
Iring-iringan mobil tengah berdatangan dan mengepung sebuah gudang di area pelabuhan dari berbagai arah. Keluar beberapa orang pria dari mobil paling depan yang berhenti tepat di depan pintu masuk, dan memberi komando kepada semua yang datang.
Nampak Arthur berjalan sambil mengambil sesuatu dari balik jasnya, dan berjalan di belakang anak buah William yang menyisir jalan di depan.
Saat pintu didobrak, terlihat banyak pria berpakaian serba hitam yang tengah berjaga di dalam. Pertempuran antara dua kubu pun terjadi.
Bak pertarungan antar gengster, semuanya maju menyerang dengan menggunakan senjata yang dimiliki masing-masing.
Arthur dan William memilih berdiri di belakang sebuah pilar besar dan membidik satu persatu orang-orang dari pihak lawan. Anak buah William yang memegang senapan laras panjang, terus mencoba membuka jalan untuk kedua bos mereka.
Setelah berhasil melumpuhkan para penjaga di bagian depan, mereka kemudian bergerak masuk dan mencari di mana tempa Mona disekap.
Baku hantam kembali terjadi saat mereka sampai di sebuah ruangan yang dijaga oleh beberapa orang.
"Mona pasti di situ. Cepat buat jalan agar aku bisa masuk!" seru Arthur.
Semuanya pun mulai kembali bertarung. Lautan darah tak lagi dihiraukan. Luka tembak, luka sayatan bahkan mayat yang tergeletak pun tak lagi dipedulikan.
Tujuan mereka malam itu hanya satu, menyelamatkan Mona.
Setelah berhasil melumpuhkan penjagaan dia depan, seorang anak buah William menendang pintu hingga jebol.
Tepat saat itu, Mona tengah ditodong senjata api oleh seorang wanita bergaun hitam. Arthur murka, dia pun maju tanpa peduli jika di dalam ruangan itu ada banyak penjaga.
CRAS!
Sebuah sayatan mengenai lengan kirinya. Dia pun menoleh dan seketika menembakkan peluru dari senjatanya ke arah si penyerang. Semuanya masuk dan menodongkan senjata mereka.
Valeria nampak panik. Dia tak habis pikir jika dia akan kembali gagal menyingkirkan Mona dari dunia ini.
"Si*l! Serang mereka!" perintahnya kepada semua anak buah yang tersisa.
Namun, karena kalah jumlah, dengan mudah Arthur dan pasukan William pun berhasil membekuk semuanya dan meninggalkan Valeria seorang diri.
"Letakkan senjata Anda di bawah, dan angkat tangan Anda," seru William.
Arthur maju selangkah dari semua pasukannya, dan menatap tajam ke arah janda Joshua itu.
"Sebaiknya kalian menyerah. Dan untuk Anda Nyonya Chou, ikut kami ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu terhadap Mona.
Valeria tak berkutik. Dia sudah terkepung, dan hanya bisa balas menatap tajam ke arah Arthur dan semua pasukan yang ada di hadapannya.
"Tidak semudah itu, Tuan!" ucap seseorang yang mereka lupakan.
Jeffrey. Pria licik itu memilih mundur saat mendengar keributan yang terjadi di luar, dan merencanakan serangan balasan yang bisa saja menguntungkannya.
Dia saat ini sudah berada di belakang Mona dan tengah meletakkan pisau di depan leher wanita itu.
Arthur pun terkejut akan hal itu. Sedari tadi dia tak menangkap keberadaan Jeffrey, karena kakak tiri Mona itu bersembunyi di sudut gelap ruangan. Begitu Valeria tersudut, dan semua fokus pada janda itu, dia keluar dan mendekat ke arah Mona yang masih terikat di kursinya.
"Suruh mereka meletakkan senjata di lantai. Cepat!" perintah Jeffrey sambil mengeratkan rangkulannya yang membuat Mona meringis kesakitan.
"Jangan sakiti dia!" pekik Arthur yang tak bisa tenang melihat wanitanya terancam.
"Kalau begitu, cepat suruh mereka buang senjata ke lantai," seru Jeffrey.
Arthur menoleh ke arah William, dan menganggukkan kepalanya. Sang asisten pun memberi kode pada anak buahnya agar meletakkkan semua senjata yang ada di tangan mereka ke lantai.
"Heh, kalian! Cepat punguti semua senjata mereka. Janhan sampai ada yang tersisa," seru Jeffrey kepada anak buah Valeria yang masih bisa bergerak.
Janda Joshua itu pun menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, dan mengambil kembali senjata yang sempat ia lempar.
"Ternyata, aku tak salah memilih orang. Kamu benar-benar bisa diandalkan, Jeffrey!" puji Valeria.
Wanita itu pun mendekat ke arah Mona dan mengambil alih tempat Jeffrey.
"Biar aku yang jaga dia. Kau, urus tuan muda itu sampai selesai!" seru Valeria.
"Baiklah," sahut Jeffrey.
Jeffrey menarik menjauhkan pisaunya dari leher Mona, saat Valeria sudah menodongkan kembali senjatanya tepat di pelipis kanan wanita hamil itu
"Jangan apa-apakan dia, pengecut!" pekik Arthur yang semakin histeris.
"Kak," panggil Mona lirih.
Wanita itu sudah tak tau lagi harus berbuat apa. Nasibnya sudah benar-benar di ujung tanduk.
Mungkin, ini adalah akhir dari hidupku. Mungkin, ini lah ujung dari semua kemalangan yang menimpaku. Tapi, biarkan pria itu pergi dari sini, batin Mona.
Dia sudah pasrah dengan nasibnya. Namun, satu hal yang menjadi doanya, yaitu agar Arthur bisa selamat dan keluar dari tempat itu.
Jeffrey maju menghadapi Arthur. Dia nampak memandang dengan tatapan mengejek.
"Tuan muda, asal kau tau ya, Aku ini bukan seorang pengecut. Aku akan memberikan mu kesempatan unuk menyelamatkan wanita dan anak yang dikandungnya itu. Ayo kita bertarung satu lawan satu, dengan senjata yang kita pegang saat ini," seru Jeffrey.
Arthur menatap geram ke arah pria di depannya itu.
"Kau licik! Dari awal, kau memang tak menginginkan pertarungan yang adil kan. Aku sudah tak memegang senjata apapun, dan kau masih punya sebuah pisau di tanganmu," ucap Arthur dengan sinis.
"Yah, itu resikonya. Kalau kamu menolak, ucapkan selamat tinggal untuk calon istri dan juga anaknya. Hahahahhaha …," tawa Jeffrey menggelegar di dalam ruangan itu, membuat emosi Arthur semakin memuncak.
Dia maju menyerang Jeffrey, namun gerakan lawannya itu cukup lincah hingga bisa menghindari setiap serangan yang ia lakukan.
Hanya pukulan dan tendangan yang Arthur punya, sedangkan Jeffrey berkali-kali mencoba menghunuskan pisaunya ke bagian vital lawan.
Arthur yang memiliki dasar bela diri sebagai bekal calon penerus perusahaan besar pun, sedikit banyak bisa menghindari serangan-serangan berbahaya dari Jeffrey yang terus menargetkan perut maupun dadanya.
Jeffrey yang mulai kewalahan menghadapi Arthur yang terus saja bergerak lincah, akhirnya memberi kode kepada salah satu anak buah Valeria untuk membidik pria yang tengah bertarung dengannya.
Dia mengarahkan pandangannya ke bawah, tepat di kaki Arthur.
DOR!
Aaarrrgghhh!
Suara tembakan yang disertai teriakan Arthur terdengar menggema di dalam rungan itu.
"Kaaaaak!" pekik Mona yang melihat prianya nampak kesakitian.
"Kalian curang!" maki William.
"Kau licik, Kak! Jangan sakiti dia, aku mohon!" jerit Mona.
"Heh, berisik! Diam kau!" hardik Valeria yang semakin menekan laras pistoknya ke pelipis Mona.
"Kalian benar-benar licik!" maki Mona.
"Hahahaha … apa kalian pikir, kita benar-benar akan biarkan kalian pergi dari sini hidup-hidup hah? Jangan mimpi!" ucap Jeffrey terbahak dan disambut oleh semua yang ada di sana termasuk Valeria.
Saat itulah, Jeffrey lengah dan Arthur bangkit menyerang lengan pria itu hingga pisau yang dipegangnya jatuh.
Arthur membanting Jeffrey ke lantai dan meraih pisau yang tadi terjatuh tak jauh dari tempatnya.
CRAS!
CRAS!
CRAS!
CRAS!
Aaaarrrrgghhhh!
Empat kali sayatan diberikan Arthur di masing-masing pergelangan kaki dan tangan Jeffrey, untuk memutus urat syaraf pria itu, dan membuatnya menjadi lumpuh.
Arthur tak berniat membunuh Jeffrey, karena dia lebih ingin jika pria itu merasakan pembalasan yang setimpal.
Jeffrey pun mengerang kesakitan.
Valeria mulai ponik melihat rekannya itu sudah tumbang.
Arthur bangkit, dan mencoba untuk berdiri. Namun, kakinya yang tadi sempat tertembak, membuatnya kesulitan untuk bangun.
"Kak!" panggil Mona.
Wanita itu sudah berlinang air mata melihat kekasihnya tengah kesakitan.
"Apa kau merasakan sakit? Sepertinya aku harus membunuh pria itu terlebih dulu, agar kau lebih tersiksa dan memohon untuk segera menyusulnya mati," ucap Valeria di belakang telinga Mona.
Si ratu es pun seketika menoleh ke belakang, namun Valeria kembali mendorong pelipis Mona menggunakan moncong peluru.
"Tolong, biarkan dia pergi dari sini. Urusanmu hanya dengan ku. Aku mohon," pinta Mona.
"Hahahahaha … benar kan. Lihat reaksimu. Akan lebih menrik jika pria itu yang mati lebih dulu," ucap Valeria.
Wanita itu pun maju ke depan, dengan Mona yang ada di sisi belakang samping kirinya.
Semua pasukan William seolah lumpuh. Saat Mona ditodong pisau oleh Jeffrey, mereka menyerahkan semua senjata kepada pihak musuh. Bahkan sekarang, saat bosnya ditodong pistol oleh Valeria, mereka pun tak bisa bergerak karena takut akan lebih membahayakan Arthur dan Mona.
Valeria mengangkat senjatanya, dan mengarahkannya ke arah Arthur. Mona terus berusaha melepaskan diri. Namun, ikatannya di kursi sangat kencang.
Namun, kakinya masih bebas bergerak karena tak terikat, dan memungkinkan dia untuk bisa melompat.
Saat Valeria menarik pelatuknya, Mona seketika melompat ke arah wanita itu, hingga keduanya pun terjatuh.
DOOOOR!
Pelatuk yang sudah terlanjur ditarik pun terlepas dan melesatkan sebuah proyektil peluru di dalamnya.
.
.
.
.
Mohon tinggalkan jejak berupa like 👍, komen 📝, atau beri dukungan lainnya
terimakasih