanya dengan sebelah tangan.
Arthur yang melihat itu pun tersenyum tipis, dan segera menyambar handuk yang dipegang Mona.
"Kau ini aneh sekali, Nona... Bukankah hal semacam ini sering kau lihat hampir setiap malam? Kenapa malah malu saat melihat punyaku?" gumam Arthur yang ia lanjutkan dalam hati, lalu kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Mona yang mendengar itu pun, sontak membuka tangan yang menutupi wajahnya, dan memukul udara yang ada di depan pintu kamar mandi.
"Dasar breng*sek!" ucapnya geram.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih